Setiap masuk bulan Muharram dan Safar, selalu saja muncul pertanyaan seperti mengapa memperingati Asyuro bukan hari wafatnya Nabi saw? Menurut saya, pertanyaan seperti ini jelas berindikasi untuk memprovokasi kalangan muslim yang tidak terlalu mengenal sejarah Rasul saw, dengan cara mengedepankan perbedaan diantara setiap golongan sesama Islam.
Pertanyaan ini sangatlah tidak pantas, Apalagi bila pertanyaan ini diucapkan oleh seorang ustadz terkenal..
Pertanyaan yang benar seharusnya: Kenapa ada umat Islam yang tidak memperingati peristiwa Asyuro?? bahkan ironisnya, ada yang tidak tau dengan peristiwa ini yakni peristiwa tragedi paling kelam yang dialami keluarga nabi saw…

Setiap muslim dan muslimah di seluruh dunia seharusnya wajib mengenang dan memperingati peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam. Setidaknya, peristiwa yang sangat penting seperti Maulid Nabi saw, peristiwa diangkatnya Nabi Muhammad saw menjadi Rasul, peristiwa Isra’ Mi’raj, hari ketibaan nabi di Madinah bersama keluarga dan sahabat, hingga peristiwa yang paling menyedihkan dalam sejarah Islam, yaitu wafatnya baginda Nabi Muhammad saw pada tanggal 28 Safar tahun ke 11 H atau sekitar 632 M.
Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam jumlahnya sangat banyak, dan sebagai muslim wajib bagi kita untuk mengetahuinya.
Namun, dari berbagai peristiwa penting sejarah Rasul saw terdapat beberapa peristiwa yang paling penting. Kenapa dikatakan paling penting?
Dikatakan paling penting karena peristiwa besar ini memiliki pengaruh yang luas dalam kehidupan seluruh kaum. Pengaruh ini bahkan bukan hanya mempengaruhi kaum Muslim saja, tetapi peradaban manusia seluruhnya di dunia tanpa memandang agama, ras, dan kedudukan sosial.
Peristiwa apa sajakah itu?
- Peristiwa Kelahiran Rasul saw. Dengan kelahiran beliau saw, lahir pula agama Islam. Setiap orang yang mengaku dirinya muslim apapun mazhabnya wajib merayakan kelahiran beliau.
- Peristiwa hijrah Rasul saw yang didahului oleh peristiwa aqabah yaitu pengakuan kaum Yahudi dan Nasrani Yastrib bahwa nabi Muhammad saw adalah Juru Selamat yang akan menyatukan suku-suku yang selalu berperang di jazirah Arab, yang dengan pengakuan ini Rasul saw secara resmi diangkat sebagai pemimpin di Yastrib (Madinah).
- Peristiwa syahidnya cucunda Rasul terkasih Imam Husein as, keluarga dan sahabatnya di Karbala. Syahidnya Imam Husein as membuka seluruh sikap kemunafikan manusia saat itu yang mengaku Islam tapi membantai keluarga nabinya, merusak ajaran Islam yang damai yang diajarkan oleh Rasul saw dan membuat Islam baru versi mereka yang anarkis.

Mengapa peristiwa wafatnya Rasul saw tidak termasuk diantara ketiga peristiwa penting diatas?
Walaupun tidak masuk dalam kriteria diatas, peristiwa wafatnya Rasul saw tetap merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam dan merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan yang dialami oleh kaum Muslim saat itu bahkan hingga kini.
Bagi kaum Muslim di Indonesia, peristiwa wafatnya Rasul saw telah diperingati sejak ratusan tahun yang lalu, hingga menjadi tradisi adanya larangan mengadakan pesta syukuran/hajatan pada setiap bulan Muharram (Syuro) dan safar karena 2 bulan ini adalah bulan kesedihan bagi kaum Muslim.
Kenapa harus diperingati ?
Kata ‘peringatan’ adalah usaha untuk mengingat kembali suatu peristiwa yang mempengaruhi kehidupan, baik itu berupa peristiwa sedih atau gembira.
Tujuan peringatan dalam peristiwa-peristiwa besar sejarah Islam adalah agar kita manusia yang mudah lupa belajar kembali, mengingat kembali kecintaan Rasul saw kepada kita umat Islam. Dengan mengingat dan mempelajari kembali sejarah Rasul saw, niscaya akan menambah cinta kita kepada Rasul saw dan keluarganya.
Kecintaan Rasul saw kepada umat Islam menembus batas ruang dan waktu, hingga pada nafas terakhirnya pun beliau saw masih memikirkan umatnya. Kecintaan Rasul saw yang demikian besar kepada umat muslim beliau turunkan kepada ahlulbait beliau saw.
Manifestasi kecintaan ini juga telah menyebabkan Imam Husein as rela mengorbankan diri dan keluarganya agar ajaran Islam kakeknya, Muhammad saw, tetap hidup, dan menyadarkan manusia saat itu, bahkan hingga kini, bahwa ajaran Islam yang sejati telah dirusak manusia-manusia gila kuasa.

Namun anehnya, ada satu golongan dalam Islam yang sangat anti peringatan sejarah Islam. Golongan ini meracuni pikiran anak-anak muda dengan mengatakan peringatan-peringatan sejarah Islam ini haram, hanya dengan menunjukkan dalil hadits yang tidak jelas kedudukan hukumnya.
Hingga akhirnya, sejarah dibalik, dua bulan kesedihan ini semakin lama semakin terlupakan, terutama dikalangan generasi muda yang hidup di perkotaan.
Kenapa Asyuro bukan peringatan wafatnya Rasul ?
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, pertanyaan ini jelas berindikasi memprovokasi perbedaan diantara golongan muslim, karena pertanyaan ini dibuat oleh mereka yang mengaku Islam tapi ANTI peringatan sejarah Islam.
Peristiwa wafatnya Rasul saw memang tidak diperingati sebesar peristiwa Asyuro, kenapa? Karena terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai peristiwa sejarah terkait peristiwa wafatnya Rasul saw ini.
Ulama dan kaum Muslim di Indonesia pada masa lalu menyikapi perbedaan ini dengan Saling menghormati karena tiap-tiap golongan yang berbeda pendapat memiliki argumennya masing-masing.
Seharusnya kita sebagai generasi muda muslim menyikapi perbedaan ini seperti para pendahulu kita, bukan saling menghujat, dan merasa golongannya paling benar.
Berbeda dengan peristiwa wafatnya Rasul saw, terlepas dari perbedaan sejarah yang ada dalam peristiwa wafatnya Rasul saw, kita semua sepakat bahwa pada hari wafatnya Rasul saw, tidak ada satu manusia pun yang dapat mengetahui mana yang muslim mana yang munafik.
Pada hari wafatnya Rasul saw, semua manusia bersedih, hanya Allah SWT yang mengetahui mana yang benar bersedih dan mana yang tidak…
Walaupun ada puluhan ayat dalam Al Qur’an yang berkisah tentang orang2 yang berpaling dari Islam setelah wafatnya Rasul saw, tetap saja sebagai muslim kita dilarang berprasangka kepada sesama muslim dan mengatakan suatu kelompok munafik atau kafir sampai ditemukan bukti-bukti yang nyata.
Lain hal-nya dengan peristiwa Asyura, Hikmah terbesar dari pengorbanan Imam Husein dan keluarga nabi saw serta sahabat setia Imam Husein yang syahid pada tragedi Asyura yang terjadi pada tanggal 10 Muharram di tanah Karbala, telah membuka kedok-kedok kemunafikan..
Bagaimana mungkin masih ada orang yang meyakini para pembantai Imam Husein, keluarga dan sahabatnya adalah bukan orang-orang munafik?
Muslim seperti apa yang mampu membantai cucu nabinya sendiri? Jelas mereka adalah kaum munafik yang disebut dalam Al Qur’an…mereka yang berpura pura beriman demi ambisi menjadi penguasa.
Syahidnya Imam Husein telah membuka mata kaum Muslim saat itu bahwa Islam ajaran Rasul saw telah dirusak oleh manusia-manusia durjana yang gila kuasa.
Syahidnya Imam Husein seharusnya membuka mata kita sebagai umat Islam, tentang tragedi yang menimpa keluarga nabi saw.
Syahidnya Imam Husein seharusnya menjadi pemicu kita untuk lebih mempelajari seberapa jauh kita mengenal manusia-manusia yang paling dikasihi Nabi saw? Yang telah mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya kembali Islam ajaran Rasul saw.
Peringatan Asyuro seharusnya menjadi pemicu kita untuk membela yang benar, apapun resikonya. Bukan malah sebaliknya, menyebarkan fitnah kepada sesama muslim, padahal Rasul saw berkata sesama muslim adalah saudara.
Pada setiap masa, manusia-manusia munafik seperti Yazid bin Muawiyyah bin Abu sufyan dan para pengikutnya, selalu ada.
Mereka merusak ajaran Islam yang diajarkan Rasul saw dengan sikap mereka yang tidak Islami, mereka meneriakkan yel-yel Islam tapi sikap mereka keluar dari ajaran Islam.
Peristiwa Asyura harusnya menjadi pengingat bagi semua umat di dunia terutama kaum Muslim, bahwa Islam sejati ajaran Rasul saw datang dengan damai bukan dengan menyerang golongan yang berbeda dengan kita, hanya karena perbedaan pendapat.
Bila kita membuka buku sejarah Islam, jelas dikisahkan dalam peristiwa aqabah 1, 2 dan 3 bagaimana Rasul saw melindungi kaum Yahudi dan Nasrani selama mereka bersikap damai dan tidak menyerang kaum Muslim.
Rasul juga mengajarkan untuk tidak merusak tanaman dan hewan serta mengharuskan berlaku baik terhadap tawanan, bahkan bila ada tawanan yang dapat mengajarkan baca tulis kepada 10 orang muslim, tawanan tersebut akan dibebaskan. Ajaran Rasul saw tentang bagaimana memperlakukan tawanan berbanding terbalik dengan sekelompok kaum radikal yang mengaku muslim dengan main penggal sambil mengucapkan takbir!
Bila kita melihat ‘Islam-Islam’ seperti ini dan kita mengetahui sejarah Asyura, kita akan langsung dapat mengatakan bahwa mereka BUKAN Islam, karena ajaran Islam adalah damai, bukan saling mengafirkan sesama Islam, main penggal seenaknya, melakukan aksi kekerasan kepada kelompok yang berbeda dengan kelompoknya dan sikap-sikap lain yang bertentangan dengan ajaran Islam sejati.
Pengorbanan Imam Husein, keluarga dan para sahabat setia beliau seharusnya menjadi pemicu kita untuk lebih mengenal ajaran Islam, Islam yang Rahmatan lil alamin, Islam yang seharusnya menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Assalamu ala’l Husein wa alâ Ali ibnul Husein, wa alâ auladil Husein wa alâ ashabil Husein
Salam bagimu wahai Husein, dan Salam kami pada putramu Ali bin Husein, Salam kami kepada putra-putra mu dan juga kepada para sahabatmu ya Husein.
Renungan Muharram & Safar, bulan duka umat muslim.
Oleh Sofia Abdullah
Tinggalkan komentar