Makna permainan Congklak’
Permainan congklak adalah permainan tradisional yang menggunakan satu bilah kayu dengan 14 lubang kecil berukuran sama pada bagian kanan dan kirinya, dan dua lubang besar diujung kanan dan kiri. 14 lubang kecil, dibagi menjadi 2 bagian dengan 7 baris lubang pada kanan-kirinya, tiap-tiap lubang pada bilah kayu ini diisi oleh 7 buah ‘kuwu’ (sejenis rumah kerang yang sudah tidak ada isinya lagi). Kuwu-kuwu ini kemudian dijalankan oleh si pemain dan permainan akan berakhir atau mati bila kuwu terakhir yang dipegang pemain masuk kedalam lubang yang kosong.
Permainan congklak di Indonesia dikenalkan dan disebarluaskan oleh Sunan Ampel. Sunan Ampel yang bernama asli Ali Rahmatullah, adalah pangeran yang berasal dari Champa (sekarang Vietnam). Ketika kerajaan Islam Champa jatuh ke tangan bangsa Annam dan Khmer yang beragama Budha tahun 1471, sebagian besar penduduk Champa hijrah ke pulau Jawa, Sumatera dan negara-negara sekitarnya, dari sinilah permainan congklak dikenal di wilayah Asia Tenggara yang kemudian disebarluaskan oleh para pedagang lintas benua hingga ke India dan Afrika.
Di Asia Tenggara permainan congklak disebut dengan sebutan yang kurang lebih sama; congklak, congkak, sunkak. Di India permainan ini dikenal dengan nama mancala, di Afrika di kenal dengan nama mangala.

Bilah congklak berbentuk seperti perahu yang menggambarkan perjalanan manusia. Bentuk perahu pada bilah papan congklak yang dikenal di Indonesia dan Asia Tenggara, menjadikan permainan ini di India dan Afrika dikenal dengan mangkala atau mancala. Kata mancala berasal dari bahasa Arab dari kata ‘minqalah’ yang berarti berpindah atau bergerak. Pergerakan manusia dari satu wilayah ke wilayah lain pada masa lalu terkait erat dengan perahu atau kapal layar. (Sumber gbr. COLLECTIE_ TROPENMUSEUM_Speelbord_voor_mancala_spel_TMnr_1100-15.jpg )

Permainan congklak di India disebut chenemane atau ali guli mane. Sumber gbr. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ali_Guli_Mane#/media/File%3AChennemane.jpg from the work of: prof .Visvanatha Badikana
Di Indonesia, karena permainan congklak ini dibuat dan disebarluaskan oleh seorang ulama besar pada masanya, tentunya permainan congklak bukan hanya sekedar permainan namun memiliki makna yang luas. Bukan hanya dari segi manfaat permainan tapi juga memiliki filosofi yang menggambarkan intisari ajaran Islam dan merupakan pengejawantahan dari ayat Al Qur’an dan hadits nabi saw tentang makna penghambaan manusia kepada Allah SWT yang dijelaskan melalui permainan, dengan tujuan agar makna penghambaan dapat difahami dengan mudah bahkan oleh anak-anak sekalipun.
Namun sayangnya kurangnya informasi mengenai sejarah dan budaya negeri ini menyebabkan mayoritas bangsa ini hanya menerima tanpa memahami makna Islami dan sejarah yang tersimpan dalam berbagai warisan Budaya, diantaranya permainan congklak ini yang telah menyebar keseluruh masyarakat nusantara.

Anak-anak Thailand bermain congklak. Permainan congklak di Thailand berasal dari Champa dan Siam. Sumber gambar : https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_mancala_games#/media/File%3AThai-girls-playing-with-mancala-board-possibly-main-chakot-or-mak-khom.jpg
Makna kata ‘congklak atau congkak’, dakon dan kuwu.
Kata congklak berasal dari bahasa melayu congkak, yang artinya sombong Dalam bahasa Jawa permainan congklak disebut juga dengan permainan ‘dakon’. Kata ‘dakon’ berasal dari kata ‘daku’ yang berarti ‘milikku’.
Kuwu adalah bangkai kerang. Kenapa sunan Ampel menggunakan kuwu dalam permainan ini? Bukan batu atau yang lain? Apa makna yang ingin ditunjukkan dalam kuwu? Dari mulai bentuk bilah papan congklak yang berbentuk perahu dengan 7 lubang pada tiap sisi, pemilihan nama permainan congklak, dakon, alat permainan yaitu kuwu dan cara permainan semuanya memiliki makna yang jelas.
Secara keseluruhan makna permainan congklak adalah untuk mengajarkan kaum muslim agar menjadi manusia yang taat beragama, agar hidup di dunia tidak sia-sia.
Di mulai dari alat permainan yaitu kuwu. Kuwu digunakan karena sangat mendekati dengan penggambaran manusia dalam permainan congklak. Kuwu adalah sebutan untuk bangkai kerang atau rumah kerang yang kosong dari kerang yang sudah mati. Kuwu digunakan dalam mengelilingi lubang-lubang pada bilah kayu congklak.
Kuwu adalah gambaran manusia yang diibaratkan seperti bangkai yang berjalan, sebagaima tercantum dalam al Qur’an & Hadits nabi saw tentang manusia yang hidup dan manusia yang mati atau manusia bangkai. Manusia yang tidak berilmu, dan tidak mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik dan keimanan kepada Allah SWT tidak ada bedanya dengan bangkai yang berjalan. Sementara manusia yang hidup di sisi Allah SWT adalah manusia yang selalu mengingat Allah SWT dalam segala kegiatannya.
Manusia sama seperti bangkai yang berjalan’, karena manusia sangat mengetahui bahwa mereka kelak akan mati dan meninggalkan semua harta benda yang telah dikumpulkan, namun sering kali manusia dilalaikan dengan urusan dunia yang akan ditinggalkan hingga kematian menjemput.
Kata congklak atau congkak dan dakon adalah 2 kata yang berbeda namun memiliki makna yang kurang lebih sama. Pesan yang terkandung dari 2 kata ini adalah sikap congkak atau sombong adalah sifat manusia yang harus dihilangkan karena ketika kita mati, apa yang kita miliki di dunia tidak akan kita bawa, yang dibawa hanya sikap taat kita sebagai seorang hamba Allah SWT.
Bangkai Yang Berjalan
Rasul saw mengajarkan pada kita segala ikhtiar yang dilakukan manusia tanpa pengabdian kepada Allah SWT di ibaratkan bagaikan bangkai-bangkai yang berjalan. Dalam permainan congklak disimbolkan sebagai kuwu.

Kuwu pada permainan congklak
Namun karena Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Pengasih, hasil usaha mereka yang melakukan ikhtiar tanpa pengabdian kepada Allah SWT tetap dihargai dengan bertambahnya pundi (tabungan) ikhtiar mereka yang digambarkan dengan 2 lubang besar diujung bilah kayu, yang terus bertambah setiap kali kuwu pemain melewati salah satu dari 2 lubang tersebut.
Bila kita melakukan usaha apapun bukan karena Allah SWT, segala cara di halalkan hanya untuk kepentingan dunia, maka secara materi kita akan mendapatkan apa yang kita usahakan, namun dengan meninggalkan hukum Allah SWT yang disampaikan oleh Rasul saw dan ahlulbaitnya kita tidak akan pernah mendapatkan ketenangan baik lahir maupun bathin karena alam bawah sadar kita mengetahui bahwa kelak ketika kita mati harta sebanyak apapun yang telah kita kumpulkan akan kita tinggalkan semuanya kecuali amalan-amalan kita.
Kehidupan manusia yang diibaratkan bagai bangkai yang berjalan ini tergambar jelas dlm permainan congklak, yang pertama dalam wujud kuwu (bangkai kerang) dan aturan permainan congklak.
Dalam permainan congklak, kuwu terus dijalankan mengitari bilah congklak, permainan dikatakan mati bila kuwu terakhir pemain congklak masuk dalam satu lubang kosong baik di jalur lawan atau jalur sendiri. Aturan permainan ini jelas bermakna bahwa kelak kita pun akan masuk lubang atau liang kubur, sendiri, entah kapan dan dimana kita mati hanya Allah SWT yang mengetahui.
Kadang pemain mendapat ‘bonus’. Bonus tersebut adalah ketika pemain mati di jalur sendiri, boleh mengambil kuwu di lubang lawan main yang bersebrangan dengan lubang tempatnya mati, namun kadang juga tidak, tergantung lubang lawan terisi kuwu atau tidak. Adanya bonus atau tidak dari kuwu lawan ketika permainan selesai adalah makna ada atau tidaknya pertolongan atau syafaat dari Allah SWT dan Rasul-NYA, dan semuanya kembali ke bagaimana sikap kita selama hidup.
Kuwu yang merupakan gambaran manusia dalam permainan congklak juga memiliki makna bahwa manusia bagaikan bangkai bila tidak terdapat ruh Allah SWT didalamnya. Ruh Allah SWT adalah fondasi hidup manusia. sebagai manusia yang beriman kita seharusnya meyakini bahwa Allah SWT memantau kita 24 jam, hingga dalam kegiatan sehari-hari kita akan menjauh dari perbuatan dosa, dan kita juga seharusnya meyakini bahwa kematian pasti akan datang pada kita, tanpa melihat tempat dan waktu, oleh karena itu apapun yang kita usahakan kalau bukan karena Allah SWT tidak akan ada artinya, semua akan jadi bangkai.
Makna Angka 7, 14, Kuwu & Aturan Permainan Dalam Permainan Congklak
” Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi….” (Qs 65:12) ” Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” – (QS.15:44)
Angka 7 pada bilah kayu kanan dan kiri pada permainan congklak menggambarkan kekuasaan Allah yang termaktub dalam Al Qur’an yang meliputi 7 lapis tingkatan yang berpasangan, 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, 7 lapis tingkatan surga dan 7 lapis tingkatan neraka.
Bila 7 yang berpasangan ini dijumlahkan semuanya berjumlah 14, angka 14 dalam ajaran Ahlul bait adalah 14 manusia suci, yaitu Rasulullah saw dan keluarganya, yang menuntun dan mengajarkan manusia menjadi hamba Allah SWT yang sejati.
Konsep 14 manusia suci sebagai petunjuk ini, adalah konsep keimanan yang diyakini oleh pengikut mazhab AhlulBait, yang menjadi mazhab mayoritas di negeri Champa, sebagai negeri tempat asal Sunan Ampel.
14 Manusia suci adalah penuntun manusia ke jalan Allah SWT. Jumlah 7 lubang pada masing-masing sisi di bilah papan congklak yang semuanya berjumlah 14 menggambarkan ikhtiar manusia harus dilandasi taat kepada Rasul saw dan Ahlulbaitnya yang dengan mencintai mereka, menuntun manusia mencapai cinta Allah SWT.
14 manusia suci adalah kunci keseimbangan agar mendapatkan kebahagiaan bukan hanya di dunia namun juga di akhirat. Diawali oleh Rasulullah saw, kemudian putri beliau Sayyidah Fathimah Zahra, Imam Ali kw yang adalah menantu, sahabat, sekaligus wasi’ beliau saw (wasi’ adalah pemegang wasiat/ajaran kenabian setelah rasul saw wafat) dan kedua cucu beliau saw Imam Hasan dan Imam Husein serta 9 Imam dari keturunan Imam Husein as, yaitu: Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ja’far as Shadiq, Imam Musa al Kadhim, Imam Ali ar Ridho, Imam Muhammad al Jawad, Imam Ali al Hadi, Imam Hasan al Askari, dan ditutup oleh Imam Mahdi al Muntadzar as yang akan datang kelak di akhir zaman yang dikenal pula oleh Masyarakat Indonesia sebagai Ratu Adil.
Pahala Dunia & Akhirat
Dua lubang besar pada bilah kayu congklak pada ujung atas kanan & kiri menandakan ‘pahala dunia’ yang diperoleh atas ikhtiar kita selama di dunia, siapapun dia, apapun agamanya. Pahala dunia adalah wujud Maha Pengasih & Maha Penyayang Allah SWT kepada makhluq-Nya atas ikhtiar sang makhluq.
Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan segala usaha kita di dunia, baik berupa materi maupun non-materi. Secara materi bila seseorang berusaha dengan giat untuk memperoleh kemakmuran dan kekayaan ia akan mendapatkan apa yang ia usahakan, siapapun dan agama apapun ia.
Hal yang sama berlaku sebaliknya bila seseorang malas berikhtiar ia pun akan mendapat peruntungan sesuai dengan apa yang ia usahakan. Secara non-materi pun berlaku hal yang sama, orang yang melakukan kebaikan akan mendapatkan ketenangan dan disayang oleh mereka yang mengerti membalas kebaikan, demikian pula sebaliknya orang yang bersifat jahat tidak akan disenangi oleh manusia, seperti tertuang dalam Qs ar Ra’ad : 11 bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Permainan congklak ini menjelaskan sedemikian rupa inti dasar ajaran Islam dengan cara yang sangat mudah supaya ajaran Islam dapat di mengerti dan difahami hingga ke akar-akarnya oleh siapapun dari kalangan manapun baik orang tua, dewasa hingga anak-anak.
Manfaat Permainan Congklak Bagi Tumbuh Kembang Anak

Selain memiliki makna yang dalam tentang dasar ajaran Islam, permainan congklak juga sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Diantaranya :
* melatih motorik halus anak, dengan cara menggenggam kuwu, membagi-bagikannya ke lubang yg kecil, anak akan berlatih konsentrasi dan meletakkan kuwu pada posisi yang tepat.
* Belajar berhitung dari mulai penjumlahan, perkalian sampai pembagian. Dengan menghitung jumlah lubang dalam bilah kayu yang dibagi menjadi 2 bagian 14:2 = 7, menempatkan kuwu ke dalam lubang masing-masing 7 buah, dan sebagainya.
* Melatih kecerdasan sosial, karena melibatkan lebih dari satu pemain, maka pemain tidak boleh curang, belajar konsentrasi untuk memperhatikan jalannya permainan, mengajarkan sikap menerima bila kalah, tidak bersikap sombong / congkak ketika menang, dan sebagainya.
Sayang sekali bila permainan tradisional yang bagus ini sampai punah, tergantikan oleh permainan modern yang memiliki kecendrungan terbalik dari permainan tradisional. Kadang sebagai orang tua kita lalai dan membiarkan anak-anak kita gandrung dengan Aplikasi permainan di komputer atau handphone yang memiliki kecendrungan merusak mata, membentuk sikap anti sosial karena permainan pada gadget seperti komputer atau handphone umumnya hanya melibatkan satu orang.
Kadang kita membiarkan anak-anak kita bermain gadget sebagai ‘obat anteng’, hanya karena kita enggan atau sibuk dengan berbagai kegiatan kita. Sebagai orang tua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak, kita harusnya membekali diri dengan ilmu2 yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat hingga dapat mengajarkan anak anak kita warisan budaya bangsa ini.
Dengan mempelajari makna pada tiap permainan tradisional yang kaya akan nilai nilai Islam, kita dapat mengajarkan ajaran Islam, Budaya dan tradisi bangsa pada anak-anak kita dengan cara ‘fun learning‘ atau belajar dengan cara yang menyenangkan.
Mendidik anak sedini mungkin adalah cara yang diajarkan oleh nabi Muhammad saw. Cara ini kemudian dilanjutkan oleh para wali yang mendidik anak sedini mungkin dengan cara yang menyenangkan, dengan harapan menjadi generasi masa depan yang lebih baik bagi dirinya, agama dan bangsanya.
Pembelajaran Islam versi para wali ini tidak hanya dapat dilihat dalam permainan, namun juga dalam lagu-lagu/Gending daerah, pantun, tata kota dan sistem pemerintahan.
Ditulis oleh: Sofia Abdullah, diambil dari berbagai sumber terkait, tulisan ini adalah rangkuman dari penelitian Sejarah Islam Nusantara yang tersimpan dalam warisan Seni & Budaya
Referensi
1. Al Qur’an : Tafsir surat Al An Am 122 dari kitab tafsir al munir juz 4 Maktabah Syamilah, karya prof. Wahbah zuhaili (1932-2015)
“dan Apakah orang yang sudah mati[3] kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.
Tafsir ayat ini adalah perumpamaan yang Allah berikan kepada muslim yang tersesat diibaratkan mati (bangkai), kemudian Allah menghidupkannya yaitu dihidupkan hatinya dengan iman dan memberinya petunjuk, hingga manusia tersebut ‘hidup’ kembali di sisi Allah SWT. Manusia seperti bangkai juga perumpamaan bagi muslim yang bodoh yang melalkukan ibadah tanpa pengetahuan.
2. Hadits tentang manusia diibaratkan bagai bangkai yang berjalan cukup banyak, diantaranya : Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Apakah kematian orang yang hidup?” Beliau menjawab:
من لم يعرف المعروف بقلبه وينكر المنكر بقلبه
Orang yang tidak mengenal kebaikan dengan hatinya dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushnad beliau no. 37577)
3. KH Shobirun, Acep Maltas, SE, MM, Misteri Bilangan 7
4. Sunyoto Agus, Atlas Walisongo
5. Silsilah keturunan Rdn Fatah
6. Ibrahim,Erlangga et al, Champa Kerajaan Kuno di Vietnam
7. Francaisem Ecole, Kerajaan Champa
8. KBHI, ed.3 hal. 215; congkak a merasa dan bertindak dng memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, kaya, sombong dsb); sombong; pongah; angkuh.
9. Naskah-Naskah Kuno dan situs yg terkait dengan wacana diatas


Tinggalkan komentar