Khadijah al Kubro, Sang Putri Mekkah (3)

Pengorbanan Khadijah Untuk Islam

Dalam hadits yang terkenal Rasul saw bersabda, ‘tegaknya Islam karena 2 hal; Harta Khadijah dan Pedang Ali.’ (1)

Rasul saw mengatakan demikian karena memang pada masa awal Islam, harta Sayyidah Khadijah banyak menolong kaum muslim dari segala kesempitan, dari mulai hutang piutang, membebaskan perbudakan, memberikan modal dagang kepada utusan Rasul yang menyebarkan Islam ke berbagai negara hingga menuntaskan kemiskinan.

Pada masa awal kerasulan para pemuda dan ahlul kitab dari berbagai negara datang mencari Rasul saw, yang namanya disebut dalam kitab-kitab mereka, hanya saja setibanya mereka di Mekkah, kekayaan mereka di rampok, dan mereka pun diperbudak oleh kafir Quraisy. Dengan hartanya, Khadijah membebaskan mereka semua. Contoh sahabat yang terkenal dari kalangan ahlul kitab yang diperbudak kemudian di bebaskan adalah Bilal bin Rabbah al Habsy dan Salman al Farisi.

Tahun 616-617 M, jumlah kaum muslim semakin banyak, penyiksaan kepada kaum muslim semakin bertambah, hingga puncaknya terjadi pemboikotan kepada Bani Hasyim.

Tahun 617 M, sekitar 7 tahun setelah kerasulan, pemuka kafir Quraisy, yang didalangi oleh Abu Jahal, Abu Sufyan dan Al Walid al Mughirah mengumpulkan kepala suku-kepala suku Arab dan membuat perjanjian sepihak untuk melakukan boikot kepada bani Hasyim dan kaum muslim selama 7 tahun, perjanjian sepihak ini tertulis di atas kertas yang tebal.

Perjanjian ini kemudian ditandatangani oleh para kepala suku dan digantungkan di dalam ka’bah.
Pemboikotan ini meliputi pelarangan melakukan jual beli kepada kaum muslim, pelarangan melakukan interaksi sosial dengan kaum muslim dan bila melanggar akan mendapatkan hukuman dari setiap kepala suku.

Akibat pemboikotan ini, usaha-usaha dagang Sayyidah Khadijah di Mekkah dan di luar negeri seperti Syam, Mesir, Yaman dan sebagainya, terhenti hingga tidak ada pemasukan. Begitu juga usaha-usaha kaum muslim yang lain, toko-toko mereka dirusak, barang dagangan, rumah dan kekayaan mereka dirampok. Boikot ini menyebabkan banyak kaum muslim yang kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal.

Melihat situasi ini, Abu Thalib kemudian meminjamkan tanahnya yang luas sebagai tempat tinggal tinggal sementara untuk kaum muslim. Di tanah milik Abu Thalib ini kaum muslim mendirikan tenda sebagai tempat berteduh. Tanah Abu Thalib yang terletak di lembah di pinggiran kota Mekkah ini dinamakan Syi’ib Abu Thalib.

Situs reruntuhan Syi’ib Abu Thalib, lokasi tanah Abu Thalib yang digunakan untuk menampung kaum muslim selama masa boikot.
Peta lokasi Syi’ib Abu Thalib

Selama masa pemboikotan ini, lebih dari 400 kaum muslim dan Bani Hasyim mengungsi ke lembah Abi Thalib (Syi’ib Abi Thalib). Di lembah yang gersang dan dingin itu kaum muslim dapat terus makan dan berpakaian karena pertolongan yang Khadijah berikan dengan harta dan jiwa nya. Sering ia tidak makan karena mendahulukan keluarga muslim, terutama kaum muslim yang masih memiliki balita.

Tahun 619, Abu Thalib mendapat tawaran untuk mengakhiri masa boikot dengan syarat menyerahkan nabi Muhammad saw. Abu Thalib menolak dengan tegas, dan meneruskan pesan nabi Muhammad bahwa surat perjanjian mereka telah rusak di makan rayap.

Para pemuka kafir Quraisy tertawa mendengar ini dan mengatakan Abu Thalib sudah gila karena sangat mempercayai kemenakannya. Abu Thalib kemudian menantang mereka untuk melihat kondisi surat perjanjian tersebut, bila yang dikatakan kemenakannya benar, pemboikotan harus berakhir. Dan benarlah apa yang dikatakan Rasul saw, pemboikotan yang seharusnya berlangsung selama 7 tahun, dengan izin Allah selesai dalam waktu 3 tahun, dengan habisnya kertas perjanjian di makan rayap.

Wafatnya Sang Putri Mekkah

Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib berperan besar dalam peristiwa pemboikotan ini. Beliau menyumbangkan seluruh hartanya yang tersisa untuk perjuangan Islam hingga koin terakhir.

Masa pemboikotan ini telah menguras bukan hanya seluruh harta Khadijah yang tersisa, tapi juga kesehatannya yang terus menurun karena selalu mendahulukan kaum muslim dari pada dirinya. Demikian pula dengan Rasulullah saw dan Abu Thalib yang saat itu telah berusia 80 tahun.

1 hingga 3 bulan setelah pemboikotan selesai, Abu Thalib sang paman yang selalu membela dan melindungi nabi saw wafat pada tanggal 26 Rajab 3 tahun sebelum Hijrah nabi saw . Belum lagi habis duka nabi atas wafatnya sang paman yang sangat dikasihinya, sang istri yang sangat dicintainya sakit keras. Selama sakitnya, Nabi saw berjaga sepanjang malam untuk merawat, menghiburnya dan mendoakan Khadijah. Dengan penuh kasih sayang, nabi saw berkata pada Khadijah bahwa Allah SWT telah menjanjikan kebahagiaan abadi untuknya, dan telah membangun sebuah istana di surga untuknya.

Menjelang pagi, tubuh sayyidah Khadijah yang lemah tidak mampu lagi menahan demam dan sakit yang dideritanya, jiwanya yang suci dan mulia meninggalkan bumi ke istana abadinya di Surga. Sayyidah Khadijah wafat pada usia 50 tahun, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan 619 M. Wafatnya sayyidah Khadijah memenuhi hati nabi dengan duka yang sangat dalam.

Selama 25 tahun pernikahan, Khadijah sang putri Mekkah telah memberikan segalanya untuk perjuangan syiar suami yang dikasihinya. Sayyidah Khadijah wafat setelah menjadi satu-satunya istri Rasul saw selama 25 tahun.

Pada saat pemakaman, Nabi saw sendiri yang turun kedalam pusaranya dan berbaring di dalamnya beberapa saat. Kemudian beliau saw membantu orang-orang yang berkabung lainnya, untuk menurunkan jasad kedalamnya.

Sayyidah Khadijah dimakamkan di pemakaman Bani Hasyim, di dataran tinggi Mekkah di kaki bukit al Hajun, di lokasi yang kini dikenal dengan nama Jannatul Ma’la, pada tanggal 11 Ramadhan 3 tahun sebelum Hijrah, sekitar tahun 619 M. Tahun ini kemudian dalam sejarah Islam dikenal sebagai tahun duka cita, karena pada tahun ini terjadi 2 peristiwa yang menyebabkan duka yang mendalam bagi Nabi saw dan keluarganya, dua orang yang sangat dicintai dan mencintainya telah berpulang dalam waktu yang hampir bersamaan.

Makam Sayyidah Khadijah dan 2 putra rasul saw, Abdullah dan Qosim, sebelum dihancurkan oleh Bani Saud tahun 1963-1964.

Sumber gambar : http://kangluqman.blogspot.com/2013/02/foto-makam-sayyidah-khadijah-ra-sebelum.html?m=1

Makam Sayyidah Khadijah sa, Abdullah dan Qosim setelah dihancurkan oleh bani Sa’ud dengan alasan bid’ah. Sumber gambar : http://id.wikishia.net/view/Pemakaman_al-Ma’la

Rasulullah saw sangat mencintai sayyidah Khadijah, bukan hanya karena kecantikan dan kesempurnaan akhlaknya tapi karena ketaatannya pada Allah SWT dan keyakinannya pada suaminya dan pada Islam yang menyebabkan ia rela mengorbankan seluruh harta dan jiwanya demi tegaknya Islam, dalam salah satu haditsnya, rasul saw bersabda:
Di dunia ini, tidak ada wanita yang paling aku cintai kecuali Khadijah. ia telah beriman kepadaku disaat penduduk Mekkah masih kafir, dia membenarkan ke-Nabian-ku disaat penduduk Mekkah mendustakannya, ia mencurahkan seluruh hartanya untuk dakwah disaat orang-orang kafir menghalangi dakwahku. Dan dia telah memberikanku keturunan.” (HR. Bukhari, Ahmad, Thabrani)

Khadijah adalah satu dari empat wanita yang menjadi teladan dalam kehidupan muslim. Keempatnya dijanjikan surga sesuai hadist yang dinarasikan Ad-Dzahabi:

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ
Artinya: “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu Khuwailid, dan Asiyah.” (HR Muslim).

“Warisan” Khadijah untuk Muslimah

Sayyidah Khadijah adalah sosok wanita sempurna yang seharusnya menjadi panutan bagi kaum muslimah. Sebagai seorang hamba Allah beliau tidak pernah melakukan perbuatan dosa, ketika kaum bangsawan yang lain bergelimang dosa dan kebejatan moral, beliau dijuluki “Thahirah” (wanita suci), kepeduliannya kepada sesama, sikap welas asihnya menjadikannya sebagai ibu bagi anak yatim dan fakir miskin.

Sebagai seorang anak, beliau adalah putri kebanggaan ayah dan ibunya, bukan hanya dikenal karena kecantikan dan kemuliaan akhlaknya, beliau juga dikenal sangat cerdas dan seorang pedagang ulung, karena kecerdasannya inilah beliau menggantikan posisi sang ayah, sebagai pengusaha ulung. Seorang wanita karir yang sukses pada masa laki-laki berkuasa atas segalanya. Sebagai istri beliau adalah wanita yang mulia dan menjadi perhiasan kebanggaan dan kebahagiaan sang suami, sebagai ibu beliau adalah figur ibu yang ideal yang membentuk sosok putri yang sempurna, sayyidah Fatimah az zahra.

Kesejahteraan dan rahmat semoga dilimpahkan atas Sayyidah Khadijah, wanita pertama yang meyakini kebenaran Islam. Kesejahteraan dan rahmat semoga dilimpahkan atasnya, wanita terbaik serta paling utama dari semua wanita, kekasih al Mustafa semoga kita semua diberi anugerah untuk lebih mengenal sosok beliau yang mulia dan menjadikan beliau panutan, sebagai hamba Allah SWT, sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai putri dari orang tua kita..

Dengan menjadikan Sayyidah Khadijah panutan dalam kehidupan kita, mudah-mudahan kita layak mendapat syafaat di hari kebangkitan kelak.

Amin Yaa Rabbal Alamin Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad.


Selesai

Ditulis oleh : SofiaAbdullah

Catatan kaki & Referensi

(1) Pedang Ali yang di maksud dalam hadits nabi ini adalah kehebatan Imam Ali dalam berperang melawan musuh-musuh Islam selama periode Madinah. Pada masa Rasul saw, perang hanya dilakukan jika ada yang memerangi baik secara terang-terangan atau rasul saw mengetahuinya sebelum peristiwa perang terjadi, seperti pengkhianatan Yahudi Khaibar dan Fadaq yang bekerja sama dengan kaum kafir Quraisy untuk membunuh rasul saw.

Buku-Buku Referensi

1. Razwy, Sayid, A.A, Menapak Jalan Suci Sang putri Mekkah: Sejarah Khadijah al Qubro, Istri Rasul Saw, hal.257-285, Jakarta, Lentera 2007

2. Dibaji, Sayid abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah : Biografi, Perjuangan dan Keteladanan Muslimah Pertama, cet.I, penerbit Citra Des. 2014

3. Al Huseini, al Hamid, H.M.H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw,hal. 230-233, pustaka Hidayah, Bandung, 2006 (akhlak nb Muhammad dlm berdagang)

4. Al Jibouri, Yasin T, Allah Konsep Tuhan menurut Islam, penerbit Lentera, Jakarta 2003

5. Al Khanizi, Abdullah, Abu Thalib Mukmin Quraisy, cet.4, penerbit Lenyera, Jakarta 2008

6. Ma’arif, Majid, DR, Sejarah Hadits, hal. 124-147, penerbit Nur al Huda, cet.1, 2012

7. Referensi: https://tafsirweb.com/37392-quran-surat-al-quraisy.html

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar