Makna Muharram & Asyura

​Muharram artinya “Yang diharamkan”. 

Sejak nabi Ismail bin Ibrahim as, istilah “Asyhuru al-Hurum” telah diwariskan. ASYHURU AL HURUM artinya bulan2 yang diharamkan atau dilarang perang di dalamnya (tafsir Majma’u al-Bayaan, 3/381; dll-nya).  Karena itu, di jaman Jahiliyyah (sebelum Islam), bulan2 Haram ini sudah ada. 

Yaitu empat bulan yang dilarang perang dan penumpahan darah: Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. (Lih. Tafsir Qs 9 : 36,37 )

Ulama Islam dalam berbagai Mazhab sepakat bahwa “Bulan Haram” bermakna diharamkannya  pertumpahan darah hingga karenanya, bisa dimaknai Sebagai “Bulan Damai”.

Kesepakatan ini terjadi karena memang hal tersebut sudah digariskan sejak jaman nabi Ismail as. Artinya, ditentukan Tuhan Sebagai suatu rahmat dariNya.

Nah, penamaan bulan Muharram dengan Muharram, walaupun ia sudah termasuk dari salah satu bulan Muharram/Hurum/Haraam yang empat itu, disebabkan karena penekanan terhadap keharamannya. Yakni di bulan Muharram ini, kaharaman dan pelarangan peperangan atau pertumpahan darah itu, sangat ditekankan.

Asyura artinya “Hari Ke Sepuluh”. 
Kata Asyura, diambil kata Asyr yang artinya 10. Dalam Al Qur’an al Karim, surat al Fajr, ayat 1-5, Allah SWT bersumpah : “ Demi Fajar, Demi malam yang sepuluh, Demi yang genap dan yang ganjil, Demi malam apabila telah berlalu, Adakah yang demikian itu terdapat sumpah yang dapat diterima bagi orang2 tg berakal?…”. Kelanjutan ayat ini (6-26) disusul oleh ayat2 yang berkisah ttg azab. Dalam tafsir Nurul Qur’an hal. 23 jilid ke 20, disebutkan bahwa makna harfiah dari kata Fajar adalah membuka, merobek, menyingkap. Karena bentuk Fajr adalah Cahaya, maka cahaya dari Fajar merobek gelapnya malam.

Kata Cahaya juga dapat bermakna segala sesuatu atau keadaaan atau seseorang yang telah merubah kondisi yang buruk menjadi baik. Sementara segala sesuatu yg buruk identik dengan Kegelapan. Dalam berbagai ayat Al Qur’an sering kali mengatakan keburukan atau kebodohan dengan kegelapan. Nabi dan Rasul dapat di katakan Fajr karena mengajarkan manusia untuk berperilaku yang baik, menunjukkan jalan yang benar dan mengajarkan berbagai disiplin ilmu. 

Rasulullah saw adalah Fajar yang merobek tabir kegelapan bangsa Arab Jahiliyyah, keluarga dan para sahabat Rasul yang ikhlas adalah Fajar karena meneruskan ajaran Rasul saw.

Namun pada ayat diatas, Allah SWT juga bersumpah ‘demi malam yang sepuluh’, apakah malam yang 10 tersebut?? 

Mayoritas mufasir memaknainya sebagai, 10 malam terakhir bulan Ramadhan atau 10 malam pertama bulan Dzulhijjah atau 10 malam pertama bulan Muharram. Seperti yg kita ketahui bersama 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah bulan2 Berkah, yang didalamnya berisi limpahan pahala dan ampunan, karenanya mustahil disusul oleh ayat2 adzab. 

sementara 10 malam pertama pada bulan Muharram adalah hari2 Musibah yang diderita oleh keluarga Rasul saw, karena mereka yang mengaku umatnya tega membantai cucu beliau saw dan keluarganya yang terkasih di padang Karbala hanya berselang 50 tahun setelah wafatnya beliau saw.

Agama apapun, Mazhab apapun, selama masih tersisa rasa kemanusiaan dan rasa takut pada Tuhan sebagai Khaliq sang pencipta, pasti akan setuju bahwa Peristiwa tragedi karbala layak menuai Azab dari Allah SWT karena pelanggaran kemanusiaan, pembantaian Jiwa yang suci, dan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap para tawanan, terlebih lagi tawanan tersebut adakah manusia2 terkasih cucu Rasulullah saw, Sayyidul Anbiya’I wal Mursalin. 

Bila dikaitkan lagi dengan ayat diatas, demi malam yang sepuluh pada Qs al Fajar ayat 2, adalah peringatan dan ancaman Allah SWT bagi mereka yang kelak mengaku umat Rasul, tapi melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT dan Rasul-NYA, yaitu pembantaian kepada putra2 Rasul saw yang hendak menegakkan kembali agama kakeknya. Bagi golongan pembantai keluarga suci Rasul saw, Allah SWT mengancam dengan Azab yang berat, yaitu azab2 Allah SWT kepada kaum2 terdahulu, yang dapat kita baca dalam ayat2 berikutnya yaitu ayat 6 – 26, yang mengazab kaum terdahulu dengan azab yang pedih karena kedzaliman mereka.

Akan tetapi, tidak warisan agama nabi Ismail as, tidak warisan Jahiliyyah yang merupakan penyimpangan dari ajaran nabi Ismail as, tidak pula pengesahan Islam terhadap keharaman itu, yang dapat menghentikan kaum muslimin yang dipimpin Yazid bin Mu’awiyyah, untuk mencegah tangan2 mereka hingga tidak membantai cucu kesayangan Rasul (saww) mereka sendiri di padang Karbala.
Sejarah Duka ini, sudah diketahui oleh Nabi saww dan para Ahlulbait as yang lain. Karena itu, rasul saw telah menangisi imam Husain as sejak awal dilahirkan dan berlanjut sampai wafat beliau saww, terutama ketika beliau saww menerima tanah Karbala dari malaikat Jibril as dan menyimpannya di istri yang dikasihinya, Ummu Salamah yang beliau saww sendiri mengatakan bahwa ia adalah orang baik sekalipun bukan dari Ahlulbait as (Turmudzi, 5/31 dan 5/361, semuanya ada 5 hadits; Syawaahidu al-Tanziil karya al-Haskaanii, 2/24, semuanya ada 33 hadits; Tafsiir Ibnu Katsiir, 3/384-385; Al-Siiratu al-Nabawii, karya Zainii Dahlaan, 3/330; Dzakhaairu al-‘Uqbaa karya Thabarii, 21-22; Usdu al-Ghaabah, karya Ibnu Atsiir, 2/12, 3/413 dan 4/29; Tafsiir Thabari, 22/7-8; Tafsiir al-Durru al-Mantsuur, karya Suyuuthii, 5/198; Fathu al-Qadiir, karya al-Syaukaanii, 4/279; …dll).
Allah melalui malaikat Jibril as, telah memberitahukan kepada Nabi saww atas terbunuhnya cucu beliau saww itu di tangan umatnya sendiri.
Kitab Tahdziibu al-Tahdziib, karya Ibnu Hajar, 2/347) meriwayatkan:
Dari Umar bin Tsaabit, dari al-A’masy, dari Syaqiiq, dari Ummu Salamah, berkata:

“Suatu hari Hasan dan Husain bermain dengan Rasulullah saww di rumahku, kemudian Jibril as datang kepada beliau saww (maksudnya Ummu Salamah diberi tahu Nabi saww Setelah itu) dan berkata: ‘Wahai Muhammad umatmu -shahabat dan tabi’in- akan membunuh putra-mu ini Setelah wafatmu (sambil menunjuk kepada Husain as).’ Karena itu Nabi saww menangis sembari merangkul Husain ke dadanya. 

Kemudian Nabi saww berkata: ‘Kuserahkan kepadamu -Ummu Salamah- tanah ini.’ Nabi saww mencium tanah itu dan berkata: ‘Berbau karbun wa balaa’ (derita dan bencana).’ Dan beliau saww menambahkan: ‘Wahai Ummu Salamah, kalau tanah ini telah berubah menjadi darah, maka ketahuilah bahwa anakku ini, telah terbunuh.’.”
Kemudian -kata Syaqiiq- Ummu Salamah meletakkan tanah itu di botol dan menengoknya tiap hari. Ummu Salamah berkata: “Suatu hari iapun berubah, yaitu di hari musibah yang agung.”
Ibnu Hajar berkata:

“Hadits ini shahih karena diriwayatkan melalui shahabat2 seperti: ‘Aisyah, Zainab bintu Jahasy’ Ummu al-Fadhl bintu al-Haaritsah, Abi Umaamah, Anas bin al-Haaritsah dan lain-lainnya.”

Bisa juga dilihat di kitab Majma’, karya Haitsamii, 9/189, dimana ia juga berkata bahwa riwayat di atas juga diriwayatkan oleh Thabrani.
Hadits-hadits semacam itu, juga dapat dijumpai di: Dzakhaairu al-‘Uqbaa, 147; Shawaa’iqu al-Muhriqah, 115; dll).
Akan tetapi, Sekali lagi, tidak warisan nabi Ismail as (tentang bulan2 haram itu), tidak warisan para tokoh arab yang mewarisi dari nabi Ismail as itu, tidak taqriir/pengesahan Islam terhadap semua itu, tidak pula hadits-hadits Nabi saww yang mengabarkan tentang terbunuhnya imam Husain as itu, tidak pula tangisan2 Nabi saww untuk imam Husain as itu, tidak pula tanah Karbala yang dititipkan Nabi saww kepada Ummu Salamah ra itu, tidak dan tidak….., yang dapat menghentikan shahabat dan tabi’in Nabi saww itu sendiri untuk tidak membantai cucu kesayangan beliau saww yang maksum itu, imam Husain as.

Assalamu ‘Alaika Yaa Abaa ‘Abdillah al-Husain warahmatullaahi wa barakatuhu, dan Salam pula atas para syuhadaa’ yang menyertaimu di Karbala, terutama dari keluargamu, cucu2 kanjeng Nabi saww yang berjumlah 23 orang dimana semua kepalanya dipenggal untuk ditukar dengan hadiah kepada raja zhalim mereka, Yazid bin Mu’awiyyah yang mengatakan dirinya sebagai ‘amirul mukminin’, dan tentunya akan sangat naif bila ada golongan kaum muslim yang menyatakan Yazid bin Muawiyyah bin Abu Sufyan tidak mengetahui peristiwa ini, dan menyalahkan Ubaidillah ibn Ziyad yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Iraq yang memprakarsai pembantaian ini?? 

Tentunya sangat aneh dan tidak masuk akal bila seorang raja tidak mengetahui apa yang dilakukan gubernurnya, padahal ribuan pasukan telah dikirim dari Syam untuk melakukan tindakan apapun bila Imam Husein, keluarga dan para sahabatnya tidak mau berbaiat kepada Yazid. 

Bila di analogikan dengan masa sekarang, mungkinkah seorang presiden yang telah mengirimkan ratusan tentara ke salah satu propinsi-nya, untuk membantu Gubernurnya dan pemda setempat, tidak mengetahui untuk apa ratusan tentara tersebut di kirim??

Dari masa Imam Hussein as hingga kini hanya ada 2 golongan, mereka yang pro Imam Hussein as atau mereka yang pro Penguasa, para pendukung Imam Hussein adalah mereka yang selalu bertentangan dengan penguasa lalim namun sejalan dengan kehendak Allah SWT dan Rasul-NYA atau mereka yang mendukung penguasa namun bertentangan dengan Allah SWT dan Rasul-NYA.

Pada masa kini, seharusnya kita sebagai kaum muslim bersatu, apapun mazhabnya untuk mengisahkan al Husein as dan para syuhada karbala yang dengan gigih berjuang melawan tirani penguasa lalim, yang dengan kesyahidan mereka sejarah ‘gelap’ Islam pun terkuak, sejarah gelap yang menumbuhkan sikap paling benar, sikap menghalalkan segala cara untuk memperoleh tujuan dan kekuasaan, yang telah meredupkan cahaya Islam sejati yang menjadi misi kanjeng Nabi Muhammad saw.

Assalamu ‘Alaika Yaa Abaa ‘Abdillah al-Husain warahmatullaahi wa barakatuhu, dan Salam pula atas para syuhadaa’ yang menyertaimu di Karbala…
Ya Allah, kami berlepas diri dari semua kezhaliman2 mereka itu terhadap kenjeng Nabi saww (hingga membuat beliau saww menangis sejak imam Husain as masih sangat kecil) melalui imam Husain as dan cucu2 lainnya beliau saww.
sumber : http://sinaragama.org/241-makna-kata-asyuuraa-dan-muharram.html#

Edit dan tambahan oleh Sofia Abdullah 

3 tanggapan

  1. Maulana Massyaid Avatar
    Maulana Massyaid

    Kenapa nabiyullah sdh diberi tau oleh malaikat jibril, kenapa tidak mendoakan supaya takdir itu tidak terjadi?

    Suka

    1. sofiaabdullah Avatar

      Rasul saw diutus utk menyelamatkan umat dari kerusakan, dan dengan nubuwwahnya rasulullah saw sangat mengetahui kondisi umat sepeninggal beliau, dan bila hanya dengan pengorbanan cucunya akan membuka mata dan hati umat muslim hingga akhir zaman, tentunya Rasul saw, walaupun dengan sangat bersedih, harus merelakan peristiwa ini terjadi, demi mendapatkan ridho sang kekasih dan demi menyelamatkan umat Islam dr kehacuran. Dan sejarah mencatat yang terjadi pasca wafatnya rasul saw, terutama pasca khalafaur rasyidin kondisi umat Islam saat itu rusak parah banyak umat Islam yang menjadi korban fitnah karena Muawiyyah dan keluarganya menginginkan kekuasaan, ribuan hadits palsu banyak beredar pada masa ini, dan fitnah2 lainnya, pengorbanan Imam Husein membuka mata umat muslim saat itu, karena hanya kaum munafik yang tega memperlakukan keluarga Rasul saw seperti apa yg mereka lakukan terhadap imam Husein, dan keluarganya

      Suka

    2. sofiaabdullah Avatar

      Karena kecintaan Rasul saw pada umatnya, takdir yang menyebabkan syahidnya Imam Husein di Karbala menyadarkan umat Islam saat itu yang sudah mulai melupakan ajaran Islam sejati, itu sebabnya Rasul saw tidak mendoakn supaya takdir tersebut tidak terjadi.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Maulana Massyaid Batalkan balasan