Berdasarkan buku Masuknya Islam ke Timur Jauh yang ditulis oleh peneliti sejarah terkenal tahun 1950an, seorang mufti dari Malaysia, bernama al Habib Alwi bin Thahir al Hadad, disebutkan pada tahun 681 M hingga tahun 700an Masehi, pasca peristiwa karbala, telah terjadi gelombang hijrah kaum syiah Islam yang cukup besar ke berbagai kepulauan Nusantara dan Asia Tenggara. Gelombang hijrah ini terjadi karena tekanan dan pembunuhan penguasa Bani Umayyah dan Abbasiyah kepada keturunan Bani Hasyim dan kaum Syiah ahlul bait.
Tekanan dan pembunuhan ini terjadi karena keturunan keluarga Bani Hasyim dan kaum syiah ahlulbait tidak terima dengan peristiwa tragis yang dialami Imam Husein dan keluarga Nabi saw di Karbala, yang menyebabkan syahidnya Imam Husein, putra-putra beliau dan putra Imam Hasan. Tragedi ini hanya menyisakan satu putra Imam Husein bernama Ali Zainal Abidin, yang pada saat tragedi tersebut terjadi sedang sakit parah. Ketika peristiwa Karbala terjadi Imam Ali Zainal Abidin telah memiliki putra yang baru berusia 3 tahun, bernama Imam Muhammad al Bagir. Imam Muhammad al Bagir inilah yang kemudian menurunkan kaum Habaib atau keturunan nabi Muhammad saw yang tersebar di seluruh dunia.
Setelah peristiwa karbala, Kaum Syiah Ahlulbait (pengikut keluarga nabi saw) melakukan protes di berbagai wilayah kekuasaan bani Umayyah. Peristiwa ini menyebabkan penguasa wilayah melakukan perburuan dan pembantaian kaum syiah dan keturunan keluarga nabi saw dimana pun mereka berada tanpa pandang bulu. Semua keturunan nabi dan para pengikutnya baik yang melakukan tindakan protes atau tidak mendapat perlakuan yang sama. Mereka dikatakan kaum pemberontak atau Syiah rafidhoh dan harus dibunuh, kaum wanita dan anak-anak diperbudak.
Karena alasan inilah akhirnya kaum Syi’ah ahlulbait dan keturunan keluarga nabi saw hijrah ke negeri-negeri yang jauh seperti Cina, Indonesia (dulu bernaman Hindia) dan India (dulu bernama Bharat). Hijrahnya kaum Syi’ah ini bisa dibuktikan bukan hanya melalui catatan tertulis tapi juga telah meninggalkan berbagai tradisi yang masih bisa dilihat hingga saat ini.
Berikut adalah beberapa tradisi yang kami rangkum :
1. TRADISI MEMBANGUN MAKAM
membangun kamar makam/ cungkup makam atau ruangan dengan fondasi segi empat berbentuk bangunan kamar dengan pintu atau hanya berbentuk ruang terbuka dengan atap yang berisi beberapa makam dari keluarga atau kerabat atau tokoh masyarakat telah menjadi tradisi leluhur Nusantara sejak ribuan tahun lalu. Pada masa Islam tradisi ini tetap dipertahankan karena tidak bertentangan dengan hukum Islam yang diajarkan oleh Rasul saw dan ahlulbaitnya. Tradisi membangun makam hingga saat ini masih hidup di kalangan penganut Syi’ah ahlul bait di seluruh dunia.

2. TRADISI MEMULIAKAN ALI
Tradisi memuliakan Sayyidina Ali bisa dilihat hingga saat ini dalam bentuk benda, do’a, dan berbagai peringatan. Contoh tradisi memuliakan Ali dalam bentuk benda diantaranya : sebutan ali atau ali-ali untuk cincin laki laki tersebar diseluruh jawa baik Jawa Barat, Tengah atau Timur. Cincin disebut dengan ali atau ali-ali, terkait dengan tafsir dari mazhab Ahlul Bait mengenai penunjukkan pemimpin yang bersedekah dengan cincinnya ketika sholat yaitu imam Ali.

3. TRADISI KHAUL/PERINGATAN KEMATIAN.
Tradisi tahlil atau peringatan hari kematian pada hari ke-7, hari ke-40 sd hari ke-1000, diambil dari peristiwa kembalinya keluarga Nabi saw ke karbala setelah berhari hari menjadi tawanan Yazid bin Muawiyah di Damaskus. Peristiwa kembalinya keluarga Nabi ini bertepatan dengan hari ke-40 syahidnya Imam Husein, pada tanggal 20 Safar 681 M. Keluarga nabi yang selamat kembali ke Karbala untuk menyatukan kembali dan menguburkan jasad Imam Husein dan para syuhada yang telah dimutilasi oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini kemudian diperingati setiap tahun dengan sebutan arbain atau hari ke-40. Hari ke-40 kemudian menjadi tradisi 40harian yang diperingati bukan hanya pada tanggal 20 Safar tapi juga dilakukan jika ada keluarga yang meninggal dunia dengan membaca do’a tahlil bersama.
4. BARZANJI, MARHABÀ, DIBA’I & KENDURI
Barzanji, Marhabà, Diba’i adalah puji-pujian yang persembahkan kepada Nabi dan keluarganya. Pembacaan puji-pujian ini biasanya dilakukan pada acara-perayaan Maulid, pernikahan, syukuran dan sebagainya. Khusus kenduri, sangat nyata dipengaruhi oleh tradisi Syiah. Karena kata ‘kenduri’ sendiri ini dipungut dari bahasa Persia, Kanduri, yang berarti tradisi makan-makan untuk memperingati hari kelahiran Fatimah Az-Zahrah, putri Nabi Muhammad Saw.
5. PENYEBUTAN SURO UNTUK BULAN MUHARRAM
Di Jawa tengah, sebetulnya jawa barat juga sama, awal bulan pada kalender Jawa di sebut SURO, diambil dari kata Asyuro yang artinya hari ke 10. Kalender Jawa diadaptasi dari kalender hijriyyah. Walaupun dalam sejarah dikatakan kalender ini mulai digunakan pada masa Sultan Agung, namun berdasarkan fakta sejarah yang kami kumpulkan, sistem kalender ini telah ada sejak masa jauh sebelum sultan Agung.
6. TRADISI MENGITARI BENTENG KERATON
Tradisi ini diawali dengan mensucikan diri kemudian berjalan perlahan mengitari benteng keraton dengan membawa obor, sambil membaca do’a, shalawat tanpa suara sebagai sarana meditasi diri, merenungi kesalahan untuk perbaikan diri pada masa yang akan datang. Benteng keraton pada masa lalu adalah dinding yang membatasi kota atau Ibu kota wilayah yang pada masa lalu disebut Keraton. Ritual ini dilakukan pada malam 1 Suro. Pada masa lalu tradisi ini dilakukan dengan mematikan lampu (obor atau lampu minyak) pada rumah-rumah penduduk. Tradisi ini dilakukan pertama kali oleh kaum Tawabin. Kaum Tawabin artinya kaum yang bertaubat. Sebutan ini awalnya ditujukan bagi kelompok yang mengikuti Imam Husein sampai ke Karbala kemudian meninggalkan beliau pada malam ke 8 dan 9 karena takut dan alasan lain. Ketika berita syahidnya Imam Husein sampai kepada mereka, mereka pun menyesal karena telah meninggalkan Imam Husein di Karbala Kaum ini kemudian bertaubat sebagai tanda penyesalan dan melakukan ritual seperti diatas, mensucikan diri dan berjalan mengelilingi dinding kota untuk memberitahukan mereka telah mengakui kesalahan mereka dan bertaubat dari kesalahan dan telah mempersiapkan jasmani dan rohani bila ada panggilan jihad lagi.
7. PANJI ATAU BENDERA DENGAN SIMBOL YANG TERKAIT DENGAN SAYYIDINA ALI


Panji-panji wilayah, Bendera yang tersebar di berbagai wilayah di nusantara pada masa lalu umumnya bergambar pedang Dzulfiqar, Singa atau harimau. Dzulfiqar adalah pedang bermata 2 milik Rasulullah saw yang dihadiahkan kepada Imam Ali. Singa adalah sebutan atau gelar Imam Ali yang dalam bahasa Arabnya di sebut HAIDAR.

8. KISAH LISAN DAN TULISAN YANG TERKAIT DENGAN AHLULBAIT
Tradisi kisah-kisah lisan yang terkait dengan ahlulbait, seperti kisah Imam Ali bertemu tokoh-tokoh pemimpin Nusantara, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Nama-nama tokoh yang diambil dari nama nabi dan keluarganya seperti; Muhammad, Abdullah, Hasan, Husein, Baqir, Fatimah dan sebagainya
9. SIMBOL ANGKA 5, 7, 12, 14 YANG TERKAIT DENGAN AHLULBAIT
Warisan bangunan masjid dengan bangunan tradisi Nusantara yaitu dengan atap berundak yang masih asli atau pada saat renovasi tidak mengalami perubahan bangunan umumnya memakai simbol ahlul bait, seperti soko guru 5, atapnya umumnya berundak 3 atau 5, jendela 12. Simbol-simbol ahlul bait pada Masjid kuno yang direnovasi namun masih mengikuti bentuk bangunan aslinya bagian-bagian bangunan yang kami sebut masih dapat dilihat, seperti beberapa masjid kuno di jakarta, dan Jawa.
10. ARAK-ARAKAN HAYOK TABUI
Di Pariaman, Sumatera Barat, terdapat tradisi arak-arakkan yang dinamakan “Hayok Tabui” yang diadakan setiap 10 Muharram. Tradisi ini sangat kental dipengaruhi oleh tradisi Syiah ahlulbait. Arak-arakan semacam ini dikenal di kalangan muslim Syiah sebagai peringatan terhadap tragedi berdarah yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw, Sayyidina Husain pada tanggal 10 Muharram.
11. TRADISI GREBEG SURO
Dalam tradisi Jawa “Grebeg Suro” juga ditemukan adanya pengaruh Syiah. Kebiasaan orang Jawa yang lebih menganggap Muharram sebagai bulan nahas merupakan pengaruh dari tradisi muslim Syiah yang juga menganggap Muharram sebagai bulan nahas dengan meninggalnya Sayyidina Husain. Karenanya, orang-orang Jawa berpantang menggelar perayaan nikah atau membangun rumah pada bulan “Suro” atau Muharram.
12. BUBUR BEUREUM BODAS (BUBUR MERAH PUTIH) ATAU BUBUR SURO

Di tatar Sunda, pada bulan Muharram dikenal tradisi memasak bubur “beureum-bodas” (merah-putih), dan dikenal dengan istilah bubur Suro. “merah” pada bubur perlambang darah syahid Sayyidina Husain, dan putih perlambang kesucian nurani Sayyidina Husain.
13. TABUT ATAU TABOT
Di Bengkulu, pengaruh Syiah terlihat melalui tradisi Tabut atau Tabot. Tradisi ini bertujuan untuk memperingati peristiwa di Karbala ketika keluarga Nabi Muhammad SAW dibantai. Setiap tahun, ritual tabot digelar selama 10 hari, mulai dari tanggal 1 sampai 10 Muharam. Mengenai acara Tabot, cendikiawan dan sosiolog Jalaluddin Rahmat dalam wawancaranya dengan majalah tempo menjelaskan pesan penting dalam tradisi Tabot ini dituangkan melalui drama kolosal yang berisi tentang rekonstruksi detail tragedi Karbala dari hari ke-1 hingga ke-10.

14. YASINAN KEPADA ORANG MENINGGAL
Ziarah dan Yasinan yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal adalah sunnah yang dianjurkan dalam Islam. Namun berlalunya waktu, perbedaan pendapat yang memecah Islam menjadi berbagai golongan mazhab, menyebabkan tradisi yasinan dan ziarah pelan-pelan mulai ditinggalkan. Hanya satu mazhab Islam yang tetap menghidupkan tradisi ini yaitu mazhab Syiah ahlulbait. Di Indonesia tradisi ini tetap terjaga di kalangan warga Nahdatul Ulama dan penganut Syiah ahlulbait.
15. ZIARAH KUBUR KE MAKAM ULAMA UNTUK MENDAPAT KEBERKAHAN

Ziarah ke makam ulama untuk mendapat keberkahan dilakukan karena keyakinan bahwa orang yang meninggal di jalan Allah SWT, baik itu dalam peperangan atau seorang ulama yang mengamalkan ilmunya untuk kebaikan umat, ruh mereka tetap ‘hidup’ di sisi Allah SWT, dalam arti mereka dapat mendengar dan melihat orang yang meziarahi mereka, seperti firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 169-170 ; “maka sesungguhnya mereka hidup disisi Allah dan mendapat rezeki yang melimpah.”
Kebiasaan atau tradisi ziarah kubur dan membangun makam muslim berupa bangunan makam di Indonesia juga dipengaruhi tradisi ziarah kaum Syiah, karena adanya tradisi membaca do’a yang cukup panjang di area makam. Tradisi membangun makam juga merupakan tradisi agama tauhid yang dilakukan dengan cara membaca do’a untuk leluhur atau tokoh ulama atau pemimpin yang diagungkan pada masa hidupnya. Tradisi membangun makam ini juga meneruskan tradisi leluhur Nusantara yang beragama tauhid.
16. REBO WEKASAN
Rabu Wekasan adalah peringatan yang dilakukan pada rabu terakhir bulan Safar. Peringatan ini dilakukan untuk mengenang wafatnya Rasulullah saw pada hari Rabu tanggal 28 Safar 632 M. Tradisi Rabu Wekasan telah dilaksanakan oleh penduduk Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Karena tradisi ini telah ada sejak awal masuknya Islam ke Nusantara, generasi saat ini banyak yang tidak lagi mengetahui makna sedih di balik peringatan tradisi Rabu Wekasan yang saat ini hanya dikenal sebagai hari Naas dan melakukan berbagai amalan do’a dan sedekah agar terhindar dari bala’ atau Nahas. Dalam kisah perjalanannya, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku teringat tradisi Rebo Wekasan saat berada di masjid Syiah di San Antonio Texas. Menurut Dahlan, saat kecil dia sering melihat warga Tegalarum, Magetan melakukan tradisi Rebo Wekasan. Tradisi Raebo Wekasan di daerahnya dilakukan dengan meletakkan gentong berisi penuh air di atas kursi di halaman masjid. Di dalam gentong tersebut terdapat kertas yang bertuliskan Arab pegon, Arab gundul yang berisi do’a-do’a. Warga desa tempat tinggalnya menyebut bacaan tersebut sebagai rajah atau jimat. “Setelah tengah hari orang-orang bergilir ke gentong itu. Ambil airnya. Untuk diminum.” Kisah beliau. Dahlan Iskan melanjutkan kisahnya : “Bapak saya bercerita acara itu untuk mengenang meninggalnya Sayidina Hussein.”
“Tidak ada yang tahu kalau itu tradisi Syiah. Bahkan kami tidak tahu kalau ada aliran yang disebut Syiah. Kami ini tahunya hanya NU, Muhammadiyah, Persis, Syathariyah, Nahsabandiyah, Qadiriyah. Setelah dewasa baru tahu ada Syiah, Wahabi, Khawarij dan seterusnya dari buku.” Demikian dikatakan Dahlan Iskan seperti dikutip dari laman http://www.disway.id, Jumat (8/6/2018).
17. TARI SAMAN ACEH (KARBALA)

Tarian ini di ciptakan oleh Syekh/Ulama Aceh Gayo yang bernama Saman pada abad ke-14. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Tarian saman dimulai dengan tampilnya seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) dengan memberi nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Lagu dan syair dibacakan secara bersama dan berkesinambungan. Para penari terdiri dari pria-pria dengan memakai pakaian adat. Tarian ini di lakukan dengan cara menepuk dada dan menepuk tangan secara bergantian hingga terdengar suara yang khas. Menepuk dada atau kepala adalah tradisi bangsa Arab dan Persia ketika ada peristiwa duka, dan hingga saat ini tradisi menepuk dada masih bisa dilihat ketika memperingati hari duka wafatnya Rasul saw dan tragedi dibantainya keluarga nabi di Karbala pada hari ke-10 Muharram atau Asyura. Melihat pesan dakwah yang kuat dalam tarian Saman ini, pada masa sekarang hanya diselenggarakan pada saat peringatan Islam penting seperti Maulid dan peringatan syahidnya Imam Husein pada hari Asyuro, tanggal 10 Muharram.

18. KALIMAT UMPATAN “HARAM JADAH/JA’DAH”
Kalimat ini terkenal di negeri-negeri Melayu hingga ke India dan persia dengan penyebutan kalimat yang sama. Arti harfiah kalimat ini adalah “celakalah Jadah/Ja’dah.” Kata Jadah berasal dari nama istri Imam Hasan Ja’dah binti Ash ath bin Qais, yang telah meracuni Imam Hasan atas suruhan Muawiyyah yang menjanjikannya harta dan kekuasaan. Kalimat umpatan ini berasal dari tradisi kaum Syiah Ahlulbait melaknat para pembunuh keluarga nabi, diantaranya adalah istri Imam Hasan yang bernama JA’DAH ini.
19. TRADISI WARISAN SYIAH IMAMIYAH DI BUTON
Di Buton, Sulawesi Tenggara, terdapat beberapa tradisi yang sangat erat hubungannya dengan ajaran Ahlulbait. Tradisi ini terlihat dalam upacara adat, pemilihan kepala desa, nama-nama tokoh dan sebagainya. Tradisi Syiah ahlulbait dalam bahasa Buton di antaranya; Kawarande niburi yaitu: kain kafan yang bertuliskan 1000 sifat Allah SWT atau Kafan Jausyan Kabir. Sara Ompulu rua kaluluno yaitu penyebutan 12 Imam. Peringatan Kadiri sebutan untuk peristiw Al Ghadir, yaitu peristiwa penunjukkan Imam Ali sebagai wasi’ atau wakil Rasul saw setelah beliau saw wafat. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah setelah haji Wada’ Rasul saw, di suatu tempat perbatasan antara Mekkah, Madinah bernama Ghadir Khum).
Maata’a yaitu Ma’tal/Ma’tam pembacaan runtunan peristiwa atau kisah pada masa nabi dan para Imam as yang di baca dengan cara di lagukan. Kunu sebutan untuk peristiwa tragedi hari Kamis atau Kamis Kelabu, 7 hari sebelum mangkatnya Rasul saw. Peristiwa ini disebut peristiwa kelabu dikalangan muslim Syiah sebagai pelajaran agar jangan pernah menolak atau beralasan apapun ketika Rasul saw memberi perintah. Kamis kelabu seperti yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari terjadi pada hari Kamis ketika nabi saw sakit, dan meminta pena dan kertas untuk menuliskan wasiat, namun permintaan tersebut diabaikan oleh Umar bin Khatab karena mengira nabi mengigau. hadits ini ma’ruf dan terdapat dalam kitab Buchari dan Muslim. Pialoa yaitu Haul atau peringatan kematian Wuta akopono yaitu Kisah segenggam tanah/Asyuro Benteng Wolio Wolio berarti Wilayah Hizbullah (tentara Allah) Buton diambil dari bahasa Arab Butun yang artinya perut atau kandungan: 3 Kandungan ilmu ma’rifat : Ma’rifattullah, Ma’rifat Nubuwah, Ma’rifat Imamah. itulah sebabnya di Buton mengenal struktur Imam Desa, Imam Kampung dst. dan semua itu memiliki kitab tersendiri dengan bahasan panjang.
Istilah Siolimbona yaitu rahasia 9 dari sulbi Husain, 9 keturunan Imam Husein yang menjadi Imam penerus. Marabat 7 yairu Rahasia 7 nama agung Mia ngkaila-ila sebutan bagi Al Ghaibah, Imam Al Mahdi. Batata melalui arwah yaitu do’a kepada Allah SWT melalui perantara atau tawasul melalui Rasullullah saw.
20. TRADISI NYANGKU DI PANJALU, CIAMIS

Nyangku adalah upacara adat yang dilaksanakan di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Upacara Nyangku diadakan setiap bulan Rabi’ul Awal/bulan Maulid untuk merayakan kelahiran nabi Muhammad saw dan mengucap syukur kepada Prabu Sanghyang Borosngora yang telah mengajarkan Islam kepada rakyat Panjalu dengan cara membersihkan benda pusaka dengan ritual yang sarat dengan nuansa Islami. Benda-benda pusaka yang dimandikan, antara lain, pedang zulfikar, keris pancaworo, bangreng, goong kecil, cis, keris komando, dan trisula.
Secara etimologi, kata nyangku merujuk kata ينق yang terdiri dari huruf (ي ن ق). Kata ini kemudian dibaca (yanku) yang berarti memurnikan. Pelafalan atau pengucapan ini kemudian berubah menjadi nyangku. Di dalam Bahasa Sunda, kata serapan ini kemudian diartikan sebagai nyaangan laku atau diartikan sebagai menerangi perilaku.
Upacara adat Nyangku dimulai dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, para pemimpin, dan bupati Panjalu yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Benda-benda pusaka ini kemudian di arak untuk di sucikan dengan cara di bersihkan dengan air yang yang diambil dari 7 mata air dari sungai yang diyakini sebagai petilasan Prabu Sanghyang Borosngora. Air ini disebut sebagai tirta Kahuripan. Lokasi ketujuh mata air tersebut tersebar di sekitaran wilayah Panjalu. Diantaranya, dari mata air Situ Lengkong, Karantenan, Kapunduhan, Cipanjalu, Kubang Kelong, Pasanggrahan, Kulah Bongbang Rarang dan Bombang Kancana. Tirta kahuripan yang diambil dari tujuh mata air tersebut sebelumnya disimpan dalam tempat khusus dan di bacakan do’a tawassul oleh para santri setempat selama 40 hari.
Ditulis oleh : Sofia Abdullah
SUMBER-SUMBER
1. Al Husaini al hamid H. M. H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw, Cet. XI 2006, Pustaka Hidayah.
2. Iqbal. Muhammad Zafar. Dr, Kafilah Budaya Pengaruh Persia Terhadap Kebudayaan Indonesia, Cet. 1, Citra, 2006
3. Al Hadad. Bin Thahir. Al Habib Alwi, Sejarah Masuknya Islam Di Timur Jauh, Cet.I, 2001, Lentera Baristama.
4. Sunyoto. Agus, Atlas Wali Songo, Cet.1, 2012, Pustaka Iman.
5. C.I.E.MA.Arnold.TW, Preaching Of Islam : A History Of The Progation Of The Muslim Faith, 1913.
6. Al Mahsyur. Alwi. Idrus, Sejarah Silsilah & Gelar Keturunan Nabi Muhammad SAW Di Indonesia, Singapura, Malaysia, Timur Tengah, India, Dan Afrika, Cet.4, 2013, Sara Publishing.
7. Aceh. Aboebakar.H.Dr.Prof, Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia, Cet.4,1985, Ramdhani.
8. Atjeh. Aboebakar.Dr.Prof, Sji’ah Rasionalisme Dalam Islam, Yayasan Penyelidikan Lembaga Islam.
9. Saefullah. DR. H. SA. MA, Sejarah & Kebudayaan Islam di Asia Tenggara, Cet. 1, 2010, PustakaPelajar
10. Sy, Syiafril. A, Tabut Karbala Bencoolen Dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban, PT Walaw Bengkulen
11. Dahri. Harapandi. DR, tabot Jejak Cinta Keluarga Nabi Di Bengkulu, Cet. 1, 2009, Citra
12. Abror, Rachman. ABD, pantun Melayu Titik Temu Islam dan Budaya Lokal Nusantara
13. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari_Saman#
14. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ja’da_bint_al-Ash’at
15. https://www.harapanrakyat.com/2019/11/sejarah-tradisi-ritual-upacara-adat-nyangku-di-panjalu-ciamis/
16. Penelitian Independent tentang Buton oleh; Dr Vita Sarasi, SE, MT dosen Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Padjadjaran Bandung

Tinggalkan komentar