Asal Kata ‘Manusia’

Gambar: Kisah Manu&Matsya. Berdasarkan kitab Manu Purana, tokoh Manu dalam agama Hindu adalah leluhur manusia yang di selamatkan oleh Matsya (penjelmaan Wisnu berwujud manusia setengah ikan) dari banjir besar dengan cara membuat bahtera. Kata ‘Manusia’ berasal dari kata ‘Manusa’ yang artinya keturunan dari Manu. (Sumber gambar : https://archive.org/details/mahabharata02ramauoft/page/500/mode/2up )

Kata ‘Manusia’ berasal dari bahasa sanskerta ‘ Manusa’ yang artinya keturunan dari Manu.  Berdasarkan ajaran Hindu, manusia yang ada saat ini adalah keturunan dari Manu. Manu adalah tokoh pemimpin yang alim dan adil. Yang pada masanya terjadi peristiwa banjir besar yang membinasakan penduduk bumi. Yang menyisakan pengikut dan keluarga manu yang selamat dari peristiwa ini dengan menggunakan bahtera.

Pengikut dan keturunan Manu yang selamat dari peristiwa banjir besar ini yang kemudian menjadi leluhur manusia saat ini.

Dalam ajaran Hindu dan Budha, periode waktu dari mulai penciptaan alam semesta hingga kehancurannya dan penciptaan kembali alam semesta disebut Kalpa. Dalam 1 kalpa terbagi menjadi 14 periode, setiap periode dipimpin oleh satu manusia pilihan yang disebut Manu. Periode jarak dari satu manu ke manu berikutnya disebut manvantara/Manwantara atau Manuantara.

Dunia tempat kita berada saat ini, berdasarkan kosmologi ajaran Hindu dan Budha berada pada periode manuantara ke-7, yang dipimpin oleh raja yang alim dan adil, bernama Manu Waiswaswata dan didampingi oleh reinkarnasi Dewa Wisnu (pemelihara) saat itu yang bernama Matsya yang berwujud manusia separuh ikan.

Gambar : Matsya/Matsa perwujudan dewa Wisnu yang berbentuk ikan besar bertubuh manusia. Matsya memberikan kabar kepada Manu akan peristiwa pralaya yang akan memusnahlan semua manusia kecuali para pengikut Manu dan keluarganya yang setia. Matsya memerintahkan Manu untuk membuat bahtera agar Manu, para pengikut dan keluarganya selamat dari peristiwa banjir besar ini. (Sumber gambar : https://www.britishmuseum.org/collection/object/A_2007-3005-42)

Pada suatu hari Matsya, mengabarkan pada Manu, bahwa akan terjadi banjir besar sebagai hukuman karena manusia pada zaman itu telah banyak membuat kerusakan. Oleh karena itu Matsya memerintahkan Manu untuk membuat bahtera untuk menyelamatkan pengikut dan keluarganya dari peristiwa banjir besar ini. Setelah peristiwa banjir besar, penduduk bumi terisi kembali dari keturunan Manu.  

Benang Merah Kisah Manu dan Nabi Nuh as

Dalam ajaran Islam Nabi Nuh as disebut juga sebagai bapak manusia ke-2, karena dalam Al Qur’an dan Hadits disebutkan bahwa manusia yang ada saat ini adalah keturunan nabi Nuh as dari ketiga putra beliau Sam, Ham, Yafet.

Ilustrasi peristiwa banjir besar Nabi Nuh as dan bahtera Nuh as yang membawa para pengikut dan keluarga Nabi Nuh as yang beriman, berikut berbagai jenis hewan yang berguna bagi manusia. Sumber gambar : http://www.davidmus.dk/en/collections/islamic/dynasties/timurids-and-turkmen/art/8-2005

Kisah banjir besar yang mendunia, tokoh yang membuat bahtera untuk menyelamatkan pengikut dan keluarganya, penciptaan kembali umat manusia, bukan hanya terdapat dalam agama Islam, Hindu atau agama abrahamik lainnya. Kisah yang kurang lebih sama juga terdapat pada kepercayaan penduduk Hawaii dengan tokohnya bernama Nu’u. Di China tokohnya seorang dewi bernama Nuwa. Peradaban Sumeria mengenal tokoh bernama Ziusudra. Atrahasis adalah nama yang dikenal pada masa Babylonia (sekarang wilayah Iraq dan sekitarnya), dan ratusan tokoh lain yang memiliki kisah kurang lebih sama.

Dengan mengetahui adanya beberapa poin kesamaan diantara ajaran agama dan kepercayaan yang ada di dunia hingga saat ini, sudah seharusnya sebagai umat beragama kita dapat menghindari sifat fanatik tanpa dasar terhadap agama yang di yakini tapi jangan pula mempraktekan toleransi yang “kebablasan” dengan cara mengikuti praktek ibadah agama lain yang bertentangan dengan agama yang kita yakini dengan mengatakan ajaran agama sebagai budaya atau sebaliknya menjadikan budaya sebagai ajaran agama.

Karena seperti yang kita ketahui fenomena toleransi ‘kebablasan’ ini sedang marak di negeri kita. Sikap ini muncul sebagai perlawanan dari golongan penganut agama yang fanatik buta.

Kedua sikap ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam seperti yang diajarkan Rasul saw dan keluarganya, terutama kedudukan penting dan tugas mulia nabi dan rasul bagi umat manusia.

Bersikap toleransi seperti yang diajarkan dan dicontohkan Rasul saw, sebagai pemimpin dan penutup para nabi dan rasul adalah menghormati sesama pemeluk agama, karena meyakini adanya kekuatan yang Maha Besar yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Seperti firman Allah SWT dalam al Qur’an:

لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“lakum diinukum wa liya diin” (Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.)
(QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

Semoga bermanfaat…

Ditulis oleh SofiaAbdullah

Sumber-Sumber

Al-Qur’an Indonesia https://quran-id.com

Al jazairi, Sayyid Ni’matullah, Dari Adam Hingga Isa AS, Cet.1,992 hlm, 2007,Lentera.

Zoetmulder, P.J, Kamus Jawa Kuna-Indonesia/P.J Zoetmulder, S.O. Robson; penerj.Darusuprapta, Sumarti Suprayitna-Jakarta; Gramesia Pustaka Utama, 1995, 1536 hlm;24 cm

Ttg Kalpa, Manvantara, Manu :
Dalam setiap Manvantara (periode Manu), terdapat, 7 Resi, dewa-dewa tertentu disesuaikan dengan kebutuhan zamannya, seorang Manu, raja-raja/para pemimpin dunia dan keluarganya, satu periode Manu ditutup dengan kehancuran para raja yang lalim beserta keluarganya.
Wilkins, William Joseph (1913) [1st ed. 1882]. Hindu Mythology, Vedic and Purānic (3rd ed.). Calcutta: London Missionary Society

Oppenherimer.Stephen, Eden in The East surga timur : Benua Yang Tenggelam di Asia Tenggara, cet.2, 2010, Ufuk.

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar