Masjid Al Aqsa, Masjid Berkubah Pertama Dalam Sejarah Islam

Tahun 637 M, Pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalifah Umar bin Khatab berhasil menguasai Damaskus ibu kota Syam dari penjajahan Romawi, dengan ditaklukkannya Damaskus, wilayah yang termasuk dalam negara-negara di Syam berada dibawah kekuasaan Umar. Wilayah Syam pada saat itu mencakup negara-negara Suriah, Jordan, Libanon dan Palestina.(1)

Kubah atau dome pada Masjidil Aqsa adalah kubah yang pertama kali diperkenalkan dalam bangunan Masjid pada tahun 690, pada masa khalifah dari Dinasti Bani Umayyah, Abdul Malik yang berkuasa dari tahun 685-705 M, sebelumnya masjid tidak berkubah sebagaimana umumnya rumah masyarakat Arab sampai saat ini. Ditambahkannya Kubah pada Masjid al Aqsa pada awalnya terlihat aneh, karena Kubah pada masa itu, identik dengan bangunan gereja dan synagoq, tambahan kubah pada Masjid pada awalnya sarat dengan muatan politis, diantaranya adalah agar mendapat dukungan dari kaum Nasrani dan Yahudi yang tinggal di berbagai wilayah yang dikuasai Islam saat itu, diantaranya adalah Palestina.

Jerussalem adalah salah satu kota tua di Syams, ketika Jerusalem akhirnya takluk dibawah kekuasaan Umar bin Khatab, Seperti pada umumnya pada beberapa wilayah yang telah dikuasai sebelumnya, didirikanlah sebuah Masjid di pelataran gereja kuno Church of Holy Sepulchure. Sebuah Masjid yang sederhana berbentuk segilima dengan hampir seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu dan dengan daya tampung sekitar 3000 orang, (2) yang kemudian disebut Masjid Umar. (3)

Masjid Umar seperti juga Masjid-Masjid lain yang dibangun pada masa Rasulullah dan 4 khalifah berikutnya tidak mengenal bangunan berkubah, karena Masjid disesuaikan dengan bentuk bangunan rumah tradisional Arab, berbentuk bujur sangkar dengan berhiaskan relung (arc) pada bagian pintu dan jendela.

Masjid Umar dibangun pada 638 di pelataran gereja suci Sepulchure, Jerusalem walaupun telah mengalami beberapa kali renovasi dibawah kekuasaan Islam tetap tidak mengubah posisi gereja suci Sepulchure, sebagai bukti perdamaian dua agama Kristen Ortodok Syria dengan Islam.

Dibawah kekuasaan Khalifah Umar bin Khatab, dengan pengawasan sayyidina Ali sebagai penasehat utama, penduduk Jerusalem yang terdiri dari 3 agama samawi hidup damai. Kedatangan pasukan Muslim ke Jerusalem yang dipimpin oleh Khalifah Umar hampir tidak mendapat perlawanan yang berarti oleh penduduk Jerusalem, peperangan yang terjadi adalah antara pasukan muslim dengan pasukan Romawi, penduduk Jerusalem justru memberi dukungan kepada kaum muslim, hal ini disebabkan tekanan yang luar biasa dari penguasa romawi saat itu kepada umat kristen Damaskus yang berbeda aliran dengan Kristen Konstantinopel. Umat kristen Damaskus termasuk umat kristen Jerusalem, Yahudi dan sekitarnya dikatakan sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. (4)

Pada tahun 690 M, pada wilayah yang diyakini sebagai baitul Muqaddas atau Solomon Temple bagi penganut Yahudi, dan diyakini pula oleh umat Kristiani sebagai tempat diangkatnya Yesus ke surga dan oleh sebagian kaum muslim diyakini sebagai tempat Isra Rasulullah saaw, didirikanlah sebuah bangunan berkubah yang pertama yang bernama Qubbat as-Sakhrah atau Dome of Rock dan Qubbat as Silsilah atau Dome of Chain di Yerusalem, Palestina yang pada saat itu difungsikan sebagai tempat ziarah suci 3 agama bukan ditujukan sebagai Masjid, karena menurut sunnah Rasul saww, dalam satu wilayah hanya boleh satu Masjid utama, dan Masjid utama yang ada pada saat itu adalah Masjid Umar.(5)

Karena kedua bangunan berkubah ini tidak berfungsi sebagai Masjid dan Masjid Umar yang ada pada saat itu, dirasakan terlalu kecil, maka pada masa Khalifah al Walid I pada tahun 705 M dibangun kembali sebuah Masjid berkubah kedua di atas puing-puing yang diyakini sebagai Bait Suci atau Kuil Salomo atau Masjid nabi Sulaiman, yang pada saat itu telah menjadi tempat pembuangan sampah penduduk sekitar. Masjid yang dibangun ini kemudian diberi nama Masjidil Aqsa, pemberian nama ini disesuaikan dengan ayat Al Qur’an surat Al Isra ayat 1 yang mengisahkan tentang perjalanan nabi yang dilakukan pada malam hari (Isra) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. (6)

Qubbat as Sakhrah atau lebih dikenal dengan Dome of the Rock, sering kali kaum muslim terkecoh mengira dome of the rock ini adalah Masjidil Aqsa, Dome of the rock dibangun bersamaan dengan Dome of Chain dibangun selama 10 tahun dari 690 M-705 M
Bagian dalam Qubbat as Sakhrah atau Dome of The Rock

Masjidil Aqsa diyakini kaum muslim sebagai tempat nabi melakukan shalat 2 rakaat setelah Nabi Muhammad diangkat Allah ke langit tertinggi (Arsy Allah), Dome of Rock atau bangunan kubah tempat batu suci, yang diyakini oleh sebagian muslim sebagai tempat Rasulullah saaw naik ke sidrattul muntaha atau kelangit yang tertinggi, bersebrangan dengan gerbang menuju Dome of Rock.

Di depan gerbang bangunan kubah batu (dome of rock) terdapat pula bangunan berkubah yang lebih kecil bernama Dome of Chain, pada masa Bani Umayyah, Dome of Chain ini digunakan sebagai tempat Baitul Mal atau Rumah Zakat. (7)

Dome of Chain atau Qubbat as Silsila, pada masa Abdul malik tempat ini berfungsi sebagai pengumpul zakat, Jizyah, yaitu sejenis pajak yang diberlakukan pada umat muslim dan non muslim. Pada masa rasul saw, dan 4 khalifah setelah beliau, Baitul Maal ini di fungsikan sebagai kas negara, distribusikan pada rakyat miskin dan untuk penyelenggaraan urusan rakyat. pada saat perang salib tempat ini dijadikan Chapel yang didedikasikan untuk st James of Bethesde, salah satu dari 12 orang murid nabi Isa yang diperkirakan syahid di tempat ini oleh Agrippa I pada tahun 44M.

Kaum muslim sering kali di kecohkan oleh bangunan Kubah atau Dome of Rock sebagai masjid Al Aqsa atau Masjidil Aqsa sebagai Masjid Umar, padahal ketiga bangunan ini adalah bangunan yang berbeda, baik dari segi lokasi ataupun sejarahnya. Terdapat 3 bangunan berkubah yang berdiri sejajar dengan Masjid Al Aqsa, yaitu Dome of Rock dan Dome of Chain, kedua kubah ini dibangun pada masa yang hampir bersamaan pada lokasi sekitar Masjid Al Aqsa, dengan fungsi yang berbeda pada tiap-tiap bangunan berkubah. (8) Sementara Masjid Umar adalah bangunan Masjid yang berlokasi di sebelah selatan Gereja Ortodok Suci Sepulchure di daerah Muristan. (9)

Qubbat as Sakhrah (Dome of Rock, Kubah batu_1), diyakini sebagai tempat Isra’ dan Mi’raj nabi Muhammad saw dan oleh umat Kristen diyakini sebagai lokasi diangkatnya Yesus (nb Isa as) ke surga. Masjidil Aqsa (2) mulai dibangun tahun 705 M diatas lokasi yang di yakini sebagai reruntuhan kuil/Bait Suci Sulaiman yang kedua (2nd Solomon’s temple)(11) setelah bait suci yang pertama di hancurkan tahun 586 SM, pada masa kekaisaran Babilonia Baru, yang pada masanya Jerusalem di kuasai dan kaum Yahudi di asingkan ke Babylonia.(12) Qubbat as Silsila (Dome of Chain_3), dinding yang diyakini oleh umat Yahudi sebagai sisa bangunan dari Kuil Sulaiman/Masjid Sulaiman/Solomon’s Temple ke 2 (4)

Setelah Masjid Umar, Masjid al Aqsa adalah bangunan Masjid tertua di Jerusalem, karena pada awalnya Qubbat as Sakhrah dan Qubbat as Silsilah dibangun seindah mungkin pada masanya adalah ditujukan untuk ziarah 3 agama Ibrahim; yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.

Bangunan-bangunan berkubah ini, termasuk kubah pada masjid Al Aqsa dibangun pada masa akhir dinasti bani Umayyah.(10) 53 tahun setelah Masjid pertama di Jerusalem di bangun oleh Khalifah Umar bin Khatab pada tahun 638 M.

Tujuan Politis dan Ekonomis

Kubah diatas masjid pada masa itu adalah suatu hal yang tidak biasa. Karena kubah pada masa itu umum digunakan pada gereja-gereja atau katedral, sementara Masjid yang dikenal umat Muslim pada saat itu bentuknya sama seperti rumah-rumah masyarakat Arab pada umumnya, yaitu berbentuk kubus dengan hiasan arcade atau relung.

Pasca tragedi Karbala (681 M), dinasti Umayyah kehilangan banyak pendukungnya terutama umat muslim mekkah, di negeri-negri Syams sendiri terjadi banyak perlawanan untuk menurunkan Dinasti Umayyah, baik dikalangan Muslim atau non-Muslim.

Untuk meredam perlawanan- perlawanan ini dan agar tetap mendapat dukungan dari umat muslim, Yahudi dan Nasrani yang menetap di Palestina dan sekitarnya, bani Umayyah pada masa khalifah abdul malik bin marwan mendirikan satu bangunan yang ditujukan sebagai tempat ziarah atau tempat suci bagi 3 agama, inilah yang melatar belakangi dibangunnya bangunan berkubah pertama dalam sejarah Islam. Bangunan ini kemudian dikenal sebagai Qubbat as-Sakhrah dan Qubbat as Silsilah. Kedua bangunan ini dibangun semewah dan seindah mungkin pada masanya. Kubah yang melambangkan bangunan agama Nasrani pada saat itu, dilapisi emas, sementara pada bagian dalamnya dihiasi dengan kaligrafi dari ayat Qur’an yang berkisah tentang siti Maryam dan nabi Isa as.

Selain bertujuan mendapatkan dukungan dari Muslim dan non-Muslim dalam mempertahankan kekuasaannya, tujuan berikutnya adalah menjadikan Palestina sebagai kota suci ke dua setelah Mekkah, tempat tujuan ziarah kedua setelah Mekkah

Dengan menjadikan Palestina sebagai tempat tujuan ziarah kedua, otomatis akan menambah kas negara atau Baitul Mal yang didapat dari para peziarah.
Dibangunnya Kubah pada Masjid al Agsa, memiliki tujuan politik yang kuat selain mengambil hati umat muslim, mendapat dukungan dari umat nasrani dan Yahudi di Yerussalem dan tentunya dengan banyaknya peziarah, kas negara pun bertambah.

Ditulis oleh Sofia Abdullah

Catatan&Sumber

1. Hal.46, Sejarah Khilafah 11-35H, Rasul Ja’fariyan

2. Elad, Amikam. (1995). Medieval Jerusalem and Islamic Worship Holy Places, Ceremonies, Pilgrimage BRILL, pp.29-43. ISBN 90-04-10010-5

3. Masjid Umar didirikan dipelataran Gereja Holy Sepulchure karena, pendeta tertinggi digereja tersebut yang bernama Sophronius menolak menyerah kepada Umar bin Khatab sebelum sang Khalifah sendiri yang datang menemuinya, Umar kemudian datang menemui pendeta tertinggi tersebut, kedatangan Umar bin Khatab disambut dengan baik oleh sang pendeta dan ketika tiba waktu shalat sang pendeta mempersilahkan Umar untuk shalat di dalam gereja, Umar menolak, dan sebagai tanda damai sesama agama Tauhid, Umar mendirikan Masjid kecil di pelataran gereja tersebut, yang kemudian hari disebut Masjid Umar (sumber: Wikipedia-Mosque of Umar).

4. Ja’fariyan Rasul, Hal 120, Sejarah Islam sejak wafat nabi saw hingga runtuhnya dinasti Bani Umayyah (11-132 H)

5. Encyclopaedia Britanica: Dome Of The Rock.

6. Masjidil Aqsa bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti ‘ Masjid Terjauh ‘penjelasan tentang Masjidil Aqsa, yang diterjemahkan oleh Abdullah Y. Ali dalam arti yang sebenarnya; ‘the farthest Mosque’ pada point 2168, ia menjelaskan tentang pemilihan penggunaan kata ‘farthest Mosque’ bukan Masjidil Aqsa, seperti pada umumnya terjemahan dalam bahasa Indonesia, karena penggunaan kata Masjidil Aqsa yang yang mengacu pada Masjidil Aqsa yang berada di Palestina hanya berupa kemungkinan (ditunjukkan dengan kata; must refer to..) Bukan kepastian, pendapat Abdullah Yusuf Ali ini berdasarkan fakta sejarah bahwa; (1) Masjidil Aqsa belum dibangun pada masa Rasulullah, Masjidil Aqsa adalah nama yang diberikan khalifah Umar bin Khattab untuk Masjid yang dibangun di suatu tempat yang diyakini oleh khalifah Umar bin Khatab atas saran dari penasehat beliau Ka’ab al Ahbar, seorang Rabi Yahudi yang kemudian menjadi muslim dan diangkat sebagai penasehat khalifah Umar, atas dasar pengetahuannya akan kitab-kitab terdahulu. Atas dasar pertimbangan inilah kemudian wilayah ini ditetapkan sebagai Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa, yang namanya diambil berdasarkan ayat di Al Qur’an surat al Isra. (2) dilihat dari posisi tempat yang menunjukkan bahwa secara letak/lokasi masjidil aqsa haruslah suatu tempat yang posisinya sangat jauh dari Mekkah, namun faktanya Masjidil Aqsa yang diyakini sebagian muslim sebagai tempat terjauh ini posisinya sangat dekat dengan Mekkah, justru banyak tempat-tempat yang lebih jauh dari Palestina yang pernah disinggahi Rasulullah saww sejak usia muda, salah satunya adalahperjalanan dagang ke Syam (sekarang Syria), hijrah pertama ke Ethiopia yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib dan utusan-utusan Rasullah yang telah mencapai Romawi, Persia bahkan negeri-negeri di Timur Jauh dan Cina pada tahun ke-7 H dan tahun ke-9 H. (3) Fakta berikutnya adalah sumber hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzarr al Ghifari, ketika Abu Dzarr bertanya pada Rasulullah jarak tempuh dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, Rasulullah saww menjawab jarak antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsa adalah 40 tahun perjalanan.

7. Murphy-O’Connor, Jerome (2008). The Holy Land: An Oxford Archaeological Guide From Earliest Times to 1700 Oxford University Press, p.97. ISBN 0199236666

8. Dome of the Rock dibangun dengan tujuan sebagai tempat Ziarah, Dome of Chain sebagai baitul Mal, sementara Masjidil Aqsa adalah Masjid.

9. Muristan adalah satu wilayah yang padat penduduk di kota tua Jerusalem, lengkap dengan pasar dan gereja, kondidi Muristan kurang lebih sama dengan alun-alun di Indonesia.

10. Yaitu pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa pada tahun 685-705 M, yang kemudian digantikan oleh Dinasti Bani Abbasiyah dengan khalifahnya yang pertama; Khalifah al-Walid I, pada masa kekuasaan al Walid I inilah Masjid al Aqsa dibangun.

11. Bait suci nabi Sulaiman atau Solomon’s temple, menurut keyakinan umat Yahudi lokasinya berada di sekitar Masjidil Aqsa. Bait suci ini pertama kali dibangun pada masa nabi Sulaiman as, bait suci kemudian dihancurkan pada tahun 586 SM pada masa Nebukadnezar II. Tahun 537-516 SM Bait Suci kembali di bangun, namun kembali di hancurkan pada masa kekaisaran Romawi tahun 70 M. Dinding yang berlokasi di sebelah Barat Masjidil Aqsa yang di yakini sebagai sisa bangunan Bait Suci kedua ini adalah lokasi ziarah paling suci bagi umat Yahudi hingga saat ini.

12. Understanding Second Temple and Rabbinic JudaismKTAV Publishing House, Lawrence H. Schiffman, page 48–49

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar