Fungsi bangunan kuno seperti candi bisa diketahui melalui :
1. Membandingkan antara bangunan kuno yang memiliki bentuk kurang lebih sama dengan bangunan atau situs yang sedang diteliti dan masih berfungsi sampai saat ini.

2. Mencari informasi tentang fungsi situs dan kondisi wilayah tersebut dari kisah turun temurun penduduk yang tinggal di sekitar lokasi situs atau bangunan kuno di desanya. Contoh : Situs Keraton Ratu Boko yang awalnya adalah Keraton atau kota kuno yang dikelilingi dinding. Candi Pawon yang awalnya berfungsi sebagai ‘Pawon’ atau Dapur.

3. Nama tempat atau desa dimana situs bangunan tersebut di temukan. nama tempat atau desa umumnya diambil dari nama lokasi atau bangunan tertua yang ada di wilayah tersebut, contoh candi Borobudur kata Borobudur diambil dari nama desa Borobudur tempat Candi di temukan dalam kondisi terbegkalai. Situs Prambanan, Situs Sendang Dhuwur dan sebagainya. setiap nama ini memiliki nilai sejarah yang harus dipelajari untuk mengetahui sejarah yang benar bukan hanya mengukuti teori yang sudah dianggap benar.
4. Mempelajari Agama dan keyakinan penduduk sekitar situs berdasarkan pernyataan penduduk setempat untuk menguatkan fungsi bangunan, apakah benar tempat tersebut adalah tempat peribadahan atau memiliki fungsi yang lain bukan dengan membuat teori berdasarkan asumsi agama dan keyakinan yang selama ini diyakini benar, contoh pada era kolonial, tokoh-tokoh sejarah memberi nama Hindu pada agama dan keyakinan penduduk Bali saat itu seperti agama Hindu di India, padahal agama yang dianut penduduk Bali bukan agama Hindu tapi seharusnya Agama Dharma.

Kasus yang kurang lebih sama juga terjadi pada muslim di India, hanya karena mereka tinggal di wilayah Hindustan, penduduk India yang beragama Islam ini dikatakan Hindu. Berbeda dengan pemerintah kolonial Belanda, pemerintah kolonial Inggris kemudian meralat pernyataan yang sudah meluas di kalangan bangsa Eropa ini, lambat laun pernyataan yang salah yang diawali dari sejarawan era kolonial ini pun dikoreksi.
Salah satu contoh kasus bangunan kuno yang memiliki fungsi sangat berbeda antara teori era kolonial dengan fakta di lapangan adalah Situs Keraton Ratu Boko dan Situs Cangkuang.
Situs Keraton Ratu Boko, sesuai dengan namanya adalah situs keraton atau kota kuno bukan situs pemandian putri seperti yang tertulis sejak era kolonial.
Keraton ratu Boko, dari hasil penelitian kami dan jejak arkeologis yg masih dapat dilihat adalah keraton yang memiliki ciri khusus, yaitu kolam-kolam yang cukup banyak. Kolam-kolam ini berfungsi sebagai penampung dan penjernih air, karena kondisi lingkungan di sekitar Keraton yang sulit mendapatkan air bersih. Situs keraton ratu boko memiliki lebih dari 30 kolam dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Tentunya akan terlalu naif bila dikatakan situs ini adalah situs pemandian putri.
Selain kolam yang jumlahnya cukup banyak dengan berbagai ukuran, situs ini juga memiliki saluran air yang bersambung dari kolam yang letaknya paling atas hingga ke wilayah terendah. Dilihat dari banyaknya kolam dan saluran air dan dengan membandingkan dengan situs serupa yang sudah diketahui fungsinya dari berbagai peradaban kuno di Indonesia ataupun Dunia, besar kemungkinan situs ini adalah situs penampung dan penjernih air. Kolam yang berjumlah cukup banyak berfungsi sebagai penampung air, air ini kemudian disaring melalui beberapa kali penyaringan, yang di alirkan dari kolam yang satu ke yang lainnya. Setelah air bersih, air dari kolam-kolam ini kemudian dialirkan kerumah rumah penduduk yang lokasinya dibawah situs kolam. Saluran air kuno hingga ke situs rumah penduduk ini masih terlihat jelas hingga saat ini.
Setiap situs di Indonesia memiliki ciri khas khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan dan sumber daya pada lokasi dimana situs ini berada.
Ditulis oleh Sofiaabdullah
Dari berbagai sumber terkait
Tinggalkan komentar