Situs bangunan kuno adalah bukti yang sangat penting dalam memahami sejarah indonesia.
Dalam buku buku-buku sejarah, ketika menjelaskan strukur bagunan kuno, yang berbentuk seperti candi, apapun fungsinya seringkali terdapat kata kata: “bangunan bercorak hindu budha” kemudian disusul kisah yang terkait dengan teori Hindu Budha sebagai corak bangunan tersebut.
Pemahaman yang benar, seharusnya kalimat tersebut di balik, menjadi “bangunan Hindu Budha atau bangunan kuno apapun bercorak tradisi nusantara”. Bentuk bangunan adalah hasil karya budaya yang mengkuti tradisi setempat dan memiliki fungsi beragam.
Dalam menyebarkan agama, agar ajarannya dapat dimengerti oleh masyarakat setempat, dalam penyampaiannya harus mengikuti tradisi dimana pun agama tersebut disebarkan, tanpa melanggar norma agama yang diajarkan.
Lain hal nya di Indonesia, negeri yang kaya dengan suku bangsa, budaya dan tradisi ini seolah tidak memiliki ciri dan tradisi asli, semua warisan sejarah budaya berupa situs bangunan yang indah dan rumit, baik itu masih berupa Candi atau yang masih berfungsi sebagai Masjid dan makam dikatakan sebagai bercorak Hindu Budha, hanya karena bentuk bangunannya menyerupai candi.
Faktanya setiap bangunan peribadahan baik Agama Hindu, Budha ataupun Islam memiliki karakter atau ciri khas yang berbeda pada tiap-tiap bangsa. Seharusnya demikian pula halnya dengan bangunan yang ditujukan sebagai tempat ibadah di Indonesia, memiliki ciri khas tradisi budaya lokal seperti yang kami katakan tadi selama tidak melanggar prinsip ajaran agama Hindu, Budha ataupun Islam.


Adanya ungkapan bangunan yang bercorak Hindu-Budha awalnya berasal dari sejarawan Belanda yang sering kali merendahkan budaya dan tradisi nusantara dalam teori-teori sejarah buatan mereka. Seharusnya dalam menjelaskan situs bangunan kuno, apapun fungsinya harus dikaitkan dengan tradisi nusantara, atau bangunan peribadatan yang mengikuti tradisi bukan sebaliknya, bangunan peribadatan mengikuti agama.

Kuatnya teori Hindu Budha yang di buat pada era kolonial dan diturunkan dari generasi ke generasi, dari guru ke guru selama lebih dari 200 tahun, menjadi salah satu penyebab kesalahan fatal dalam memahami sejarah indonesia, yaitu dengan mengaitkan hampir seluruh warisan bangunan kuno yang dibuat sebelum era kolonial seperti candi sebagai bangunan peribadatan Hindu-Buddha.
Faktanya candi memiliki fungsi beragam bukan hanya berfungsi sebagai bangunan peribadatan Hindu Budha, diantaranya sebagai kompleks perumahan, peribadahan, makam, sumur, kolam penampung air, batas kota atau wilayah dan sebagainya.



Sebagai pembanding dengan teori teori Candi yang dibuat pada era kolonial, kita harus mulai belajar memahami fungsi bangunan pada situs bangunan kuno berdasarkan ciri bangunannya. Bagaimana cara memahami fungsi situs bangunan kuno ini? Pada bagian berikutnya kami akan mencoba menjelaskan cara yang mudah dan diakui dalam dunia penelitian sejarah.
Bersambung ke bagian 2
Tinggalkan komentar