Fatimah az Zahra bt Muhammad Rasulullah saw, Sebuah Biografi Singkat

Siapa yang tidak mengenal Fathimah az Zahra putri Rasulullah, sang Rahmatan lil alamin? Siapa yang mengaku dirinya muslim pasti mengenal sosok agung ini, walaupun hanya sekedar nama dan kedudukannya sebagai putri Muhammad Rasulullah saw.

Fathimah adalah sosok agung, contoh mulia bagi tiap-tiap wanita bagaimana harus bersikap sebagai seorang hamba yang taat pada penciptanya, seorang anak yang patuh dan sangat mencintai orang tua nya, istri yang menjadi pujaan hati suaminya, ibu yang pengasih, guru bagi anak-anaknya, serta teladan bagi wanita disekelilingnya.

Aku berasal dari Nur ayahku Muhammad, (seperti ayahku) Allah SWT menganugerahiku pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan hingga (apa yang akan terajadi pada) hari akhir. (Sayidah Fatimah Az Zahra)

Keluhuran akhlak Fathimah az Zahra ketinggian ilmunya, dan rasa kasih sayangnya kepada kaum muslim dan muslimah yang sedemikan besar adalah duplikat sempurna dari sang ayah, yang diutus Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Kecintaan rasul saw kepada putri tunggal-nya ini lantaran ketaatan Fathimah az Zahra kepada sang Khaliq, Allah SWT, yang melahirkan sifat mulia dan memiliki akhlak yang agung.

Dalam berbagai kesempatan Rasul saw sering kali mengucapkan pada para sahabatnya serta kepada istri-istri beliau : “Fathimah adalah belahan jiwaku, barang siapa yang menyakiti Fathimah, berarti menyakitiku, barang siapa yang membuatnya bahagia, dia membuatku bahagia”.

Tentang Fathimah az Zahra, Ummu Salamah pernah berkata: “Fathimah az Zahra dalam segala hal sangat menyerupai ayahnya, Rasulullah saw, dari mulai wajahnya, cara berjalan hingga caranya dalam menyelesaikan masalah.

Fatimah az Zahra as lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir 5 tahun sebelum wahyu pertama diturunkan, yaitu tahun 605 M. Mengenai kelahiran Fathimah az Zahra memang terdapat 2 versi tahun kelahiran yang berpatokan pada 5 tahun sebelum dan setelah nabi saw diutus menjadi rasul dan turunnya wahyu pertama di Gua Hira, yang terjadi pada tahun 610 M.

Detik-Detik Kelahiran

Umumnya mayoritas ahli sejarah Islam dengan mempertimbangkan berbagai peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan sayyidah Fathimah az Zahra, berpegang pada perawi yang mengatakan sayyidah Fahimah az Zahra lahir 5 tahun sebelum kerasulan atau sekitar 605 M.

Ketika merasakan waktu kelahirannya hampir tiba, sayyidah Khadijah memerintahkan salah seorang asistennya untuk meminta bantuan kepada wanita-wanita Quraisy yang dikenalnya untuk menolong persalinannya, namun para wanita Quraisy yang beliau kenal tak ada satupun yang mau menolong sayyidah Khadijah pada malam itu karena rasa benci atas pilihan wanita terkaya dan tercantik itu jatuh kepada Muhammad saw, seorang pemuda yatim yang menurut mereka tak sebanding dengan pilihan-pilihan yang telah mereka sodorkan kepada Khadijah.

Sayyidah Khadijah merasa sedih atas perlakuan wanita Quraisy terhadap dirinya namun sayyidah Khadijah tetap tenang, ia yakin pertolongan Allah SWT akan datang.

Tidak berapa lama menjelang saat-saat kelahiran sang putri mulia, tiba-tiba ruangan tempat Sayyidah Khadijah berbaring, di naungi cahaya yang terang dan nampaklah 4 wanita yang sangat cantik telah mengelilingi sayyidah Khadijah. Salah seorang dari mereka mengucapkan salam dan berkata: salam atasmu wahai istri nabi! Kami berempat adalah utusan Allah yang Maha Agung untuk membantumu melahirkan seorang putri mulia yang melalui rahimnya yang suci akan lahir para pengganti pewaris tugas ayahnya yang mulia,, kami adalah saudari-saudarimu. Saya Sarah, ini Asiah putri Mazahim temanmu di surga, dan ini Maryam putri Imran dan ini Kultsum saudari Musa bin Imran. Kami diutus Allah untuk melayanimu selayaknya wanita dilayani”.
Seorang dari mereka kemudian duduk di samping kanannya, seorang lagi di samping kirinya, yang ketiga di depannya, dan yang keempat di belakangnya, lalu Khadijah melahirkan Fathimah a.s. dalam keadaan suci dan disucikan.

Ilustrasi kelahiran sayyidah Zahra yang di bantu oleh 4 bidadari surga; sayyidah Maryam ibunda nb Isa as, sayyidah Kultsum bt Imran, saudara perempuan nabi Musa as, sayyidah Sarah istri nabi Ibrahim as dan sayyidah Asiyah istri Fir’aun

Seperti ayahandanya Muhammad saw, Fathimah az Zahra lahir dalam keadaan sujud, kemudian bertakbir memuji Allah SWT.
Bayi Fathimah az Zahra kemudian dimandikan oleh salah seorang dari keempat wanita suci ini dengan salah satu air dari mata air Al Kautsar yang di ciptakan Allah SWT untuk putri kekasih-NYA Muhammad saw.

Kelahiran sayyidah Fathimah yang penuh dengan mukjizat surgawi adalah bukti keagungan dan kemuliaan kedudukan sayyidah Fathimah az Zahra. Peristiwa kelahirannya yang mulia diriwayatkan dalam berbagai hadits shahih, baik dari jalur sahabat ataupun dari jalur AhlulBait.

Kehidupan Fathimah sebagai putri pengemban misi Ilahiah sangatlah berat, namun demikian beliau sangat taat dan tidak pernah sesaat pun lalai dari mengingat Allah SWT, atau mengeluhkan penderitaannya.

Perjalanan Hidup Sayyidah Fatimah az Zahra

610 M ketika nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama dan mulai mengemban misi kerasulan, kehidupan keluarga suci ini semakin berat, pada usia 5 tahun Fathimah telah menjadi penolong sekaligus penghibur dan pelipur Lara kedua orang tuanya.

Gelar Fathimah az Zahra yang terkenal adalah Ummu Abiha, yang artinya bagaikan ibu bagi ayahnya. Fatimah selalu berada disisi ayahnya setiap kali ayahnya dihinakan oleh kaum kafir Quraisy, putri agung ini selalu menghibur dan menolong ayahnya, Rasulullah saw.

Fathimah kecil sering kali melihat ibunya mengorbankan seluruh harta yang ia miliki untuk mendukung misi kerasulan ayahnya, hingga pertumbuhan Islam pun berkembang pesat. Hal ini tentu saja membuat gusar para pembesar Quraisy, dan berlakulah Boycott kepada seluruh bani Hasyim dan kaum muslim yang terjadi sekitar tahun 617 M-619 M.

Dalam masa boikot ini bani Hasyim dan kaum muslim dilarang berdagang dipasar-pasar, dilarang melakukan jual beli, hingga banyak diantara mereka yang kelaparan, rumah-rumah mereka disita.

Melihat peristiwa kedzaliman ini Abu Thalib, paman nabi segera bertindak dan memberikan perlindungan bagi kaum muslim di tanahnya yang kemudian di kenal dengan nama Syi’ib (lembah) Abu Thalib.

Dalam masa krisis ini Fathimah telah ikut berperan membantu orangtuanya. Fathimah kecil sering kali terlihat membantu ibundanya, Khadijah mengeluarkan semua hartanya untuk membeli makanan dan pakaian bagi kaum muslim yang berlindung di Syi’ib Abu Thalib dengan cara diam-diam.

Dengan dukungan penuh Abu Thalib dan Khadijah al Qubro, ibunda Fathimah, Syi’ar Islam-pun tetap berjalan meski diterpa berbagai ujian.

619 M setelah selesai 3 tahun hidup dalam masa boikot, dalam Syi’ib (lembah) Abu Thalib, ibunda Fathimah az Zahra, Khadijah al Qubro dan paman yang yang paling dikasihinya meninggal dunia, tahun ini disebut tahun duka cita bagi Fathimah az Zahra dan ayahandanya Rasulullah saw.

622 M bertepatan dengan 1H, dimulailah kehidupan baru di Madinah. Kecantikan Fathimah, keluhuran akhlaknya dan kemuliaan garis keturunannya, telah memikat banyak sahabat rasululullah saw dan memberanikan diri untuk melamar sang putri nabi, namun Rasul menolak semuanya dengan halus, karena rasul tidak pernah bertindak melainkan atas wahyu dari Allah SWT.

Atas dorongan para sahabat yang lain, dan melihat kedekatan hubungan Imam Ali dengan nabi dan keluarganya, akhirnya Imam Ali memberanikan diri untuk melamar Fathimah az Zahra as, atas izin Allah SWT lamaran pun di terima.

623 M atau tahun ke-2 H Sayyidah Fathimah az Zahra menikah dengan sayyidina Ali karamallahuwahjah. Pada hari pernikahan agung ini, atas perintah Allah SWT, malaikat Jibril turun kepada Rasulullah saw dan menyampaikan sebuah hadits Qudsi: “ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berfirman bahwa jika tidak Kuciptakan Ali maka sesungguhnya tidak aka ada makhluk yang sepadan dengan Fathimah diatas muka bumi ini, mulai dari nabi Adam hingga anak keturunannya”.

Setiap kali aku melihat wajah Fatimah semua kekhawatiran dan kesedihanku sirna (sayyidina Ali as)

624 M atau tahun ke-3 H, setahun setelah pernikahan kedua pasangan mulia ini, putra pertama mereka lahir, rasul memberinya nama Hasan, disusul 1 tahun kemudian kelahiran al Husein as. Tentang kedua cucunya ini rasul bersabda : “Hasan dan Husain adalah dua orang anakku. Barangsiapa mencintai mereka berdua berarti mencintaiku dan barangsiapa yang mencintaiku pasti Allah mencintainya dan barangsiapa yang dicintai Allah niscaya Allah masukkan ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang membenci mereka berdua berarti membenciku dan barangsiapa yang membenciku pasti Allah pun membencinya, dan barangsiapa yang dibenci Allah niscaya Allah campakkan dia ke Neraka dengan wajahnya terlebih dulu!”. (1)

Sayyidah Fathimah az Zahra as dan Imam Ali as, memiliki 2 orang putra Hasan dan Husein dan 2 orang putri, yaitu sayyidah Zainab al Qubro dan Ummu Kultsum.

632 M atau tahun ke 11 H, adalah tahun duka cita bagi keluarga nabi, pecinta dan pengikutnya, 2 Pilar Islam telah berpulang menghadap sang khaliq dalam waktu yang berdekatan, pertama wafatnya Baginda Rasul saw pada tanggal 28 Safar 11 H atau sekitar 632 M, kemudian disusul berpulangnya sayyidah Fatimah tepatnya 13 Jumadil Awal, sekitar 3 bulan setelah kepergian sang ayah.

Fathimah sang putri mulia pun meninggal dunia, dalam usia sekitar 28 tahun dengan segala beban kesedihan yang menumpuk di pundaknya melihat peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada ummat ayahnya setelah sang Ayah tercinta berpulang kembali kepada sang Khaliq, Allah SWT.

Kehidupan adi luhung yang dicontohkan Fathimah az Zahra as kepada umat Islam khususnya kaum wanita, semestinya tidak hanya tinggal sebuah kisah sejarah, yang disampaikan dalam acara Milad ataupun Wiladah, namun jadikanlah kisah Fathimah sebagai penuntun bagi kita khususnya kaum wanita. Pelajarilah kehidupan Fatimah az Zahra agar kita memahami bagaimana memaknai hidup dan bagaimana bersikap dalam menghadapi segala permasalahan hidup..

Akhir kata mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan dalam meneladani kehidupan sayyidah Fathimah az Zahra al maksumah alaihassalam, hingga kita layak mendapat syafaat dari beliau..
amiin yaa Rabb
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد

Catatan

  1. Hadits yang diriwayatkan dari Salman al Farisi, di nukil dari kitab At-Thabarsi, I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda hal. 219
  2. Semua informasi tentang tahun, kami dapatkan dari hasil penelitian para ahli sejarah Islam, yang diambil berdasarkan Kaitan peristiwa yang satu dengan yang lainnya.

(Ditulis oleh : SofiaAbdullah, 20 JumadilAkhir 1437 H)

Tinggalkan komentar