Fakta Dan Fiksi Sejarah Masjid

Masjid sebagai sumber sejarah Islam di Indonesia

Masjid adalah identitas Islam yang tidak mungkin bisa dipungkiri. Semakin tua masjid yang ada di kota atau wilayah tertentu, menandakan semakin awal agama Islam masuk ke wilayah tersebut.

Demikian pula dengan situs pemakaman muslim kuno, yang umumnya terdapat dalam satu kompleks dengan area Masjid. Pada setiap makam, umumnya terdapat nisan. Nisan adalah peninggalan budaya tertulis sebagai penanda lokasi makam dan informasi ringkas dari tokoh yang dimakamkan di wilayah tersebut. Nisan adalah salah satu bukti tertulis yang jelas tentang sejarah kedatangan Islam di Nusantara. Oleh sebab itu, masjid, makam, dan nisan merupakan tiga sumber sejarah penting kedatangan Islam di Nusantara, maupun di seluruh dunia.

Atap tumpang atau atap bersusun pada Masjid Demak. Sumber foto: koleksi pribadi.
Masjid dan makam Sunan Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur. Salah satu ciri Masjid dan makam kuno adalah kedua bangunan ini berada dalam satu kompleks. Selain Masjid dan makam yang berada dalam satu kompleks, dalam area kompleks masjid kuno juga terdiri atas lembaga pendidikan dan tempat tinggal bagi para pengurus masjid.

Masjid dan makam kuno ini adalah salah satu bukti terpenting kami dalam penelusuran sejarah Islam di Indonesia.

Namun, apa yang terjadi bila bangunan yang seharusnya adalah Masjid dan makam kuno sebagai penanda kedatangan Islam di Indonesia ini dirusak, dihancurkan atau di ubah fungsinya sebagai bangunan lain baik disengaja atau tidak? tentunya perusakan situs ini dapat dipastikan akan merubah jalannya peristiwa sejarah yang terkait dengan Islam.

Sejarah Islam di Indonesia menjadi abu-abu, bahkan gelap, karena dipenuhi dengan ketidak jelasan, ditambah lagi banyaknya sumber-sumber tentang Islam yang hanya diambil dari naskah-naskah Babad atau Wawacan yang sudah disalin berulang kali untuk kepentingan pendidikan atau politik.

Pengetahuan tentang sejarah Islam di Indonesia yang kita ketahui saat ini hampir semuanya adalah tulisan sejarawan era kolonial, yang sering kali bertentangan dengan fakta sejarah yang kami temukan di lapangan. Diantaranya berupa tradisi, keyakinan leluhur Nusantara, dan silsilah tokoh yang kami temukan. Adanya fakta fakta yang berbeda antara teori sejarah Islam dan fakta dilapangan sangat bisa dipahami, karena sejarawan era kolonial saat itu memiliki pengetahuan terbatas tentang ajaran Islam. Selain itu, adanya kepentingan politik kolonial, yang pada saat itu menjadikan Islam sebagai musuh terbesar mereka. Akibatnya, sejarah Islam di Indonesia pun semakin gelap.

Tentunya sangat ironis bahwa negara dengan penduduk mayoritas Islam tapi sejarah Islamnya hingga kini masih menjadi perdebatan dikalangan sejarawan.

Perdebatan yang berkepanjangan ini timbul karena kurangnya mengambil sumber-sumber dari sejarah Islam itu sendiri. Pada umumnya, sejarawan era kolonial dan murid-muridnya hanya mengambil sumber-sumber dari situs arkeologi dan sumber tertulis berupa catatan perjalanan, naskah kuno, dan prasasti yang terkait dengan Indonesia, tidak melihat dari pokok ajaran Islam dan sejarah Islam yang terjadi sejak zaman Rasul saw yang pastinya berpengaruh pada sejarah Islam di Indonesia.

Metode Penelusuran sejarah yang Kami gunakan

Berbagai Metode penelusuran kami gunakan untuk menemukan sejarah masuknya Islam di Nusantara. Metode -metode ini kami gunakan karena banyaknya situs bangunan yang telah dihancurkan, dipalsukan, hilang, atau dipindahkan ke lokasi lain. Demikian pula halnya dengan bukti tertulis yang seharusnya dapat menjelaskan bangunan yang ada, namun karena adanya penyalinan naskah yang berulang-ulang, sejak era kolonial hingga saat ini, menjadikan bukti tertulis tidak lagi dapat diandalkan keakuratannya. berikut beberapa metode yang kami gunakan dalam penelusuran sejarah ini :

1. Melakukan riset sejarah Islam dari berbagai sumber sejarah mazhab untuk mengetahui bagaimana cara rasul menyebarkan syi’ar Islam dari berbagai sudut pandang mazhab.

2. Menelusuri proses awal masuknya Islam hingga warisan Islam bisa tersebar merata hampir diseluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat.

3. Melakukan riset dari berbagai sumber mengenai tokoh-tokoh penerus yang menyebarkan syi’ar Islam setelah rasul wafat dan peristiwa apa yang terjadi dalam sejarah Islam yang terkait dengan penyebaran Islam di Indonesia.

4. Melakukan penelitian mengenai leluhur nusantara dan keyakinannya. Faktor leluhur nusantara dan keyakinannya memiliki peran besar dalam mempercepat perkembangan Islam di Nusantara karena dari berbagai situs arkeologi, temuan-temuan naskah kuno dan dari sumber-sumber lainnya yang kami temukan di berbagai belahan dunia dapat dipastikan Islam telah masuk ke Nusantara sejak zaman Nabi Muhammad SAW atau sejak masa awal perkembangan Islam di Mekkah (610 M–622 M) dan Madinah (622 M-632M).

5. Menelusuri sejarah Masjid dan makam kuno yang tersebar di berbagai belahan dunia. Bangunan Masjid dan makam kuno ini kami pelajari sejarahnya dan bandingkan dengan masjid dan makam kuno di Indonesia. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan fungsi masjid, bukan hanya sekedar bentuk bangunannya, karena bentuk bangunan pasti dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat dimanapun Masjid tersebut berada. salah satu contoh penelusuran dengan metode ini adalah dengan mempelajari sejarah bangunan Masjid dan makam kuno di Indonesia yang umumnya terdiri dari beberapa kompleks bangunan. Tiap-tiap bangunan ini memiliki fungsinya masing-masing. Bangunan yang berada pada masjid dan makam kuno ini kami bandingkan dengan bangunan sejenis di lokasi yang berbeda namun masih digunakan hingga saat ini. Dengan Perbandingan ini kami dapat memperkirakan usia dan fungsi bangunan, baik yang berada di dalam area Masjid atau di luar lokasi masjid kuno. Perbandingan ini sangat penting karena bentuk bangunan masjid kuno sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat, bila tidak mengetahui ini besar kemungkinan bangunan yang harusnya adalah masjid atau bangunan makam di katakan sebagai bangunan lain.

6. Metode berikutnya adalah mengunjungi berbagai situs masjid kuno di Indonesia yang ada hingga saat ini, baik situs secara fisik ataupun virtual (situs-situs online). Melalui situs – situs ini kami mengumpulkan berbagai catatan-catatan kuno, naskah-naskah kuno dan foto-foto lama serta lukisan yang dapat kami temukan tentang masjid dan makam tersebut. Melalaui Data-data ini kami pelajari sejarah bangunannya, sejarah wilayah dan tokoh yang terkait dengan masjid dan makam tersebut.

Sebagai negara yang memiliki penduduk dengan agama mayoritas Islam sejak ratusan tahun lalu, Indonesia memiliki banyak sekali peninggalan-peninggalan Masjid dan makam kuno yang telah berdiri sejak awal kedatangan Islam di Nusantara.

Masjid adalah warisan peninggalan Islam, sementara makam adalah bukti sejarah yang paling akurat dalam memberikan informasi tokoh leluhur yang dimakamkan dan dengan keberadaan makam, menandakan bahwa tokoh yang dimakamkan tentulah beragama tauhid atau monoteisme, dan menjadi salah satu bukti yang penting bahwa tokoh leluhur nusantara bukan beragama Hindu atau Budha seperti yang kita ketahui dalam teori-teori buatan era kolonial dan para murid mereka yang sama sekali tidak menyertakan ilmuwan pribumi ketika pertama kali mengemukakan teori mereka.

Tidak disertakannya sejarawan pribumi dalam pembahasan teori-teori mereka dapat dilihat dari adanya kesalahan-kesalahan remeh namun fatal dalam transliterasi dan penerjemahan bukti-bukti tertulis diantaranya dalam penyebutan gelar ‘Ratu’ yang diterjemahkan sebagai gelar pemimpin wanita yang seharusnya adalah gelar untuk pemimpin laki-laki, atau kata ‘Keraton’ yang seharusnya adalah kota yang dikelilingi dinding dengan kompleks bangunan yang beragam diartikan sebagai istana, dan sebagainya.

Fakta dan fiksi seputar sejarah Masjid dan makam akan kami coba jelaskan bagian perbagian yang dimulai dengan sejarah masjid pada masa Rasulullah saw.

Sumber

Damais, Louis-Charles. 1995. “Epigrafi Islam di Asia Tenggara.” Epigrafi dan Sejarah Nusantara. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional kerjasama dengan Ecole Francaise d’Extreme Orient.

Tinggalkan komentar