Masjid Pada Era Madaniyyah (3)

Masjid Pada Era Madaniyyah, 622 M hingga wafatnya Rasulullah SAW, 632 M (d)

Tahun 622 M, setelah rombongan Imam Ali dan Rasulullah SAW bertemu, bersama mereka melanjutkan perjalanan menuju Yastrib. Kedatangan beliau SAW disambut dengan suka cita oleh sebagian besar penduduk Yastrib, baik yang telah masuk Islam atau masih beragama Yahudi atau Nasrani. Sejak kedatangan rasul SAW, kota Yastrib lebih dikenal dengan sebutan Madinatun Nabiy (kota Nabi) yang kemudian dipersingkat menjadi Madinah.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada pemeluknya bahwa agama adalah landasan dan solusi bagi segala permasalahan kehidupan, dari mulai masalah keluarga sampai masalah negara atau pemerintahan. Untuk mengajarkan semua hal tersebut, dibutuhkan tempat yang berfungsi selain sebagai tempat untuk mengajar, juga sebagai tempat untuk beribadah, yang dalam bahasa Arabnya bernama masjid.

Fungsi Masjid Pada Masa Rasulullah SAW

Rasullullah SAW membutuhkan tempat sebagai pusat studi Islam, tempat Ibadah, dan tempat berkumpulnya umat untuk menyelesaikan urusan dunia dan akhirat. Dengan pertimbangan ini, dibuatlah masjid yang pertama dalam sejarah Islam, yaitu masjid nabi di Madinah, yang kita kenal saat ini dengan Masjid Nabawi. Masjid ini dibuat mengikuti bentuk bangunan tradisional di jazirah Arab pada umumnya.


Rasullullah SAW menggunakan masjid sebagai pusat studi Islam dan menyelesaikan berbagai masalah dunia dan akhirat, mulai dari syiar Islam, mengatur strategi politik, hingga masalah rumah tangga. Semua masalah dunia diselesaikan dengan satu tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ajaran agama Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW adalah landasan dari segala kegiatan dalam kehidupan manusia yang bertujuan akhir untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Lukisan masjid nabi SAW sekitar abad ke-18, walaupun telah mengalami beberapa kali perluasan, bentuk bangunan masjid masih mengikuti bangunan tradisional di jazirah Arab pada masa itu, berbentuk bujur sangkar, tanpa kubah.
https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Medina_Grab_des_Propheten.JPG#mw-jump-to-license
Gambar Masjid Nabawi, kini, walaupun telah banyak mengalami perubahan dan perombakan dari bentuk dan fungsi aslinya yang dibangun pada zaman Rasul tahun 622 M/2 H, bentuk asli bangunan khas Timur Tengah, persegi panjang tanpa kubah, tetap terlihat.
(sumber: http://dickyfs.files.wordpress.com/2008/08/p27-06-08_1430.jpg)

Sejak pertama kali Masjid Nabawi dibangun oleh Rasulullah SAW, masjid ini ditujukan untuk berbagai kebutuhan dunia (sosial) dan akhirat (Ilahiyyah). Fungsi sosial masjid dapat dilihat dari berbagai masalah dunia, dari mulai urusan rumah tangga, hingga pemerintahan diselesaikan Rasulullah SAW di Masjid Nabawi. Sementara fungsi masjid yang terkait dengan masalah ilahiyyah, seperti salat, mengaji, syiar Islam juga dilakukan di area masjid.

Kota ini dibangun oleh nabi dan ditata sedemikian rupa dengan bangunan masjid sebagai pusatnya. Sebagai pemimpin tertinggi mukmin (amirul mukminin) pada saat itu, Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabatnya tinggal di sekitar masjid Nabi. Rumah pribadi Rasulullah SAW dan sayyidah Fathimah menyatu dengan bagian utama masjid, sementara pada bagian pelataran masjid terdapat rumah istri-istri nabi.

Beragamnya fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW menjadikan bangunan masjid terdiri dari beberapa bagian. Dari mulai teras atau ruangan-ruangan terbuka yang menempel dengan badan masjid, hingga tempat singgah bagi kaum muslim yang tidak memiliki tempat tinggal.

Bentuk bangunan masjid seperti yang diajarkan rasul adalah kompleks bangunan yang memiliki beragam fungsi. Hal ini pulalah yang membuat masjid pada masa Rasullullah SAW memiliki banyak bagian-bagian yang disesuaikan dengan fungsinya.

Masjid selain berfungsi untuk salat, juga memiliki fungsi sosial dan hukum. Fungsi sosial, misalnya, sebagai lembaga pendidikan umat. Pada masa awal Islam, umat Islam yang tidak bisa baca tulis, belajar di masjid, juga mempelajari dan menelaah Al-Qur’an. Fungsi hukum, misalnya, menyelesaikan berbagai kasus umat, baik kasus pidana maupun perdata. Sebagai tempat untuk menerima utusan raja-raja dari luar negeri, dan sebagainya.

Gambar berikut adalah denah awal ruang beserta fungsinya di area masjid nabi. Semua ruangan yang ada pada denah ini memiliki pintu yang berlawanan dengan bangunan utama masjid kecuali tempat tinggal Rasulullah SAW dan putri beliau, sayyidah Fatimah Zahra dimana untuk memasuki rumah beliau harus terlebih dahulu masuk ke dalam masjid. Masjid Nabawi inilah yang menjadi patokan pembuatan masjid di seluruh dunia.
Dengan berpatokan pada denah dalam dan luar dari Masjid Nabawi ini, kita dapat mengetahui fungsi bangunan-bangunan kuno yang ditemukan di Indonesia berdasarkan bentuknya.

Denah Ruangan Dalam Masjid Nabawi
(Sumber: orgawam.wordpress.com)

Keterangan Denah Ruangan Dalam Masjid Nabawi

1. Tempat nabi menerima duta atau utusan dari dalam dan luar negeri: Nabi SAW menggunakan tempat ini untuk menemui para utusan yang datang. Beberapa sahabat terkemuka duduk disekitar beliau selama pertemuan berlangsung.


2&14 Posisi tempat pengawal nabi: Menjadi tempat berdiri para pengawal Nabi SAW. Pintu rumah nabi berhadapan dengan tempat ini, dan Nabi SAW pergi melalui pintu ini menuju ke Masjid Nabawi.

3. Tempat istirahat nabi: Abdullah bin Umar RA bercerita, “Nabi SAW menggunakan tempat ini sebagai tempat tidur beliau selama I’tikaf.

7. Mihrab Nabawi: mihrab selama periode pemerintahan Nabi SAW adalah satu ruangan khusus yang tertutup yang digunakan nabi untuk melakukan shalat-shalat khusus dan ber I’tikaf, sampai pada masa Khalifah Umar bin Khatab (634-644) bentuk mihrab hanyalah dinding lurus. Pada masa Usman, ia memerintahkan tanda pada mihrab agar dapat diketahui arah kiblat. Mihrab berbentuk lengkung (arch) pertama kali dibuat pada Masjid Nabawi pada tahun 91 H, pada masa Umar bin Abdul Aziz.

11. Mimbar tempat Nabi SAW berkhutbah.

12. Tempat muadzin: Tempat ini, berupa balkon segi empat, terletak di sebelah utara mimbar nabi. Tempat ini selain sebagai tempat adzan, juga sebagai tempat salat muadzin dan untuk menguatkan suara takbir pada salat lima waktu.

15. Tempat ahlus Suffah: Suffah berarti tempat berteduh. Sahabat nabi yang miskin dan tidak memiliki rumah, bertimpat tinggal di Suffah. Di sini mereka mendapat pendidikan tentang Islam dan mengamalkannya. Tempat ini terletak dibelakang rumah pribadi sayyidah Fathimah dan keluarga.

16. Babul Baqi (bab: pintu, baqi: pemakaman Baqi) Pintu ini berhadapan dengan bab salam yang langsung mengarah ke pemakaman Jannatul Baqi, yang merupakan pemakaman keluarga dan sahabat rasul SAW, yang telah dihancurkan oleh pemerintahan bani Saud pada awal tahun 1930.

Pemakaman Jannatul Baqi pada bagian belakang Masjid Nabawi, sebelum dihancurkan oleh pemerintah Ibnu Sa’ud tahun 1930. Antara Masjid Nabi dengan Pemakaman Baqi terdapat pintu gerbang yang menuju pemakaman, pintu ini bernama; Baabul Baqi.

Fungsi bangunan adalah unsur penting dalam setiap pembangunan masjid. Pada masjid-masjid kuno fungsi ini masih terlihat jelas, namun berjalannya waktu, pergantian penguasa dan faktor lain, bentuk bangunan lebih di utamakan dari pada fungsi bangunan masjid. Sepanjang sejarah masjid, banyak penambahan-penambahan bangunan yang tidak terkait dengan apa yang diajarkan Rasul SAW. Bila dilihat dari fungsinya, bangunan masjid yang ada pasca wafatnya Rasul SAW hingga saat ini semakin jauh dari apa yang telah diajarkan Rasul SAW.


Bangunan utama masjid dengan bangunan-bangunan disekitarnya dipisahkan dengan dinding bata yang mengitari masjid. Terdapat pintu gerbang menuju masjid pada empat penjuru mata angin; timur, barat, utara dan selatan. Pintu-pintu ini disesuaikan dengan ruang dan bagian-bagian masjid untuk melakukan segala kegiatan yang berkaitan dengan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pemerintahan. (25)

Sumur atau kolam untuk bersuci dan untuk kebutuhan lain yang memerlukan air. Pada masa Rasulullah dicontohkan dengan adanya Bir’ Ghars atau sumur yang digali.
(Sumber: https://ahmedamiruddin.wordpress.com/2010/06/22/visiting-the-holiest-site-on-earth-the-grave-of-the-prophet-s/)

Salah satu sumur yang ada pada masa Nabi SAW, disebut dengan Bir Ghars. Sumur ini memiliki arti penting bagi umat Islam karena dengan air yang berada di sumur inilah Rasul SAW keluarga dan sahabat beliau memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Jasad Rasulullah SAW pun dimandikan dengan menggunakan air dari sumur ini. Berkenaan dengan Bir Ghars, Rasulullah pernah mengatakan dalam haditsnya bahwa mata air yang mengalir di sumur ini adalah salah satu mata air yang mengalir di surga. Namun sayangnya, kondisi situs bersejarah yang telah berusia lebih dari 1400 tahun ini sangat mengenaskan karena mata air tidak diberi tempat yang layak. Hanya jemaah haji tertentu saja yang diizinkan oleh pemerintah Saudi untuk mengunjungi situs ini karena selain dikelilingi oleh tembok beton, dijaga pula oleh aparat.

1. Dari berbagai bukti yang kami kumpulkan, Islam telah sampai ke Timur Jauh (Nusantara dan Cina) sejak Rasulullah SAW masih hidup. Bukti-bukti tersebut antara lain berupa bangunan masjid dan makam, kisah penduduk dari generasi ke generasi, tradisi, dan sebagainya yang akan kami uraikan dalam bagian-bagian selanjutnya.

2. Hillenbrand, R “Masdjid. I. In the central Islamic lands”. Encyclopaedia of Islam Online. Ed. P.J. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel and W.P. Heinrichs. Brill Academic Publishers. ISSN 1573-391


3. Syariat haji yang telah menyimpang pada era ini diantaranya ritual Qurban untuk berhala, tawaf berkeliling Ka’bah tanpa busana, memenuhi ruang Ka’bah sebagai tempat penyimpan berhala yang mereka gilir setiap tahunnya pada musim haji. (sumber : al Jibouri, T Yasin, Konsep Tuhan)

4. Fatimah bt Asad bin Hasyim, adalah bibi rasul karena beliau kemenakan Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Rasul SAW.


5. Abrahah adalah Gubernur Yaman, Yaman pada masa ini adalah bagian dari kerajaan Aksum (Aksumite Kingdom 100M-940 M (Turchin, Peter and Jonathan M. Adams and Thomas D. Hall: “East-West Orientation of Historical Empires and Modern States”, p. 222. Journal of World-Systems Research, Vol. XII, No. II, 2006)


6. Dari zaman dahulu hingga sekarang ada 3 alasan utama manusia melakukan perjalanan ke negara lain; hubungan perdagangan, politik dan agama. Ketiga alasan ini mengerucut pada satu kegiatan, yaitu kegiatan ekonomi, yaitu segala kegiatan manusia yang terkait dengan uang atau segala hal yang menguntungkan golongannya. Untuk memperoleh tujuan tersebut seringkali para penguasa menggunakan dalil agama untuk mengerahkan massa agar memenuhi keinginannya. Demikian pula ketika wilayahnya menjadi objek tujuan ziarah atau ibadah. Demi keyakinannya manusia akan rela mengeluarkan sejumlah harta untuk mengunjungi atau berziarah ke wilayah lain yang bersejarah dalam keyakinan mereka. Daerah yang dijadikan objek ziarah ini tentunya akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi dengan melayani kebutuhan para peziarah. Keuntungan inilah yang menjadikan para pemimpin dari masa ke masa berusaha menjadikan negerinya sebagai objek ziarah atau menyerang negeri lain untuk menguasai atau menghancurkan objek ziarah tersebut agar objek ziarah yang dibangunnya dapat menarik perhatian umat. Inilah faktor utama yang menjadikan Abrahah menyerang Ka’bah. Dengan perlindungan Allah SWT, Abrahah dengan pasukan gajahnya tidak berhasil menyerang Ka’bah dan Masjidil Haram. Peristiwa ini juga menandakan salah satu mukjizat pertanda kelahiran Rasulullah SAW.

7. Al Karbuthli, Ali Husni, Prof,DR, Sejarah Ka’bah, hal. 225-231,penerbit Turos, cet.III 2013.

8. QS al Anbiya: 21 : “dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam.” Rahmat adalah sifat pengasih Allah SWT yang wujud dalam diri Nabi Muhammad saw. Allah SWT adalah Maha Pengasih sementara utusannya adalah manusia yang paling pengasih diantara makhluknya. Peperangan pada masa nabi adalah karena kaum muslim di serang bukan untuk penaklukan atau invasi.

9. Islam mengatur semua hubungan antar makhluk Allah dan bagaimana bersikap kepada sesama makhluk. Contoh pada setiap pemiliki ternak rasul selalu memperingatkan kepada pemiliknya agar memperlakukan ternaknya dengan kasih sayang, jangan terlalu membebani dan diberi makan dan tempat yang layak.

10. Bravmann, M.M Studies in Semitic Philology, hal. 441, Leiden, 1977.

11. Ja’far bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqas dan Jash bin Riyab setelah memimpin kaum muhajirin dari Mekkah ke Abyssinia, melanjutkan tugasnya sebagai utusan rasul ke negeri-negeri lain. Jash bin Riyab ke wilayah Indochina, Ja’far bi Abi Thalib ke Jawa, dan Saad bin Abi Waqash ke Guangdzou, China.

12. Jibouri T Yasin, Allah Konsep Tuhan Dalam Islam, hal. 668

13. Jibouri hal. 670. Rajab dan Dzulhijjah adalah bulan suci bagi masyarakat Jahiliyyah dan penganut agama tauhid sebelum Islam. Tradisi ini sebagai perayaan untuk memperingati keteguhan nabi Ibrahim dan Ismail menjalankan perintah Allah SWT, hingga akhirnya Allah SWT menggantikan posisi Ismail as dengan seekor kambing untuk disembelih. Walaupun telah mengalami perubahan dalam ritualnya, keyakinan Masyarakat kepada nabi Ibrahim dan Ismail tetap ada, karena umumnya bangsa Arab adalah keturunan dari nabi Ismail as. Pada masa Boikot Bani Hasyim dan Muthalub, hanya dalam bulan Rajab dan Dzulhijjah inilah nabi saw dan para utusannya melakukan syiar Islam kepada kepala-kepala suku di Jazirah Arab dan kepala-kepala suku dari negeri lain yang sedang melakukan ritual Haji.

14. Jin adalah makhluk Allah yang hidup di dunia berbeda. Keberadaan jin hanya dapat dilihat oleh para nabi, Rasul dan manusia tertentu. Jin memiliki kehidupan yang kurang lebih sama dengan manusia hanya saja di alam yang berbeda. Jin memiliki keluarga, anak, suku, negara dan kota-kota seperti layaknya manusia. Sekelompok jin yang mendatangi Rasul saw ini adalah kelompok para kepala suku yang kemudian mengajarkan Islam kepada kaumnya.

15. Jibouri, hal. 686.


16. Rasul saw mengutus 2 sahabat pilihan; Mus’ab bin Umair dan Abdullah bin Ummu Maktum untuk mengajarkan Al Qur’an dan pokok-pokok ajaran Islam kepada penduduk Yastrib.


17. Membunuh anak terutama anak perempuan, adalah hal yang umum dilakukan oleh masyarakat Arab Jahiliyyah pada masa itu. Faktor utama yang membuat masyarakat Arab Jahiliyyah membunuh anak-anak mereka adalah kemiskinan.

18. Berbeda dengan Mekkah, sebelum era Islam, penduduk Yastrib umumnya beragama Yahudi dan Nasrani. Seperti kota-kota di jazirah Arab lainnya pada masa itu, perang antar suku adalah hal yang sangat sering terjadi. Karena penduduk Yastrib adalah ahlul kitab, mereka meyakini bahwa rasul saw adalah manusia yang akan mendamaikan 2 suku Yastrib yang selalu berpeperang, karena itu baik kaum muslim atau non muslim menyambut kedatangan nabi Muhammad dengan suka cita.

19.Dalam beberapa pembahasan sejarah nabi sering kali dikatakan bahwa Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh nabi, Masjid Quba terletak di luar kota Madinah, pernyataan tentang Masjid Quba sebagai Masjid pertama ini tidak tepat karena Masjid Quba walaupun dibangun pada tahun 622 Masehi atau bertepatan dengan peristiwa hijrah nabi ke Madinah, namun bukan didirikan sebagai Masjid. Bagunan ini pada awalnya adalah tempat transit nabi saw sebelum tiba di Madinah menunggu kedatangan Imam Ali dan para wanita dari keluarga nabi. Rasul saw mendirikan bangunan sederhana sebagai tempat tinggal sementara dengan tangannya dan tinggal selama 4 hari di rumah ini. Selama tinggal di rumah ini pula nabi melakukan shalat qashar atau memendekkan shalat yang menandakan bahwa rasul saw tidak berniat menetap namun hanya sebagai tempat pemeberhentian sementara hingga Imam Ali dan para wanita dari keluarga nabi tiba. Setelah wafatnya rasul saw, Bangunan sederhana ini dijadikan Masjid, dan mengalami beberapa kali pemugaran pada masa dinasti Abasiyah, pemugaran terakhir dilakukan tahun 1986 oleh pemerintah Saudi, pemugaran ini telah merobohkan bangunan asli dan mendirikan bangunan Masjid yang baru diatas tanah bekas Masjid yang didirikan oleh Rasul saw.

20. Al jibouri, Yasin T, Konsep Tuhan Menurut Islam,cet.I, Lentera-Jakarta, hal.708


21. Al Jibouri,Yasin T, Konsep Tuhan Menurut Islam,cet.I, Lentera-Jakarta, Hal.478


22. Subhani, Ja’far, Ar-Risalah, cet I, Lentera-Jakarta 1996, hal. 289-290


23. Sumber denah, detail dan keterangan angka kami ambil dari orgawam.wordpress.com yang bersumber dari buku Keajaiban Masjid Nabawi hal.80 yang ditulis oleh M Irawan yang bersumber dari buku ‘Sejarah Madinah’ karya Syaikh Dehlawi (958 H -1052 H) dan beberapa tambahan dari kami yang kami ambil dari buku Konsep Tuhan, Yasin T al Jibouri hal. 708-710 dan ar Risalah oleh Ja’far Subhani.

24. Seperti penambahan maqsurah, atau tempat perlindungan untuk sultan dan para pembesar negeri ketika sholat berjamaah di Masjid. Posisi maqsurah seringkali sejajar dengan Imam sholat, bahkan ada yang posisinya di depan imam sholat, yang tentunya secara fiqh Islam adalah satu kesalahan.
Pergantian khalifah pasca wafat Rasulullah dan perluasan Masjid Nabawi membutuhkan pintu gerbang yang lebih banyak, dibuatlah pitu-pintu baru sesuai kebutuhan pada zamannya.