Sahabat Dari Negeri Yang Jauh

…dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk (Qs Ar ra’ad (13) : 7)

‘Kami tidak memgutus seorang rasul pun melainkan dengan menggunakan bahasa kaumnya, supaya ia dapat
memberikan penjelasan yang terang pada mereka…. (Qs Ibrahim (14) : 4)

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan…(Qs Al Hadid (57):25 )

Pada setiap kaum Allah SWT mengutus para nabi, jumlah nabi sangat banyak sesuai dengan jumlah kaum saat itu. Ayat diatas dan dalam berbagai hadits mutawattir tentang jumlah nabi dan rasul baik dari perawi ahlussunnah maupun dari jalur ahlulbait diantaranya diriwayatkan jumlah Nabi semuanya 124.000, jumlah rasul 313 orang.

Mereka yg mengikuti ajaran nabi walaupun telah terjadi distorsi disebut ahlul kitab atau golongan yang berpegang atau memiliki kitab. Dalam kisah sejarah Rasulullah saw, kita mengenal diantaranya 3 tokoh sahabat nabi yang ahlulkitab yang berasal dari Negeri diluar Jazirah Arab, mereka adalah Bilal bin Rabah, Abu Dzar al Ghiffari dan Salman al Farisi.

Bilal ibn Rabah adalah sahabat nabi yg berasal dari Habasyah, sekarang lokasinya sekitar wilayah Ethiophia. Bilal berasal dari keluarga yang beragama tauhid dan seorang ahli kitab. Ayah Bilal bernama Rabah, Ibunya bernama Hamamah seorang putri dari kerajaan Abbisinia yang menjadi tawanan perang ketika negerinya kalah oleh bangsa Arab. Seperti umumnya tawanan perang saat itu, Hamamah kemudian dijual sebagai budak dari Umayyah ibn Khalaf, seorang tokoh kafir yang paling berpengaruh di Mekkah.

Seperti kedua orangtuanya Bilal yang menganut agama tauhid, Bilal telah mendengar tentang kelahiran agama Islam di Mekkah yang di bawa oleh Rasul saw. Ketika utusan Rasul saw mendatangi Umayyah untuk melakukan syiar Islam, Umayyah mencela dan menghardik utusan Rasul saw ini bahkan memerintahkan Bilal untuk mencambuknya, namun Bilal menolak karena sejak kedatangan utusan Rasul saw tersebut, Bilal mendengarkan dengan baik, bahkan terang terangan Bilal memutuskan untuk menjadi muslim.

Muhammad abdul Ra’uf dalam bukunya yang berjudul Bilal ibn Rabah, menggambarkan sosok Bilal sebagai pria yang tampan, berkulit coklat gelap, berhidung mancung, bertubuh tinggi kekar dan mata yang berbinar. Sahabat Bilal dilahirkan di kota Mekkah tahun 580 Masehi. Wafat di Damascus, Syria 640 M dalam usia 60thn.

Walaupun Bilal mengetahui bahwa dengan mengakui dirinya muslim sama artinya dengan kematian, namun Bilal tetap bertahan dengan keputusannya menjadi pengikut Muhammad saw. Bilal kemudian disiksa karena tetap memilih menjadi muslim, namun siksaan tidak melunturkan imannya, bahkan bertambah kuat, ketika berita penyiksaan ini sampai kepada Nabi saw, Nabi saw memberikan sejumlah uang dan mengutus Abu Bakar mewakili rasul saw membeli Bilal dari Umayyah. Setelah di beli oleh Rasul saw, Bilal pun dibebaskan dan sejak itu, Bilal tidak pernah berpisah dari Rasul saw hingga Rasul saw wafat pada tahun 632 M.

Makam Bilal bin Rabah di Baabul Saghir Damaskus, Syria yang hingga saat ini masih ramai diziarahi.

Kisah perjalanan Bilal ibn Rabah menemukan Islam memiliki kesamaan dengan kisah Salman al Farisi, kedua sahabat nabi ini penganut agama Tauhid sebelum akhirnya menjadi seorang mukmin.

Salman al Farisi adalah putra seorang penguasa wilayah dari Persia, ayahnya adalah seorang Majusi yang memiliki tempat peribadatan sendiri, seperti umumnya para pemimpin saat itu, namun jiwa Salman selalu berontak dengan keyakinan keluarganya.

Suatu hari ketika kafilah dagang Nasrani mengunjungi daerahnya, beliau pun pun lari dari istana ayahnya dan membaktikan dirinya pada agama Nasrani dan diangkat anak oleh pendeta agung Nasrani saat itu, disinilah Salman al Farisi mempelajari kitab dan mengetahui tentang akan datangnya nabi terakhir bernama Ahmad, yg akan berhijrah ke Madinah.

Sebelum wafatnya sang pendeta, ayah angkat Salman al Farisi berpesan kepada Salman untuk menyambut kedatangan sang Nabi terakhir yang lahir di Mekkah dan hijrah ke Madinah. Setelah sang pendeta meninggal, Salman pun mengikuti anjuran beliau, melakukan perjalanan ke Mekkah menyambut sang nabi terakhir, namun dalam perjalanan menuju Madinah, beliau di rampok dan di jual sebagai budak kepada keluarga Yahudi Madinah sampai kemudian Rasul membebaskan beliau dari perbudakan dan menjadi sahabat setia.

Masjid dan makam Salman al Farisi, dikota Madain, Iraq. Mayoritas perawi menyatakan bahwa Salman wafat pada masa akhir pemerintahan khalifah Utsman bin Affan atau pada masa awal pemerintahan sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika berkunjung ke Mada’in. Sahabat Salman wafat dan dimakamkan di kota ini. Berdasarkan alur waktu (timeline) kehidupan Salman yang kami susun dari berbagai sumber, setelah wafatnya Rasul saw, pada era khalifah Abu Bakar (2thn), Umar bin Khatab (10thn) dan era khalifah Utsman (12thn) Salman al Farisi “menghilang” dari berbagai peristiwa sejarah penting sepanjang rentang 24 tahun, dan baru dikisahkan kembali pada masa awal pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, untuk melakukan baiat kepada Imam Ali bin Abi Thalib.

Kisah sahabat Abu Dzar al Ghiffari pun demikian, sebagai seorang ahlulkitab yang disegani dari bani Ghiffar, beliau sengaja datang ke Mekkah karena ingin bertemu sang nabi terakhir yang ada dalam kitabnya, namun karena suku Ghiffar adalah suku yang di takuti di Arab, Abu Dzar selamat dari perbudakan dan kembali ke kaumnya dan syiar Islam kepada kaum-kaum Arab yang lain.

Bilal ibn Rabah dari Habasyah-Afrika, Abu Dzar al Ghiffari dari suku Ghiffar, Salman al Farisi dari Persia adalah kisah yang dijadikan contoh bahwa banyak sahabat Nabi yang berdatangan dari dalam dan luar jazirah Arab dengan tujuan utk bertemu dengan Rasul saw, sang nabi terakhir yang namanya mereka dapati dalam kitab-kitab terdahulu. Sahabat Bilal, Abu Dzar, dan Salman adalah contoh sahabat nabi yang berasal dari kalangan ahlulkitab.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia pun sama seperti negeri-negeri yang lain, jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad saw, Indonesia dikenal sebagai negeri yang mayoritas penduduknya beragama tauhid dan ahlulkitab (memiliki kitab dari nabi terdahulu).

Sebagaimana para ahlulkitab yang lain, tentunya terdapat pula tokoh dari Indonesia yang juga ingin bertemu dengan sang nabi terakhir, yaitu nabi Muhammad saw. Salah satu contoh kisah pertemuan Rasul saw dengan penduduk Nusantara yang waktu itu masih bernama SUNDA yaitu kisah pertemuan Rakeyan Sancang dengan Nabi Muhammad saw. Oleh Rasul saw beliau di perintahkan berguru kepada Imam Ali. Setelah menguasai ilmu Islam Rakeyan Sancang kembali ke Indonesia, dan syiar Islam. Rakeyan Sancang kembali lagi ke Madinah ketika Rasul saw wafat. Ketika perang shiffin yang terjadi antara pasukan Imam Ali dan Muawiyyah Rakeyan Sancang berada di barisan pendukung Imam Ali as. (Tentang Rakeyan Sancang dan Imam Ali bisa di baca selengkapnya di link ini: https://www.google.com/amp/s/sofiaabdullah.wordpress.com/2020/06/22/imam-ali-bin-abi-thalib-rakean-santang-rakeyan-sancang/amp/)

Dari berbagai sumber yang telah kami pelajari, terutama sumber sejarah setempat, banyak sahabat-sahabat yang berlatar belakang kisah seperti mereka. Bila diumpamakan, penantian para pemeluk ahlul kitab pada saat itu menunggu kedatangan Rasul saw sama seperti kita sekarang menunggu kedatangan Imam Mahdi shohibuz zaman wa ajjil farrajahum, sang Ratu Adil.

Jadi Kebayang kalo Imam Mahdi afs muncul kelak ..pasti kaum mukmin dan ahlul kitab sedunia yang menanti kedatangan beliau afs datang berbondong bondong dimanapun beliau berada..mudah2 an kita semua di beri kesempatan umur dan kesehatan untuk melihat kedatangan Imam Mahdi afs, sang Ratu Adil…Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad..amin yaa Rabbal alamin

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar