Mengunjungi Situs Makam Sunan Ampel

Alhamdulillah akhirnya sempat juga mengunjungi makam Sunan Ampel, setelah lebih dari 10thn menelusuri sejarah beliau, sebagai salah satu anggota Walisongo dan sebagai sosok ulama yang menjadi salah seorang leluhur penduduk Jawa keturunan Champa. Makam Sunan Ampel berlokasi di Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Kota SBY, Jawa Timur 60151. Makam Sunan Ampel terletak di bagian belakang Masjid Agung.

Gapura Paduraksa utama menuju makam Sunan Ampel. Gapura adalah ciri khas komplek situs pemakaman kuno. Gapura pada situs pemakaman berfungsi sebagai pembatas antar kompleks makam. Sayang sekali karena renovasi berulang bentuk gapura dan fungsinya pada makam Sunan Ampel sudah tidak jelas lagi. Foto : koleksi pribadi.

Seperti umumnya situs-situs sejarah Islam di Indonesia yang mengalami banyak perubahan, situs makam Sunan Ampel pun demikian. Selain kompleks makam yang berulang kali dirombak, Batu nisan yang seharusnya berfungsi sebagai penanda kubur dengan informasi jenazah, pada situs makam Sunan Ampel kami tidak dapat menemukan informasi ini.

Informasi jenazah pada batu nisan memiliki fungsi yang sangat penting sebagai bukti sejarah tertulis yang kuat. Nisan Sunan Ampel dibuat tinggi dan polos, hanya ukiran sederhana tidak terdapat keterangan apapun. Informasi tentang Sunan Ampel hanya di dapat dari penjaga makam setempat. Tanpa adanya bukti tertulis pada nisan Sunan Ampel, walaupun komplek makam dibuat lebih indah, beberapa generasi yang akan datang lokasi situs ini akan sangat mudah dipalsukan, dihilangkan jejaknya atau hanya sekedar diragukan keasliannya.

Gbr.1 Nisan Sunan Ampel dibuat tinggi dan polos, hanya ukiran sederhana tidak terdapat keterangan apapun. Informasi tentang Sunan Ampel hanya di dapat dari penjaga makam setempat. sumber: koleksi pribadi
Gbr.2 Makam Sunan Ampel dan Istri berada di balik pagar. Gbr.1 & 2 memperlihatkan tinggi batu nisan hasil perombakan terakhir 2012, seperti yang terlihat, Batu Nisan pada makam Sunan Ampel pada perombakan terbaru dibuat tinggi dan tidak tertulis apapun seperti seharusnya fungsi nisan. sumber : koleksi pribadi
Gbr.3 Suasana di sekitar makam Sunan Ampel. Sumber gambar : koleksi pribadi.
Gbr.4 Gapura menuju makam Sunan Ampel dengan ratusan peziarah setiap harinya. Sumber gambar : Koleksi Pribadi
Gbr 5 Ratusan peziarah mengunjungi makam Sunan Ampel setiap harinya. Sumber gambar: Koleksi pribadi

*Sejarah Singkat Sunan Ampel*

Nama asli Sunan Ampel adalah Ali Rahmatullah. Penduduk Jawa Tengah mengenal beliau dengan sebutan Sunan Rahmad, diambil dari nama belakang beliau Rahmatullah. Sebelum hijrah ke Jawa, Sunan Ampel adalah seorang pangeran dan ulama yang berasal dari Champa.

Gbr. 6 Peta Champa, semenanjung Melayu, Sumatera dan Jawa

Dari pihak ibu, Sunan Ampel adalah keturunan diraja Champa, Zainal Abidin I, yang berkuasa dari tahun 1360-1390. Zainal Abidin I, dikenal pula dengan sebutan Che Bonga atau dalam bahasa melayu Cik Bunga. Pada masa kekuasaannya, kerajaan Islam Champa mengalami puncak kejayaan.

Hubungan Kesultanan Chermin, Champa, Jawa, Malaka dan Kerajaan Samudera (Pasai)

Gbr.7 peta Kesultanan Chermin, lokasinya sekarang berada di Kelantan.

Champa, Chermin, Malaka, Pasai dan Jawa memiliki hubungan baik yang timbal balik sejak berdirinya negeri Champa tahun 192 M. Hubungan baik ini terus terjaga dengan pernikahan, perdagangan dan saling bantu bila terjadi serangan dari luar. Posisi Champa yang strategis menyebabkan negeri ini menjadi incaran negeri-negeri lain. Diantaranya Mongol, Khmer dan Dai Viet (Sukothai, Tibet). Ketiga negeri ini selalu menjadi penyulut peperangan di Champa dan Semenanjung (Malaka).

Dari tahun 1345 hingga 1357, Kesultanan Champa, Chermin (Kelantan), Kamboja, Malaka dan Samudera Pasai menjadi negara bawahan kerajaan Ayodhia (Sukothai dari Tibet).

Tahun 1357 Jawa menyerang Ayodhia dan membebaskan negeri-negeri jajahannya,  diantaranya Champa, Malaka dan Samudera Pasai. Negara-negara ini kemudian menjadi  bagian dari Jawa sebagai negara mitra yang berada dibawah lindungan Jawa (Majapahit). Masa ini ditandai dengan banyaknya perwakilan Jawa yang memiliki kedudukan penting di Champa, Kelantan, Malaka, hingga Samudera Pasai. Pada masa inilah Zainal Abidin I atau Che Bonga menikahkan putrinya, Amarawati dengan Jamaluddin Husein al Akbar, seorang sayyid, ulama dan pemimpin dari Jawa keturunan India dan Yaman. Beliau adalah kakek dari Sunan Ampel. Pernikahan putri Ramawati dengan Jamaludin Husein al Akbar menurunkan beberapa putra dan putri diantaranya ayahanda Raden Ali Rahmatullah, Ibrahim Zainuddin al Asghar.

Ibrahim Zainuddin Asghar bin Jamaluddin al Akbar menikah dengan putri Champa, bernama putri Candrawulan, kakak dari putri Dwarawati, istri Brawijaya V.  Pernikahan Ibrahim Zainuddin al Asghar dengan putri Chandrawulan menurunkan beberapa orang putra diantaranya Raden Ali Rahmatullah dan Raden Ali Murtadho.

Setelah pergantian kekuasaan beberapa kali, ayah Sunan Ampel, Ibrahim Zainuddin al Asghar menjadi diraja Champa yang dikenal juga dengan nama penobatan beliau Zainal Abidin II Diraja Champa, yang diambil dari nama kakek beliau Zainal Abidin I. Selain menjadi pemimpin tertinggi di Champa, Zainal Abidin II juga menjadi pemimpin tertinggi di Samudera Pasai yang pada masa itu masih menjadi bagian dari Jawa.

Tahun 1451, kerajaan Islam Champa mengalami serangan terus menerus dari Dai Viet hingga beberapa kota dikuasai. Tahun 1471 peperangan mencapai puncaknya dengan kekalahan Champa, ditandai dengan jatuhnya ibu kota Wijaya ke pasukan Dai Viet.

Peristiwa peperangan yang berlangsung lebih dari 20 tahun ini menyebabkan terjadinya gelombang hijrah penduduk Champa ke Jawa dan Sumatera. Dalam naskah kuno, peristiwa ini digambarkan ketika dua pangeran dari Champa yaitu Ali Rahmatullah (Raden Rahmat/Sunan Ampel) dan Ali Murtadho (Raden Santri) bersama rombongannya hijrah ke Jawa dan menghadap Brawijaya V untuk meminta suaka.

Berdasarkan silsilah keturunan Raden Fatah yang kami teliti, Brawijaya V, yang bernama asli wan Abu Abdullah bin Ali Nurul Alam, adalah sepupu dari Sunan Ampel. Ayah Sunan Ampel, Ibrahim Zainuddin al Asghar, dan ayah dari wan Abu Abdullah (Brawijaya V), adalah saudara seayah. Sementara istri Brawijaya V yang bernama Dwarawati adalah adik dari ibunda sunan Ampel, Chandrawulan.

Raden Ali Rahmatullah dan pengungsi Champa kemudian diberi wilayah tak bertuan oleh Brawijaya v yang  diberi nama Ampel Denta. Raden Ali Rahmatullah memimpin wilayah ini hingga mendapat gelar ‘Sunan Ampel’. Dibawah kepemimpinan Sunan Ampel, wilayah ini kemudian berkembang menjadi kota pelabuhan yang maju yang kini dikenal dengan nama Surabaya.

Silsilah, Istri dan Keturunan Sunan Ampel

Sunan Ampel diperkirakan lahir pada tahun 1401, hijrah ke Jawa sekitar tahun 1450an. Tahun 1450an hingga wafatnya 1481, Raden Ali Rahmatullah menjabat sebagai sunan di wilayah Ampel. Sunan adalah gelar jabatan politik bagi ulama yang memimpin satu daerah.

Dari garis keturunan ayahnya, Raden Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel adalah seorang Sayyid atau keturunan dari Rasulullah saw dari putrinya Sayyidah Fatimah az Zahra. Berikut silsilah beliau :

As-Sayyid Ali Rahmatullah bin
As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy bin
As-Sayyid Husain Jamaluddin bin
As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
As-Sayyid Abdullah bin
As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin- As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
As-Sayyid Alwi bin
As-Sayyid Muhammad bin
As-Sayyid Alwi bin
As-Sayyid Ubaidillah bin
Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin
Al-Imam Isa Ar-Rumi bin
Al-Imam Muhammad An-Naqib bin
Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin
Al-Imam Ja’far Shadiq bin
Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
Al-Imam Al-Husain bin
Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Sunan Ampel menikah dua kali, istri pertamanya, Dewi Candrawati, putri Arya Teja, adipati Tuban. Istri keduanya bernama  Nyai Karimah putri dari Kyai Kembang Kuning (Kembang Kuning adalah nama wilayah antara Wonokromo dan Ampeldenta).            

Istri pertama Sunan Ampel, Dewi Candrawati, lahir dan besar di Champa ketika ayahnya masih menjabat sebagai perwakilan Jawa di Champa. Setelah menikah dengan Raden Ali Rahmatullah, Dewi Candrawati dikenal juga dengan gelar ‘Nyai Ageng Manila’ , dari gelarnya ini dapat diketahui bahwa suami dari Nyai Ageng Manila adalah seorang ‘Kyai Ageng’, artinya sebelum menjabat sebagai Sunan Ampel, Raden Ali Rahmatullah pernah menjabat sebagai ‘Kyai Ageng’, yaitu pejabat tinggi di Manilla. 

Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati menurunkan putra putri :                                 

1. Sunan Bonang yang bernama Maulana Makdum Ibrahim,                                              2. Siti Syari’ah / Nyai Ageng Maloka                                                                    3. Sunan Derajat / Sunan Sedayu yang bernama Raden Qosim / Rdn Syarifuddin,   4. Siti Muthmainnah, menikah dengan Sayid Muhsin Yaman, berputra Amir Hamzah.                                                                 5. Siti Sofiah menikah dengan Raden mas Said/Raden Mas Sahid / Sunan Kalijaga. (Kalijaga adalah nama daerah di Cirebon. Sejarang wilayah kelurahan di Kecamatan Harjamukti, Cirebon.)

Dengan Istri keduanya, Nyai Mas Karimah binti Kyai Kembang Kuning (Ki Bang Kuning), memiliki beberapa putra-putri yang juga memiliki kedudukan penting pada masanya, diantaranya :                                                       

1. Nyai Mas Murthasiyah / Asyiqah menikah dengan Raden Paku / Sunan Giri / Maulana Ishaq                                                                         2. Nyai Mas Murtasimah menikah dengan Adipati Demak, Raden Hasan yang kemudian lebih dikenal dengan Raden Fatah.                                                                        3. Raden Ahmad Hussam / Husamuddin (Sunan Lamongan)                                             4. Raden Zainal Abidin (Sunan Demak) (sbr. https://www.geni.com/people/Sunan-Demak-Raden-Zainal-Abidin-Sunan-Demak/)    

Dari hasil penelusuran kami, baik Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Giri dan Sunan-Sunan yang lain adalah nama Gelar atau nama jabatan setingkat jabatan gubernur saat ini. Dibalik gelar-gelar ini ada sederet nama-nama tokoh dengan gelar yang sama, karena memimpin daerah yang sama hanya berbeda generasi. Diantara mereka ada tokoh-tokoh sunan yang namanya kita kenal ada juga yang belum dikenal. Insya Allah dalam tulisan berikut akan kami buka biografi mereka satu persatu.

Kendala yang paling berat dalam menelusuri tokoh-tokoh sunan adalah banyaknya pemalsuan kisah-kisah para tokoh dan minimnya sumber sejarah. Karena masalah ini banyak para peneliti dan peminat sejarah yang akhirnya mengatakan kemungkinan mereka tokoh fiktif dan ungkapan tersebut tidak bisa disalahkan karena minimnya sumber-sumber sejarah. Namun demikian, derasnya arus informasi 10 tahun terakhir memudahkan kami mengumpulkan bukti-bukti penting lain terkait dengan biografi para sunan, diantaranya silsilah keturunan para sunan yang memberikan informasi nama-nama asli para sunan dan sejarah situs makam serta perombakannya yang merupakan bukti kuat bahwa tokoh sunan memang pernah ada dan berperan penting dalam sejarah Islam di Indonesia.   

Sebagai peminat dan peneliti sejarah, penting bagi kita untuk mencari tahu sejarah para wali, karena kedudukan mereka bukan hanya sebagai ulama dan penyebar Islam tapi juga salah satu leluhur nusantara. Mengenal mereka, khususnya umat muslim di Indonesia, artinya kita mengenal diri kita sendiri dan mengetahui jati diri sebagai bangsa Indonesia yang majemuk. Semoga tulisan seserhana ini bisa sedikit memberi kejelasan tentang sejarah Sunan Ampel Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmad.

Galeri

Makam Sunan Ampel dan Istri sekitar tahun 1920an. Renovasi ini dilakukan pada masa  pemerintah Belanda. Makam dikelilingi dinding kapur dan pagar besi. Bentuk nisan belum mengalami banyak perubahan dan masih terdapat tulisan pada nisan, sayangnya hingga saat ini,  kami belum mendapatkan kualitas foto yang lebih baik agar tulisan yang  tertera pada batu nisan dapat terbaca. Peran nisan pada makam kuno sangat penting, selain kita dapat mendapat informasi jenazah dari mulai nama asli, tahun lahir dan wafat, nisan yang tertulis adalah bukti kuat kedatangan Islam di Indonesia.
Renovasi makam Sunan Ampel telah dilakukan berulang kali sejak era kolonial. Renovasi resmi pertama dilakukan tahun 1939. Renovasi ini menyebabkan ratusan makam kuno dibongkar, batu nisan lama yang bertulis diganti dengan yang baru. Renovasi ini disengaja atau tidak telah menghilangkan banyak bukti sejarah Islam yang penting.
Makam sunan Ampel sekitar tahun 1990an, pagar besi di atas dinding yang awalnya mengelilingi kompleks makam,  pada renovasi ini hanya mengelilingi makam Sunan Ampel. Makam istri Sunan Ampel pun tidak terlihat. Bentuk makam dan batu nisan sudah berubah, namun keterangan makam masih tertulis di bawah nisan.
Tulisan baru sebagai petunjuk makam posisinya berada paling bawah, sementara tidak terdapat apapun pada nisan.
Makam Sunan Ampel sekitar awal tahun 2000an. Pagar besi mengelilingi makam, bentuk makam dan nisan berubah. Ada atau tidaknya tulisan pada makam tidak diketahui seperti yang tertera pada gambar, karena nisan ditutup kain mori putih. Keterangan bahwa makam tersebut adalah makam Sunan Ampel hanya dapat dilihat dari tulisan diatas.
Sebagai bahan perbandingan kami mencari bentuk nisan di Jawa Timur dari tahun yang sama dan bentuknya mirip dengan nisan Sunan Ampel untuk memastikan letak tulisan pada nisan Sunan Ampel yang sudah tidak ada lagi dan separah apa kerusakan makam yang terjadi pada situs makam Sunan Ampel.
Makam siti Ruqayah Cempo putri Sunan Kalijaga, di Kampung Peneleh Surabaya, hanya berjarak 15 menit dari makam sunan Ampel. Renovasi Makam mbah nyai Ruqayah ini adalah cara renovasi situs makam yang seharusnya, tulisan pada batu nisan tidak dihilangkan. Walaupun telah dibuat replika nisan, nisan lama tetap di pertahankan.
Sangat disayangkan renovasi yang mengeluarkan biaya banyak ini bukannya melestarikan keaslian warisan sejarah namun justru merusak situs penting dalam sejarah Islam. Situs makam kuno di Indonesia dan wilayah Asia Tenggara baik sebelum atau sesudah kedatangan Islam adalah lokasi yang paling lengkap untuk mencari informasi tentang jenazah yang dimakamkan. Dari mulai nama asli, gelar, tahun lahir, tahun kematian hingga silsilah terdapat pada situs makam kuno. Banyaknya situs makam kuno yang dihancurkan menyebabkan informasi berharga leluhur nusantara ini hanya didapat dari penunggu makam.
Nisan-nisan baru tanpa nama di sekitar makam Sunan Ampel.
Sisa batu nisan lama yang masih bertebaran di lokasi makam, namun sayangnya karena perombakan era kolonial, nisan-nisan yang terlihat kuno ini pun hanya beberapa yang masih berukir nama jenazah.
Salah satu cara mengetahui bentuk dan fungsi bangunan pada masa lalu adalah dengan membandingkan antara situs makam kuno yang masih ada dan masih memiliki fungsi sama hingga saat ini. Dua gambar berikut adalah situs kompleks makam kuno Sunan Sendang Dhuwur, Lamongan di lokasi perbukitan dan situs makam kuno Aermata Ibu di Bangkalan, Madura. Kedua makam ini berasal dari abad ke 15 yang masih berfungsi hingga saat ini karena masih di kelola oleh keturunan dari keluarga yang dimakamkan di lokasi situs. Di Indonesia masih banyak situs makam kuno seperti ini, dan seharusnya bisa dijadikan contoh ketika renovasi, agar tidak menghilangkan bukti sejarah.
Gambar salah satu nisan pada salah satu kompleks makam di situs makam Sunan Sendang Dhuwur, Lamongan. Bentuk nisan kuno yang banyak ditemukan di Jawa Timur dan Madura. Pada nisan ini masih tertera nama jenazah. Nisan pada makam Sunan Ampel, walaupun dibuat replikanya seharusnya tetap tertulis nama dan keterangan yang seharusnya terdapat pada nisan.
Situs makam kuno Aermata Ibu, Bangkalan, Madura. Pada 2 gambar di atas terlihat jelas susunan situs makam kuno yang terbagi menjadi beberapa kompleks makam. Setiap kompleks makam dipisahkan oleh gapura. Terdapat 2 Lokasi situs makam kuno: daerah perbukitan atau kota. Lokasi makam di lokasi yang berbukit ditandai Semakin keatas kompleks makam semakin tua dan tokoh yang dimakamkan semakin penting. Bila lokasi makam di daerah perkotaan, semakin masuk kedalam kompleks makam, semakin penting tokoh yang dimakamkan, contoh makam sunan Kudus, Sunan Demak, kompleks situs makam di Banten.
Salah satu cara mengetahui bentuk dan fungsi bangunan pada masa lalu adalah dengab membandingkan dengan situs yang memiliki fungsi sama yang masih ada hingga saat ini. 2 gambar di atas adalah situs kompleks makam kuno Aermata Ibu di Bangkalan, Madura dan situs makam Sunan Sendang Dhuwur, lamongan. Kedua makam ini berasal dari abad ke 15 yang masih berfungsi hingga saat ini karena masih di kelola oleh keturunan dari keluarga yang dimakamkan di lokasi situs. Di Indonesia masih banyak situs makam kuno seperti ini, dan seharusnya bisa dijadikan contoh ketika renovasi, agar tidak menghilangkan bukti sejarah.



Ditulis oleh : Sofia Abdullah

Sumber-sumber

1. Al Hadad. Bin Thahir. Al Habib Alwi, Sejarah Masuknya Islam Di Timur Jauh, Cet.I, 2001, Lentera Baristama.

2. Sunyoto. Agus, Atlas Wali Songo, Cet.1, 2012, Pustaka Iman.

3. C.I.E.MA.Arnold.TW, Preaching Of Islam : A History Of The Progation Of The Muslim Faith, 1913.

4. Rochyatmo. Amir, Wimarta. Sri. Soekesi, Babad Tanah Jawi 1, Buku1, Amanah Lontar, 2003

5. Riana. I Ketut, S. U. Prof. Dr. Drs, Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nagara Krtagama Masa Keemasan Majapahit, hal.36-37 Cet 1, Kompas Media Nusantara.

6. Nugroho. Djoko. Irawan, Majapahit Peradaban Maritim Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia,hal. Cet.1,2011, Suluh Nuswantara Bakti.

7. Coedes, George (1975), Vella, Walter F. (ed.), The Indianized States of Southeast Asia, University of Hawaii Press, ISBN 978-0-824-80368-1

8. Sumber-sumber Kesultanan Chermin :
Prof DGE Hall, A History of South East Asia, London Macmillian, 1955 Page 149.

Tinggalkan komentar