Millatu Ibrahim, Tradisi Ziarah dan Bangunan Makam. (Bagian 2)

Salah satu ciri ajaran agama Nabi Ibrahim adalah meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kematian hanyalah jembatan menuju alam yang berbeda. Dalam ajaran Islam, alam ini disebut alam akhirat. Di alam ini, manusia akan mendapatkan balasan sesuai perbuatannya di dunia. Mereka yang selama hidupnya melakukan perbuatan baik akan berada di surga. Sebaliknya, mereka yang banyak melakukan kejahatan akan berada di neraka.

7 lapis surga dalam ajaran Islam. Sumber gbr : http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Mohammed%C2%B4s_Paradise.jpg
Lukisan abad ke-17 tentang 7 tingkat neraka dalam ajaran Hindu dan Jain. Sumber gbr: Anishshah19

Dalam ajaran agama dan kepercayaan lain yang bersumber dari ajaran nabi Ibrahim, kurang lebih memiliki benang merah ajaran yang sama. Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian dalam ajaran agama Hindu, Budha, dan berbagai kepercayaan selain Yahudi, Kristen dan Islam di dunia ditandai dengan keyakinan mengenai surga (swargaloka) atau Nirwana, neraka (naraka), Reinkarnasi dan alam para Dewa.

Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian melahirkan tradisi ziarah atau mengunjungi makam keluarga dan teman yang telah meninggal.

Tradisi ziarah tahunan masyarakat Jepang yang beragama Budha-Jepang (Japanese Budhism) yang dikenal dengan Obon. Tradisi ini diawali dengan bersuci, do’a dan ditutup dengan menyiram air pada nisan dan makam, tradisi yang hampir serupa dengan tradisi ziarah di Indonesia. Sumber gbr: https://kokoro-jp.com/culture/380/
Tradisi ziarah ke makam leluhur adalah tradisi tua di nusantara yang tetap bertahan hingga saat ini karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sumber gbr : Makam maulana Hasanuddin, Banten, Silitonga, G., Soekardi, R., and Tambunan, S. 1952. Indonesia Tanah Airku. W. van Hoeve: Bandung.
Tradisi ziarah di Indonesia. Sumber gbr : https://www.google.com/amp/s/www.inews.id/amp/lifestyle/muslim/adab-dan-bacaan-doa-ziarah-kubur-lengkap-dengan-susunan-tahlil
Tradisi ziarah di Korea, seperti di Indonesia sedikitnya dilakukan 2x dalam 1 tahun, pada hari peringatan kematian  dan hari-hari besar tertentu, di Indonesia biasanya sebelum dan sesudah bulan Ramadhan di Korea pada perayaan Chuseok, yaitu hari bersyukur kepada Tuhan dan kepada leluhur. Sumber gbr : http://www.sweetandtastytv.com/blog/2015/9/23/chuseok-the-korean-thanksgiving

Tradisi ziarah melahirkan tradisi membangun makam bagi keluarga, teman dan pemimpin yang disegani. Pada masa lalu, bangunan makam hampir ditemukan dalam berbagai peradaban. Bangunan makam di bangun seindah mungkin dengan tujuan bukan hanya menghormati keluarga yang telah meninggal, namun juga agar para peziarah merasa nyaman ketika membaca do’a dan lokasi makam tersebut tidak hilang dengan berlalunya waktu.

Bangunan makam adalah bangunan yang di bangun diatas makam-makam tertentu, umumnya diatas makam tokoh. 1 bangunan makam umumnya terdiri dari 1 sampai 5 makam. Bangunan makam atau kamar makam di Indonesia di sebut Cungkup makam. Gambar: Cungkup makam Sunan Kudus, Kudus, Demak, Jawa Tengah. Sumber gbr: https://www.wawasan.co/news/detail/6041/kelambu-dilepas-inilah-wujud-cungkup-makam-sunan-kudus

Tradisi ziarah dan membangun makam adalah tradisi agama tauhid yang sudah sangat tua yang telah dikenal manusia sejak zaman Nabi Adam sekitar 12.000 tahun yang lalu. (7)

Ziarah dalam ajaran Millatu Ibrahim termasuk dalam bagian Ibadah, karena dengan ziarah manusia mengingat kembali bahwa kelak ia pun akan kembali kepada Sang Pencipta, seperti keluarga dan kerabat yang telah mendahului mereka.

Ziarah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan. Tempat-tempat ibadah pada masa lalu umumnya menyatu dengan makam atau bangunan makam. Namun, ada pula yang memiliki lokasi sendiri. Kompleks makam dan bangunan makam yang memiliki lokasi sendiri umumnya dibangun dengan sangat megah dan luas, yang disebut Necropolis (kota bagi yang mati). Contoh situs Necropolis atau kompleks makam dan bangunan makam kuno yang sangat di kenal dalam peradaban dunia adalah kompleks piramida Giza di Mesir dengan berbagai macam bangunan piramida dari generasi ke generasi.

Piramida Giza, Cairo, Mesir, merupakan piramida terbesar dan tertua di kompleks piramida Giza. Piramida Giza dan piramida lain di komplek piramida Giza ini berfungsi sebagai makam Fir’aun Khufu. Area pemakaman yang sangat luas di sebut Necropolis. Sumber gambar: https://no.wikipedia.org/wiki/User:Nina
Gambar: Bangunan makam lorong (Passage Grave) Newgrange, di wilayah Country Meath, Irlandia (dibangun antara 3300 – 2900 BC);  merupakan salah satu contoh bangunan makam tertua di Eropa Barat yang berbentuk gundukan tanah atau batu dengan akses masuk sempit berbentuk lorong. Bangunan Makam ini terdiri dari satu atau lebih ruang makam dan diperkirakan mulai ada sejak zaman Neolithikum (sekitar 12 ribu tahun lalu) https://www.knowth.com/newgrange-aerial.htm

Kompleks bangunan makam tertua dalam sejarah Islam bernama Jannatul Baqi. Masjid ini dibangun sekitar tahun 622, bersamaan dengan di bangunnya masjid Nabawi. Lokasi bangunan makam Baqi berada di komplek pemakaman Baqi, tepat di belakang Masjid Nabawi, Madinah. Karena kepentingan politik, ideologi dan kekuasaan, pada tahun 1925 bangunan makam di Baqi dihancurkan oleh pemerintahan Al Saud yang berfaham Wahabi.

Gambar 1: kompleks dan bangunan makam Baqi sebelum di hancurkan, keterangan gambar: 1. rumah duka sayyidah Fatimah az Zahra setelah wafat Rasulullah saw 2. Bangunan makam Imam Hasan bin Abi Thalib, Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad al Baqir dan Imam Ja’far as Shadiq.  3. Beberapa sejarawan mengatakan bangunan makam ini didirikan untuk putri nabi; sayyidah Fatimah az Zahra 4. makam istri-istri nabi saw. 5. Makam Aqil & Abullah ibn Jafar. 6. Makam Malik &  Nafie 7. Makam Ibrahim, putra nabi Muhammad dengan Sayyidah Maria al Qibtiyyah yang wafat usia 3 tahun. 8. Makam Halimah al-Sadiah. 9. Makam Fatimah Binti Asad. 10. Makam Khalifah ke-3, Uthman bin Affan. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Jannatul-Baqi_before_Demolition.jpg#mw-jump-to-license
Gbr. 2 : Kompleks pemakaman Baqi sebelum dan sesudah di hancurkan oleh pemerintah Saudi tahun 1926. Pada gambar 1 dapat dilihat bangunan-bangunan  makam yang indah yang di dalamnya terdapat makam Fatimah binti Asad, ibu dari sayyida Ali k.w, sayyidina Hasan bin Abi Thalib, Imam Ali Zainal Abidin, putra beliau Imam Muhammad al Baqir dan putranya Imam Ja’far as Shadiq.   sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Medine_cennet-%C3%BCl_baki.jpg#mw-jump-to-license

Setiap bangunan makam dan makam di seluruh dunia, walaupun bangunannya berbeda, namun memiliki bagian-bagian yang hampir sama. Kesamaan tersebut dapat dilihat antara lain berdasarkan jarak tempat ibadah dengan pemakaman. Kedua bangunan ini pada umumnya terletak dalam lokasi yang sama atau berdampingan, seperti misalnya Masjid dengan makam, gereja atau chapel dengan makam.

Makam keluarga kerajaan Gowa di belakang Masjid Kuno Katangka
Makam kuno di bagian belakang masjid agung Demak, posisi makam di bagian belakang bangunan masjid adalah salah syarat pendirian Masjid yang di ajarkan rasul saw. Islam seperti ajaran agama Ibrahimik lainnya menjadikan ziarah kubur adalah sunnah dengan syarat-syarat tertentu. Ziarah kubur sangat dianjurkan bukan hanya bagi yang mati tapi juga bagi yang hidup karena ziarah kubur mengingatkan umat bahwa hidup di dunia tidak abadi, dan ada perhitungan setelah kematian, karenanya manusia harus berusaha berbuat baik.
Dalam ajaran agama-agama abrahamik (Islam, Kristen, Yahudi), tempat ibadah berada dalam satu kompleks dengan kompleks makam dan bangunan makam, karena dalam setiap acara pemakaman, sebelum jenazah di makamkan, terlebih dahulu dilakukan penyucian jenazah dan acara do’a bersama yang dilakukan di tempat ibadah, seperti dalam ajaran Islam jenazah di mandikan, di sholatkan di area masjid terakhir adalah proses penguburan. Gambar : Katolische Hofkirche cathedral, Dresden, Germany ;
https://www.pinterest.com/pin/552253973035396300/?amp_analytics=1ni8n9cid*Tk9uTlJNME80UlpfNWxQRkhLeHFzV01qZkFQNzVLWTR3NS1FSV9xSHdTU3dZUDEzUE5WQlU4czBsNXJSVi1CSA

Necropolis (kompleks pemakaman yang luas) yang tersebar di seluruh belahan dunia membuktikan adanya tradisi ziarah yang dilakukan untuk mendoakan kerabat yang meninggal atau bertawassul kepada orang-orang yang di yakini alim atau sholeh. Ziarah, tawassul, dan membangun makam, merupakan ciri khas agama Millatu Ibrahim atau agama Tauhid. Agama yang diajarkan dari mulai Nabi Adam as hingga Rasulullah saw.

Selain menyatu dengan tempat ibadah, kompleks makam dan bangunan makam di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, memiliki ciri khas unik, seperti pemilihan lokasi makam serta bentuk bangunan makam yang berbeda-beda sesuai dengan tradisi bangunan budaya setempat. Lokasi Kompleks makam dan bangunan makam kuno di Indonesia umumnya berada di 4 lokasi :

1. Pulau di tengah danau atau sungai; kompleks makam Cangkuang, kompleks makam Situ Lengkong, kompleks makam Trunyan di Bali, dan sebagainya.

Kompleks makam, bangunan makam di situ lengkong, panjalu. Kompleks makam kuno terletak di pulau di tengah danau. Makam tertua di kompleks pemakaman ini adalah makam prabu Hariang Kencana atau mbah Panjalu. Untuk sampai ke lokasi para peziarah harus menggunakan perahu. Sumber gbr : https://jalan-jalan-di-jawa-barat.blogspot.com/2017/05/jelajah-alam-di-kabupaten-ciamis-1.html?m=1

2. Di atas bukit atau dataran tinggi; makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, makam Sunan Muria, makam sunan Giri.

Komplek makam, bangunan makam dan masjid sunan Muria, Kudus, berada diatas puncak gunung Muria. Sumber gbr: jawapos.com

3. Berlokasi di tengah kota. Kota-kota kuno di nusantara pada masa lalu  disebut keraton. Keraton adalah kota di pinggir sungai besar atau pantai utara yang dikelilingi dinding. Dalam setiap keraton terdapat masjid dan kompleks pemakaman bagi para pejabat dan warga keraton. Contoh kompleks masjid, makam dan bangunan makam di tengah kota ini tersebar hampir di seluruh kota di Indonesia hingga saat ini.

4. Terdapat gapura. Sebelum memasuki area makam, terdapat gapura dengan berbagai kreasi seninya. Gapura pada bangunan makam di ambil dari bahasa Arab ‘Ghafura’ yang artinya ‘Pengampun’. Gapura juga memiliki makna filosofis, yaitu dengan memasuki gerbang tersebut, peziarah memohon ampunan kepada Allah SWT. (8) Contoh : Makam para Sunan, Sunan Gunung Jati Cirebon, makam Sunan Kalijaga atau Raden Syahid dan makam Ratu Kalinyamat, kompleks makam Sunan Prapen dengan bangunan para Sultan / pejabat daerah disekelilingnya.

Contoh bangunan gapura menuju kompleks makam dan bangunan makam di kota gede, Yogyakarta

Kesimpulan

Kompleks makam dan bangunan makam menandakan adanya proses penguburan jenazah dan tradisi ziarah. Kedua tradisi ini terkait erat dengan ajaran Millatu Ibrahim sekaligus menjadi bukti kuat bahwa keyakinan penduduk di wilayah tersebut adalah Agama Abrahamik atau Millatu Ibrahim dengan keragamannya. Adapun bentuk makam dan bangunan makam (cungkup makam) merupakan hasil budaya lokal yang tidak terkait dengan ajaran agama apapun. Budaya lokal di pengaruhi oleh lingkungan tempat hidup, suku bangsa, dan adat istiadat.

Ketika Islam awal sampai ke nusantara, tradisi budaya lokal untuk tempat ibadah, kompleks makam  dan bangunan makam tetap di pertahankan karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Tradisi ini masih terlihat hingga awal abad 20. Tradisi bangunan lokal ini berangsur-angsur memudar dengan masuknya ajaran Wahabi yang mengharamkan ziarah kubur dan membangun makam. (9)

Tradisi dan budaya lokal yang digunakan untuk mengenalkan ajaran Islam bukan hanya terdapat di Nusantara, tapi juga terdapat di berbagai belahan dunia, khususnya di wilayah Asia Selatan hingga wilayah Timur Jauh (wilayah Asia Tenggara, sampai dengan Cina).

Ditulis oleh : Sofia Abdullah

Catatan & Sumber

7. Tradisi menguburkan jenazah pertama kali dilakukan oleh Qabil setelah membunuh saudaranya Habil karena rasa hasad. Kematian Habil adalah kematian pertama dalam sejarah manusia. Allah SWT mengutus seekor burung gagak untuk memberi contoh cara menguburkan jasad ketika salah satu burung gagak tersebut mati. (Al Maidah: 31), Al Jaza’iri, Adam hingga Isa, hal. 151-2

8. A.G, Muhaimin, Islamic Tradition of Cirebon, Ibadat dan Adat Among Javanese Muslim Hal. 180, published by ANU Press, Web: http://epress.anu.edu.au

9. Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo

Tinggalkan komentar