1. Masjid pada masa Rasulullah dilihat dari fungsinya bukan bentuk. Budaya memiliki peran penting dalam bentuk bangunan masjid. Pada masa Rasul saw, bentuk bangunan masjid dibuat seperti umumnya bentuk bangunan tradisi Arab pada masa itu, memiliki fondasi dan bangunan utama berbentuk bujur sangkar.

2. Konsep bangunan Masjid yang diajarkan Rasulullah saw pada awalnya adalah sebuah kompleks bangunan dengan berbagai fungsi, yaitu: fungsi peribadatan, syi’ar Islam, sosial dan pendidikan.
3. Masjid terdiri dari 4 bagian utama, yaitu :
1. Bagian terluar masjid setelah gerbang masuk masjid terdapat sumur sebagai tempat untuk mandi dan bersuci. 2. Halaman atau teras Masjid selain sebagai tempat sholat juga sebagai tempat berkumpul para sahabat ketika melakukan syi’ar kepada umat yang baru mengenal Islam. 3. Bagian utama dengan atap tempat terdapatnya Mihrab. 4. Bagian ke-empat yaitu bagian belakang bangunan masjid terdapat Makam.
4. Pada masa awal penyebaran Islam keseluruh dunia, bagian bangunan Masjid masih mengikuti pola ini, setiap bagian bangunan dilihat dari fungsinya. Adapun bentuk bangunan Masjid mengikuti tradisi bentuk bangunan masyarakat di wilayah manapun masjid tersebut berada. Seperti Masjid Nabawi di Madinah bentuk bangunannya mengikuti bentuk bangunan tradisi Arab saat itu, berbentuk persegi panjang atau kubus dengan teras dan beratap jerami. Tujuan bentuk bangunan mengikuti bentuk bangunan setempat adalah untuk mempermudah syi’ar Islam.

5. Setelah wafatnya Rasulullah, lambat laun fungsi dan bangunan Masjid mulai berubah, terdapat tambahan-tambahan bangunan dalam kompleks Masjid, seperti perubahan fungsi mihrab, penambahan menara, kubah, maqsurah dan beduq. Penambahan bagian-bagian baru pada Masjid, memiliki sejarahnya masing-masing, tergantung situasi, kondisi dan pergolakan politik yang terjadi pada masa tersebut. (Tentang sejarah bangunan masjid bisa dibaca tulisan kami di : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/03/05/masjid-pada-era-makiyyah-1/)
6. Walaupun terdapat penambahan dan pergeseran fungsi dari masa ke masa, hingga akhir abad ke-19 secara garis besar bangunan masjid masih dilihat dari fungsi, mengikuti contoh masjid Nabi di Madinah yang dilihat dari fungsi bangunan, sementara bentuk dan model bangunan masjid dibelahan dunia manapun, disesuaikan dengan ciri bangunan setempat.

7. Masjid-masjid kuno yang tersebar di berbagai belahan dunia tidak memiliki simbol atau bangunan khusus, seperti kubah atau bulan bintang, karena kedua simbol ini adalah penambahan baru yang dimulai pada abad ke 16, ketika Turki Utsmani mulai melakukan invasi untuk memperluas kekuasaannya. Bangunan dengan kubah adalah bangunan tradisi Romawi dan Asia Tengah. Sementara simbol Bulan sabit dan bintang adalah simbol yang digunakan Turki Utsmani untuk menandai wilayah kekuasaannya.
8. Awal masuknya Islam ke nusantara, yaitu pada masa Rasulullah saw, bangunan masjid masih mengikuti konsep awal bangunan masjid yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan melihat fungsinya, adapun bentuk bangunan mengikuti bentuk bangunan budaya nusantara yang bercirikan atap tumpang.



9. Masjid kuno di Nusantara juga dikenali dengan keberadaan makam dan bangunan makam. Bila dalam satu wilayah terdapat makam atau bangunan makam, namun tidak ditemukan bangunan masjid, besar kemungkinan di lokasi tersebut pernah terdapat masjid, karena makam dan masjid berada dalam satu lokasi yang sama. Lokasi makam yang berada di belakang masjid mengikuti konsep makam Masjid Nabi di Madinah, yang berada di bagian belakang Masjid. Tujuan diadakannya pemakaman dekat dengan Masjid adalah untuk mempermudah pengurusan jenazah, dari mulai memandikan, mensholatkan, hingga menguburkan. Sementara untuk yang masih hidup, tujuannya adalah, dengan mengingat kematian umat Islam diharapkan akan bertambah keimanannya, dan takut untuk berbuat dzalim pada diri sendiri atau orang lain.
10. Berdasarkan temuan jenazah di beberapa situs yang kami kunjungi, seperti situs Batu Jaya, Trowulan, dan beberapa situs lain dan dari naskah-naskah kuno yang kami pelajari, yang menunjukkan bahwa situs tersebut adalah bangunan makam. Temuan ini menandakan bahwa jauh sebelum dikenalnya agama Islam, leluhur nusantara telah mengenal tradisi menguburkan jenazah, mendirikan bangunan makam dan tradisi ziarah. Pengurusan jenazah dengan cara dimakamkan atau dibuatkan bangunan makam dengan berbagai macam variasinya atau adanya tradisi ziarah para pemimpin terdahulu yang tercatat dalam naskah -naskah kuno adalah bukti bahwa leluhur nusantara penganut ajaran Tauhid. Ajaran tauhid mengajarkan keberadaan Tuhan yang satu yang Maha Kuasa, pencipta alam semesta. Ajaran tauhid yang dikenal di seluruh dunia adalah ajaran Nabi Ibrahim. Walaupun dengan nama yang sedikit berbeda karena mengikuti bahasa kaumnya. Selengkapnya tentang agama millatu Ibrahim bisa dibaca pada link ini : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2021/08/09/millatu-ibrahim-tradisi-ziarah-dan-bangunan-makam-bagian-2/
11. Pada setiap masjid kuno selain terdapat pemakaman umum, juga terdapat pemakaman khusus dalam bangunan berupa kamar atau ruang terpisah yang disebut Bangunan makam atau cungkup makam. Bentuk bangunan makam mengikuti tradisi bangunan setempat.

12. Bangunan makam memiliki banyak bentuk dan variasi. Pada masa lalu, bangunan makam lebih cenderung mengikuti tradisi budaya setempat. Pada aliran-aliran agama tertentu, seperti agama yahudi, Nasrani dan Islam terutama dalam mazhab Ahlul bait, tradisi bangunan makam masih dilakukan hingga kini.
13. Hingga kini bangunan makam masih dapat dilihat pada pemakaman-pemakaman umum di Indonesia dan wilayah-wilayah di Asia Tenggara yang berpenduduk mayoritas muslim, hanya saja pada masa kini bangunan makam cenderung lebih sederhana dan terbuka.

14. Dalam setiap agama umumnya terdapat aliran anarkis yang cenderung memaksakan kehendaknya dan merasa golongannya paling benar. Aliran ini biasanya berseberangan dengan ajaran agama yang sesungguhnya, karena setiap agama umumnya mengajarkan nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan dengan damai, bukan dengan kekerasan. Berbanding terbalik dengan golongan anarkhis, golongan ini cederung memaksakan kehendaknya, golongan ini umumnya bertujuan menguasai pemerintahan dengan mengatasnamakan agama. Golongan ini akan mengajak kerjasama para pejabat yang berambisi menjadi penguasa, agar pemerintahan dapat dijalankan sesuai agenda mereka.
15. Aliran anarkis dalam sejarah Islam, dimulai pada era dinasti Umayyah dan Abasiyyah, yang ditandai dengan pembunuhan besar-besaran terhadap golongan yang bersebrangan dengan haluan politik mereka, walaupun pihak tersebut memiliki aqidah yang sama. Sikap politik ini diturunkan hingga generasi penerus mereka yang memilih menjadikan keturunan nabi, keluarga dan pengikutnya sebagai lawan politik. Persaingan politik, haus kekuasaan dan kekayaan melahirkan golongan ulama-ulama pro penguasa dan pengikutnya yang mendukung segala keinginan penguasa walaupun keinginan tersebut seringkali berseberangan dengan ajaran Islam. Penghancuran bangunan makam, situs-situs bersejarah, biasanya didalangi oleh golongan ini. (1)

16. Golongan ini memiliki banyak sebutan diantaranya yang paling terkenal adalah khawarij dan nawasib. Sejalan dengan berlalunya zaman, golongan ini terpecah lagi menjadi beberapa golongan. Golongan ini memiliki peran penting dalam merubah sejarah bangunan masjid, dari mulai bentuk bangunan masjid yang lebih melihat fungsi daripada bentuk hingga menjadi bangunan masjid yang ada pada masa kita sekarang.
17. Pasca wafatnya rasul saw (632-1200-an) golongan nawasib ini menjadi mayoritas penguasa di Jazirah Arab dan sekitarnya. Golongan ini sangat membenci keluarga nabi saw, keturunan dan pengikutnya karena dianggap lawan politik mereka. Kondisi politik ini menyebabkan terjadinya gelombang hijrah keturunan dan pengikut keluarga nabi saw ke wilayah Asia hingga ke Nusantara.
18. Penguasa nawasib mencapai puncaknya pada masa ke khalifahan Turki Usmani (1300-1925), yang melebarkan sayap kekuasaannya dengan cara invasi dan pemaksaan untuk mengakui kedaulatan Turki Utsmani. Invasi ini terus melebar hingga ke wilayah Eropa dan Asia. Kekhalifahan Turki Usmani menyerang negara manapun baik muslim maupun non muslim yang tidak mau tunduk dan memberi upeti pada mereka.
19. Pada masa kini, satu-satunya negara yang masih menganut sistem kerajaan nawasib adalah Kerajaan Saudi Arabia dengan mazhab yang dianut mereka adalah mazhab Wahabi, salah satu golongan dalam Islam yang diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, yang mulai berkembang pada abad ke-18, pada era kolonial Inggris di jazirah Arab.
20. Sepanjang sejarah Islam, Golongan Nawasib ini memiliki peran besar dalam perubahan sejarah Islam dengan cara penghancuran bukti-bukti sejarah baik dalam bentuk tulisan atau bangunan.

Ditulis oleh : Sofia Abdullah
Catatan :
1. Sejarah mencatat peristiwa perusakan ka’bah yang terjadi 2x pada era bani Umayyah.
Sumber Buku dan Jurnal Penelitian :
1. Subhani, Ja’far, Sejarah Nabi Muhammad SAW = Ar Risalah; penerjemah, Muhammad Hasyim & Meth Kieraha ; penyunting, Tim Lentera, Cet.8, Lentera, 2009.
2. Fanani, Ahmad, Arsitektur Masjid, Yogyakarta, Bentang, Cetakan Pertama, 2009.
3. Al Husaini al hamid H. M. H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw, Cet. XI 2006, Pustaka Hidayah.
4. Jafarian Rasul, Sejarah Islam, Sejak Wafat Nabi saw Hingga Runtuhnya Dinasti Bani Umayah, cet. 2, 2009, PT. Lentera Basritama.
5. Jafarian Rasul, sejarah Para Pemimpin Islam dari Gerakan Karbala Sampai Runtuhnya Bani Marwan, Cet. 1, 2010, Al Huda.
6. Jafariyan Rasul, Sejarah Para Pemimpin Islam Dari Imam Ali Sampai Monarki Muawiyah, Cet. 1, 2010, Al Huda
7. Jafariyan Rasul, Sejarah Para Pemimpin Islam Dari Abu Bakar Sampai Usman, Cet. 1, 2010, Al Huda.
8. Hijazi Ahmad Tariq, The Shiites and Al Aqsa Mosque, Committee For The Defence Of The Belief Of Ahlu Sunnah Palestine.
9. Osman. A Latif, Ringkasan Sejarah Islam, Cet .29, Widjaya, Jakarta Amstrong. Karen, Sejarah Islam, Cet I, Mizan, 2014.
10. Al Hadad. Bin Thahir. Al Habib Alwi, Sejarah Masuknya Islam Di Timur Jauh, Cet.I, 2001, Lentera Baristama.
11. Sunyoto. Agus, Atlas Wali Songo, Cet.1, 2012, Pustaka Iman.
12. C.I.E.MA.Arnold.TW, Preaching Of Islam : A History Of The Progation Of The Muslim Faith, 1913.
13. Aceh. Aboebakar.H.Dr.Prof, Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia, Cet.4,1985, Ramdhani.
14. Atjeh. Aboebakar.Dr.Prof, Sji’ah Rasionalisme Dalam Islam, Yayasan Penyelidikan Lembaga Islam.
Tinggalkan komentar