Bali, selain dikenal dengan keindahan alam dan tradisinya, juga dikenal dengan beberapa Pura-nya yang unik dan sarat makna simbolis, 3 diantara pura tersebut yang akan kami bahas pada tulisan kami kali ini adalah Pura Mekah.

(1)https://youtu.be/L40ge_CvceA?si=_v-h0G0LCp_gBS5q (2) gmap pura mekah Ubung Kaja
Di Bali sedikitnya terdapat 3 Pura terkenal yang terkait dengan nama Mekah, yang hingga saat ini masih aktif digunakan sebagai tempat sembahyang dan upacara penganut Hindu Bali. Di Denpasar sendiri terdapat 2 Pura yang bernama Mekah; yang pertama Pura Mekah yang berlokasi di desa Pakraman, Pohgading, Denpasar (dekat pantai Selatan, Bali), yang kedua Pura Mekah, berlokasi di Jl. Kertanegara Gg. VI, (Desa Binoh/Banjar Binoh) Ubung Kaja, Kec. Denpasar Utara, Bali.

Di Kabupaten Buleleng terdapat 1 pura yang terkait dengan Mekah, yaitu Pura Gambur Anglayang yang berlokasi di Ujung paling utara pulau Bali, di desa Pakraman, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sama seperti dua Pura di Denpasar, Pura Gambur Anglayang ini pun dikenal juga sebagai Pura Mekah karena di dalamnya terdapat satu pelinggih*[1] utama yang dibangun untuk menghormati Ratu Gede Dalem Mekah.
Pura-pura yang terkait dengan Mekah ini bukan hanya namanya yang unik, karena terkait dengan Mekah, nama kota terpenting dalam sejarah Islam, baik dalam bentuk nama Pura seperti 2 pura di Denpasar atau berbentuk pelinggih (bangunan suci) seperti di Pura Negara Gambur Anglayang yang dibangun untuk menghormati tokoh Ratu Dalem Mekah, namun juga memiliki tradisi unik lainnya seperti; sembahyang (pemujaan) menghadap ke Barat (arah kiblat), tidak boleh menjadikan daging babi sebagai persembahan pada saat upacara. Khusus di Pura Mekah desa Pakraman Pohgading setiap acara piodalan (perayaan hari lahir dari tokoh yang dipelinggihkan) ketika melakukan sembahyang awalnya menghadap ke Timur seperti umumnya acara sembahyang di Pura Hindu Bali, namun pada akhir persembahyangan menghadap ke Barat.
Pura Mekah memang memiliki kesamaan tradisi/ritual dan nama yang terkait dengan Mekah, namun terdapat beberapa perbedaan mendasar pada Pura Mekah di Denpasar dan Buleleng. Pertama dilihat dari jenis Pura, Pura Mekah di Denpasar adalah Pura Kawitan atau Pura keluarga keturunan Arya Kepakisan, sementara Pura Negara Gambur Anglayang adalah Pura Kahyangan Jagad yaitu Pura Umum yang fungsinya untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam segala perwujudannya.
Kedua dilihat dari struktur konsep bangunan, Pura Mekah di Denpasar menggunakan konsep dwi-mandala, (membagi bangunan menjadi 2 bagian ruang) sementara struktur bangunan Pura Gambur Anglayang berkonsep tri-mandala (membagi bangunan menjadi 3 bagian ruang). Setiap mandala*[2] dipisahkan oleh gapura yang berbentuk bentar atau paduraksa*[3]. Mandala adalah konsep pembagian wilayah dalam pura/bangunan suci tradisional. Setiap mandala memiliki fungsi yang berbeda pada tiap wilayah. 3 bagian mandala tersebut adalah Nista mandala (bagian terluar pura), Madya mandala (tengah) dan Utama mandala/Jeroan (bagian utama pura) tempat diletakkannya pelinggih/bangunan suci/tempat sembahyang yang paling penting/dihormati di Pura tersebut. Dilihat dari konsep bangunannya, Pura Negara Gambur Anglayang ini tidak memiliki perbedaan dengan Pura lainnya yang tersebar di Bali, karena hampir sebagian besar pura di Bali memiliki konsep bangunan tri mandala.

Pembagian mandala menjadi 3 bagian adalah bagian dari seni arsitektur tradisi Indonesia asli. Pembagian wilayah menjadi 3 bagian ini bukan hanya terdapat di Bali tapi juga di bangunan-bangunan kuno seperti keraton, masjid dan makam kuno yang masih mempertahankan bentuk bangunan tradisi Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ketiga Karena perbedaan jenis dan fungsi Pura, terdapat perbedaan pada luas bangunan dan banyaknya palinggih pada Pura Mekah di Denpasar dan Pura Negara Gambur Anglayang. Pura Mekah di Denpasar umumnya berukuran lebih kecil dari pura yang berada di Buleleng karena Pura ini adalah pura keluarga milik keturunan Arya Kepakisan. Di dalam Pura ini terdapat 3 bangunan palinggih utama yaitu palinggih Ratu Hyang, Palinggih Ratu Ayu dan Palinggih Ratu Gede Dalem Mekah.
Sementara Pura Gambur Anglayang di Buleleng lebih luas dan terdapat lebih banyak pelinggih utama di Utama Mandala. Terdapat 10 pelinggih utama yang berdiri sejajar dengan Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah di Utama Mandala.

Keunikan Pura Gambur Anglayang Desa Pakraman, Kubutambahan, Buleleng
Pura Negara Gambur Anglayang, memiliki keunikan yang lain lagi, selain pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah, pelinggih pada pura ini juga seolah mewakili agama, suku dan ras yang ada di Indonesia, karena terdapat pelinggih Ratu Bagus Sundawan, Pelinggih Ratu Agung Melayu, pelinggih Ratu Agung Syahbandar (Subandar) dan sebagainya. Karena keunikannya ini Pura Gambur Anglayang menarik minat para pengunjung Pura, bukan hanya yang beragama Hindu tapi juga Islam, Budha dan Kepercayaan. Banyaknya pengunjung non Hindu ke Pura ini, menyebabkan pura ini dikenal juga sebagai Pura Pancasila.
Dari hasil penelusuran kami, keberadaan pelinggih tokoh manca negara di pura ini diantaranya karena Pura Gambur Anglayang berdiri di bekas pelabuhan dagang Internasional di tepi pantai Kuta Banding yang dibangun pada abad ke-13, atau diperkirakan sekitar tahun 1260 M.
Kalimat Gambur Anglayang diambil dari 2 kata bahasa Bali Gambur dan Anglayang. Kata gambur berarti serak atau berserak dan Anglayang berarti melayang atau berlayar, dalam konteks arti Pura Gambur Anglayang memiliki makna “berhamburan/berserakan yang datang berlayar,” menggambarkan kedatangan multietnis melalui perdagangan jalur laut.*[4]


Pelinggih Multietnis dan Agama Dalam Pura Negara Gambur Anglayang
Berikut jajaran 11 pelinggih utama yang berdiri sejajar dari arah selatan ke utara di bagian utama Mandala (Jeroan) Pura Negara Gambur Anglayang :
1. Pelinggih Ratu Bagus Sundawan.

Pelinggih Ratu Bagus Sundawan terletak di pojok Utara Pura Negara Gambur Anglayang bersebelahan dengan Pelinggih Ratu Agung Melayu. Pelinggih Ratu Bagus Sundawan merupakan sthana bagi Ratu Bagus Sundawan, selain mewakili etnis Sunda, pelinggih ini juga sebagai penghormatan kepada Ratu Bagus yang merupakan leluhur dari suku Sunda. Ratu Bagus adalah gelar keturunan laki-laki dari Sri Ratu (gelar tertinggi pemimpin untuk pria). Pelinggih ini dikaitkan dengan Agama Sunda Wiwitan dan Kristen bukan berdasarkan bukti sejarah, namun lebih ke simbol toleransi karena di pura ini terdapat perwakilan dari agama-agama yang ada di Indonesia, dan menjadi tempat bagi umat Kristen yang ingin melakukan puja/bakti/sembahyang.
2. Pelinggih Ratu Agung Melayu.
Ratu Agung Melayu artinya pemimpin tertinggi pria yang berbangsa Melayu. Ratu Agung Melayu diyakini distanakan di pelinggih ini.

Pelinggih ini diperuntukkan kepada suku melayu dan menurut pemangku disana, apabila terjadi kerauhan (kerasukan) pada saat upacara, orang yang mengalami kerasukan tersebut akan berbicara dengan bahasa melayu dan harus dicarikan penerjemah untuk mengartikan segala yang disampaikan orang yang kerasukan tersebut. Pelinggih Ratu Agung Melayu terletak di sebelah pelinggih Ratu Bagus Sundawan dan pelinggih Ratu Agung Syahbandar.
3. pelinggih Ratu Agung Syahbandar* [5].
Ratu Agung/Ratu Gede adalah jabatan tertinggi, penguasa tertinggi, sementara Syahbandar adalah gelar kepala pelabuhan, jadi Ratu Agung Syahbandar adalah penguasa tertinggi (kota-kota) pelabuhan. Kata ‘Syahbandar’ berasal dari bahasa Persia yang kemudian menyebar ke kota-kota pelabuhan sepanjang jalur perdagangan laut dari persia hingga samudera Hindia, termasuk Sumatera, Jawa dan Bali untuk menyebut pemimpin wilayah pelabuhan. Subandar atau Syahbandar adalah salah satu jabatan penting yang mengatur hubungan kota-kota pelabuhan di Nusantara dengan pedagang dan pelaut mancanegara. Di Bali, jabatan Ratu Agung/Gede Syahbandar ini banyak terdapat di pura-pura kuno yang lokasinya berdekatan dengan laut. Pentingnya posisi Syahbandar pada masa lalu bisa dilihat dari posisi Pelinggih Ratu Agung/Gede Subandar yang umumnya berdampingan dengan pelinggih pejabat tinggi lainnya. Walaupun asal nama Syahbandar berasal dari Persia, dan hubungan dagang antara Nusantara dan Persia telah terjalin ratusan tahun lalu, namun pelinggih Ratu Syahbandar di Pura Gambur Anglayang ini dijadikan sebagai perwakilan etnis Cina dan umat Budha, ketika terjadi kerauhan pengempon tiba berbicara dengan bahasa Cina. Dikaitkannya Ratu Agung Syahbandar dengan agama Budha dan Cina, selain karena prosesi kerauhan tadi, mungkin berasal dari sumber cerita lisan turun temurun yang mengisahkan tentang Dalem Balingkang penguasa Bali abad ke-12 yang menikah dengan putri Cina.
4. Pelinggih Ratu Ayu Pasek
Pasek adalah sebutan untuk penguasa daerah. Ratu Ayu adalah gelar untuk keturunan perempuan dari Ratu Pasek (Ratu = gelar pemimpin laki-laki). Ratu Pasek atau Ida Bhatara Ratu Pasek atau yang dikenal juga dengan Ida Bhagawan Semeru atau Mpu Semeru/Mpu Gana adalah satu dari 7 Pandita suci (Sapta Rsi) yang pertama kali ke Bali. Pelinggih Ratu Pasek atau Ratu Ayu Pasek yang juga terdapat di pura-pura lain bertujuan untuk menghormati leluhur dan menyatukan marga Pasek yang tersebar di beberapa wilayah di Bali.
5. Pelinggih Bathari Sri Dwijendra.

Pelinggih Bathari Sri Dwijendra merupakan pelinggih tempat distanakannya Bathari Sri Dwijendra. Bathari adalah gelar leluhur wanita yang memiliki kedudukan tinggi dan merupakan pasangan dari Bathara (gelar leluhur pria yang memiliki kedudukan tinggi). Sri Dwijendra adalah nama lain dari Dang Hyang Nirartha, tokoh reformist agama Hindu Bali yang sangat dihormati di Bali. Pelinggih Bathari Sri Dwijendra, besar kemungkinan ada kaitannya dengan Dang Hyang Nirartha. Pelinggih Bathari Sri Dwijendra terdapat pula di pura-pura Bali yang lain. Bathari Sri Dwijendra dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai Dewi Sri atau Dewi Kesuburan yang diyakini juga sebagai leluhur bangsa Jawa. Pelinggih ini terdapat di Utama Mandala tepatnya berada diantara pelinggih Ratu Ayu Pasek dan pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah.
6. Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah.
Ratu Gede Dalem adalah gelar jabatan/petinggi di wilayah tersebut yang berasal dari Mekkah. Sama seperti di pura Mekah Denpasar, di pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah pun pada saat upacara sembahyang menghadap ke Barat (arah kiblat) dan larangan memakan daging babi atau memberikan persembahan babi pada saat upacara. Pada saat upacara piodalan bila terjadi kerauhan para pengempon (pengurus pura) pelinggih Ratu Gede Mekah akan berbicara bahasa Arab. Keberadaan Pelinggih Ratu Gede Dalem Mekah bukan hanya menjadi tempat sembahyang umat Hindu Bali tapi juga kaum muslim Bali banyak yang berkunjung untuk ikut menghormati dan berdo’a bersama menurut keyakinan agama masing-masing.
7. Pelinggih Ratu Gede Siwa (Simbol Hindu)
Pelinggih Ratu Gede Siwa adalah tempat pemujaan suci dalam agama Hindu Bali yang didedikasikan untuk Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

8. Pelinggih Batara Surya/ Pelinggih padmasana
yaitu pura berbentuk menara dengan singgasana yang kosong untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasinya sebagai Bhatara Surya atau Siwa Raditya.
9. Pelinggih pucaking tirta,
Pelinggih Pucaking tirta disebut juga Pelinggih Petirtaan Agung, yaitu tempat para pengunjung pura melakukan ngelungsur tirtha (mengambil air suci) pada upacara peodalan (peringatan hari kelahiran).
10. Pelinggih Ratu Ayu Mutering Jagat
Ratu Ayu adalah gelar bagi putri dan keturunan penguasa tertinggi, untuk keturunan putranya bergelar Ratu Bagus. Pelinggih Ratu Ayu Mutering Jagat adalah sthana bagi Ratu Ayu Mutering Jagat yang merupakan penguasa wanita dan sosok yang dihormati oleh raja-raja yang disthanakan pada pelinggih-pelinggih yang ada di Utama Mandala tersebut.
11. Pelinggih Ratu Gede Mas Punggawa
Pelinggih ini merupakan sthana (tempat bersemayam) bagi roh suci Ratu Mas Punggawa, yang memiliki peran sebagai pengawal atau penjaga pura.
Tempat ibadah umat Hindu Bali yang unik dan telah berdiri sejak ratusan tahun lalu, membuktikan pada kita bahwa sikap toleransi/menghargai perbedaan antar suku dan agama telah menjadi satu kesatuan dengan tradisi leluhur Nusantara. Pelinggih-pelinggih di pura ini adalah bukti bagaimana tokoh-tokoh multi etnis dan agama yang pernah berperan besar di wilayah tersebut dihormati dengan penghormatan yang terus berjalan hingga saat ini.
Sejak 2006, pura Gambur Anglayang mengalami berapa kali renovasi dengan alasan mengikuti perkembangan zaman, semoga saja renovasi Pura ini tidak merubah struktur asli pura kuno yang unik ini.
Keunikan Pura Mekah, di Desa Pakraman, Pohgading, dan Desa Binoh, Denpasar
Berdasar keterangan pengempon*[6] (pengurus) Pura Mekah desa Pakraman Pohgading, I Wayan Sudirta, salah satu tradisi unik yang membedakan Pura Mekah ini dengan Pura lain di Bali adalah saat perayaan piodalan* [7] (perayaan hari kelahiran), para pamedek*[8] (pengunjung Pura) yang melakukan persembahyangan dimulai seperti umumnya prosesi sembahyang di Bali, menghadap ke arah Timur, namun pada akhir persembahyangan pamedek wajib menghadap ke barat. Sembahyang ke barat ini dilakukan untuk menghaturkan banten (sajen) dan memohon restu dari Ratu Agung Dalem Mekah yang diyakini sebagai salah satu leluhur mereka yang berasal dari Mekah. Sembahyang dengan menghadap ke dua arah merupakan tradisi khusus di Pura Mekah Pohgading.
Di Pura Mekah desa Binoh beda lagi keunikannya, selain tidak makan dan memberikan sesembahan daging babi dan sembahyang menghadap ke Barat sebagian besar pengurus laki-laki Pura Mekah desa Binoh mengalami penyakit penyumbatan saluran kencing yang menyebabkan mereka terpaksa disunat, seperti yang wajib dilakukan setiap muslim. Di Pura Mekah ini juga ditemukan naskah lontar yang menjelaskan tentang silsilah dan keturunan Arya Kepakisan atau Sri Kresna atau Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan, beliau adalah tokoh penting dalam sejarah Bali yang dikenal sebagai pendiri dinasti raja-raja Bali di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit (Jawa)
Asal Nama Mekah Pada Pura Mekah atau Ratu Gede Dalem Mekah
Hilangnya sumber-sumber sejarah baik tertulis atau lisan, dan kurangnya penelitian yang menyeluruh menyebabkan lahirnya asumsi tentang asal nama Mekah yang kadang tidak berdasar, dan ini dapat dimengerti karena untuk bisa menemukan asal nama Mekah pada nama pura dan nama tokoh yang dipalinggihkan di Bali membutuhkan penelitian dari berbagai disiplin ilmu sejarah.
Berikut 3 pendapat yang sering dipakai ketika ada pertanyaan mengenai asal nama Mekah, yang merujuk pada dalem Mekah di pura Mekah Denpasar atau pelinggih Ratu Agung Dalem Mekah di Pura Negara Gambur Anglayang.
Pertama terkait dengan kedatangan 2 utusan dari Jawa yang bergelar Dalem Mekah, dua utusan ini kemudian distanakan (disemayamkan) di Pura Mekah dan Pura dalem Mekah yang awalnya berada dalam satu lokasi. Adapun nama Mekah pada nama Ratu Gede Dalem Mekah di Pura Negara Gambur Anglayang menurut penelitian ibu DR Pande Renawati, merujuk pada Kota Mekah di Jazirah Arab karena wilayah tersebut pernah menjadi pelabuhan dagang Internasional yang dikunjungi tokoh-tokoh dari berbagai negara, termasuk salah satu diantaranya adalah Kota Mekkah.
Kedua pendapat dari pengempon (pengurus) pura Mekah desa Pakraman Pohgading Denpasar, mengatakan bahwa nama Mekah pada Ratu Agung Dalem Mekah bukan merujuk pada kota Mekah di Jazirah Arab, tapi nama desa di Probolinggo, namun setelah kami susuri lagi di Kabupaten Probolinggo tidak ada dan tidak pernah ada dalam sejarahnya memiliki desa/kelurahan/ kecamatan apalagi kota yang bernama Mekah, yang ada hanya bangunan tiruan Ka’bah terbuat dari bambu dengan ukuran ka’bah yang asli. Tiruan ka’bah ini pun baru dibangun tahun 2007. Tujuan awalnya nya untuk latihan haji, tapi sekarang tiruan ka’bah ini dijadikan wisata religi Probolinggo. Lokasi: Jalan Raya Curah Sawo, Gending, Probolinggo, Jawa Timur.)*[9]
Kesimpulan kami, pendapat yang pertama tentang 2 utusan dari Jawa yang bergelar dalem Mekah lebih bisa diterima karena dalem Mekah berarti dalem (pejabat) yang berasal dari Mekah, dan Mekah pada nama Ratu Agung Dalem Mekah merujuk pada kota Mekah di Jazirah Arab. Selain tidak ada dalam catatan sejarah nama kota Mekah di Probolinggo, teori ini juga tidak melihat fakta, bahwa lokasi pura-pura ini berada di tepi pantai dan pernah menjadi pelabuhan dagang Internasional.
Berdasarkan buku Preaching of Islam karya T.W Arnold, hubungan perdagangan jalur sutra laut antara bangsa Arab dengan kepulauan Melayu telah ada sejak abad ke-2 SM. Pada abad ke-7 M (masa awal Islam era Makiyyah) kota-kota pelabuhan dari mulai Malaka, Sumatera jawa dan Bali telah ramai oleh para pedagang muslim dari Arab, Persia, India dan Cina.*[10]
Pada masa perdagangan kuno para pedagang internasional yang menetap, berkeluarga dan berketurunan di kota-kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan adalah hal yang umum terjadi. Para pedagang muslim juga banyak yang telah membuka kampung-kampung muslim di sekitar pelabuhan.
Fakta lokasi ini adalah bukti yang kuat bahwa tokoh-tokoh manca negara dan daerah yang dibuat palinggihnya di pura ini adalah tokoh yang memang berasal dari nama wilayah yang disebut pada palinggihnya (Melayu, Sunda, Mekah dsb). Para tokoh ini kemungkinan bukan hanya singgah tapi juga telah menetap, berkeluarga, berketurunan dan memiliki jasa pada wilayah Kubutambahan, Buleleng.
Selain asal nama Mekah, pengurus pura juga mengatakan bahwa Ratu Gede Dalem Mekah, adalah nama lain dari Mpu Tanrupa dari Majapahit. [11]
Setelah kami telusuri kami tidak menemukan catatan/sumber tertulis baik naskah kuno atau sumber-sumber peneliti lain yang menyatakan keberadaan Mpu dari Majapahit bernama Tanrupa, yang benar adalah Mpu Tantular, pujangga terkenal pada masa Majapahit yang menulis kitab kakawin Sutasoma dan kakawin Arjunawiwaha.
Ketiga Asal nama Mekah menurut pengempon yang dituakan di Pura Mekah Banjar Binoh, I Made Kerti, lain lagi, menurut pendapat beliau nama Pura Mekah terjadi karena tradisi leluhur yang berlaku selama ratusan tahun yang mirip dengan tradisi Islam seperti sembahyang menghadap Barat, tidak makan babi dan kelainan kulit kelamin pada keluarga besar pengempon Pura Mekah yang menyebabkan harus disunat, selain itu yang beliau dan keluarga besar beliau ketahui adalah agama Hindu, agama yang diajarkan leluhur. Ada juga dari keluarga besarnya yang bertanya pada orang pintar hingga mendapat semacam ilham bahwa kata Mekah pada Pura Mekah berasal dari kata megah atau megeh yang artinya besar dan tinggi. Ada juga orang pintar lain yang mendapat ilham suba ngelah baju, nguda sing anggo artinya sudah punya baju kenapa tidak dipakai , masih menurut beliau kalimat tersebut berarti “kita sudah punya yang harus dipakai untuk menelusuri sejarah Pura Mekah seperti prasasti dan naskah lontar tapi kenapa tidak dipelajari.” Namun satu hal yang pasti Pura Mekah baik yang berada di Banjar Binoh dan desa Pakraman Pohgading adalah Pura keluarga keturunan Arya Kepakisan, selain itu semuanya masih berupa spekulasi karena belum ada penelitian lebih lanjut.
Perubahan Arah Sembahyang di Pura Mekah dan Kaitannya Dengan Peristiwa Perubahan Kiblat Dalam Sejarah Islam
Salah satu tradisi unik yang hanya terjadi di Pura Mekah Desa Pakraman (desa adat) Poh Gading, yaitu perubahan arah sembahyang yang awalnya menghadap ke Timur kemudian di akhir sembahyang menghadap ke arah Barat mengingatkan kita pada peristiwa perubahan arah kiblat yang terjadi pada tahun ke-2 Hijrah (624 M) di Madinah.

Asumsi kami berdasar pada :
[1] Pada tahun tersebut (abad ke-7 M) para pedagang Arab dan Persia telah meramaikan kota-kota pelabuhan di sepanjang jalur perdagangan laut dari Barat (Afrika, Arab, Persia, India) hingga ke Timur (Indochina hingga ke Negeri Cina), Jawa dan Bali termasuk dalam jalur perdagangan Internasional tersebut.
[2] Melihat penghormatan penduduk Bali yang beragama Hindu sedemikian besar, pastinya tokoh Dalem Mekah ini bukan hanya utusan biasa, tapi salah satu diantara para utusan Rasulullah saw.
Utusan Rasulullah saw adalah para sahabat terpilih, terpercaya, yang memiliki pengetahuan luas, akhlak yang mulia, kedudukan yang tinggi, dan berasal dari keluarga yang dihormati. Dalam sejarah Islam kita mengenal tokoh Ja’far bin Abi Thalib yang dipercaya Rasulullah saw untuk memimpin rombongan hijrah pertama ke Habasyah (Ethiopia), dan juga sebagai utusan Rasulullah saw menghadap Raja Najasyi yang beragama Kristen. Karena keluasan ilmu dan kefasihan berbahasa sahabat sekaligus sepupu Rasullullah saw Ja’far bin Abi Thalib ketika bernegosiasi dengan raja Najasyi, kaum muslim bukan hanya mendapatkan izin tinggal di negaranya tapi juga mendapat perlindungan dari kaum Quraisy yang memaksa mereka kembali ke Mekah.
Kembali ke tokoh Dalem Mekah, melihat penghormatan sedemikian besar yang diberikan kepada beliau hingga saat ini, kami yakin siapapun tokoh Dalem Mekah ini pastilah bukan sekedar dari kalangan utusan penguasa biasa, seperti yang kami baca dari beberapa sumber penelitian. Beliau pasti memiliki jasa dan peran yang besar bagi penduduk Bali saat itu hingga ketika beliau wafat, penduduk setempat mendirikan Pelinggih untuk menghormati beliau, dan menjadikan peristiwa besar yang beliau alami sebagai seorang muslim, yaitu perubahan arah kiblat sholat menjadi tradisi yang masih hidup hingga saat ini. Seperti kisah Ja’far bin Abi Thalib di Ethiopia atau Jash Ibn Riyab di Champa (sekarang wilayah Kamboja dan Vietnam).

Tokoh Ratu Gede Dalem Mekah ini adalah bukti sejarah, bahwa walaupun beliau seorang penguasa atau orang yang memiliki kedudukan tinggi pada masanya, beliau tidak pernah memaksakan kehendak untuk menjadikan penduduk Bali saat itu memeluk Islam. Ajaran Islam yang benar tidak pernah memaksa. Menjadi seorang muslim harus dengan kesadaran diri, hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang tercantum dalam Al Qur’an surat al Kafirun ayat 6 : ‘laqum diinukum wa liya diin’ (untukmu agamamu, untukku agamaku). Dengan berpegang pada prinsip ajaran toleransi dalam Al Qur’an dan Hadits, walaupun tokoh Ratu Gede Dalem Mekah ini berada dalam lingkungan yang mayoritas non muslim, namun beliau tetap menjadi sosok penguasa yang adil bagi rakyatnya atau tokoh yang disegani, dicintai dan dihormati semasa hidupnya.
Keberadaan Pura Mekah di Bali ini memang sangat menarik dan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih dalam tentang sejarah tokoh-tokoh yang terkait dengan Mekah dan Islam yang ternyata cukup banyak dan tersebar di berbagai wilayah di Bali. Selain sumber-sumber lokal, hasil-hasil penelitian seputar sejarah Islam dan sejarah perdagangan dunia kuno melalui jalur sutra laut juga harus dipelajari yang tentunya akan melibatkan banyak peneliti dari berbagai disiplin ilmu agar bisa mencapai hasil maksimal dan mengetahui nama asli di balik gelar tokoh muslim Dalem Mekah ini yang walaupun sejarahnya telah hilang namun tetap dipuja oleh umat Hindu Bali dan Islam dari generasi ke generasi hingga saat ini.
*****
Ditulis oleh Sofia Abdullah
Catatan Tambahan dan Sumber Tulisan
1. Palinggih = bangunan atau tempat pemujaan dalam keagamaan Hindu di Bali, berfungsi sebagai sarana atau pemusatan pikiran untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan manifestasi-Nya
2. Mandala : Mandala merupakan pola geometris yang diterapkan sebagai dasar untuk merancang tempat suci. Dalam hal ini, terdapat tiga konsep utama yang berhubungan dengan Mandala, yakni Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.
Nista–>Madya–>Utama Mandala : Nista Mandala adalah bagian terluar dari pura /tempat suci yang berbatasan dengan ‘dunia luar’ biasanya ditandai dengan Gapura Bentar (Gapura yang terbelah 2) dan terdapat tempat untuk bersuci. Madya Mandala : Area tengah yang merupakan lapisan kedua, berfungsi sebagai tempat mempersiapkan diri dan meningkatkan konsentrasi sebelum memasuki area tersuci.
Utama Mandala : Area paling suci dan terdalam, tempat utama untuk pemujaan dan sembahyang, dan hanya dapat diakses setelah melewati dua mandala sebelumnya.
3. Gapura Bentar dan Paduraksa : Gapura Bentar adalah gapura dengan ujung terbuka, biasanya ditemukan pada halaman terluar dari bangunan suci. Gapura Paduraksa adalah Gapura dengan ujung menyatu, biasanya ditemukan pada bagian Utama Mandala tempat pelinggih utama diletakkan. Pada makam-makam dan masjid kuno, konsep ini juga masih bisa dilihat, seperti pada makam Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan, makam sunan Ampel dan Sunan Boto putih, dll.
4. Arti kata Gambur & Anglayang : https://kamusbahasaprovinsibali.kemdikbud.go.id/bali-indonesia/cari/Layang
5. Arti dan asal nama Syahbandar : https://id.wikipedia.org/wiki/Syahbandar#:~:text=kepala%20keamanan%20umum
6. Pengempon Pura = Organisasi atau kelompok yang bertugas mengelola, memelihara, dan mengatur administrasi pura. Pengempon bertanggung jawab untuk menjaga kesucian pura, diantaranya melarang kegiatan yang tidak sopan seperti berjudi, minum-minuman keras, atau berkelahi di area pura, memastikan kelancaran operasional pura, termasuk mengatur siapa yang boleh masuk dan kegiatan apa yang diperbolehkan di dalamnya.
7. Piodalan asal kata wedal = keluar/lahir yaitu tradisi perayaan hari kelahiran/peristiwa yang terkait tokoh yang dibuatkan pelinggihnya. Acara piodalan pada tiap-tiap Pura berbeda ada yang setiap 6bln sekali ada yang 1 thn sekali tergantung tradisi masing-masing Pura. Piodalan di pura Mekah dirayakan setiap 6 bulan sekali.
8. Pamedek = pengunjung pura yg datang utk sembahyang
9. Tidak pernah ada dalam sejarah Probolinggo, kota/kecamatan/kelurahan/desa/kampung yang bernama Mekah, sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Probolinggo#:~:text=14%20Pranala%20luar-,Etimologi,proklamasi%20kemerdekaan%2017%20Agustus%201945
10. T.W Arnold, Preaching of Islam, p.363-4, Charles Scribner’s Sons, New York, 1913
11. Sumber Situs Internet seputar Pura Mekkah
a.https://baliexpress.jawapos.com/balinese/675124207/pura-mekah-tempat-suci-hindu-bali-unik-di-denpasar-dengan-tradisi-langka-yang-mengundang-penasaran-terutama-saat-sembahyang-terakhir?.
b.https://budayabali.com/trapped-in-the-enchantment-and-mystery-of-the-gambur-anglayang-temple-on-the-buleleng-coast
c. https://baliexpress.jawapos.com/balinese/675553520/lontar-kuno-pura-mekah-di-bali-penelitian-yang-menguak-sejarah-dan-keunikan-tradisi-hindu-bali?page=2
d. https://en.wikipedia.org/wiki/Dang_Hyang_Nirartha
e. https://www.beritabali.com/berita/201905200001/pura-mekah-bentuk-pengakuan-terhadap-agama-islam-di-denpasar
f. https://www.sonora.id/read/423459760/pura-mekah-bukti-akulturasi-umat-hindu-dan-muslim-di-masa-lalu
g. https://kanduksupatra.blogspot.com/2015/07/pura-mekah-pantang-menghaturkan-daging.html?m=1
12. Peristiwa pergantian Kiblat :
a. https://kemenag.go.id/internasional/kisah-masjid-qiblatain-saksi-awal-mula-perubahan-arah-kiblat-ke-ka-bah-imqHe
b. https://id.wikishia.net/view/Perubahan_Kiblat
Makalah Penelitian yang kami jadikan sumber untuk tulisan ini :
1. Renawati, Pande, Multi Etnis Dalam Pemujaan Dewa-Dewi di Pura Negara Gambur Anglayang
https://id.scribd.com/document/483941867/385-109-968-1-10-20200118
2. MS Sulistyawati, Pengaruh Kebudayaan Tionghoa Terhadap Peradaban Budaya Bali
https://profsuli.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/pengaruh-kebudayaan-tionghoa-terhadap-peradaban-budaya-bali.pdf
3. I Nyoman Djuana, Ni Made Surawati, Pura Mekah di Banjar Anyar, Desa Poh Gading, Ubung Kaja, Kota Denpasar (Analisis Struktur, Historis dan Fungsi)
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=891379&val=13976&title=PURA%20MEKAH%20DI%20BANJAR%20ANYAR%20DESA%20POH%20GADING%20UBUNG%20KAJA%20KOTA%20DENPASAR

Tinggalkan komentar