Khadijah Al-Kubro, Sang Putri Mekkah (1)

Khadijah al Qubro adalah istri Rasul saw dan Ummul mukminin yang pertama. Rasul saw sangat mencintai Khadijah. Banyak hadits yang mengisahkan kemuliaan Khadijah, hingga beliau bergelar Khadijah al Kubro atau Khadijah yang Agung (memiliki kedudukan mulia).

Siapakah Khadijah al Kubro? Benarkah beliau seorang janda dan menikah dengan Rasul saw di usia 40 tahun? Berapakah putri rasul saw dengan sayyidah Khadijah? Kenapa hanya sayyidah Fatimah az Zahra yang dikisahkan dalam sejarah Islam? Apakah benar ada manipulasi data terkait sejarah sayyidah Khadijah?

Biografi singkat ini mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, dan mengulik rasa ingin tahu pembaca untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah saw ini.

Suku Quraisy, leluhur Khadijah dan Muhammad saw

Khadijah adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qusay bin Qilab, nasabnya bertemu dengan Rasullullah saw di leluhur suku Quraisy yan1g bernama Qusay. Qusay bin Qilab berputra beberapa orang, 2 diantaranya Abdul Uzza dan Abdul Manaf. Abdul Manaf berputra Hasyim, Hasyim berputra Abdul Muthalib, Abdul Muthalib berputra Abdullah ayah Rasulullah saw.

Khadijah dan Rasul saw adalah keturunan Qusay bin Kilab bin Murra bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr yang lebih di kenal dengan Quraisy. Suku Qurasiy adalah suku yang paling ulung dalam perdagangan baik dalam negeri atau perdagangan lintas negara.

Menurut Gus Achmad Dhofir, peneliti sejarah Islam,  kata Qurays berasal dari kata Qurs artinya yang mengumpulkan/mendistribusikan uang/ para pengusaha (saudagar) pada zamannya. Kaum Quraisy ini keturunan dari Fihr, beliaulah yang pertama kali mendapat gelar Quraisy, karena ia ahli di bidang Kurs atau administrasi/perdagangan. (1)

Kemahiran suku Quraisy dalam berdagang terlihat dari kemampuan mereka melihat situasi politik, pergantian musim dan lokasi yang berpengaruh pada keuntungan perdagangan. Politik perdagangan kaum Quraish ini diantaranya selalu mengadakan perjalanan dagang pada 2 musim, yaitu pada musim panas dan musim dingin. Sementara pada masa itu perdagangan hanya di lakukan permusim, 1 musim 1 kali perjalanan dagang. Sementara kafilah dagang Quraisy melakukan 2 kali perjalanan dagang.

Pada musim dingin mereka melakukan perjalanan dagang ke selatan Hijaz, yaitu Yaman. Lokasi Yaman berada di tepi pantai, karenanya memiliki iklim yang berbeda dengan di Hijaz, bila di Hijaz musim dingin di Yaman musim panas. Pada musim panas kaum Quraisy melakukan perjalanan ke utara Hijaz, yaitu wilayah Syam dan sekitarnya hingga ke Turki dan Eropa.

Para kafilah dagang ini menjual hasil bumi dan kerajinan khas gurun, seperti karpet, barang porselen dan keramik yang di buat di sekitar wilayah hijaz (Mekkah, Madinah, Thaif dsb.). Mereka juga menjual berbagai barang dari perdagangan lintas benua, seperti rempah dari India dan Asia Tenggara, Sutera dari Cina dan sebagainya. Dari perdagangan inilah suku Quraisy menjadi salah satu suku terkaya yang di hormati di Jazirah Arab dan sekitarnya.

Kemahiran suku Quraisy dalam perdagangan disebutkan dalam Al Qur’an surat Quraisy, ayat 1-4

لِإِيلَٰفِ قُرَيْشٍ li`īlāfi quraīsyin = Karena kebiasaan orang-orang Qurais

إِۦلَٰفِهِمْ رِحْلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيْفِ īlāfihim riḥlatasy-syitā`i waṣ-ṣaīf = (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas

فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هَٰذَا ٱلْبَيْتِ falya’budụ rabbahāżal-baīt = Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah)

ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ allażī aṭ’amahum min jụ’iw wa āmanahum min khaụf = Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan

Suku Quraisy adalah keturunan dari nabi Ibrahim as dari putra beliau Ismail as. Namun demikian tidak semua suku Quraisy beragama Tauhid. Mayoritas suku Quraisy telah banyak yang menyembah berhala, hanya sebagian kecil suku Quraisy yg masih beragama Tauhid. Beberapa diantara suku Quraisy yang mayoritas masih beragama tauhid adalah bani Hasyim yaitu suku dari keluarga rasul saw dari jalur ayah beliau Abdullah, sebagian kecil dari jalur Ibu beliau saw Aminah binti Wahab dari suku Zuhrah, yang juga dari bani Quraisy.

Demikian pula dengan kakek moyang Sayyidah Khadijah pun sama beragama Tauhid. Sepupu Khadijah, Waraqah ibn Naufal bahkan menjadi biarawan atau pemuka agama Tauhid pada masanya.

Selain beragama tauhid leluhur Khadijah adalah pewaris ilmu dagang dari Qusayy bin Qilab yang juga adalah leluhur Rasul saw. Qusayy adalah orang terkaya di Jazirah Arab pada zamannya karena kepandaiannya berdagang. Dalam kitab Barzanji disebutkan nama asli Qusayy adalah Muzammiq. Kenapa disebut Qusay? Karena ia sering melakukan petualangan ke berbagai negeri yang jauh.

Kisah kisah perjalanan dagang Qusayy ini tercatat dalam Syair-syair arab yang terkenal dan diturunkan kepada anak cucunya. Dari kisah-kisah inilah nabi sejak kecil sudah mengetahui peradaban dunia di luar Jazirah Arab, selain karena sering mendengar kisah-kisah tersebut, dari usia yang masih sangat muda, nabi saw juga sering ikut bersama kafilah dagang keluarganya, yang dipimpin oleh paman beliau Abu Thalib. Kafilah dagang Bani Hasyim melakukan perdagangan antar negeri dan bertemu dengan para pedagang dari berbagai negara di kota-kota yang menjadi pusat perdagangan pada masa lalu, diantaranya adalah negeri Syam (Syiria), yang sejak PD I dipecah menjadi 4 negara : Syam (Syria), Lebanon, Palestina dan Jordan. (2)

Sang Putri Mekkah

Sayidah Khadijah lahir di Mekkah, beliau putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za’idah dari Bani Quraisy keturunan Lu’ayy. Khuwaylid sang ayah adalah seorang saudagar terpandang dari suku Quraisy. Ia memiliki otak yang cerdas, kaya raya, terhormat, berakhlak mulia, jujur dan tepercaya. Kepiawaian ayah Khadijah dalam ilmu perdagangan telah membuat beliau menjadi saudagar yang sangat sukses dan terkaya di Jazirah Arab. Khuwaylid memiliki 4 orang putra dan putri, yaitu ; Khadijah binti Khuwaylid, Halah binti Khuwaylid, Awwam bin Khuwaylid (3) dan Hisyam bin Khuwaylid.

Dari ketiga saudaranya yang lain, sayyidah Khadijah-lah yang terlihat paling pandai dalam ilmu perdagangan dan administrasi, kemahiran yang beliau warisi dari ayah dan kakeknya Qusayy bin Kilab. Karena kemampuannya dalam berdagang, Khadijah menjadikan perusahaan dagang raksasa ayahnya bertambah sukses, ketiga saudaranya hidup makmur dengan segala fasilitas yang di berikan oleh Khadijah. Sebagai penerus perdagangan keluarganya, sayyidah Khadijah memiliki 2/3 modal masyarakat mekkah, yang menjadikan beliau wanita terkaya di seluruh hijaz.

Gelar Sayyidah Khadijah yang terkenal adalah Sang Putri Mekkah, gelar ini disematkan padanya oleh penduduk Mekkah sejak era Arab Jahiliyyah, karena selain kaya raya, cantik, dari keturunan mulia, Sayyidah khadijah juga sangat dikenal dengan kemuliaan sifatnya sejak usia yang masih sangat muda. Sayyidah Khadijah dikenal sangat santun dan berakhlak mulia. Ketika remaja beliau dikenal sebagai pelindung kaum papa dan yatim piatu, dan sangat dermawan kepada semua yang membutuhkan.

Sayyidah khadijah juga dikenal dengan gelarnya Thahirah, yang artinya wanita suci karena seumur hidup beliau, ayah dan kakeknya tidak pernah menyembah berhala, gelar ini juga disematkan pada beliau karena sayyidah Khadijah dikenal sangat menjaga kesuciannya, tidak seperti umumnya kelakuan wanita bangsawan pada masa jahiliyyah, yang sering kali berganti pasangan.

Pertemuan dan pernikahan dengan Rasul saw

Kepada asisten setianya, yang bernama Maysaroh, sayyidah Khadijah memerintahkan untuk melakukan rekrut pegawai. Nabi Muhammad saw yang baru berusia 25 tahun masuk menjadi pegawai sy Khadijah. Dimulailah masa perdagangan nabi ke Syam dan kota-kota lainnya dengan membawa barang dagangan milik sayyidah Khadijah.

Selama Nabi Muhammad saw bekerja di perusahaannya, keuntungan perdagangan Sayyidah Khadijah melonjak berkali lipat. Sayyidah Khadijah bertanya kepada Maysaroh, apa yang menyebabkan perdagangannya melonjak pesat?, Maysaroh menjawab cepat “Muhammad-lah penyebabnya, wajahnya yang tampan, akhlak dan tutur katanya yang halus telah menarik banyak pembeli ditambah lagi dalam berdagang pun Muhammad selalu jujur tidak mengambil keuntungan yang terlalu banyak, hingga semua pembeli tertarik untuk membeli hanya kepada Muhammad (saw).”

Kekayaan Khadijah terus bertambah, bahkan ia menjadi wanita paling terkenal di jazirah Arab dan sekitarnya karena kekayaannya, kecantikannya dan kesuksesan nya dalam berdagang. Seluruh penduduk Jazirah Arab mengetahui, keberhasilan dagang Khadijah yang bertambah-tambah tak lepas dari kepiawaian nabi Muhammad dalam menjual dagangannya hingga memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat.
Kekaguman akan kepandaian, ketampanan dan akhlak Nabi Muhammad saw yang luar biasa, berubah menjadi cinta dan keinginan untuk menjadi istri Muhammad saw.

Bersambung ke bagian 2 : https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/05/20/khadijah-al-qubro-sang-putri-mekkah/

Ditulis oleh : Sofia Abdullah

Sumber & Catatan Kaki

1. Kuliah tematik Gus Ach. Dhofir Zuhry, S. Sos, M. Fil. “Mahar Nabi Melamar Khadijah”. Beliau adalah pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah, Malang.

2. Sa’adeh, Antoun (2004). The Genesis of Nations. Beirut. Translated and Reprinted

3. Awwam bin Khuwaylid menikah dengan bibi nabi Muhammad Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Awam dan Shafiyyah berputra Zubair bin Awwam, salah seorang sahabat nabi saw yang terkemuka.

Buku referensi       

Razwy, Sayid, A.A, Menapak Jalan Suci Sang putri Mekkah: Sejarah Khadijah al Qubro, Istri Rasul Saw, hal.257-285, Jakarta, Lentera 2007

Dibaji, Sayid abul Qosim, Ummul Mukminin Khadijah : Biografi, Perjuangan dan Keteladanan Muslimah Pertama, cet.I, penerbit Citra Des. 2014

Al Huseini, al Hamid, H.M.H, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw,hal. 230-233, pustaka Hidayah, Bandung, 2006 (akhlak nb Muhammad dlm berdagang)

Al Jibouri, Yasin T, Allah Konsep Tuhan menurut Islam, penerbit Lentera, Jakarta 2003
Referensi:

https://tafsirweb.com/37392-quran-surat-al-quraisy.html

Tinggalkan komentar