Salah satu ciri ajaran agama Nabi Ibrahim adalah meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kematian hanyalah jembatan menuju alam yang berbeda. Dalam ajaran Islam, alam ini disebut alam akhirat. Di alam ini, manusia akan mendapatkan balasan sesuai perbuatannya di dunia. Mereka yang selama hidupnya melakukan perbuatan baik akan berada di surga. Sebaliknya, mereka yang banyak melakukan kejahatan akan berada di neraka.


Dalam ajaran agama dan kepercayaan lain yang bersumber dari ajaran nabi Ibrahim, kurang lebih memiliki benang merah ajaran yang sama. Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian dalam ajaran agama Hindu, Budha, dan berbagai kepercayaan selain Yahudi, Kristen dan Islam di dunia ditandai dengan keyakinan mengenai surga (swargaloka) atau Nirwana, neraka (naraka), Reinkarnasi dan alam para Dewa.
Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian melahirkan tradisi ziarah atau mengunjungi makam keluarga dan teman yang telah meninggal.




Tradisi ziarah melahirkan tradisi membangun makam bagi keluarga, teman dan pemimpin yang disegani. Pada masa lalu, bangunan makam hampir ditemukan dalam berbagai peradaban. Bangunan makam di bangun seindah mungkin dengan tujuan bukan hanya menghormati keluarga yang telah meninggal, namun juga agar para peziarah merasa nyaman ketika membaca do’a dan lokasi makam tersebut tidak hilang dengan berlalunya waktu.

Tradisi ziarah dan membangun makam adalah tradisi agama tauhid yang sudah sangat tua yang telah dikenal manusia sejak zaman Nabi Adam sekitar 12.000 tahun yang lalu. (7)
Ziarah dalam ajaran Millatu Ibrahim termasuk dalam bagian Ibadah, karena dengan ziarah manusia mengingat kembali bahwa kelak ia pun akan kembali kepada Sang Pencipta, seperti keluarga dan kerabat yang telah mendahului mereka.
Ziarah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan. Tempat-tempat ibadah pada masa lalu umumnya menyatu dengan makam atau bangunan makam. Namun, ada pula yang memiliki lokasi sendiri. Kompleks makam dan bangunan makam yang memiliki lokasi sendiri umumnya dibangun dengan sangat megah dan luas, yang disebut Necropolis (kota bagi yang mati). Contoh situs Necropolis atau kompleks makam dan bangunan makam kuno yang sangat di kenal dalam peradaban dunia adalah kompleks piramida Giza di Mesir dengan berbagai macam bangunan piramida dari generasi ke generasi.


Kompleks bangunan makam tertua dalam sejarah Islam bernama Jannatul Baqi. Masjid ini dibangun sekitar tahun 622, bersamaan dengan di bangunnya masjid Nabawi. Lokasi bangunan makam Baqi berada di komplek pemakaman Baqi, tepat di belakang Masjid Nabawi, Madinah. Karena kepentingan politik, ideologi dan kekuasaan, pada tahun 1925 bangunan makam di Baqi dihancurkan oleh pemerintahan Al Saud yang berfaham Wahabi.


Setiap bangunan makam dan makam di seluruh dunia, walaupun bangunannya berbeda, namun memiliki bagian-bagian yang hampir sama. Kesamaan tersebut dapat dilihat antara lain berdasarkan jarak tempat ibadah dengan pemakaman. Kedua bangunan ini pada umumnya terletak dalam lokasi yang sama atau berdampingan, seperti misalnya Masjid dengan makam, gereja atau chapel dengan makam.



https://www.pinterest.com/pin/552253973035396300/?amp_analytics=1ni8n9cid*Tk9uTlJNME80UlpfNWxQRkhLeHFzV01qZkFQNzVLWTR3NS1FSV9xSHdTU3dZUDEzUE5WQlU4czBsNXJSVi1CSA
Necropolis (kompleks pemakaman yang luas) yang tersebar di seluruh belahan dunia membuktikan adanya tradisi ziarah yang dilakukan untuk mendoakan kerabat yang meninggal atau bertawassul kepada orang-orang yang di yakini alim atau sholeh. Ziarah, tawassul, dan membangun makam, merupakan ciri khas agama Millatu Ibrahim atau agama Tauhid. Agama yang diajarkan dari mulai Nabi Adam as hingga Rasulullah saw.
Selain menyatu dengan tempat ibadah, kompleks makam dan bangunan makam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memiliki ciri khas unik, seperti pemilihan lokasi makam serta bentuk bangunan makam yang berbeda-beda sesuai dengan tradisi bangunan budaya setempat. Lokasi Kompleks makam dan bangunan makam kuno di Indonesia umumnya berada di 4 lokasi :
1. Pulau di tengah danau atau sungai; kompleks makam Cangkuang, kompleks makam Situ Lengkong, kompleks makam Trunyan di Bali, dan sebagainya.

2. Di atas bukit atau dataran tinggi; makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, makam Sunan Muria, makam sunan Giri.

3. Berlokasi di tengah kota. Kota-kota kuno di nusantara pada masa lalu disebut keraton. Keraton adalah kota di pinggir sungai besar atau pantai utara yang dikelilingi dinding. Dalam setiap keraton terdapat masjid dan kompleks pemakaman bagi para pejabat dan warga keraton. Contoh kompleks masjid, makam dan bangunan makam di tengah kota ini tersebar hampir di seluruh kota di Indonesia hingga saat ini.
4. Terdapat gapura. Sebelum memasuki area makam, terdapat gapura dengan berbagai kreasi seninya. Gapura pada bangunan makam di ambil dari bahasa Arab ‘Ghafura’ yang artinya ‘Pengampun’. Gapura juga memiliki makna filosofis, yaitu dengan memasuki gerbang tersebut, peziarah memohon ampunan kepada Allah SWT. (8) Contoh : Makam para Sunan, Sunan Gunung Jati Cirebon, makam Sunan Kalijaga atau Raden Syahid dan makam Ratu Kalinyamat, kompleks makam Sunan Prapen dengan bangunan para Sultan / pejabat daerah disekelilingnya.

Kesimpulan
Kompleks makam dan bangunan makam menandakan adanya proses penguburan jenazah dan tradisi ziarah. Kedua tradisi ini terkait erat dengan ajaran Millatu Ibrahim sekaligus menjadi bukti kuat bahwa keyakinan penduduk di wilayah tersebut adalah Agama Abrahamik atau Millatu Ibrahim dengan keragamannya. Adapun bentuk makam dan bangunan makam (cungkup makam) merupakan hasil budaya lokal yang tidak terkait dengan ajaran agama apapun. Budaya lokal di pengaruhi oleh lingkungan tempat hidup, suku bangsa, dan adat istiadat.
Ketika Islam awal sampai ke nusantara, tradisi budaya lokal untuk tempat ibadah, kompleks makam dan bangunan makam tetap di pertahankan karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi ini masih terlihat hingga awal abad 20. Tradisi bangunan lokal ini berangsur-angsur memudar dengan masuknya ajaran Wahabi yang mengharamkan ziarah kubur dan membangun makam. (9)
Tradisi dan budaya lokal yang digunakan untuk mengenalkan ajaran Islam bukan hanya terdapat di Nusantara, tapi juga terdapat di berbagai belahan dunia, khususnya di wilayah Asia Selatan hingga wilayah Timur Jauh (wilayah Asia Tenggara, sampai dengan Cina).
Ditulis oleh : Sofia Abdullah
Catatan & Sumber
7. Tradisi menguburkan jenazah pertama kali dilakukan oleh Qabil setelah membunuh saudaranya Habil karena rasa hasad. Kematian Habil adalah kematian pertama dalam sejarah manusia. Allah SWT mengutus seekor burung gagak untuk memberi contoh cara menguburkan jasad ketika salah satu burung gagak tersebut mati. (Al Maidah: 31), Al Jaza’iri, Adam hingga Isa, hal. 151-2
8. A.G, Muhaimin, Islamic Tradition of Cirebon, Ibadat dan Adat Among Javanese Muslim Hal. 180, published by ANU Press, Web: http://epress.anu.edu.au
9. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo
Tinggalkan komentar