
Situs makam Boto Putih atau Pasarean Agung Sentono Boto Putih lokasinya tidak jauh dari situs makam Sunan Ampel. Dari makam Sunan Ampel bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 7 menit (750 m) melewati pasar souvenir yang menghubungkan makam Sunan Ampel dengan Sentono Boto putih.

Situs makam dengan luas kurang lebih 4000 meter persegi ini, terdiri dari 2 kompleks makam besar, yang pertama makam pangeran Lanang Dangiran, keturunan ke-8 dari Brawijaya V yang wafat pada tahun 1638 dan kompleks makam al Habib Syekh bin Ahmad bin Abdullah Bafaqih yang wafat tahun 1811.
Bagian ke-2 tulisan kami, akan membahas tokoh-tokoh yang dimakamkan di situs kompleks pemakaman ini, dan bentuk cungkup makam yang beragam mengikuti perkembangan zaman karena menurut penjaga makam yang kami temui kompleks pemakaman ini telah ada sejak abad ke-14 dan hingga saat ini, sebagian lokasi masih di gunakan sebagai lokasi pemakaman umum.


Kata ‘Sentono’ berasal dari bahasa sanskrta ‘stana‘ yang artinya tempat yang besar. Dalam bahasa Jawa kuno disebut pula ‘Hastana’ atau Astana. Hastana dalam lidah penduduk jawa disebut juga atau ‘Stono’ yang artinya Kompleks pemakaman besar atau Necropolis. Kompleks pemakaman yang dibangun indah adalah salah satu cara dan tradisi penduduk nusantara pada masa lalu untuk menghormati leluhur.
Selain Astana/Astono/Sentono, terdapat berbagai macam istilah pemakaman lain yang seringkali digunakan leluhur nusantara pada masa lalu, dan bertahan hingga saat ini, diantaranya; Pasarean artinya tempat peristirahatan, Pasarean Agung artinya tempat peristirahatan yang luas atau tempat pejabat besar dimakamkan. Kramat yaitu makam ulama yang disucikan. Jirat/Cungkup yaitu ruangan tertutup berisi lebih dari 2 makam.
Sekarang Nama-nama ini sebagian sudah tinggal nama wilayah, yang menandakan bahwa wilayah tersebut pada masa lalu pernah menjadi lokasi pemakaman. Sayangnya pendidikan sejarah yang kurang memadai di negeri kita menyebakan banyak generasi saat ini dan bahkan sebelumnya yang kurang memahami arti kata-kata tersebut, kecuali mungkin para peminat sejarah.
Kembali ke Pasarean Agung Sentono Boto Putih, bentuk kompleks makam ini seperti umumnya komplek situs pemakaman kuno terdiri dari beberapa lapis gapura dan jalan setapak yang menghubungkan antar kompleks makam yang dikelilingi dinding dan gapura paduraksa. Beberapa gapura ada yang masih lengkap dengan pintu kayu, beberapa ada diganti dengan pintu besi atau hanya tinggal gapuranya saja.

Pasarean Agung Sentono Boto putih sesuai dengan namanya besar kemungkinan pada masa lalu tediri dari dinding dan gapura yang terbuat dari bata putih. Bata putih dan bata merah adalah bata yang umum digunakan pada masa lalu untuk bangunan benteng keraton, masjid dan kompleks pemakaman. Renovasi tanpa memperhatikan aspek keaslian sejarah menyebabkan struktur bangunan yang menggunakan bata putih sudah sulit ditemukan, namun demikian masih terdapat beberapa makam di Jawa Timur yang menggunakan bata putih. Dari namanya ‘Pasarean Agung Sentono Boto Putih’, dapat kita ketahui pada awalnya bangunan pada situs kompleks makam ini terbuat dari bata putih.

Dilihat dari kedekatan jarak antara makam Sunan Ampel dengan Pasarean Agung Sentono Boto Putih sangat besar kemungkinan bahwa wilayah ini pada awalnya satu, di tambah lagi bila dilihat dari namanya ‘Pasarean Agung’ yang artinya tempat peristirahatan yang luas, dapat dipastikan bahwa makam Sunan Ampel termasuk bagian dari Pasarean Agung Sentono Boto Putih. Alih generasi, renovasi yang tidak melihat aspek sejarah, dan penduduk yang terus bertambah menyebabkan 2 lokasi situs makam kuno ini menjadi terpisah.
Ditulis oleh : Sofia Abdullah
Sumber :
1. Zoetmulder, P.J, Kamus Jawa Kuna-Indonesia/P.J Zoetmulder, S.O. Robson; penerj.Darusuprapta, Sumarti Suprayitna-Jakarta; Gramesia Pustaka Utama, 1995, 1536 hlm;24 cm
2. Tjandrasasmita. Uka, Arkeologi Islam Nusantara, Cet.1, 2009, Kepustakaan Populer Gramedia.
3. Dan dari berbagai sumber terkait lainnya
Tinggalkan komentar