Masjid Pada Era Makiyyah (2)

Masjid Pada Era Makiyyah sampai hijrah Rasulullah SAW ke Madinah 622 M. (C)

Tahun 610 M, nabi menerima wahyu pertama yang menjadikan beliau seorang rasul yang artinya Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyebarkan ajaran Islam secara terang-terangan. Pada bulan haji, lima tahun setelah renovasi Ka’bah, Rasulullah SAW secara terbuka mengabarkan kepada penduduk Mekkah bahwa beliau adalah Rasul terakhir.

Kondisi ini berdampak pada keamanan Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah di Masjidil Haram, yang pada mulanya Rasulullah SAW dengan tenang dapat beribadah, setelah 610 M atau setelah kerasulan selalu ada gangguan, hinaan dan penyiksaan fisik ketika sedang menjalankan ibadah.

Tahun 613 M, tiga tahun setelah peristiwa wahyu pertama, kaum muslim Mekkah terus bertambah banyak, baik dari kaum pagan ataupun dari kalangan ahlulkitab yang datang dari berbagai bangsa.

Berdasarkan Al-Qur’an, kita mengetahui Nabi Muhammad SAW adalah rasul yang diutus untuk seluruh alam yang artinya Rasul SAW mendapat tugas dari Allah SWT untuk menyebarkan Islam ke seluruh alam, baik alam manusia, alam jin, dan alam hewan serta tumbuhan.

Islam ajaran Rasulullah SAW adalah Islam yang damai. Sesuai dengan arti katanya, Islam diambil dari akar kata ‘salam’ yang artinya kedamaian dan keselamatan.

Bertambahnya kaum muslim, menggusarkan para pembesar kaum Quraisy, tekanan kepada kaum muslim terus bertambah hingga akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan kepada sebagian kaum muslim untuk hijrah ke Abyssinia (sekarang: Ethiopia) karena penguasa di Ethiopia saat itu, yang bernama Najasyi atau Raja Negus adalah penguasa yang adil.

Hijrahnya kaum muslim ke Ethiopia ini adalah hijrah yang pertama dalam sejarah Islam. Pemimpin hijrah saat itu, sekaligus utusan Rasulullah untuk menemui Raja Negus adalah Ja’far bin Abi Thalib. Selain Ja’far bin Abi Thalib, utusan Rasul lainnya yang ikut mendampingi Ja’far bin Abi Thalib adalah Jash bin Riyab dan Saad bin Abi Waqash.

Ketiga pemimpin kaum muhajirin pertama ini adalah kaum muslim yang paling tinggi ilmu islamnya, paling baik akhlaknya, dan paling pandai dalam perdagangan diantara kaum muslim yang lain yang ikut serta dalam hijrah pertama. Kualitas mereka inilah yang menjadikan mereka diterima dengan baik oleh Raja Negus yang beragama Nasrani. Sebagian kaum muslim menetap di wilayah Abyssinia ini hingga tahun 628 M.

Ilustrasi Ja’far bin Abi Thalib sedang memberikan penjelasan tentang Islam kepada Raja Negus (Najasyi) setelah sebelumnya utusan kafir Quraish mengatakan bahwa kaum Muhajirin yang meminta perlindungan kepada sang raja adalah budak. Melihat kepandaian dan kewibawaan Ja’far bin Abi Thalib, Raja Negus yang terkenal adil, tidak mempercayai utusan kaum kafir Quraish dan memilih untuk memberikan perlindungan kepada kaum muslim.
Sumbergambar: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/eb/Hijra_Abyssinia_%28Rashid_ad-Din%29.jpg

Ilustrasi dari abad ke-14 tentang kedatangan utusan kaum kafir Quraisy yang ditolak oleh Raja Negus. Kedatangan dua orang utusan ini untuk membawa kembali kaum muslim yang hijrah agar dapat disiksa dan di perbudak. Karena kepandaian Ja’far bin Abi Thalib dalam pemahaman Al-Qur’an, Raja Negus berhasil diyakinkan bahwa dalam ajaran Islam, tidak pernah ada penghinaan terhadap Maria dan Yesus, bahkan ajaran Islam sangat memuliakan dua tokoh ini hanya saja dengan kedudukan yang berbeda.

Tahun 616-619 M, setelah mengetahui sebagian kaum muslim hijrah ke Abbisynia, penyiksaan dan penjarahan toko-toko kaum muslim dan Bani Hasyim semakin bertambah dan mencapai puncaknya dengan diberlakukannya boikot dari para tokoh pembesar kafir Quraisy dan kabilah-kabilah dari suku lainnya kepada kaum muslim dan Bani Hasyim. Peristiwa ini ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian sepihak antara kaum kafir Quraisy dengan suku-suku Arab pagan lainnya. Dalam kesepakatan sepihak yang mereka buat, boikot ini akan berlangsung selama tujuh tahun atau sampai Abu Thalib, keturunan Hasyim dan kaum muslim menyerahkan Nabi Muhammad SAW kepada kaum kafir untuk dibunuh.

Lembah Abu Thalib atau Shi’ib Abu Thalib, adalah tanah yang cukup luas milik Abu Thalib. Lokasi ini pernah menjadi tempat perlindungan kaum muslim ketika di boikot oleh kaum Arab Quraish selama tiga tahun

Selama peristiwa ini, pasukan kaum kafir Quraish dan suku-suku pagan Arab lainnya menjarah semua harta kaum muslim, mengusir dan mengambil alih paksa rumah-rumah mereka, melarang transaksi jual beli kepada para pedagang muslim baik di dalam atau diluar negeri. Peristiwa boikot ini juga yang kelak menjadi penyebab utama Perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam.

Ilustrasi masa pemboikotan, kaum muslim berlindung di lembah milik Abu Thalib. Selama masa pemboikotan, kaum muslim dilarang melakukan jual beli dan melakukan hubungan sosial dengan kaum Quraish. Sumber gambar : https://teras-dakwah.blogspot.com/2017/11/pemboikotan-terhadap-keluarga-nabi-dan.html?m=1

Boikot atau pengasingan kaum muslim ini berlangsung selama tiga tahun. Paman nabi, Abu Thalib dan sayyidah Khadijah, istri nabi memiliki peran yang sangat penting dalam peristiwa ini. Abu Thalib sebagai pelindung kaum muslim di Mekkah, memberikan tanahnya yang luas untuk digunakan kaum muslim sebagai tempat berlindung selama masa pengasingan. Sementara Khadijah, wanita terkaya pada masa itu, memberikan seluruh hartanya untuk membeli segala kebutuhan kaum muslim.

PETA PERKAMPUNGAN ABU THALIB KETIKA DIBOIKOT. SUMBER GAMBAR : HTTP://SIRAH-NABAWIYYAH.BLOGSPOT.CO.ID/2015/10/BOIKOT-TERHADAP-KAUM-MUSLIMIN.HTML

Selama masa pengepungan ini, kaum muslim hanya diperbolehkan keluar dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Dzulhijjah dan Rajab.
Atas kehendak Allah SWT, boikot yang seharusya berlangsung selama tujuh tahun, berakhir pada tahun ketiga dengan hancurnya surat perjanjian mereka di makan rayap. Padahal surat perjanjian ini telah digantungkan sedemikian rupa dalam Ka’bah dan terbuat dari bahan kulit yang kuat.

Perjanjian boikot Bani Hasyim ditulis diatas kertas yang terbuat dari kulit kambing. Perjanjian ini memiliki arti sangat penting bagi suku-suku Quraish dan sekitarnya karena mereka merasa terancam dengan pesatnya perkembangan kaum muslim. Namun, sekuat apapun bahan yang mereka gunakan dan serapi apapun mereka meletakkan surat perjanjian ini, jika Allah berkehendak maka rusaklah surat perjanjian tersebut dimakan rayap. Sumber gambar : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/ff/Parchment_from_goatskin.jpg

Tahun 620 M, satu tahun setelah boikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib, Abu Thalib wafat disusul dengan sayyidah Khadijah, dua pendukung kaum muslim yang utama wafat. Dalam sejarah Islam, tahun ini di kenal dengan tahun kesedihan bagi Rasulullah SAW, keluarga dan kaum muslim seluruhnya.

Pada tahun ini juga nabi dan beberapa sahabat pilihan melakukan dakwah Islam ke Tha’if namun kedatangan nabi, keluarga dan sahabat di sambut dengan timpukan batu dan hinaan hingga nabi dan sahabat banyak yang terluka. Pada tahun yang sama beberapa kepala suku dari kalangan jin masuk Islam.

Jin seperti juga manusia memiliki ras, suku dan bangsa. Diantara golongan jin ada yang taat ada kafir. Beberapa kepala suku dari berbagai ras Jin pernah datang ke Rasulullah saw untuk belajar dan masuk Islam, peristiwa ini di abadikan dalam Al Qur’an surat Jinn. Sumber gambar : https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Kitab_al-Bulhan_—_devils_talking.jpg#mw-jump-to-license

Tahun 621-622 M, banyak peristiwa penting terjadi yang berperan besar dalam perkembangan Islam ke berbagai penjuru dunia. Diawali dengan Iqrar Aqabah pertama, yaitu kedatangan dua belas petinggi Yastrib pada musim haji menemui Rasul untuk masuk Islam setelah mendengar tentang Islam dari enam orang penduduk Yastrib yang telah masuk Islam sebelumnya. Dua belas orang ini kemudian melakukan ikrar (sumpah setia) di hadapan nabi dan beberapa sahabat pilihan di wilayah Aqabah (jalan setapak melalui gunung yang berada di luar Mekkah). Ikrar tersebut berisi : “kami tidak akan menyekutukan Tuhan, Mencuri, berbuat zina, membunuh anak-anak kami, melontarkan fitnah dan umpatan; Kami akan menaati nabi saw dalam segalanya dan kami akan setia kepadanya baik dalam suka maupun duka”.

Dua belas penduduk Yastrib ini kemudian melakukan dakwah Islam kepada penduduk Yastrib lain yang menuntun pada peristiwa Iqrar Aqabah kedua. Jumlah peserta yang melakukan Iqrar Aqabah kedua ini mencapai 70 orang penduduk Yastrib ditambah kaum Muslim Yastrib yang telah melakukan Iqrar Aqabah pertama.


Tahun 622 M pada tanggal 27 Rajab terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa Isra Mi’raj adalah salah satu mukjizat Rasul SAW yang juga menjadi penegas bagi kaum muslim saat itu. Mereka yang meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul akan meyakini peristiwa ini sementara mereka yang ragu akan kenabian Muhammad SAW akan keluar dari Islam.

Peristiwa ini disusul dengan percobaan pembunuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Rencana pembunuhan ini dilakukan karena kaum kafir Quraisy merasa takut melihat perkembangan Islam yang telah meluas hingga keluar Mekkah, bahkan telah memiliki perwakilan di Yastrib. Percobaan pembunuhan ini di lakukan oleh ahli-ahli pedang terpilih dari tiap suku di Mekkah dan sekitarnya. Rencana pembunuhan kepada nabi SAW ini di prakarsai oleh para pembesar kafir Mekkah saat itu; Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan dan Utbah. Pada malam yang disepakati untuk membunuh nabi SAW, para algojo terpilih dari tiap-tiap marga di Mekkah ini mengepung sekeliling rumah nabi SAW, dan begitu nabi keluar rumah, nabi akan mereka bunuh. Namun rencana mereka gagal, Allah SWT melalui malaikat Jibril memberikan wahyu kepada nabi SAW tentang rencana kaum kafir Mekkah, dengan bantuan Allah SWT, kaum kafir yang hendak membunuh nabi SAW tidak mengetahui ketika nabi SAW keluar melewati mereka.

Sementara itu di tempat tidur nabi SAW, Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi beliau untuk memastikan para algojo tersebut bahwa nabi SAW masih tertidur pulas di kamarnya. Malam itu pula nabi SAW memantapkan langkahnya menuju Yastrib, menyusul kaum muslim yang telah hijrah sebelumnya.

Jarak dari Mekkah ke Yastrib sekitar 500km atau sekitar 5 hari dengan berjalan kaki atau naik unta atau 3 hari dengan mengendarai kuda. Setelah berhasil lolos dari percobaan pembunuhan, Rasul SAW berjalan kaki hingga ke Gua Tsur. Di tengah perjanan, nabi bertemu sahabat Abu Bakar as Sidiq yang kemudian ikut bersama beliau. Mengetahui pembunuhan tersebut gagal, para pembesar kafir Quraisy segera memerintahkan para pemburu ahli dan para pencari jejak untuk mencari nabi yang pastinya belum terlalu jauh dari Mekkah dengan imbalan hadiah yang besar. Kaum kafir Quraisy juga menutup jalan-jalan utama menuju Yastrib.

Pencarian tersebut berlangsung selama tiga hari dan selama itu pula nabi berlindung di Gua Tsur yang hanya berjarak 3,8 km dari kota Mekkah atau sekitar satu jam berjalan kaki dari kota Mekkah. Dengan pertolongan Allah SWT, seekor laba-laba yang besar di wahyukan untuk menutup mulut gua dengan jaringnya, sementara burung dara membuat sarang di atas pintu gua. Dengan adanya dua binatang ini para pemburu merasa yakin bahwa tidak mungkin ada manusia yang dapat masuk kedalamnya tanpa merusak jaring laba-laba dan sarang burung tersebut. Pada malam ke-4 di Gua Tsur, Ali bin Abi Thalib ra datang kepada nabi dengan membawa dua ekor unta. Pada malam ini pula nabi dan Abu Bakar meneruskan perjalanan ke Yastrib.

Ilustrasi perjalanan Rasul saw dan Abu Bakar dengan unta setelah bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2d/The_outline_of_history_-being_a_plain_history_of_life_and_mankind%281920%29_%2814580517757%29.jpg

Sepanjang perjalanan ke Yastrib, Rasul SAW berpapasan dengan beberapa orang sahabat dan penduduk setempat yang kemudian melakukan hijrah bersama nabi ke Yastrib.

Sementara itu di Mekkah, setelah percobaan pembunuhan yang gagal, pengejaran Rasulullah SAW yang juga gagal, kini tinggal Ali bin Abi Thalib dan kaum muslim yang tersisa yang menjadi sasaran mereka.

Ali bin Abi Thalib tetap tinggal di Mekkah selama tiga hari, untuk melaksanakan tugas Rasulullah SAW selanjutnya, yaitu mengembalikan barang pinjaman dan hutang piutang penduduk Mekkah serta urusan lainnya yang terkait dengan Rasul SAW. Setelah amanat tersebut selesai dilaksanakan, Ali bin Abi Thalib, kaum wanita dari keluarga Rasul SAW, dan muslimah lainnya, serta kaum muslim yang tersisa di Mekkah menyusul Rasul SAW hijrah ke Yastrib.

Setelah menempuh sekitar tujuh hari perjalanan, pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal, Rasul SAW dan rombongan berhenti di satu wilayah bernama Quba. Kota ini berjarak kurang lebih 10 km dari kota Yastrib. Nabi sengaja melakukan pemberhentian tersebut untuk menunggu rombongan Ali bin Abi Thalib.

Di Quba, Rasul SAW dan rombongan menetap selama empat hari, di tanah milik bani Ammar bin Auf. Sebagai tempat tinggal sementara Rasul SAW dan rombongan membangun tempat tinggal di tanah ini, hingga rombongan Imam Ali tiba.

Bangunan ini kemudian di kenal sebagai Masjid Quba, bangunan pertama yang di bangun Rasullullah SAW.
Bangunan yang digunakan Rasul untuk menunggu Imam Ali ini kemudian dijadikan Masjid oleh Bani Ammar bin Auf. Masjid ini kemudian di kenal dengan nama Masjid at Taqwa.

Gambar: bangunan asli Masjid Quba yang di bangun oleh Rasul saw dan para sahabat, sebelum dihancurkan pada tahun 1980 oleh kerajaan Saudi Arabia. (sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Quba_Mosque#/media/File:Qubaorig.jpg)

Nama at Taqwa di berikan Rasulullah SAW untuk masjid ini sebagai pujian kepada Imam Ali as karena ketakwaan Ali bin Abi Thalib kepada Allah SWT dan ketaatan beliau kepada Rasulullah SAW yang sangat dikasihinya, beliau rela mempertaruhkan nyawa untuk melindungi keselamatan kaum muslim dengan memimpin rombongan keluarga nabi SAW dan kaum muslim yang tersisa di Mekkah. Karena ketakwaannya pula, Imam Ali yang baru berusia 22 tahun telah melakukan pengorbanan besar dengan menggantikan posisi nabi SAW di tempat tidur nabi SAW yang hendak dibunuh.

Setelah Ali bin Abi Thalib kw menyelesaikan semua urusan nabi SAW di Mekkah, memimpin rombongan perjalanan kaum muslim dan para wanita dari keluarga nabi SAW yang selalu mendapat ancaman dan di hadang oleh kaum kafir Mekkah, akhirnya sampai juga rombongan Imam Ali bertemu Rasul SAW di Quba.

Berikutnya: Masjid pada Era Madaniyyah

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar