Oleh : Sofia Abdullah
Arti Nabi dan Rasul
Kata “nabi” berasal dari kata ‘an-Naba’ yang artinya berita, kabar atau penjelasan, kata nabi artinya orang yg memberi penjelasan atau keterangan.
Dalam Al-Qur’an Allah Swt banyak berfirman tentang nabi dan rasul, Seperti Firman Allah St dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah (2) ayat 213 berikut:
Manusia itu (dahulunya) adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. 02 : 213)
Dalam Al-Qur’an dan Hadits juga disebutkan arti nabi dan rasul, yaitu manusia-manusia pilihan yang diutus Allah Swt, dengan cara mendapatkan wahyu melalui perantara para malaikat untuk memberikan petunjuk/berita/kabar/peringatan kepada manusia tentang Tuhan yang satu, adanya kehidupan abadi setelah kematian dan jalan kebaikan bagi dirinya dan kehidupan di sekitarnya.
Nabi dan rasul memiliki kedudukan tinggi dan berasal dari keluarga terpilih pada masanya. Setiap nabi dan rasul bukan hanya berasal dari keluarga yang berpengaruh, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia, pengetahuan yang luas, dan kesempurnaan fisik. Ciri inilah yang menjadikan tokoh nabi dan rasul mudah dikenal di antara kaumnya atau di luar lingkungannya.
Jumlah nabi dan Rasul Serta Tugasnya
Nabi dan rasul jumlahnya sangat banyak, ada yang meriwayatkan 124 ribu, 125 ribu, dan sebagainya. Hadits-hadits shohih dan mutawatir banyak yang menjelaskan tentang jumlah nabi dan rasul, baik dari jalur perawi Ahlulbait atau dari jalur sahabat, di antara hadits yang shohih dan mutawatir tentang jumlah nabi adalah hadits Abu Dzar ra dan dari jalur sanad imam Ja’far Ash-Shodiq as yang menjelaskan nabi berjumlah 124.000 orang, 313 di antaranya terpilih sebagai rasul, namun yang wajib diketahui ada 25 nabi dan Rasul. Setiap rasul pasti seorang nabi, namun setiap nabi belum tentu seorang rasul.

Tugas utama para nabi dan rasul adalah mengingatkan manusia untuk menyembah hanya kepada Allah SWT, Tuhan yang Satu, pencipta alam semesta dan isinya. Memberi peringatan kepada manusia tentang kematian dan kehidupan setelah kematian. Mengajarkan segala kebaikan bagi manusia untuk kehidupan di dunia dan di akhirat, memberi peringatan kepada manusia tentang balasan bagi setiap perbuatan. Nabi dan rasul adalah pemberi peringatan dan kabar gembira kepada umat manusia. Kabar gembira tentang surga yang akan diraih bila manusia selama hidupnya berbuat baik dan peringatan tentang neraka bagi manusia yang selama hidupnya berbuat keburukan bagi dirinya atau manusia lain.
Di antara para nabi dan rasul yang diutus, terdapat tingkat kedudukan dan ketinggian derajat yang berbeda. Semakin sulit umat yang dihadapi, semakin Allah SWT memberikan kedudukan yang lebih tinggi, seperti kedudukan Rasul Saw, yang memiliki kedudukan sebagai pemimpin para nabi dan rasul karena umat pada zaman Rasul Saw adalah umat yang paling jahiliyyah (susah menerima kebenaran) di antara umat para nabi dan rasul sebelumnya.
Setiap nabi dan rasul ketika akan wafat menunjuk seorang Washi atau pengganti beliau yang akan melanjutkan tugasnya menunjukkan jalan yang benar kepada umat, contoh: Nabi Adam as menunjuk Nabi Syis as di antara anak dan keturunannya untuk menjadi washi, Nabi Musa as menunjuk Yusya bin Nun (Yoshua) sebagai washi beliau as, nabi Isa menunjuk 12 orang murid setianya sebagai wasi beliau, nabi Muhammad Saw menunjuk Imam Ali kw sebagai washi beliau saw. (Hadits dari Imam Ahlulbait as)


Perbedaan Nabi dan Rasul
Nabi dan rasul memiliki beberapa perbedaan, di antaranya:
1. Cakupan luas wilayah dan banyaknya kaum tempat para nabi dan rasul diutus.
Nabi diutus hanya untuk kaumnya, di manapun kaum tersebut berada. Contoh: kisah Nabi Hud as dan Nabi Saleh as yang diutus untuk memberikan pencerahan kepada kaum Tsamud dan kaum A’ad yang tidak lain adalah leluhur mereka sendiri (al-a’raaf :73). Sementara, rasul diutus ke berbagai wilayah di dunia dan ke berbagai kaum.
Contoh rasul yang cukup dikenal hingga kisahnya ada pada tiap peradaban, di antaranya kisah Nabi Nuh as dengan banjirnya yang mendunia. Kisah Nabi Nuh as bukan hanya dikenal oleh agama-agama samawi, tetapi juga dikenal di berbagai peradaban kuno yang masih ada hingga saat ini atau sudah punah. Tokoh Nabi Nuh as dan banjir besar yang melanda dunia dikenal dengan berbagai nama, namun bisa diketahui dari benang merah kesamaan kisah; juru selamat yang menyelamatkan manusia dari banjir besar dengan kapal atau lainnya dan kelahiran kembali umat manusia.

Kisah Nabi Ibrahim as yang gelarnya bapak para nabi, Nabi Isa as, dan nabi dan rasul penutup Muhammad Saw yang petunjuk kedatangannya terdapat dalam berbagai kitab terdahulu, baik bagi mereka yang meyakini atau tidak.
2. Kitab & shuhuf (lembaran)

Setiap nabi dan rasul memiliki peraturan berupa perintah dan larangan Allah Swt yang tertulis, baik dalam bentuk kitab atau lembaran. Perbedaannya, nabi tidak memiliki kitab dan shuhuf sendiri, kitab dan lembaran ini ditulis oleh nabi dan rasul sebelumnya atau kitab yang khusus diberikan kepada rasul tertentu pada masanya, seperti kitab Taurat, Zabur, Injil, dan kitab lainnya. Para nabi kemudian menyalin kitab-kitab dan suhuf ini kepada kaumnya dengan bahasa dan tulisan yang dimengerti kaumnya.
Sebelum Al-Qur’an, para nabi dan rasul menulis kitab dengan bahasa kaumnya. Setelah Al-Qur’an, firman Allah Swt ditulis dengan huruf Arab untuk ke berbagai kaum dan umat, tujuannya untuk mempersatukan umat Islam di seluruh dunia dan mengurangi perselisihan di antara umat. Al-Qur’an dalam bahasa Arab ini kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa agar dapat dipahami.
Nabi, rasul dan kaitannya dengan tokoh-tokoh peradaban dunia
Kisah para nabi dan rasul bisa kita pelajari dari berbagai buku. Semakin derasnya arus informasi, kita dapat dengan mudah mempelajari bukan hanya kisah nabi dan rasul dalam Islam, tetapi juga membandingkan dengan kisah tokoh-tokoh dan ajaran agama lain, dengan syarat sebagai seorang Muslim kita harus mengetahui dan mengenal ajaran para nabi dan rasul terdahulu sebelum mempelajari yang lain.
Dalam Al-Qur’an terdapat 25 nabi yang wajib diketahui, kenapa dari 124 ribu nabi hanya 25 nabi yang wajib diketahui? Karena 25 nabi ini adalah penghubung ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw dengan agama dan kepercayaan lain. Walaupun para tokoh agama dan kepercayaan ini pada saat ini dikenal dengan nama dan ajaran yang berbeda, namun memiliki benang merah ajaran kisah yang kurang lebih sama, contoh: kisah Nabi Adam as, Idris as, Nuh as, Ibrahim as, Yusuf as, Musa as, Sulaiman ad, Isa as sampai Nabi Muhammad saw memiliki kaitan dengan kisah-kisah nabi terdahulu.
Di antara tugas utama para nabi dan rasul adalah memberikan informasi tentang nabi dan rasul sebelum dan setelah mereka dari mulai dunia diciptakan hingga berakhirnya dunia (kiamat). Berita tentang nabi dan rasul sebelum mereka dan nabi dan rasul yang akan menggantikan tugas mereka berikutnya disampaikan dalam bahasa kaum dimana nabi dan rasul tersebut diutus, dengan nama dan bahasa yang disesuaikan dengan bahasa kaumnya.
Inilah juga yang menyebabkan adanya kisah-kisah tokoh agama yang hampir sama di antara berbagai kepercayaan yang ada hingga saat ini, contohnya: kisah Nabi Idris as. Dalam ajaran Islam beliau adalah nabi pertama yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu menjahit kain hingga menjadi bentuk pakaian seperti yang ada saat ini. Nabi Idris as juga dikenal dengan perjalanannya ke neraka dan surga. Nabi Idris as, dikenal dengan banyak nama, selain Idris as, beliau dikenal juga dengan nama Hurmus. Dalam tradisi Eropa kuno nabi Idris/Hurmus dikenal dengan nama dewa Hermes, dalam tradisi Mesir Kuno dikenal dengan nama Osiris.


Nabi Nuh as dengan peristiwa banjirnya yang mendunia dan perahu besarnya yang menyelamatkan sebagian kecil manusia, dan mereka yang selamat menjadi nenek moyang manusia yang ada di dunia saat ini (penciptaan kembali manusia). Kisah nabi Nuh as dalam kitab-kitab agama wahyu atau agama Abrahamik memiliki kisah yang kurang lebih sama. Namun kisah tokoh yang menyerupai kisah Nuh as, terdapat juga dalam berbagai tradisi agama dan peradaban dunia. Kisah banjir dan penyelamatan umat manusia ini pun dikisahkan dalam berbagai variasi kisahnya, namun memiliki benang merah kisah yang sama: sebagian besar manusia berbuat kerusakan, peristiwa banjir besar, terdapat tokoh yang menyelamatkan sebagian kecil manusia, yang terdiri dari keluarga dan pengikut sang tokoh, selamat dengan perantara kapal, penciptaan kembali umat manusia.
Dalam tradisi Cina, kisah ini dikenal dengan kisah dewi Nuwa, di India dikenal dengan kisah Manu dan Matsya, tradisi Inca mengenal peristiwa banjir yang disebut Unu Pachakuti yang terjadi karena mayoritas manusia berbuat kerusakan. Agama Majusi mengenal tokoh bernama Yima yang diperintahkan membuat sejenis kapal besar karena akan datang banjir besar yang akan memusnahkan manusia, dan sebagainya, untuk lebih lengkapnya bisa di baca di https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_flood_myths.

Kisah Nabi Yunus bin Matta as yang meninggalkan kaumnya, kemudian ditelan ikan paus juga tersebar di berbagai peradaban besar dunia dengan namanya masing-masing, namun memiliki benang merah kisah yang kurang lebih sama. Dalam agama Samawi dikenal dengan nama Jonah, dalam mitologi Yunani dan Romawi dikenal dengan nama Jonas atau Jason yang pergi meninggalkan kaumnya, terjadi badai, sang tokoh di telan monster laut, selamat dan kembali pada kaumnya.

Kisah Nabi Isa as/Yesus, Sang juru selamat, putra yang lahir dari seorang perawan suci, menyerupai kisah tokoh-tokoh agama atau dewa di Eropa dan Asia Barat, di antaranya: Attis (wilayah Turki dan sekitarnya), Adonis (Syria), dewa Mithra (Persia & India kuno). Adanya kisah-kisah yang serupa ini, dalam ajaran Islam disebutkan terjadi karena ķemampuan nabi dan rasul melihat kehidupan nabi dan rasul yang diutus sebelumnya dan yang akan di utus setelah mereka, kemampuan ini disebut dengan Nubuwwah. Nubuwwah ini disampaikan para nabi dengan bahasa kaumnya atau bahasa yang dimengerti dimana pun nabi atau rasul tersebut diutus.

Ada pula kisah para nabi yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasul Saw, seperti kisah Syam’un atau Samson yang memiliki badan kuat, Nabi Daniyal atau Daniel, Nabi Hizkil atau dalam agama Kristen Yehezkiel, Nabi Uzair, dan sebagainya. Ada pula kisah nabi dan rasul yang diketahui karena kisah hidup dan ajarannya, seperti kisah Gautama atau Sidharta Budha Gautama, Sang Krishna Dwipayana, Zuruthustra, dan sebagainya. Ketiga tokoh ini memiliki ciri nabi dan rasul seperti yang kami jelaskan di atas, manusia pilihan yang disucikan dalam ajaran agama dan kepercayaan yang masih ada hingga saat ini. Dari ciri mereka yang kami pelajari besar kemungkinan mereka adalah 3 di antara 124 ribu nabi dan rasul yang diutus Allah SWT.
Kesamaan ini dalam ajaran Islam bisa di fahami, bila kita sebagai Muslim mempelajari salah satu tugas utama diutusnya nabi dan rasul, yaitu memberi kabar tentang nabi dan rasul sebelum dan setelahnya. Berita ini kemudian mengalami perubahan kisah dengan berjalannya waktu, yang tertinggal hanya benang merah kisahnya saja, yang memiliki kesamaan antara kisah tokoh yang satu dengan lainnya.
Ciri Fisik dan Sifat Nabi dan Rasul
- Nabi dan rasul adalah manusia pilihan yang memiliki fisik yang sempurna, ciri fisik para nabi dan rasul di antaranya memiliki wajah yang bercahaya, tampan, paling tampan di antara kaumnya (Nabi), paling tampan di seluruh jagad raya (Rasul).
- Nabi dan rasul menguasai seluruh bahasa manusia, bahkan manusia yang tinggal di pedalaman sekalipun. Karena nabi dan rasul dalam melakukan syiar menggunakan bahasa kaumnya. (QS 14:4)
- Dalam berbagai riwayat, sebagian nabi dan rasul dikisahkan dapat mengerti bahasa binatang (QS 27:16) khusus untuk Rasulullah Saw, sebagai pemimpin para nabi dan rasul, diriwayatkan dapat berbicara dengan pohon.
- Memiliki mukjizat yang disesuaikan dengan era zaman dan kaum pada saat nabi dan rasul tersebut diutus. Mukjizat adalah ilmu tertinggi pada zamannya. Contoh: pada zaman Rasul Saw, ilmu yang dianggap paling bergengsi saat itu adalah ilmu syair dan perdagangan, dan Rasul Saw menguasai keduanya dengan sempurna. Pada masa Nabi Yusuf as kedudukan seorang dianggap mulia dan terhormat bila memiliki penampilan fisik yang sempurna, dan Allah mengutus Nabi Yusuf as dengan kesempurnaan penampilan fisik. Pada masa Nabi Musa as, manusia dengan ilmu tertinggi adalah mereka yang menguasai ilmu sihir dan dengan mukjizat dari Allah Swt, Nabi Musa as mengalahkan ahli sihir terkuat pada zamannya, begitu pula nabi-nabi yang lain.
- Dari keturunan terbaik. Setiap nabi adalah keturunan dari manusia-manusia terbaik pilihan.
- Berjalan di bawah naungan awan.
- Lahir dalam kondisi sudah disunat dan kelahirannya sudah dikabarkan oleh nabi dan rasul sebelumnya
- Memiliki akhlak termulia dan kesabaran tertinggi di antara kaumnya (nabi), umatnya (rasul)
- Nabi dan rasul adalah manusia paling pandai dalam segala bidang keilmuan. Dengan ilmunya ini, para nabi dan rasul mengajarkan manusia berbagai ilmu yang diperlukan dalam kehidupannya dan menjelaskan segala yang tidak diketahui.
- Para nabi dan rasul adalah manusia maksum, yaitu manusia yang diberi anugerah untuk tidak melakukan kesalahan dan dosa yang umumnya dilakukan manusia biasa. Kemaksuman para nabi diberikan oleh Allah Swt karena beratnya tugas seorang nabi dan rasul. (Adam hingga Isa hal. 41-69)
- Setiap nabi dan Rasul mengajarkan keyakinan yang sama seperti yang diajarkan oleh nabi sebelumnya, baik yang tertulis dalam kitab ataupun shuhuf (Lembaran). Adanya kesamaan ajaran ini bisa dilihat dari benang merah ajaran dan tuntunan dalam kitab-kitab agama-agama besar di dunia.
Penutup
Menurut ajaran Islam, mengacu pada Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 213 di atas, berbagai agama dan kepercayaan yang ada pada saat ini, awalnya adalah ajaran para nabi dan Rasul di atas, yang mengajarkan 3 landasan utama:
- Adanya Tuhan yang satu penguasa alam semesta (tauhid).
- Adanya kehidupan abadi setelah kematian
- Adanya balasan/karma atas perbuatan mereka di dunia.
Karena 3 landasan inilah ajaran para nabi dan rasul identik dengan akhlak mulia, perbuatan baik kepada diri sendiri dan sesama makhluk, memelihara keseimbangan alam semesta melalui ilmu pengetahuan yang bermanfaat agar tidak terjadi kerusakan alam yang merugikan manusia sendiri.
Dalam ajaran Islam, berjalannya waktu, sebagian besar ajaran para nabi ini mulai mengalami perubahan (distorsi) karena berbagai sebab, di antaranya perselisihan di antara umat hingga ajaran agama yang awalnya satu menjadi berbagai agama dan aliran kepercayaan yang ada hingga saat ini, Seperti kisah Zurutustra yang penganutnya kemudian menjadi agama Majusi/Zoroaster, pengikut Nabi Isa as yang terpecah menjadi Islam dan Kristen. Dalam ajaran Islam, mereka adalah para nabi dan rasul, baik yang tersebut dalam Al-Qur’an, hadits atau yang hanya dikenal melalui ciri-cirinya saja. Bukan hanya ajaran, kedudukan para tokoh nabi ini juga kemudian mengalami distorsi atau perubahan kisah hidup.
124 ribu nabi ini kemudian dikenal dengan berbagai gelar dan kedudukannya, diantaranya ada yang lebih di kenal karena kedudukannya sebagai raja atau putra raja yang mulia dan alim seperti tokoh nabi Daud (King David), nabi Sulaiman (King Solomon), Sang Siddharta Budha Gautama, Alexander The Great (ajaran Islam menyebut beliau Iskandar Dzulqarnain). Menjadi tokoh “anak tuhan” seperti : Nabi Isa as, Nabi Uzair as. Menjadi tokoh leluhur yang di puja seperti : Krisna, Sang Hyang Manikmaya/Batara Guru. Menjadi tokoh dewa Yunani, Romawi, seperti kisah Nabi Idris, yang dikenal pula dengan dewa Osiris di Mesir, dewa Hermes di Yunani dan Hurmus peradaban kuno Mesopotamia (sekarang wilayah Iraq dan sekitarnya), kisah nabi Nuh yang di kenal pula dengan nama Manu di India, Nuwa di China, Nu’u di Hawai, kisah nabi Yunus bin Matta yang di kenal sebagai dewa Jonas, dan sebagainya.
Dalam ajaran Islam, mereka adalah para nabi dan rasul, baik yang tersebut dalam Al-Qur’an, hadits atau yang hanya dikenal melalui ciri-cirinya saja.
Ketika Rasulullah Saw diutus sebagai nabi dan rasul yang terakhir, beliau Saw berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan diantara umat terdahulu, dengan memberikan pilihan, bukan dengan memaksa atau memerangi. Di antara umat terdahulu, baik yang beragama Yahudi, nasrani atau kaum pagan Mekkah, ada yang menerima kemudian menjadi Muslim dan ada pula yang tidak menerima. Di antara yang tidak menerima ada yang memerangi Rasul Saw, namun ada pula yang memilih berdamai bahkan bersahabat, seperti persahabatan Rasul Saw dengan Raja Najashi (Ethiopia) dan Raja Muqawqis (Mesir) yang beragama Kristen.

Rasul Saw adalah wujud kesempurnaan akhlak. Terkait dengan perbedaan agama dan keyakinan, Rasul Saw tidak akan pernah memerangi satu kaum hanya karena berbeda keyakinan. Peperangan yang terjadi pada masa Rasul saw adalah untuk pertahanan atau bela diri. Peperangan ini tidak terjadi bila kaum Muslim tidak diperangi terlebih dahulu.
Mengetahui ciri nabi dan rasul, menjadikan kita kaum Muslim seharusnya bersikap lebih toleran dan lebih menghormati agama lain, seperti yang dicontohkan oleh Rasul Saw, bukan justru bersikap sebaliknya, karena beragama itu adalah pilihan bukan paksaan. Dengan mengetahui ciri fisik, sifat, dan tugas nabi, sebagai Muslim kita juga dapat mengetahui siapa pun tokoh dewa, ‘anak Tuhan’, tokoh leluhur yang dipuja yang diyakini dari beragam keyakinan, besar kemungkinan mereka adalah tokoh nabi atau rasul atau para washi (pengemban wasiat atau penerus ajaran para nabi dan rasul) yang kemudian disembah sebagai Tuhan Semesta Alam.
Perubahan inilah yang disebut sebagai pergeseran ajaran karena terjadi perselisihan di antara penganut ajarannya. Perselisihan dan perbedaan pendapat ini kemudian menjadi agama-agama dan kepercayaan yang ada hingga saat ini.
Menghadapi perbedaan ini, Rasulullullah Saw mencontohkan kepada umat Muslim untuk menjaga akhlak kepada keyakinan berbeda tanpa merusak apa yang kita yakini sebagai seorang muslim. Ajaran Rasul Saw ini kemudian diteruskan oleh para Washi beliau Saw dan para sahabat terpilih dan para pengikutnya hingga ajaran tersebut sampai pada masa kita sekarang. Dari contoh sikap rasul saw di atas dapat kita ketahui bahwa bila ada kaum muslim yang memerangi suatu kaum hanya karena berbeda keyakinan apalagi hanya karena berbeda aliran atau mazhab dapat di pastikan mereka bukan umat Islam yang memahami ajarannya dengan baik seperti yang di contohkan oleh Rasulullah saw.
Semoga bermanfaat
Ditulis oleh : Sofia Abdullah
Sumber-Sumber & Catatan Penulis
Al-Qur’an:
- Dalam ayat ini dijelaskan Allah Swt dengan segala kuasa-NYA mengutus rasul dengan bahasa kaumnya. QS. Ibrahim 14: Ayat 4 : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka…”
- kata ‘Kami’ dalam ayat ini menunjukkan tentang mukjizat para nabi dan rasul yang mengerti bahasa hewan: QS. An-Naml 27:16, 18, 19 “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”
- Nabi diutus untuk kaumnya. QS. Al-A’raf 7: Ayat 73 : “Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Saleh.”
- QS. Al-Ahzab (33): 45-47 : beberapa tugas para nabi dan rasul: “Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.
Hadits:
Ada banyak Hadits yang menunjukkan jumlah nabi dan rasul. 2 di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu Umamah bahwa Abu Dzar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berapa jumlah persis para nabi.” Beliau menjawab:
مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا
“Jumlah para nabi 124.000 orang, 315 di antara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (HR. Ahmad no. 22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani dalam al–Misykah).
Sumber Buku & Websites
- Jumlah nabi, rasul & penerus nabi dan rasul: Al jazairi, Sayyid Ni’matullah, Dari Adam Hingga Isa AS, hal. 24-25 Cet.1,992 hlm, 2007,Lentera.
- Kemaksuman Nabi & Rasul : Al jazairi, Sayyid Ni’matullah, Dari Adam Hingga Isa AS, hal. Cet.1,992 hlm, 2007, Lentera.
- Peristiwa banjir besar yang terdapat di berbagai peradaban dunia, dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa di antara tugas para nabi adalah mengabarkan kedatangan nabi setelahnya dan mengisahkan kembali ajaran para nabi sebelumnya yang telah mengalami perubahan karena waktu. Tugas inilah yang menyebabkan banyak kisah di berbagai peradaban dunia yang hampir sama, diantaranya kisah banjir besar yang melanda dunia ribuan tahun lalu: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Flood_myth, https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_flood_myths
- Allah, konsep Tuhan dalam Islam Yasin T Jibouri, hal. 544-552).
- Vidyarthi. Abdul Haq et al, Ramalan tentang Muhammad: Dalam Kitab Suci Agama Zoroaster, Hindu, Buddha, dan Kristen, Cet.1,2013, Noura.
Dan buku-buku terkait lainnya yang jumlahnya cukup banyak untuk ditulis semua dalam artikel pendek ini.

Tinggalkan komentar