Ketika kami berkunjung ke kompleks situs makam kuno muslimah, Siti Fatimah Bt Maimun yang telah berusia kurang lebih 1000 tahun, kami melihat 8 makam panjang yang masih tertera nama dari pemilik makam tersebut.
Lokasi 8 makam panjang ini tersebar di beberapa tempat di lokasi makam kuno. 2 makam panjang yang pertama letaknya tidak jauh dari gapura utama, posisi makam berada di sebelah kanan dan kiri jalan setapak yang dilalui peziarah.

Nama yang tertera pada nisan di 2 makam panjang tersebut adalah R. Said dan R. Ahmad. Masuk ke dalam kompleks situs makam kuno Siti Fatimah bt Maimun terdapat 3 makam panjang lagi yang berada dalam pagar dinding dengan gapura pendek yang terbuat dari batu cadas, nama yang tertera pada makam tersebut : Sayyid Kharim, Sayyid Djakfar, Sayyid Syarif.


Tidak jauh dari lokasi gapura 3 makam panjang ini terdapat pagar dinding yang lain yang berisi 2 makam panjang dan 1 makam panjang di luar pagar dinding.
2 makam panjang yang berada di dalam pagar dinding bernama Sayyid Djalal dan Sayyid Djamal. Makam panjang yang berada di luar pagar dinding bernama Sayyid Djamaluddin.


Siapakah para tokoh yang tertera yang memiliki ukuran panjang makam berkali lipat dari ukuran makam pada umumnya?
Makam panjang di Indonesia jumlahnya sangat banyak dan hampir terdapat pada setiap kompleks pemakaman kuno. Makam Panjang atau kubur panjang, seperti yang terlihat pada foto-foto yang kami ambil di halaman ini, adalah makam yang panjangnya jauh melebihi ukuran makam yang ada saat ini. Panjang dari makam ini sekitar 7 hingga 9m, sementara rata-rata panjang makam umum sekitar 1.80 sd 2mtr dengan kedalaman 1.50-1.80 cm. Hingga saat ini ukuran panjang makam disesuaikan dengan ukuran tubuh jenazah dengan sedikit penambahan atau pengurangan.

Karena panjang makam mengikuti ukuran panjang tubuh jenazah, tentunya makam-makam panjang ini adalah makam leluhur yang memiliki badan yang masih sangat tinggi dan besar. Makam-makam panjang ini juga bisa kita lihat pada makam para nabi dan Rasul as yang hidup jauh sebelum nabi Muhammad saw yang hingga saat ini masih ramai diziarahi.

Keberadaan manusia raksasa atau manusia yang memiliki tinggi tubuh berkali lipat lebih tinggi dari manusia modern terdapat hampir dalam setiap ajaran agama dan peradaban kuno. Sayangnya pengetahuan umum saat ini yang merupakan kreasi era renaisance yang menganggap agama adalah mitos dan bertentangan dengan ilmu pengetahuan menyebabkan sebanyak apapun bukti arkeologis yang ditemukan tidak bisa masuk dalam kajian penelitian ilmiah.
Bukti arkeologis yang ditemukan tentang keberadaan manusia raksasa ini sebetulnya sudah cukup banyak, bukan hanya makam panjang dan bangunan-bangunan raksasa yang tersebar di berbagai belahan dunia namun juga terdapat temuan fosil jejak kaki manusia, fosil jejak tangan, bahkan fosil jari manusia raksasa pernah ditemukan di salah satu Piramida peninggalan peradaban Mesir Kuno.




Dalam ajaran Islam dikisahkan dalam hadits-hadits yang diriwayatkan keluarga dan sahabat nabi, bahwa ribuan tahun sebelum diutusnya nabi Muhammad saw, bumi dihuni oleh berbagai kaum manusia yang memiliki ukuran tubuh berbeda-beda, diantaranya adalah manusia-manusia bertubuh tinggi besar. Manusia-manusia inilah yang membangun peradaban ribuan tahun lalu.

Dalam agama Kristen, Yahudi bahkan dalam agama Hindu juga disebutkan tentang keberadaan manusia-manusia raksasa ini.
Makam-makam panjang yang tersebar di kepulauan nusantara ini adalah bukti bahwa peradaban leluhur Nusantara sudah sangat tua dan makam-makam panjang tersebut adalah milik leluhur Nusantara yang pertama kali membuka peradaban di berbagai wilayah di kepulauan Nusantara. Setelah Peradaban pertama ini hilang dan wilayahnya ditinggalkan dan menjadi hutan, para penguasa dan wali generasi setelahnya yang dipercaya untuk membuka wilayah baru menjadikan keberadaan makam-makam panjang ini sebagai patokan untuk membuka kembali wilayah yang pada masa lalu pernah dihuni.
Makam-makam panjang ini mereka jadikan sebagai “pakubumi” atau sebagai penanda bahwa wilayah tersebut pada masa lalu pernah menjadi wilayah yang pernah dihuni manusia. Para wali ini kemudian menjadikan wilayah tersebut area pemakaman dan wilayah di sekitar makam sebagai wilayah pemukiman.
Diantara para wali yang terkenal menggunakan makam leluhur sebagai tanda dibukanya wilayah baru adalah syekh Subaqir, yang kisahnya dikenal sebagai wali yang jadi makam panjang sebagai tumbal seperti yg dikisahkan di babad adalah sebagai penanda bahwa diwilayah tersebut pernah ditinggali manusia.
Buat yang suka ziarah ke situs-situs makam kuno bisa dilihat adanya Makam-makam panjang yang berada di lokasi yang sama dengan makam para wali, yang menandakan wilayah tersebut pernah menjadi pemakaman pada generasi sebelumnya dan adanya pemakaman juga menandakan di wilayah tersebut pernah terdapat pemukiman.
Ditulis oleh Sofia Abdullah

Tinggalkan komentar