RASUL SAW TIDAK BERMUKA MASAM

Assalamualaikum wrwb..tulisan ini adalah hasil penelusuran dari berbagai sumber terkait tentang tafsir surat Abasa ayat 1 – 10. Mudah2an tulisan ini dapat memberikan pencerahan kepada umat Islam yang merasa sulit menerima penafsiran ayat ini seperti kami, yang menurut pendapat kami, penafsiran Qs Abasa, ayat 1-10 ini sangat mendeskreditkan nabi Muhammad saw. Sekali lagi semoga tulisan sederhana ini dapat menjawab bagi mereka yang tidak puas dengan penafsiran pada umumnya tapi tidak sempat menelusuri..🙏

Beberapa kali saya dengar ada ustadz yang seringkali mengisahkan hadits yang menghina rasul dan dengan berani merendahkan kedudukan rasul saw selevel kedudukan ‘manusia biasa’ yang banyak melakukan kesalahan dan kecerobohan hingga seringkali ditegur oleh Allah SWT dalam beberapa ayat yang tafsirnya di nisbahkan untuk rasul saw.

Salah satu kasus penghinaan yang paling terkenal adalah tafsir surat Abasa ayat 1-10, yang mengisahkan Rasul saw bermuka masam dan berpaling ketika seorang buta yang bernama Abdullah bin ummu maktum meminta penjelasan tentang Islam.

Tafsir ini disebarluaskan sedemikian rupa, dari mulai ceramah-ceramah, buku anak-anak hingga yayasan tunanetra yang menggunakan tokoh ummi maktum sebagai nama yayasannya. Tersebar luasnya tafsir ini seolah olah membuat kaum muslim yang awam “dipaksa” utk mengetahui, membenarkan dan menjadi familiar dengan tafsir ini, tafsir yang mengatakan bahwa nabinya hanya manusia biasa yang pernah bersalah dan berakhlak tidak terpuji hingga mendapat teguran dari Allah SWT. Sementara ceramah-ceramah yang bersifat memuji nabi saw, yang meninggikan kedudukan rasul jarang sekali disebarluaskan sedemikian rupa.

Ada apa dibalik penyebar luasan hadits tafsir ini??

Tafsir yang menisbahkan kata ‘dia’ sebagai Muhammad saw bila dipelajari secara ilmu hadits justru termasuk hadits-hadits yang kedudukannya lemah, dilihat dari para perawinya. Hadits ini dikatakan lemah karena termasuk hadits mursal, yaitu hadits yang mata rantai perawinya terputus. Ahli tafsir sekelas ibnu Katsir dan ibnu Abbas juga menuliskan dalam kitab tafsirnya bahwa hadits ini janggal dan aneh, selain karena semua perawinya hidup dimasa yang kurang lebih sama, hadits tafsir ini juga bertentangan dengan ayat-ayat Al Qur’an yang memuji akhlak nabi saw dan diturunkan sebelum ayat ini.

Dalam Qs Abasa ayat pertama, Al Qur’an hanya menyebutkan kata “Dia” kemudian keterangan kata ‘dia’ ditafsirkan sebagai Muhammad dalam tanda kurung : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, yang artinya kata Muhammad dalam ayat ini tidak lebih hanyalah penafsiran dari kata ‘dia’.

Pertanyaannya adalah apa benar “dia” dalam Qs Abasa ditujukan untuk rasul saw?

1. Yang pertama harus di perhatikan adalah, kata ‘dia’ dalam ayat pertama surat Abasa : abasa wa tawalla yang artinya dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Kata ‘dia’ dalam ayat ini adalah TAFSIR bukan ARTI. kedudukan Arti jauh lebih kuat daripada tafsir, karena tafsir seperti juga hadits bisa salah bisa benar. Sementara arti adalah terjemahan langsung ayat per ayat yang merupakan firman Allah SWT. Berbeda dengan tafsir, walaupun arti bisa terjadi salah penerjemahan tapi akan mudah dikoreksi oleh para ahli bahasa Arab.

2. Hadits tafsir ini memang diambil dari kitab ad Durr al Mansur karya Jalaluddin as Suyuthi, namun secara mata rantai hadits, hadits ini terputus karena perawinya hidup pada masa yang kurang lebih sama. Mayoritas ahli hadits mengatakan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat 1 sd 10 surat abasa tersebut terjadi ketika rasul sedang berkunjung kerumah al Walid al Mughirah, seorang pembesar kafir Quraisy yang paling disegani di kota Mekkah karena kekayaannya dan memiliki banyak anak. Pada saat itu dirumah al Walid ada 6 orang pembesar kafir Quraisy lainnya, yaitu : Umayyah bin Khalaf, Abu Jahal, Abbas bin Abdul Muthalib, Utbah dan Syaibah. Ketika Rasul saw sedang menjelaskan tentang Islam kepada para pembesar Quraisy ini, datanglah Abdullah bin Ummi Maktum, seorang muslim buta yang miskin, meminta dijelaskan tentang Islam.

3. Surat Abasa ini mengisahkan 3 golongan masyarakat Mekkah pada masa awal perjuangan Rasul menyebarkan Islam di berbagai kalangan di Mekkah;

golongan pertama adalah Rasul dengan segala kemuliaan akhlak beliau yang termaktub dalam Al Qur’an dan pengakuan masyarakat Mekkah saat itu yang memberi beliau gelar al Amin yang artinya dapat di percaya dan disegani oleh semua golongan masyarakat.
golongan kedua adalah para pembesar kafir Quraisy yang diwakili oleh al Walid al Mughirah karena peristiwa ini terjadi di rumah al Walid al Mughirah.
golongan ketiga adalah golongan penduduk Mekkah yang tertindas karena miskin dan buta, yang diwakilkan oleh tokoh Abdullah bin Ummi Maktum

4. Lalu siapakah ‘dia’ yang dimaksud dalam surat Abasa?? Dari ketiga golongan ini yang lebih pantas mendapat teguran Allah SWT adalah gol. 2, al Walid al Mughirah. Tokoh pembesar kafir Quraisy sekelas al Walid al Mughirah yang sedang bersama tamu-tamu pembesar Quraisy lainya tentunya akan merasa terganggu dengan kedatangan Abdullah bin ummi maktum di kediaman beliau. Al Walid al Mughirah yang merasa terganggu dengan kedatangan ummi Maktum bermuka masam dan berpaling.

5. Kenapa Al Walid al Mughirah yang seharusnya berada dalam kurung bukan Muhammad?? Bisa dibuka di dalam Al Qur’an surat al Mudatsir ayat 13 sd 36, kata bermuka masam dan berpaling (abbasa watawalla) ditafsirkan untuk AL WALID AL MUGHIRAH. Berdasarkan urutan turunnya ayat, Qs Abasa turun SETELAH Qs al Mudatsir, keduanya surat-surat dalam Al Qur’an yang diturunkan di Mekkah. (a)

6. Bisa dibuka dalam ayat-ayat yang lain kata-kata “tawalla” yang artinya “berpaling” hanya dinisbahkan untuk orang kafir/kaum musyrik bukan untuk Nabi Muhammad saw, lalu kenapa dalam tafsir ini kata2 “dia” ditafsirkan sebagai Muhammad?? (b)

7. Allah SWT memerintahkan kita manusia untuk menjadi ‘ulul albab’ yaitu manusia yang berfikir, menggunakan akalnya untuk memilih mana yang salah dan benar dengan cara belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Islam. Sebagai seorang muslim yang berfikir, harusnya ketika kita mendengar atau membaca tafsir seperti Abasa, seharusnya kita bertanya dalam hati apakah mungkin kedudukan rasul saw, yang di puji oleh Allah SWT memiliki akhlak yang agung akan berbuat demikian?? Perbuatan yang sama dengan kedudukan seorang pembesar kafir Quraisy?? Tentu saja mustahil. Rasul saw tentu saja tidak akan pernah bermuka masam dan berpaling, apalagi kepada orang yang ingin mempelajari Islam. Kepada seorang pengemis buta Yahudi saja, yang setiap hari menghina rasul saw, beliau tetap menunjukkan akhlak yang terbaik, akhlak yang agung, akhlak yang seharusnya menjadi pedoman bagi umat muslim.

8. Nabi dan Rasul adalah pengemban amanat Allah SWT yang diutus dari keluarga terpilih, sempurna lahir dan batinnya, karena amanat yang diembannya maha berat, mustahil melakukan kesalahan sederhana yang manusia berakhlak standar saja tidak mungkin melakukan hal tersebut, apalagi Rasul saw yang gelarnya saja SAYYIDUL ANBIYA WAL MURSALIN (pemimpin para nabi dan rasul), apakah mungkin bermuka masam dan berpaling?. Tentu saja tidak mungkin karena akhlak seperti ini sama sekali bukan akhlak nabi dan rasul, apalagi akhlak Sayyidul anbiya wal mursalin.

9. Hadits adalah kumpulan kisah, sikap, ucapan rasul saw yang didengar, dikumpulkan dan ditulis oleh sahabat dan orang yang mengenal rasul saw pada masa beliau hidup. Berbeda dengan Al Qur’an, sumber penulisan hadits adalah manusia biasa bukan firman Allah SWT, jadi berbeda dengan Al Qur’an, hadits memiliki kemungkinan salah dan benar. Hadits-hadits yang ada pada kita sekarang adalah hadits yang dibuat 200thn setelah Rasul saw wafat dan dalam perjalanannya hadits-hadits ini banyak mendapat pengaruh dari penguasa saat itu, situasi politik yang terjadi dan sebagainya, uang menyebabkan banyak pemalsuan hadits. Mengenai sejarah Hadits bisa dibaca dalam buku sejarah hadits yang umum dijual di toko-toko buku.

10. Sebagai umat muslim seharusnya kita bersikap kritis dalam menyikapi hadits-hadits atau ceramah para ustadz yang menghina atau merendahkan kedudukan rasul saw, mulai dari nabi yg bermuka masam dan berpaling, nabi buta huruf, sering ditegur Allah karena melakukan banyak kesalahan, dsb. Karena sifat sifat yang dinisbahkan kepada rasul saw tersebut jelas-jelas bertentangan dengan arti Al Qur’an yang terjemahannya jelas diakui oleh semua golongan muslim.

****

Catatan

(a) surat al Muddassir (orang yg berselimut) termasuk 4 surat pertama periode makiyyah yg diturunkan jauh lebih awal seblm surat abbasa, sementara surat Abbasa adalah surat makiyyah ke 24 yang diturunkan berdasarkan urutan turunnya wahyu. (sumber : ma’rifat, Hadi, M, sejarah Al Qur’an, hal. 81)

(b) bisa dilihat dalam al Qur’an surat : 3:82, 4:80, 20: 48, 20: 60, 53: 29, 53:33, 75:32, 88:23, 92:16, 96:13 (sumber : al ust. Husein al Habsy, nabi saw bermuka manis tidak bermuka masam, hal. 12-15, al Kautsar 1992)

Sumber-Sumber

  1. Ma’rifat, Hadi, M, Sejarah Al Qur’an, hal. 81, al Huda 2007
  2. Ma’arif, Majid, Sejarah Hadits, nur al Huda 2012, bisa dibaca ringkasannya di sini : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2017/03/20/%e2%80%8bhadits-pengertian-sejarah-singkat-nya/
  3. Al Ust. Husein al Habsy, Nabi saw bermuka manis tidak bermuka masam, bisa didownload dalam bentuk pdfnya di link ini : Nabi Saw Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam – Sebuah Catatan Tentang Penafsiran Abasa http://www.id.islamic-sources.com/book/nabi-saw-bermuka-manis-tidak-bermuka-masam-sebuah-catatan-tentang-penafsiran-abasa/
  4. Ceramah hb Alwi Assegaf ttg tafsir Abbasa

Ditulis oleh SofiaAbdullah
Memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad saw, Rabi’ul Awwal 1441 H

Tinggalkan komentar