Seperti yang kita ketahui bersama, sejarah adalah ilmu yang mempelajari segala peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Tujuan mempelajari sejarah jelas, untuk mengetahui siapa dan bagaimana leluhur kita, asal usul bangsa dan negara tempat kita dilahirkan. Ilmu sejarah juga dipelajari dengan tujuan agar kita dapat menemukan solusi bagi segala masalah yang ada pada masa kini dan masa yang akan datang.
Dalam penelusuran sejarah, yang kami tekuni dari tahun 2009, seringkali kami menemukan beberapa fakta sejarah penting yang terlewatkan, yaitu: perubahan geopolitik.
Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh kekuasaan terhadap wilayah atau geografi suatu bangsa atau negara, yang meliputi pengaruh fisik yaitu manusia, budaya dan wilayah, baik darat, laut, udara ataupun non fisik yaitu ideologinya.[1]
Ilmu geopolitik dalam penelusuran sejarah menjadi amat sangat penting mengingat besarnya pengaruh geopolitik yang telah menyebabkan bukan hanya perubahan nama namun juga luas wilayah bahkan ideologi suatu negara.
Wilayah di Asia Tenggara yang mengalami perubahan geopolitik sangat banyak, seiring dengan pergantian penguasa dari masa ke masa, dua diantara wilayah Asia Tenggara yang mengalami perubahan geopolitik hampir menyeluruh adalah wilayah Champa atau kesultanan Champa yang kini menjadi Vietnam dan wilayah Siam atau kesultanan Siam yang kini menjadi Thailand.

Wilayah Champa & Siam sebelum mengalami perubahan geopolitik menjadi Vietnam dan Thailand saat ini
Baik Champa maupun Siam selama berabad-abad adalah negara dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim. Pada tahun 1470 Champa diserang oleh bangsa Khmer dan Dai Viet, wilayah Champa kemudian terbagi dua menjadi Kamboja dan Vietnam, ideologinya pun berubah, yang pada awalnya Islam adalah agama mayoritas, menjadi minoritas. Agama Budha menjadi mayoritas dan dan sebagian kecil agama Brahmanik.
Perubahan ini terjadi bukan karena penduduk muslimnya merubah agamanya menjadi Budha tapi karena mayoritas kaum Muslim Champa bermigrasi ke wilayah-wilayah sekitarmya seperti Malaysia dan Indonesia.
Kesultanan Siam pun mengalami nasib yang kurang lebih sama dengan negara tetangganya Champa, setelah Siam dikalahkan oleh serangan bangsa China, Suku Thai, dan dibantu oleh Inggris, kesultanan Siam kalah dan berganti nama menjadi Thailand, yang diambil dari 2 suku kata Thai, yaitu suku bangsa Thai dan Land diambil dari Bahasa Inggris yan artinya negeri, yang arti keseluruhannya menjadi Negeri Bangsa Thai.
Jumlah kaum muslim di wilayah Siam menurun drastis, mayoritas mereka bermigrasi ke Indonesia tepatnya ke pulau Jawa.
Walaupun tidak pernah disebutkan dalam buku-buku sejarah umum, migrasi bangsa Cham dan Siam ke Indonesia dapat dilihat dari asimilasi penduduk, budaya (bangunan, makanan dan busana), bahasa dan sebagian ada yang tercatat dalam naskah-naskah kuno.
Migrasi bangsa Cham dan Siam ke Indonesia ini dapat dilihat dari asimilasi penduduk, budaya (bangunan, makanan dan busana), bahasa dan sebagian ada yang tercatat dalam naskah-naskah kuno.


kerudung dan ciput khas Champa, yang sudah menyatu dan sudah menjadi ciri khas kerudung dan ciput di Indonesia.

keberagaman penduduk Champa, mengingatkan kita akan keberagaman wajah dan ciri khas di Nusantara. penduduk Champa memiliki kaitan yang erat dengan Nusantara, karena mereka mengakui bahwa leluhur mereka berasal dari Jawa. ketika kesultanan Champa di serang, terjadi migrasi besar-besaran masyarakat Champa ke Jawa, adanya migrasi ini dapat dilihat dari asimilasi budaya penduduk Champa di berbagai daerah di Indonesia, saat ini hanya sekitar 150.000 penduduk Champa yang tersisa di Kampung Cham, Vietnam.
Kedatangan bangsa Eropa ke negara-negara Asia juga telah merubah geopolitik negara-negara Asia yang terjajah. Negara-negara di dunia yang ada saat ini, baik nama maupun wilayahnya adalah negara-negara yang umumnya dihasilkan dari pembagian wilayah yang dilakukan oleh negara-negara yang awalnya tergabung dalam VOC atau EIC. Pembagian ini terjadi ketika koalisi perdagangan Internasional ini membubarkan koalisinya, karena telah berhasil menguasai wilayah-wilayah yang ingin mereka kuasai.
Setelah Perang Dunia I (1914-1918), jatuhnya kesultanan Turki Usmani, kemudian disusul Perang Dunia II, geopolitik pun berubah lagi menjadi negara-negara yang kita kenal sekarang.
Jadi bila kita mempelajari sejarah negara-negara yang ada sekarang, sekitar 2 atau 3 abad sebelum PD I dan II tentunya berbeda sekali dengan apa yang kita lihat sekarang, baik nama maupun wilayahnya.
Perubahan geopolitik yang terjadi pada wilayah Siam dan Champa adalah salah satu contoh perubahan geopolitik yang mempengaruhi sejarah Indonesia dalam skala kecil. Dalam skala besar kita akan menjumpai perubahan geopolitik yang terjadi pada kata ‘Hindia atau India’.
‘Dunia Baru’ itu Bernama India
Nama India berdasarkan fakta yang kami temukan sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Eropa sejak era Herodotus, seorang sejarawan Yunani, yang hidup kurang lebih 400 tahun sebelum Masehi.
Nama India yang dikenal bangsa Yunani berasal dari bahasa Parsi tua Hindia, yang diambil dari kata Hindhu, yang berasal dari bahasa sanskrta Sindhu, yang berarti ‘Sungai’[2].
Pada masa Yunani dan Romawi bangsa Eropa adalah bangsa yang maju peradabannya. Namun pergantian penguasa demi penguasa, menurunnya kualitas moral para penguasa menyebabkan peperangan antar suku dan bangsa-bangsa di Eropa, pemimpin yang serakah telah menuntut rakyatnya terus berperang dengan mengatasnamakan agama, pendidikan dan ilmu pengetahuan pun akhirnya di tinggalkan. Kondisi ini telah menjadikan bangsa Eropa memasuki era kegelapan, yaitu menurunnya kualitas pendidikan bangsa hingga pada titik yang terendah, hingga segala bidang keilmuan yang mereka miliki hilang, dan berpindah menjadi milik bangsa lain.
Selama berabad-abad bangsa Eropa mengalami masa kegelapan, dunia yang mereka ketahui hanya Eropa dan sekitarnya, bangsa Eropa juga mengatakan Bumi adalah datar dan laut dalam pandangan mayoritas bangsa Eropa saat itu adalah ujung dunia, karenanya mereka tidak pernah melakukan pelayaran, perjalanan yang mereka lakukan semuanya melalui darat. Masa kegelapan bangsa Eropa berangsur mulai memudar setelah terjadi kontak dengan bangsa Arab dan Islam yang melakukan invasi hingga ke perbatasan Eropa. Dari sinilah mereka mulai menggali kembali ilmu warisan nenek moyang mereka yang saat itu telah berada di tangan bangsa Arab dan Islam.
Sekitar abad ke-13 hingga abad ke- 15 nama ‘India’ muncul kembali di kalangan sejarawan Eropa. Dikenalnya kembali nama India oleh bangsa Eropa mungkin salah satu dampak positif ‘perang Salib’ yang terjadi selama 500 tahun, antara penguasa muslim dengan penguasa Eropa yang berambisi merebut kembali Palestina dari kekuasaan muslim.
Perang salib walaupun mengatasnamakan agama pada dasarnya adalah perang perebutan wilayah kekuasaan antara bangsa Arab yang mengatasnamakan Islam dan bangsa Eropa yang mengatasnamakan Kristen.
Pada era perang salib ini, yang terjadi dari abad ke 11 hingga abad ke-15, buku-buku pengetahuan klasik bangsa Yunani dan Romawi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab dan buku karya ilmuwan muslim menjadi barang berharga yang sangat dicari.
Tahun 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani, kondisi ini semakin melemahkan bangsa Eropa dan mendesak bangsa Eropa untuk melakukan penjelajaham menemukan ‘Dunia Baru’ untuk mereka tempati.
Dunia baru yang mereka ketahui saat itu, adalah dunia baru bernama Hindia atau India, suatu negeri yang digambarkan dalam buku sejarah klasik sebagai negeri yang kaya akan emas dan hasil bumi lainnya.
Pencarian India inilah yang kemudian membuat bangsa Eropa setiap kali menemukan benua baru mereka katakan sebagai ‘India’.
Kesalahan bangsa Eropa, membuat nama ‘India’ semakin jauh dari makna wilayah yang sebenarnya, karena setiap kali mereka menemukan ‘dunia baru’ mereka katakan sebagai ‘India’ dan penduduknya dikatakan sebagai ‘Indian’. Karena kesalahan demi kesalahan inilah wilayah India menurut pandangan bangsa Eropa saat itu pun menjadi sangat luas.
Luasnya wilayah Hindia menurut pandangan bangsa Eropa saat itu, menyebabkan wilayah ‘Hindia’ pun dibagi menjadi 2, yaitu Hindia Barat dan Hindia Timur.
Hindia Barat adalah sebutan bagi wilayah-wilayah di laut Karibia yang terbentang antara Amerika Selatan hingga Amerika Tengah, sementara Hindia Timur adalah wilayah yang terbentang mulai dari anak benua India, Pakistan dan sekitarnya, hingga wilayah-wilayah yang kini yang kini menjadi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk diantaranya adalah kepulauan Indonesia.

File:1801 Cary Map of the East Indies and Southeast Asia (Singapore, Borneo, Sumatra, Java, Philippines) – Geographicus – EastIndies-cary-1801.jpg
Ketika akhirnya bangsa Eropa menemukan wilayah India yang sebenarnya, bukannya mereka mengoreksi kesalahan mereka, malah sebaliknya mereka menetapkan nama ‘India’ sebagai nama resmi wilayah jajahan baru bangsa Eropa di benua Asia dan Afrika.
Wilayah India yang mereka temukan ini diberi nama baru berdasarkan pembagian wilayah diantara negara negara Eropa yang menginginkan wilayah tersebut menjadi wilayah jajahan mereka dan tergantung besarnya saham yang mereka tanam di wilayah tersebut. VOC memiliki peran penting dalam pembagian wilayah ini.
VOC adalah sebutan dalam bahasa Belanda untuk persekutuan dagang Internasional Hindia Timur. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan EIC. Baik VOC ataupun EIC memiliki anggota perusahaan perusahaan dagang Eropa, yang satu dan lainnya saling bekerja sama untuk menaklukan wilayah di Asia dan Afrika yang menjadi sasaran mereka.
Pada awal menemukan kepulauan Nusantara yang pada saat itu masih bernama Hindia, bangsa Eropa berdatangan dengan perusahaan -perusahaan dagang kecil milik keluarga bangsawan Eropa. Karena kalah dalam persaingan dagang dengan bangsa-bangsa lain, Perusahaan dagang keluarga ini kemudian bergabung dengan perusahaan dagang Eropa yang lain hingga menjadi menjadi gabungan perusahaan Internasional terbesar saat itu.
Perusahaan dagang Belanda memiliki saham terbesar di wilayah Nusantara hingga ketika wilayah Nusantara satu persatu berhasil mereka kuasai jadilah mereka meletakkan nama Belanda di belakang kata Hindia, yang artinya Hindia (milik) atau Hindia Belanda (Netherlands India).
Hal yang sama pun terjadi dengan wilayah yang dikuasai oleh perusahaan dagang Inggris menjadi British East India (anak benua India), Spanish East Indies (Philipina), dan sebagainya, padahal tiap-tiap negara tersebut memiliki namanya masing-masing sebelum era pemerintah kolonial Belanda.
Ketika akhirnya negara-negara yang dijajah ini merdeka dari bangsa Eropa, sebagian besar nama wilayah yang diberikan oleh bangsa Eropa yang menjajah bangsa-bangsa di Asia-Afrika masih berlaku berlaku hingga saat ini, seperti contohnya sebutan negara Phiphina yang diambil dari nama raja Spanyol Philip, atau sebutan untuk penduduk asli Amerika hingga saat ini tetap Indian, atau sebutan India bagi negara India saat ini, padahal nama resminya dan sebutan penduduknya bagi negara ini adalah ‘Bharat’[3].
Lalu Dimanakah Lokasi India yang sesungguhnya?
Berdasarkan keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa kata ‘India’ yang digunakan Herodotus sekitar 400 SM adalah perubahan dari kata ‘Hindu’ yang diambil dari bahasa persia kuno yang digunakan sekitar 850-600 SM. Kata Hindu sendiri adalah perubahan dari kata sanskrta ‘Sindhu’ yang usianya jauh lebih tua, yang berarti ‘Sungai’.
Pada masa kekuasaan kaisar Persia Xerxes (Ahasuerus, 486-465 SM) atau sekitar 2500 tahun yang lalu, nama Hindu adalah sebutan bagi wilayah-wilayah di sebelah Timur sungai Indus[4].
Baik dari wilayah Persia atau India saat ini posisi wilayah sebelah Timur adalah Indonesia. Dan bila kita telusuri dari sejarah nama bangsa ini, nama Indonesia sendiri diambil dari kata Indus (India atau Hindia) dan Nesos (Kepulauan) bila di gabungkan keduanya berarti Kepulauan India, Indonesia juga pernah bernama East Indies atau ‘India Timur’. Sementara yang sekarang kita kenal sebagai negeri India yang berlokasi di anak benua India, nama asli negerinya adalah ‘Bharat’, yang hinga kini di gunakan sebagai nama resmi Republik India.
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa yang di katakan sebagai India yang sesungguhnya adalah Indonesia.
Perubahan-perubahan nama wilayah yang dilakukan bangsa Eropa terhadap negara-negara jajahannya tentunya menimbulkan dampak kerancuan dalam sejarah baik di sengaja maupun tidak, contohnya ketika peneliti sejarah menemukan naskah kuno yang menceritakan tentang India, tentunya akan terjadi kerancuan, lokasi India mana yang di maksudkan dalam naskah tersebut. Untuk meminimalisir kesalahan tersebut sangat penting bagi peneliti sejarah untuk mempelajari sejarah nama tempat atau lokasi yang dimaksud naskah kuno tersebut, karena kesalahan memahami lokasi sejarah dapat merubah seluruh sejarah yang ada.
Catatan dan Sumber
[1] Devetak, Richard; Burke, Anthony; George, Jim, eds. (2011). An Introduction to International Relations. Cambridge: Cambridge University Press. Hal.492. ISBN 978-1-107-60000-3.
[2] Cheung, Martha Pui Yiu (2014) [2006]. “Zan Ning (919–1001 CE), To Translate Means to Exchange”. An Anthology of Chinese Discourse on Translation: From Earliest Times to the Buddhist Project. Routledge. pp. 179, 181. ISBN 978-1-317-63928-2.
[3] Madhav Deshpande, Sanskrit & Prakrit: Sociolinguistic Issues, Motilal Banarsidass Publ., 1993, p. 85.
[4] Sharma, Arvind (2002), “On Hindu, Hindustan, Hinduism and Hindutva”, Numen, 49 (1): 1–36, JSTOR 3270470
Tinggalkan komentar