Keramik China, Jepang atau Lokal?

Studi Banding Keramik Sebagai Sumber Sejarah Pada Situs Keraton, Masjid dan Makam Kuno


Hiasan keramik pada situs keraton kasepuhan, Cirebon
Hiasan Keramik pada situs makam Sunan Gunung Jati, Cirebon


Bila kita mengunjungi situs-situs bangunan kuno seperti makam dan Masjid yang tersebar di Indonesia khususnya pulau Jawa, dan terutama sekali masjid dan bangunan makam kuno di wilayah Cirebon,  kita akan melihat hiasan berupa piring atau mangkok sebagai hiasan dinding dan gapura. Bila kita bertanya pada guide setempat, guide tersebut akan mengatakan bahwa keramik-keramik tersebut buatan China, dan mengaitkan keramik-keramik tersebut dengan tokoh wali atau raja yang dimakamkan di situs tersebut dengan tokoh-tokoh kekaisaran China.

Benarkah demikian? Benarkah keramik-keramik yang menjadi hiasan dinding beberapa situs kuno ini buatan Cina? berikut adalah hasil penelusuran kami mengenai keramik tersebut dibantu oleh Nara sumber kami, Doktor Alberta Hayundanti, spesialis Material Culture, ahli dalam bidang keramik lulusan terbaik senirupa ITB dan melanjutkan gelar doktor Senirupa di Univ. Kyoto Seika Jepang, yang telah melakukan penelitian keramik-keramik yang menjadi hiasan pada situs-situs kuno di Indonesia.

Keramik yang ada pada hampir tiap makam, gapura dan bangunan keraton yang masih ada hingga saat ini di Indonesia khususnya Jawa Tengah adalah salah salah satu sumber sejarah, dan bukti penting adanya hubungan antara situs dengan pemilik situs. Itu sebabnya penting bagi kami untuk melakukan penelusuran ini, untuk menentukan otentik atau tidaknya kisah sejarah yang beredar yang terkait dengan keramik yang menjadi hiasan pada situs tersebut.

Keramik pada situs pemakaman dan Kaitannya dengan Hubungan Bilateral antara Belanda dan Jepang

Tahun 1543, Bangsa Eropa pertama kali tiba di Jepang. Pada masa ini Bangsa Eropa belum mengenal makan dengan menggunakan piring keramik, umumnya bangsa Eropa makan, minum menggunakan piring dan gelas dari tanah liat, dan makan dengan menggunakan tangan (1). Ketika Bangsa Eropa sampai ke jepang, mereka merasa kagum dengan peralatan makan dari keramik yang sudah tersebar luas di jepang saat itu.

Keramik Jepang yang berfungsi sebagai piring, pada masa ini umumnya bangsa Eropa hanya mengenal alat makan dari gerabah bukan piring keramik

Sejak 1639, hanya Belanda, satu-satunya negara Eropa yang dapat melakukan hubungan dagang dengan Jepang, masuk pertama kali melalui pelabuhan Nagasaki dengan kota Dashima sebagai pos perdagangan Jepang dengan Belanda

Kota Dashima, Nagasaki, satu-satunya kota yang menjadi pos perdagangan Jepang – Belanda pada abad ke-17 (mid edo)
Lukisan jepang yang menggambarkan hubungan Belanda dengan wanita Jepang. Lahirnya generasi campuran Belanda Jepang adalah salah satu efek dari era ini yang pengaruhnya sampai ke wilayah-wilayah yang menjadi jajahan Belanda, diantaranya Indonesia

Sentra pengrajin keramik Jepang Barat di daerah Arita dan Imari, menarik perhatian Belanda karena sudah mampu membuat alat makan dari keramik (pada abad 16-17, masyarakat Eropa belum mengenal piring makan porselen/ keramik stoneware mereka menggunakan bahan lain seperti perunggu, tembaga dan kayu).  Ketertarikan Belanda ini kemudian berlajut dengan hubungan dagang.

Tahun 1800 an awal, Belanda memonopoli semua perdagangan keramik dari 2 kota ini. Semua pemesanan keramik dari jepang melalui perusahaan dagang Belanda. Dalam tiap pelayarannya, kapal-kapal dagang Belanda membawa Ribuan keramik dari Jepang Barat tepatnya dari wilayah Arita dan Imari ke Eropa melalui jalur sutera laut yang transit di Batavia sebelum melanjutkan perjalanan ke Eropa.

Beberapa muatan tersebut ditemukan juga di kapal Belanda yang karam dekat perairan wilayah Cirebon sebelum tiba di Batavia. Jejak keramik tersebut saat ini dapat dilihat di Kasepuhan Cirebon, digunakan untuk menghiasi dinding keraton, Masjid, bangunan Makam dsb.

Hiasan keramik pada gapura dan dinding menuju makam sunan Bonang

Dari motif gambar pada keramik, serta pewarna glasir biru muda yang menunjukkan kuantitas kobalt (zat pewarna biru) yang digunakan, diketahui bahwa usia keramik TERTUA yang ditemukan dalam hiasan dinding tersebut tidak lebih dari 200 tahun atau dibuat sekitar tahun 1800an awal.

Berikut adalah ciri keramik jepang pesanan VOC antara thn 1639-1750-an (mid-edo) dan perbandingannya dengan keramik yang ada di situs bangunan kuno, terutama bangunan Masjid dan Makam :

1. Ciri keramik Jepang pertengahan zaman Edo terutama dari daerah Imari khas dengan warna biru tuanya. warna biru tua ini dihasilkan dari bahan pewarna khusus yang bernama kobalt. Bahan pewarna kobalt ini diambil dari batu yang bila terkena panas akan terjadi reaksi kimia hingga menimbulkan warna biru tua. Batu yang mengandung kobalt ini, pada masa itu hanya ada di wilayah Imari  yang terkenal sebagai penghasil kobalt dengan kualitas yang terbaik.


2. ‎Warna biru memang dominan dan menjadi ciri khas khusus keramik buatan Jepang, namun terdapat juga warna-warna lain yang diambil dari proses kimiawi tanah, seperti warna merah dan coklat diambil dari zat ferum, dsb.


3. ‎Kualitas keramik sangat baik, halus sementara kualitas keramik yang ada di situs situs kuno, tebal dan kasar sangat jauh berbeda dengan buatan Imari, yang menandakan bahwa keramik-keramik tersebut buatan pengrajin lokal yang tidak terlatih (unskilled).


4. ‎Warna biru keramik memiliki garis yang tebal, sementara yg ada di kasepuhan dan beberapa situs kuno, warna birunya cenderung pudar, tipis.


5. Motif Lukisan sangat detail, hingga jelas perbedaan antara rumput dan bunga, sementara yg ada di situs-situs kuno kita lukisan tidak detail, sukar membedakan antara rumput dan bunga, terlihat jelas yg membuat tidak terlatih (unskilled).

Kesimpulan :

1. Dari penjelasan diatas, keramik yang dijadikan hiasan pada dinding Masjid kuno, bangunan makam dan situs-situs kuno lainnya, terbukti BUKAN dari Cina abad ke 14 atau 15, tapi TIRUAN dari keramik buatan IMARI, JEPANG yang penduduknya telah terlatih berabad-abad membuat keramik khas tersebut. Keramik ini kemudian dipasarkan oleh Belanda ke Eropa dan Indonesia. Karena hanya Belanda yang berhubungan dengan Jepang saat itu, keramik-keramik ini kemudian dikenal, hingga saat ini sebagai ‘keramik belanda’.

2. ‎Satu-satunya negara Eropa yang dapat melakukan transaksi dengan Jepang pada Era itu hanya VOC-BELANDA, yang artinya, keramik tersebut juga membuktikan bahwa tidak ada kaitan antara para wali yang dimakamkan di situs tersebut atau Masjid yang dihiasi dengan keramik yang meniru buatan Jepang dengan tokoh-tokoh Tionghoa yang dikatakan sebagai asal atau tokoh yang memberikan keramik tersebut sebagai hadiah.

3. ‎Poin 1 sampai dengan 4 cukup menandakan bahwa keramik yang ada pada situs bangunan kuno di Indonesia dan sebagian di Malaysia merupakan replika/ tiruan masa sesudahnya yang dibuat sekitar tahun 1800an akhir hingga awal 1900an dan bahkan ada diantara keramik-keramik ini yang lebih muda lagi usianya, yang menurut perkiraan narsum dibuat kisaran tahun 1960an oleh pekerja yang tidak terlatih.

Perbandingan lukisan dan sejarahnya yang lebih detail dapat dilihat dalam buku guide to Edo tokyo museum

Semoga apa yang telah kami telusuri tentang sejarah keramik pada situs makam khususnya di Jawa dapat membuka jalan bagi para peneliti lain, para sejarawan dan arkeolog untuk lebih kritis dalam menelusuri sumber sejarah.

Ditulis oleh Sofia Abdullah
Narsum: Alberta Haryudanti S.Sn, MA Spesialis: Material Culture

Sumber-sumber

1. Kunjungan langsung oleh penulis dan narsum ke berbagai situs keraton, makam dan masjid dengan hiasan keramik
2. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dejima
3. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Imari,_Saga
4. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Imari_ware
5. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arita_ware

Tinggalkan komentar