Masjid pada Masa Rasulullah saw (1)

(a) Pengertian, Bentuk Bangunan dan Sejarahnya

Dari masa ke masa, dari era penguasa yang satu ke yang lainnya, bangunan masjid dan makam yang sangat penting bagi penelitian sejarah Islam di Indonesia banyak mengalami perubahan, baik di sengaja atau tidak. Perubahan ini terjadi karena banyak sebab, namun yang umumnya terjadi adalah karena renovasi.

Seringkali renovasi ini menghilangkan banyak informasi sejarah dari bangunan masjid tersebut, terutama sejarah tertulis yang banyak dipindahkan ke museum pada era kolonial dengan alasan renovasi.

Renovasi juga menyebabkan bentuk struktur bangunan asli masjid banyak yang dirubah, hingga masjid dan makam yang awalnya memiliki ciri khas nusantara, menjadi hilang ciri khasnya, dan berganti dengan bangunan dengan ciri khas baru.

Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan sebagian besar masyarakat Indonesia kini sudah tidak mengetahui lagi struktur bangunan dan fungsi asli bangunan masjid seperti yang diajarkan oleh Rasul SAW. Ketidak tahuan ini mengakibatkan kerancuan dalam sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Seperti apakah bentuk masjid yang sesuai dengan kriteria masjid yang diajarkan Rasul SAW? Apakah kaitan masjid dengan makam? Bagaimana sejarah simbol bulan bintang dan kubah yang selalu melekat pada masjid? Apakah masjid harus berkubah dan selalu disimbolkan dengan bulan bintang? Kenapa sekarang masjid selalu identik dengan kubah bagaimana sejarahnya? Apa itu maqsurah? Bagaimana sejarah mihrab? semua pertanyaan ini akan kami jawab dalam Fakta dan Fiksi Sejarah Masjid, sebagai bagian awal seri Fakta dan Fiksi Islam di Nusantara.

Kata masjid memiliki arti ‘tempat sujud’ atau ‘tempat ibadah’. Kata ini diambil dari bahasa Arab dari akar kata sajada yang artinya sujud. Walaupun memiliki arti ‘tempat bersujud’, dalam penggunaan sehari-hari pada zaman Rasullullah SAW, terutama setelah hijrah ke Madinah, fungsi masjid semakin luas, bukan hanya sebagai tempat ibadah tapi juga sebagai tempat berbagai kegiatan yang berhubungan dengan beragam ilmu.

Masjid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah bangunan yang kompleks, dengan beragam fungsi. Dalam kompleks masjid terdapat makam, sumur, dan tempat membersihkan dan mensucikan diri. Masjid terdiri dari beberapa bagian dengan fungsinya masing-masing. Bagian dan fungsi masjid dapat dibaca dalam tulisan kami berikutnya.

Secara umum masjid pada masa Rasulullah saw terbagi menjadi 2 era, Era Makiyyah dan Era Madaniyyah. Pada era Makiyyah, sejarah masjid di bagi menjadi 2 masa; masjid pada masa jahiliyah dan masjid setelah penaklukkan Mekkah.

(b) Masjidil Haram pada Masa Jahiliyyah

Jauh sebelum nabi lahir, wilayah Ka’bah dan sekitarnya telah dikenal oleh bangsa Arab dan non Arab sebagai ‘Masjid’ atau Masjidil Haram (tempat ibadah yang suci). Masjid pada era ini memiliki fungsi yang sama sebagai tempat ibadah, baik tempat ibadah kaum jahiliyyah maupun kaum yang masih berpegang teguh pada ajaran nabi Ibrahim as, yang pertama kali membangun kembali Ka’bah dan menggunakannya sebagai rumah ibadah.

Foto bangunan Ka’bah. Ka’bah telah ada sejak zaman Nabi Adam, banjir Nabi Nuh as menyebabkan bangunan Ka’bah rusak. Ka’bah dibangun kembali oleh nabi Ibrahim dan putranya Isma’il, sebagai sarana ibadah tertua yang masih dilakukan hingga saat ini.


Di sekitar area Ka’bah ini, berbagai bangsa dari masa ke masa melakukan ibadah dan syariat haji mengikuti ajaran nabi Ibrahim as. Hanya saja, sebelum kelahiran Rasul SAW hingga peristiwa penaklukan Mekkah 630 M, mayoritas Masjidil Haram digunakan sebagai area penyembahan berhala dan syariat haji yang sudah keluar dari syariat haji yang diajarkan Nabi Ibrahim as dan para nabi penerusnya .

Walaupun mayoritas bangsa Arab pada masa ini menyembah berhala, namun golongan yang berpegang teguh pada ajaran Nabi Ibrahim tetap ada.

Merekalah yang disebut sebagai penganut Millatu Ibrahim atau agama nabi Ibrahim yang lurus. Penganut Millatu Ibrahim pada era Makkiyah ini diantaranya adalah golongan bani Hasyim (keluarga nabi Muhammad saw), keluarga sayyidah Hadijah binti Khuwaylid dan sebagian bani Asad (keluarga Fatimah binti Asad bin Hasyim, ibunda dari Ali bin Abi Thalib). Selain agama Millatu Ibrahim, ada pula agama Yahudi dan Nasrani.

Selama ratusan tahun, walaupun berbeda agama dan keyakinan, Masjidil Haram selalu menjadi tempat tujuan ibadah dan ziarah bagi agama-agama besar ini. Masjidil Haram mencapai puncak keramaiannya pada musim haji di bulan Dzulhijjah. Ramainya orang yang ibadah dan berziarah ke Masjidil Haram ini yang menjadi alasan dibalik penyerangan Ka’bah yang gagal oleh pasukan gajah Abrahah dari kerajaan Aksum, Ethiopia, menjelang kelahiran Nabi Muhammad 570 M.

Ilustrasi Pasukan bergajah Abrahah.

Sebagai penganut agama Ibrahim as, seperti tradisi keluarganya selama ratusan tahun sebelumnya, Nabi Muhammad dan keluarganya tetap menjadikan Masjidil Haram sebagai masjid untuk melakukan ibadah salat, karena memang ibadah salat, bersuci, puasa, dan haji telah dilakukan sejak masa Nabi Adam as, hanya caranya saja yang berbeda. Syiar Islam yang dilakukan Rasul SAW pada masa ini dilakukan dari rumah ke rumah, secara sembunyi-sembunyi.

Selain pandai dalam berdagang, nabi dikenal memiliki akhlak yang mulia dan menjadi rujukan kaum Quraisy Mekkah setiap ada permasalahan pada penduduk Mekkah. Salah satu peristiwa yang menunjukkan kewibawaan nabi adalah peristiwa saat renovasi Ka’bah tahun 605 M, usia nabi 35 tahun. Banjir besar melanda wilayah Mekkah yang membuat Ka’bah rusak parah, ditambah lagi kondisi bangunan Ka’bah yang sudah tua dan tidak beratap menjadi alasan berikutnya untuk merenovasi Ka’bah. Atas persetujuan semua suku dan kabilah di Arab, renovasi pun di mulai.

Pada bagian akhir renovasi terjadi perselisihan diantara suku Arab yang ikut serta dalam renovasi tersebut. Perselisihan itu terjadi karena setiap suku menginginkan sukunya yang meletakkan hajar Aswad kembali pada posisi semula sebelum renovasi.

Hampir saja terjadi peperangan dikalangan suku tersebut hingga nabi Muhammad saw memberikan jalan tengahnya; nabi Muhammad menggelar sebidang kain, hajar Aswad yang dijadikan sengketa beliau saw letakkan di tengah-tengah kain. Setiap perwakilan suku kemudian mengangkat kain tersebut bersama-sama dan dengan kain tersebut Hajar Aswad diletakkan kembali ke posisi semula sebelum renovasi.

Bersambung ke bag. (c) Masjid pada era Makiyyah https://sofiaabdullah.wordpress.com/2020/03/11/fakta-fiksi-sejarah-masjid/

Satu tanggapan

Tinggalkan komentar