Alur Waktu ‘Renovasi’ Borobudur 1835 -1983

Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah

Sejak ditemukannya kembali Borobudur oleh Raffles, tahun 1814, Candi yang menjadi kebanggaan Indonesia ini telah mengalami 4 kali perombakan. 1 kali perombakan kecil dan 3 kali perombakan besar.

Perombakan yang pertama tahun 1814-1815. Perombakan yang pertama ini terbilang kecil dibanding perombakan selanjutnya. Perombakan ini dipimpin oleh H.C Cornelius, utusan Raffles yang ditugasi melihat langsung situs Borobudur untuk pertama kalinya.  Perombakan ini meliputi pembersihan situs dari tanaman liar karena situs ini lama terabaikan.

Perombakan ke-2 tahun 1835 -1872 yang didanai oleh pemerintah kolonial Belanda. Perombakan ini cukup besar karena pemerintah kolonial Belanda menggunakan metode Anastylosis yaitu metode arkeologi dalam merekonstruksi situs bangunan kuno yang hancur dengan mengikuti bangunan kuno yang lain yang diperkirakan memiliki fungsi yang sama. Contoh metode ini diantaranya perubahan berupa penambahan dan pengurangan bagian bangunan pada Borobudur. Penambahan dan pengurangan ini terjadi karena berdasarkan teori sejarawan Belanda saat itu, Borobudur dikatakan sebagai bangunan ibadah umat Budha, maka arkeolog pada masa itu mengambil contoh bangunan yang dianggap memiliki fungsi yang sama dengan Borobudur. Metodelogi ini mendapat kritikan keras dari arkeolog dan sejarawan sejak era kolonial hingga kini karena sering kali merubah bentuk situs kuno.

Perombakan ketiga 1882 – 1911, rekonstruksi Borobudur pada perombakan kedua tidak bertahan lama, 10 tahun sejak Borobudur di buka untuk umum, candi ini kembali ditutup dengan alasan keamanan. Candi ini kemudian dirombak kembali selama 29 tahun.


Beberapa diantara Kerusakan pada teras Borobudur pasca perombakan besar pertama

Perombakan besar ke empat kalinya terjadi pada era Orde Baru dari tahun 1973 – 1983 dengan bantuan dana penuh dari UNESCO

Alur waktu (Timeline) Borobudur

800 M> para peneliti memperkirakan candi Borobudur dibangun pada tahun ini. Tak ada bukti tertulis yang dapat memberikan keterangan. Peneliti menarik kesimpulan melalui temuan huruf pada relief singkat yang terpahatkan di atas pigura pada kaki candi. Berdasarkan pengamatan sejarawan era kolonial huruf ini sejenis dengan apa yang biasa tertera di prasasti dari akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9.

Relief singkat pada pigura panel di bagian kaki Candi Borobudur. Relief singkat ini dikatakan sebagai relief yang biasa terdapat pada abad ke-8 atau ke-9

842> angka tahun yang terdapat pada salah satu piagam zaman Syailendra yang di dalamnya terdapat kata majemuk “bhumisambharabhudhara”. Pada tahun 1952, seorang peneliti Borobudur berkebangasaan Belanda, J.G Casparis (1916-2002), mengatakan kata majemuk tersebut sebagai  nama asli candi yang lambat laun berubah menjadi “Borobudur”.

1709> cerita “ Babad Tanah Jawi” menyebutkan bahwa Borobudur menimbulkan malapetaka. Seorang pemberontak Kerajaan Mataram berlindung dengan bertahan di dalamnya ketika menghadapi bala tentara Mataram. Ia kemudian ditangkap dan menjalani hukuman mati.

1757> Kisah “Babad Mataram” menceritakan tentang seorang pangeran bernama Pangeran Monconegoro berpergian ke candi Borobudur. Pada masa itu keraton Yogyakarta membuat pantangan untuk berkunjung ke Borobudur karena dikatakan membawa sial. pangeran itu tak mengindahkan pantangan tersebut. Ia pergi ke sana lantaran merasa iba pada “satria dalam kurungan” (Satria dalam kurungan ini di tafsirkan sebagai arca Buddha yang terdapat dalam stupa di puncak candi). Setelah kembali ke istana, satu hari kemudian ia meninggal dunia.

1757-1814 > Selama lebih dari 57 tahun, Borobudur menjadi bangunan terbengkalai, karena adanya desas desus sebagai tempat yang membawa malapetaka dan tidak ada orang yang berani mengunjunginya.

1814 > Sir Thomas stamford Raffles sebagai gubernur jendral yang memerintah jajahan Inggris di Jawa (1811-1816) mendapat laporan tentang ditemukannya sebuah monumen diatas bukit yang penuh dengan batu berukir. Monumen ini terabaikan didalam hutan dan berada di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Raffles mengirimkan utusannya, seorang insinyur Belanda bernama H. C Cornelius untuk menyelidiki monument tersebut dibantu penduduk setempat. H. C Cornelius ditambah 200 pekerja membersihkan monument tersebut dari tanaman dan pohon-pohon liar, sehingga terlihatlah monument yang terabaikan tadi.

Ketika menjabat sebagai Gubernur Jendral di Indonesia selama 5 tahun dari tahun 1811-1816, Raffles mendapat informasi tentang keberadaan monumen diatas bukit yang dihiasi batu berukir.

1815> Laporan tertulis pertama dari H. C Cornelius kepada Raffles selesai. Laporan ini diserahkan kepada Raffles lengkap dengan gambar-gambar sketsa tentang Borobudur. Hingga saat ini belum ada gambar atau lukisan resmi yang berasal dari H.C Cornelius, yang dapat dilihat oleh umum. Penggambaran Borobudur hanya dapat di baca melalui tulisan raffles dalam bukunya History of Java.

Renovasi 1835 – 1872

1835> Pekerjaan Cornelius dilanjutkan oleh Hartman – pejabat administrasi Belanda untuk wilayah Kedu.

1842> Hartman menyelidiki tentang menara (kubah) utama pada candi Borobudur – namun karena penyelidikan ini bersifat pribadi dan rahasia, catatan resmi penyelidikan Hartman belum terbuka hingga saat tulisan ini dibuat.

1849> Wilsen seorang perwira Zeni asal Belanda datang ke Borobudur  untuk melakukan pengukuran dan membuat gambar bangunan serta beberapa ratus relifnya. Wilsen melakukan pekerjaan selama empat  tahun.

1856> Brumund, yang ditugaskan pemerintah, berhasil menyelesaikan laporan lengkap mengenai candi.

1859> Gubernur Jendral Hindia Belanda pada saat itu menugaskan secara resmi F. C Wilsen untuk menggambarkan dan mempelajari monument tersebut, dan menggambar ratusan sketsa relif. JFG Brumund ditunjuk pula untuk meneliti monument tersebut lebih lanjut.

1859> laporan resmi  pertama tentang Borobudur selesai dibuat. Pemerintah Belanda menginginkan dibuat artikel tentang temuan ini namun Brumund menolak untuk menertibkan hasil penelitianya.

1860> Pemerintah Belanda menugaskan C. Leemand seorang ahli Mesir kuno Belanda untuk mengumpulkan hasil penelitian dari Brumund dan Wilsen dalam bentuk gambar dan monograph (buku non Fiksi tentang Borobudur).

Conradus Leemand, ahli ilmu Seni Rupa dan Mesir Kuno (egyptologist) yang diperintah oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk membuat monograph Borobudur

1873> Monograph pertama dan penelitian lebih lanjut tentang Borobudur diterbitkan. Foto Borobudur pertama kali diterbitkan untuk konsumsi umum. Foto-foto ini diambil oleh Isidore Van Kinsbergen. Dalam buku ini juga terdapat rancangan atau desain bentuk candi. Diantaranya adalah desain bentuk stupa untuk menutup stupa yang dikatakan rusak. Rancangan Stupa karya Leemand ini yang kemudian di gunakan hingga saat ini.


Stupa hasil karya C. Leemand, yang di gunakan hingga saat ini. Metode ini disebut metode Anastylosis, metode rekonstruksi mengikuti bangunan kuno lain yang di perkirakan memiliki fungsi sama.
Bangunan paling atas yang dikatakan sebagai lokasi stupa yang hilang. sebelum stupa hasil karya C. Leemand selesai, lokasi ini sering dijadikan tempat wisata, karena pemandangannya yang indah.
Borobudur kisaran tahun 1872-1882, setelah renovasi sebelumnya selama 32 tahun. Terlihat pada foto ini Borobudur yang masih terdapat atap kayu dan di gunakan untuk wisata umum.
Foto-Foto Borobudur dari tahun 1872-1882, ketika candi ini dibuka untuk umum

1874> Monograph ini kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Perancis

Drapery motif atau motif berbentuk juntai kain, adalah motif khas Eropa, dari motif ini dapat kami ketahui bahwa Borobudur pada tahun 1872 ini telah mengalami pemugaran dari benyuk aslinya yang di temukan tahun 1814. Bentuk asli Borobudur sampai saat ini belum kami dapatkan gambar/lukisannya kecuali keterangan dari Raffles dalam bukunya History of Java.
Motif drapery pada bagian panel relief lain di Candi Borobudur

Renovasi 1882 – 1911

Foto 1&2, foto2 ini diambil sekitar tahun 1880an, terlihat pada foto ini kerusakan pada beberapa bagian candi, pada gambar diatas kerusakan pada dinding candi dan pada gambar di bawah kerusakan pada lantai atas dan stupa
Kerusakan pada stupa, terlihat pada foto diatas, atap kayu sudah dibuang, kemungkinan pada saat foto ini diambil renovasi berikutnya akan segera dimulai.

1882> Borobudur rusak parah, kerusakannya meliputi :  kondisi teras stupa teratas Borobudur rusak parah, dinding candi lepas, lantai teras turun karena tertampung air hujan. Candi Borobudur kemudian ditutup untuk umum dengan alasan keamanan, karena candi akan runtuh. Pemerintah kolonial memindahkan relief ke museum dengan alasan kondisi monumen yang tidak stabil. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan Groeneveldt– seorang arkeologis untuk meneliti Borobudur lebih lanjut. Dalam laporannya dinyatakan bahwa ketakutan-ketakutan akan keruntuhan bangunan dan sebagainya adalah tidak berdasar, dan menyarankan agar artefak-artefak yang ada dibiarkan saja pada posisinya / tidak perlu adanya relokasi / pemindahan relief.

1890> pemerintah Belanda membentuk panitia khusus untuk merenovasi kembali Borobudur, terutama memperbaiki bagian yang rusak.  Panitia ini terdiri dari J.L.A Brandes, ahli sejarah yang sekaligus menjadi ketua panitia renovasi, Theodore Van Erp, perwira zeni, dan Van de Kamer, insinyur dari Departement Pekerjaan Umum.

Foto saat Renovasi Van Erp, terlihat pada foto diatas kerusakan pada lantai candi akibat menampung air hujan
Proses renovasi candi yang di ketuai oleh J.L.A Brandes dibantu penduduk setempat.
Foto Borobudur sekitar tahun 1890an oleh Kassian Cephas (1845-1912)

1896 > atas persetujuan pemerintah kolonial Belanda, pada saat raja Chulalongkorn dari Siam berkunjung ke Jawa, puluhan artefak pada candi Borobudur di berikan sebagai hadiah. Diantaranya 30 bagian panel relief, 5 arca Budha, 2 patung singa penjaga, 1 patung raksasa, beberapa ukiran kala yang diambil dari gapura pada penghujung tangga. Artefak-artefak ini sekarang tersimpan di Museum National Bangkok.

1905 > renovasi terhenti karena ketua panitia renovasi, J.L.A Brandes wafat falam usia 48 tahun (1857-1905)

J.L.A Brandes, ketua renovasi Borobudur periode 1882-1911. Tahun 1905 Brandes wafat, proyek renovasi sempat terhenti selama 2 tahun, kemudian dilanjutkan kembali tahun 1907 yang di ketuai oleh Theodore van Erp

1907> Theodore Van Erp kemudian ditunjuk oleh pemeribtah kolonial untuk menggantikan Brandes menjadi ketua komisi renovasi yang baru.  Menurut pengamatan Van Erp penyebab kerusakan candi Borobudur adalah curah hujan yg tinggi. T.h. Van Erp memulai pemugaran pada bulan Agustus setelah berhenti selama 2 tahun. Tujuh bulan pertama, Van erp hanya melakukan sejumlah penggalian di halaman candi dan memilih batu candi dari hasil penggalian untuk menggantikan bagian candi yang rusak.

1907-1911 > selama 3 tahun berikutnya, penelitian Van Erp fokus pada bagian-bagian candi yang rusak yang meliputi dinding, lantai teras yang turun karena tertampung air hujan dan stupa yang hancur. Untuk mengatasi masalah ini, Van Erp membangun penambahan saluran air di bawah dinding candi untuk membuang air hujan yang tertampung pada lantai teras atas.

1911 > Renovasi Van Erp selesai. Renovasi yang di lakukan Van Erp antara lain :  Bagian Arupadhatu dengan lingkaran stupa-stupanya dibongkar secara keseluruhan, kemudian dibuat  kembali, membetulkan dinding dan memperbaharui relief yang rusak, menambahkan saluran air pada tiap level lantai Borobudur.

Foto Borobudur hasil renovasi team Van Erp, diambil sekitar tahun 1910-1911 dapat dilihat pada gambar diatas Borobudur hasil renovasi van Erp memiliki menara yang tinggi lengkap dengan hiasan ‘Chattra‘ sebagai penutup menara

1914 = N. J Krom dalam buku Rapporten Van Den Ouheidkundigen Diest in Nederlandsch Indie (ROD) menyebutkan bahwa terdapat beberapa situs yang bersifat Hindu di sekitar Candi Borobudur.

Foto ini diambil sekitar tahun 1920an, terlihat menara tinggi di puncak Borobudur sudah hilang, berdasarkan informasi dari guide dilokasi, penyebab hilangnya menara tersebut karena tersambar petir.

1929 > sekitar 15 tahun setelah renovasi Van Erp, muncul retakan-retakan baru pada dinding. Dari 120 bagian dinding yang berisi relief Budha 40 bagian diantaranya rusak parah. Pada teras di bawahnya, 38 bagian dinding relief mengalami kerusakan yang sama parahnya. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah,  pemerintah kolonial kembali membentuk komisi khusus untuk memantau kondisi pemugaran candi sesudah restorasi Van Erp. Hasilnya, kerusakan candi meningkat. penyebabnya: Korosi, kerja mekanis, dan kekuatan tekanan.
Komisi ini terhenti karena masalah dana yang cukup besar dan dunia sedang masa resesi pasca PD I (1914-1918).

3 nona Belanda berpose di salah satu stupa Borobudur, foto ini diambil sekitar tahun 1920an

1939 > Perhatian terhadap candi melenyap seiring dengan pecahnya perang dunia ke-2. Borobudur kembali terbengkalai hingga tahun 1948.

1948 > Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ditengah kesibukan menghadapi peperangan melawan sekutu, pemerintah Indonesia yang masih sangat muda, memberikan perhatian lebih kepada Borobudur dengan mengundang 2 arkeolog asal India untuk meneliti kerusakan pada Borobudur. Namun tidak ada hasil yang diharapkan.

1951-1953 > Untuk mengetahui lebih dalam tentang Borobudur Pemerintah RI memerintahkan dinas Budaya untuk melakukan ekskavasi pada lahan di sebelah barat Borobudur, namun hanya menemukan sedikit artefak rumah tangga yang menandakan pernah ada pemukiman di sekitar Borobudur. (Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, Hal. 575, penerbit KPG 2012)

1955 > Pemerintah RI meminta bantuan kepada UNESCO untuk mengatasi masalah kerusakan candi. Tahun berikutnya, Prof. Dr. P. Coremans, utusan UNESCO dari Belgia, meneliti penyebab kerusakan candi.

1960-1963 > Besarnya kerusakan candi Borobudur membutuhkan dana yang cukup besar untuk renovasi. UNESCO memberikan sumbangan yang cukup besar untuk renovasi ini, namun tahun 1965 Penelitian terhenti karena kerusuhan politik di Indonesia tahun 1965 – 1967.

1967 > pemerintah kembali mengajukan permintaan bantuan kepada UNESCO. Internasional Conggress of Orientalists ke-27 di Michigan, Amerika Serikat salah satu keputusannya mendesak UNESCO untuk segera membantu menangani kerusakan candi.

1973-1983 > Dana renovasi sumbangan dari berbagai negara Eropa terkumpul hingga US 6.901.243. Dengan dana yang cukup banyak, Pemugaran besar ke- 4 pada masa pemerintahan Soeharto pun dimulai. Tahun 1973 presiden Suharto meresmikan dimulainya renovasi Borobudur.

Situasi renovasi tahun 1973 – 1983, renovasi ini meliputi hampir seluruh bidang Borobudur dari mulai relief, relokasi dan pembuatan arca, renovasi dinding candi. Bisa dilihat dalam foto diatas arca yang di relokasi keluar, yang menyebabkan kerusakan arca seperti pada foto diatas.

1976 > Candi Borobudur resmi diumumkan kepada dunia sebagai candi Budha dan sebagai warisan sejarah dunia. Pada saat itu pula pertama kalinya diadakan ritual Pradaksina yaitu bagian dari ritual agama Budha yang dilakukan dengan cara mengelilingi candi Borobudur dimulai dari lapisan terbawah/Kamadathu – Rupadatu – Arupadatu.

Renovasi Borobudur tahun 1973-1983

Ditulis oleh : Sofia Abdullah

Sumber-sumber

Soekmono, Prof. Dkk, Borobudur, a Prayer in Stone, penerbit Archipelago Press, Singapore, 1990

National Geographic Mag. Edisi Maret 2010

Boechari, Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti, Hal. 575, penerbit KPG 2012)

Raffles, Stamford Thomas, The History Of Java, hal. 374, penerbit Narasi 2014

John Miksic; Marcello Tranchini; Anita Tranchini (1996). Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Tuttle publishing. p. 29. Retrieved 2 April 2012.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Anastylosis

Dan sumber-sumber tertulis lain yang mendukung tulisan ini.

Tinggalkan komentar