Faktor perdagangan dan hijrahnya berbagai bangsa ke nusantara menjadikan leluhur Nusantara memiliki perdaban yang tinggi pada masa lalu. Sebagai bangsa yang memiliki perdaban tinggi, sejarah menjadi hal yang sangat penting sebagai bekal bagi generasi berikutnya. Namun sejarah seringkali rusak atau dirusak karena konflik kekuasaan atau perkembangan zaman dari satu era ke era berikutnya.
Karena faktor ini pula leluhur Nusantara banyak menyimpan kisah sejarah negeri ini bukan hanya melalui kitab-kitab tertulis namun juga melalui berbagai karya seni budaya, dari mulai seni bangunan, tembang-tembang, pantun, hingga permainan anak. Tradisi menyimpan sejarah dalam seni budaya terbukti lebih lekang daripada buku-buku sejarah yang rentan dipalsukan atau hilang seiring dengan bergantinya penguasa.
Tembang Bubuy bulan adalah salah satu tembang diantara tembang-tembang nusantara kuno yang memiliki makna tersembunyi dibalik kata-kata yang dituturkan dalam tembang ini. Tembang ini telah ratusan tahun beredar dan dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Berdasarkan penelusuran sejarah yang kami lakukan tembang ini kemungkinan dibuat diakhir tahun 1800an hingga awal tahun 1900an.
Karena usianya yang sudah sangat tua, tembang ini sudah tidak diketahui lagi siapa penciptanya. Namun bila pun ada yang mengatakan sebagai penciptanya, tidak lebih hanya merubah susunan atau irama musiknya, bukan liriknya.
Dari generasi ke generasi kita dapat mengetahui bagaimana cara melantunkan tembang Bubuy Bulan ini. Tembang Bubuy Bulan seharusnya dimainkan dengan ritme lambat, dengan iringan instrumen alat musik kecapi dan suling.
Berikut sya’ir tembang Bubuy Bulan dan arti harfiahnya :
Bubuy bulan-bubuy bulan sangray bentang
Arti : Bulan di bubuy, Bintang di sangrai. Kata ‘Bubuy’ arti harfiahnya adalah proses memasak dengan cara membenamkan daging atau bahan masakan lain kedalam tumpukan bara (arang atau kayu bakar yang sudah dipanaskan dalam api)
Sangray adalah proses memasak diatas penggorengan tanpa menggunakan minyak.
Panon poe-panon poe disasate
Arti : Matahari disate berkali-kali (sasate mengandung arti pengulangan),
Unggal bulan-unggal bulan abdi teang, Unggal poe-unggal poe oge hade
Setiap bulan muncul (setiap malam) saya mencari, demikian pula pada pagi harinya saya terus mencari tapi sama saja, tidak ada hasil/ tidak menemukan apa yang dicari, yaitu jejak bulan, bintang, matahari.
Situ Ciburuy laukna hese dipancing
Danau Ciburuy, ikannya susah di pancing
Nyeredet hate ningali ngeplak caina
“Nyaredet hate” = sedih susah ngenes, pilu, sakit hati yang luar biasa tapi gak ada yang bisa diperbuat.
Ningali ngeplak cai na = melihat air yang putih bersih/bercahaya yang membanjir atau meluap atau tumpah. Cai dalam sastra sunda seringkali digunakan sebagai simbol darah, kalimat ini juga memiliki makna ‘DARAH SUCI’ atau air yang sangat jernih.
Duh eta saha nu ngalangkung unggal enjing
Duh, siapakah itu yang hadir/lewat setiap pagi
Nyaredet hate ningali sorot socana
mengiris hati melihat (mengingat) sorot matanya (yang tegas).
*Sorot socana; pandangan mata yang tegas, untuk laki-laki, lawannya Cai socana; pandangan mata yang lembut.
PEMBAHASAN
SEJARAH SINGKAT LATAR BELAKANG PENAFSIRAN TEMBANG BUBUY BULAN
Bagaimana cara mengetahui makna dibalik warisan seni budaya Nusantara yang tersebar di seluruh Indonesia ini?
1. Mengetahui sejarah Islam terutama sejarah Rasulullah saw dan keluarganya. Karena pada umumnya seni budaya nusantara banyak menggunakan simbol-simbol atau ungkapan yang terkait erat dengan sejarah Islam. Simbol dan ungkapan ini banyak digunakan oleh penyair Arab dan persi dalam karya sastra mereka sejak ribuan tahun lalu. Simbol dan ungkapan ini akan segera dapat diketahui oleh para peneliti yang telah mempelajari dan memahami sejarah Islam dan sejarah Rasul saw, keluarga serta para sahabat. Dengan memahami makna simbol dan ungkapan para peneliti dapat mengerti pesan dan makna yang tersimpan didalamnya. Contoh; badru artinya purnama sering dijadikan sebagai gambaran nabi dan rasul saw, bentuk jamaknya budur yang artinya para purnama, najm/nujum artinya bintang simbol dari keluarga rasul saw, Syam artinya matahari atau cahaya matahari simbol dari para sahabat, ulama yang meneruskan ajaran Islam atau mereka yang hidupnya untuk umat, memberikan penjelasan, memberikan pengetahuan kepada yang tidak tahu.
2. Mengetahui atau sedang meneliti sejarah Islam di Nusantara. Seperti yang kita ketahui, sejarah yg kita kenal saat ini sebagian besar bersumber dari naskah-naskah salinan yang dibuat oleh sejarawan era kolonial Belanda dengan sumber yang masih diragukan oleh sebagian ahli sejarah karena banyak bertentangan dengan sumber sejarah lokal.
Dalam tembang ini kita dapat “membaca” sejarah Islam di Nusantara melalui simbol-simbol tokoh dan peristiwa seperti yang umumnya terdapat dalam Al Qur’an, tafsir karya sastra arab, syair, do’a dan Qosidah yang berisi pujian, berita, kisah tentang nabi Muhammad dan keluarganya. Sejarah yang terdapat dalam tembang kuno bukan saja sejarah Islam umum dikenal tapi juga sejarah berdasarkan hasil riset terbaru dan fakta yang tersebar di berbagai daerah.
Tembang Bubuy Bulan adalah salah satu tembang yang mengisahkan tentang pembantaian para ulama pengikut keluarga nabi yang pernah terjadi di bumi Parahyangan. Pembantaian ulama ini adalah hasil akhir dari pergolakan politik dan kudeta pemerintahan di jawa yang pada awalnya ulama atau dewan wali sebagai pemegang kedudukan tertinggi yang kita kenal dengan ‘kasunanan’ menjadi sistem kerajaan, ditandai dengan berdirinya Mataram Baru (Islam) yang menjadikan Jawa di bawah kekuasaan kerajaan Turki Usmani.
Pergantian sistem pemerintahan ini mendapat banyak perlawanan dari daerah-daerah sebelumnya yang berpihak pada pemerintahan Kasunanan. Pihak yang pro Mataram Baru mencurigai para ulama dan tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai dewan ulama sebagai dalang perlawanan rakyat.
Dari kecurigaan inilah pembantaian ulama, keluarga dan murid-muridnya yang tidak mau mengakui pemerintahan Mataram Baru dimulai, diawali pada era Sultan Agung Hanyokrowati hingga puncaknya pada era Amangkurat I & II.
Setelah Mataram Baru terbagi 2 ditandai dengan perjanjian Giyanti tahun 1755 dan pemerintah kolonial menjadi pemegang kekuasaan tertinggi, kedudukan ulama, para santri dan pesantren sebagai pusat pendidikan terpadu di Nusantara sampai dengan era kolonial tetap menjadi pusat kecurigaan pemerintah kolonial sebagai tempat makar yang posisinya harus di kerdilkan. Kecurigaan ini menyebabkan pembantaian ulama, perusakan tempat-tempat ibadah dan pendidikan di Nusantara terus berlangsung.
SEJARAH SINGKAT MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA
Berdasarkan penelitian terkini, Islam masuk ke wilayah nusantara sejak era Rasul saw masih hidup, bahkan bersumber dari temuan terbaru berupa makam dan silsilah tokoh di Nusantara, dapat diketahui para utusan Rasul saw telah memasuki Nusantara sejak era Makiyah atau masa sebelum hijrah nabi saw ke Madinah.
Masa ini disebut dengan ‘masa para utusan’ yaitu dengan diutusnya para sahabat terpilih yang memiliki akhlak, kepandaian, kefasihan dalam bicara dan menyampaikan ajaran Islam dengan sempurna. Dengan perilaku para utusan rasul saw yang akhlak dan toleran ditambah lagi karena keyakinan asli penduduk Nusantara yang merupakan salah satu cabang dari agama-agama tauhid didunia, maka Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara yang memang 1400 tahun lalu jumlahnya masih sangat sedikit .
Faktor penting berikutnya yang menyebabkan Islam mudah diterima oleh penduduk Nusantara, dan tersebar merata hampir diseluruh Nusantara selain karena memiliki konsep keyakinan yang hampir sama adalah faktor HIJRAH-nya umat muslim dari tanah Arab, Persia dan sekitarnya ke wilayah Nusantara.
Gelombang hijrah ini terjadi setelah peristiwa pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husein as dipadang Karbala atas perintah Yazid bin Muawiyyah bin Abu Sufyan yang mengaku muslim tapi sangat membenci keluarga rasul saw.
Setelah peristiwa karbala para pengikut atau pembela keluarga Nabi atau AhlulBait dianggap sebagai pemberontak, dicari kemudian dibunuh secara masal atau diperbudak baik pria, wanita bahkan anak-anak. Peristiwa pembantaian inilah yang menyebabkan HIJRAH-nya kaun Syiah AhlulBait ke Nusantara dan wilayah Asia Tenggara lainnya.
Hijrah ini terjadi secara bergelombang. Gelombang hijrah yang pertama dan terbesar terjadi sejak awal tahun 700an Masehi, pasca peristiwa tragedi Karbala yang terjadi pada tanggal 10 muharram 681 M, gelombang hijrah berikutnya mengikuti perkembangan politik saat itu.
Atas izin penguasa setempat yang sebagiannya adalah keturunan para utusan rasul saw yang telah menduduki jabatan kekuasaan di wilayah tertentu, para Muhajirin yang terdiri atas kaum syiah dan keluarganya ini membuka lahan baru. Mereka berdagang dan menikah dengan penduduk setempat dan melahirkan kaum muslim generasi berikutnya setelah generasi para utusan Rasul saw.
Tahun 800an M, 200 tahun setelah masuknya Islam di Nusantara, kesultanan-kesultanan Islam sudah tersebar dimulai dari Pasai, Pereulak, Barus, Champa, hingga ke pulau Jawa. Penelitian ini berdasarkan beberapa bukti yang kami temukan berupa makam, kitab Undang-Undang Pelabuhan, Silsilah penduduk, tradisi dan seni budaya.
Dari hijrahnya kaum muslim syiah inilah lahir generasi-generasi syiah berikutnya yang melestarikan tradisi nusantara dan sangat menghormati dan mencintai keluarga nabi. Penghormatan dan kecintaan kepada Rasul saw dan keluarganya mereka wujudkan dalam bentuk berbagai rupa karya seni yang merupakan perpaduan dengan budaya setempat, contoh bangunan Masjid kuno yang tersebar di Nusantara umumnya memiliki ciri khas atap Masjid bersusun 3 sampai 5, pintu gerbang utama 2, pintu masjid 5, berjendela 12 atau 14.

Angka-angka tersebut memiliki arti :
– Angka 3 memiliki arti dalam kehidupan seorang muslim harus mencintai 3 hal yang saling terkait yang satu sama lainnya tidak mungkin terpisahkan yaitu : ALLAH SWT, RASUL SAW, dan AHLULBAIT.
– Angka 5 adalah makna dari keluarga nabi (Ahlulbait Nabi). Seorang muslim tidak akan menjadi muslim yang benar (mukmin) tanpa kecintaan kepada Rasul saw, kecintaan kepada Rasul tidak akan sempurna tanpa mencintai Keluarganya yang disucikan yaitu Rasulullah saw, Siti Fatimah, Sayyidina Ali dan kedua cucu nabi saw Imam Hasan dan Imam Husein as, keluarga suci nabi ini adalah makna dari angka ‘5’.
– Angka 12 adalah 12 Imam yang diyakini kaum Syiah AhlulBait sebagai para WaliAllah yang meneruskan ajaran Rasul saw kepada kaum muslim. Mereka, 12 Imam ini adalah sosok yang harusnya diikuti dijadikan panutan dan pemimpin. Bagi kaum Syiah Ahlulbait Mereka adalah pemimpin kaum mukmin yang sejati. 12 Imam ini memimpin kaum muslim dari generasi ke generasi hingga akhir zaman kelak, di awali dari Sayyidina Ali kw, Imam Hasan al Mujtaba, Imam Husein as Syahid, Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ja’far As Shodiq, Imam Musa al Kadhim, Imam Ali ar Ridho, Imam Muhammad al Jawad, Imam Ali al Hadi, Imam Hasan al Askari dan Imam terakhir yang kelak akan dimunculkan di akhir zaman yaitu Imam Mahdi al Muntadzar as.
– Sementara angka 14 adalah simbol dari 14 Manusia suci yaitu Rasul saw, Fatimah az Zahra & 12 Imam.
Selain ditemukan dalam bangunan Masjid, makam, benteng dan tatakota dalam keraton, angka-angka ini juga terdapat dalam tarian, seni pantun, bela diri. Nama Imam AhlulBait juga sering kali menjadi sebutan untuk benda yang sejarahnya terkait dengan sejarah ahlul bait, contoh kata Ali atau Ali-Ali digunakan utk menyebut kata cincin. 14 lubang dalam permainan congklak. Sebutan Haram Ja’dah/Jadah bagi wanita yang melakukan perbuatan hina, karena kata ‘Ja’dah’ diambil dari nama istri yang meracuni Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib karena tergiur harta yang dijanjikan oleh penguasa saat itu.
DEWAN WALI
Sejak terbentuknya pemerintahan Islam di Indonesia yaitu sejak tahun 800an Masehi hingga 1600an, struktur pemerintahan yang digunakan adalah gabungan antara pemerintahan Islam dengan struktur pemerintahan masyarakat setempat terdahulu. Struktur pemerintahan ini terdiri atas Dewan Ulama sebagai struktur kepemimpinan tertinggi, Dewan Ulama ini menunjuk para sultan atau kepala daerah, dan seterusnya.
Dewan Ulama ini dalam karya sastra dikenal dengan sebutan WALISONGO. Sistem pemerintahan dewan wali ini bertahan hingga tahun 1600an, sistem pemerintahan Dewan Wali ini DIBUBARKAN pada era Mataram Baru yang merupakan perpanjangan tangan dari Kesultanan Turki Usmani yang mulai menjalin hubungan dengan kesultanan di Nusantara sejak tahun 1500an.
Pergantian struktur pemerintahan dari DEWAN WALI ke sistem KERAJAAN atau kesultanan dilakukan dengan cara Kudeta, yang melahirkan perlawanan para Ulama dan rakyat Nusantara yang menolak pergantian kekuasaan ini.
Perlawanan kaum Ulama dan Rakyat Nusantara ini telah menimbulkan korban jiwa dan materi yang sangat banyak, peristiwa menyedihkan dan tragis yang terjadi pada era ini kemudian direkam dalam bentuk kisah-kisah babad, pantun, gendhing (Puisi atau lagu sedih yang dibawakan dengan iringan instrumen tradisional, di Jawa Barat dengan iringan kecapi, di Jawa tengah dengan iringan gamelan dsb)
Perlawanan kaum Ulama dan pemerintah Mataram yang paling memiliki kesan mendalam di hati rakyat Jawa Barat dan Jawa Tengah adalah perlawanan kepada penguasa Mataram yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar dan para pengikutnya yang berakhir dengan terbunuhnya Syekh Siti Jenar dan 3000 orang muridnya oleh pasukan gabungan Mataram Baru dan VOC.
Berbagai cara digunakan oleh rezim Mataram Baru untuk menghinakan kedudukan Syekh Siti Jenar, dari mulai dikatakan sesat, kafir hingga dikatakan dibunuh oleh Dewan Wali, padahal pada era Syekh Siti Jenar Dewan Wali sudah dibubarkan oleh Mataram Baru. Namun bagaimanapun jahatnya fitnah yang dilontarkan kepada Syekh Siti Jenar, masyarakat JawaBarat khususnya wilayah Cirebon dan Jawa Tengah masih sangat menghormati beliau.
Kesalahan Syekh Siti Jenar yang menyebabkan beliau dan murid2nya dihukum penggal hanya karena beliau bermzhab Syi’ah AhlulBait dan sebagaimana ciri ulama yang disegani selalu mengingatkan siapapun yang berbuat dzalim. Mataram Baru memang kerajaan Islam, tapi jelas BUKAN kerajaan Islam pertama di Nusantara. Mataram Baru adalah Islam garis keras yang dengan mudah mengatakan ‘kafir’ hanya karena perbedaan Mazhab.
Sebagai perpanjangan kekuasaan Turki Usmani di Nusantara, Mataram Baru menyebut kerajaannya sebagai kerajaan Islam, sementara pemerintahan Islam terdahulu yang juga sama Islam, seperti pajang, Demak, Banten dsb, karena berbeda mazhab dikatakan sesat, kerajaan/pemerintahan tersebut baru dikatakan Islam setelah berhasil mereka kuasai, dan anggota keluarga para sultan terdahulu mereka bunuh baik secara licik atau peperangan.
MAKNA TEMBANG BUBUY BULAN
Bubuy bulan = bulan di bubuy, kata ‘bulan’ dalam tembang ini bermakna Rasullullah Saw. Kata ‘bulan’ sebagai simbol Rasul saw dalam syair-syair kuno berbahasa Arab bukan hal baru, seperti kata ‘Badru’ yang artinya ‘Bulan Purnama’ dalam qosidah ‘Thola’al Badru Alaina’ yang artinya telah datang Bulan Purnama kepada kami. Bulan purnama disini adalah Rasullullah saaw. Jadi makna kata ‘bulan’ dalam lagu “Bubuy Bulan” adalah pribadi atau ajaran Rasullulah saaw.
Kata ‘Bubuy’ arti harfiahnya adalah proses memasak dengan cara membenamkan daging atau bahan masakan lain kedalam tumpukan bara (arang atau kayu bakar yg sudah dipanaskan dalam api). Bila disatukan kata ‘Bubuy Bulan’ bermakna penyembunyian atau sesuatu yang ditutupi dengan sengaja atau pembumi hangusan ajaran atau pribadi rasulullah saw serta para Imam AhlulBait, para ulama keturunan Rasul saw.
Sangray Benthang = Bintang di sangray. Sangray adalah proses memasak diatas penggorengan tanpa menggunakan minyak.
Kata ‘Bintang’ secara makna adalah perlambang dari Ahlul Bait Rasulullah saw, seperti dalam hadits: “Bintang-bintang adalah penunjuk bagi pelaut agar tidak tersesat, dan ahlul baitku adalah bintang-bintang bagi umatku, yang bila berpegang pada mereka niscaya akan selamat dunia akhirat.” Dalam lagu ini para ulama terdahulu ingin menunjukkan kepada kita betapa ajaran Rasulullah saw yang telah diteruskan kepada ahlulbaitnya sebagai wasi’ atau penjaga agama rasul telah di “sangray”, maksudnya telah dikhianati dengan cara yang kejam.
Peristiwa pembantaian Imam Husein, cucu Rasul saw dan keluarga serta sahabatnya yang mulia di tanah karbala, adalah peristiwa terdzalim yang pernah terjadi di muka bumi. Dengan berbagai cara penguasa lalim berusaha menyembunyikan peristiwa ini agar kaum muslim tidak mengetahui sejarah kelam Islam setelah wafatnya rasul yang dilakukan oleh golongan yang mengatakan bahwa mereka beragama Islam.
Dengan dalih apapun apakah mungkin, seorang yang merasa dirinya muslim dan mencintai rasul saw, akan membantai Imam Husein? cucu yang beliau saw sangat cintai? Inilah fitnah terbesar dalam sejarah Islam, ujian keimanan bagi kaum muslim sepanjang masa apapun mazhab yang dipilihnya, pengorbanan imam Husein di padang karbala seharusnya menjadi simbol perjuangan abadi melawan kaum munafik.
Panon poe, panon poe disasate = matahari disate berkali-kali (sasate mengandung arti pengulangan), matahari mengandung arti para ulama yang menyampaikan ajaran Rasul dan ahlul baitnya. Kedudukan para ulama dalam ajaran Islam sering kali diibaratkan bagaikan “cahaya”, karena iman dan ilmu adalah cahaya yang menerangi umat Islam dikegelapan, gelap adalah simbol kebodohan, terang adalah simbol pengetahuan, seperti yang tercantum dalam Qs al Baqarah : 257 : Allahuwaliyul ladzina amanu yukhrijuhum minadz dzulumati ilan Nuur (Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
Para ulama yang di ibaratkan bagai matahari (Panon Poe) memancarkan cahaya keseluruh umat, memberikan penerangan-penerangan hingga manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Namun matahari-matahari ini di SASATE, yang mengandung arti dibantai, dibunuh BERULANG KALI, DARI GENERASI KE GENERASI dengan kejam dan licik, agar ajaranya hilang dari muka bumi.
Tujuan pembantaian para ulama ini adalah demi langgengnya kekuasaan atau demi tujuan politik penguasa yang dzalim, karena penguasa yang lalim selalu akan bertentangan dengan ulama sejati. Hal ini berlangsung setelah wafatnya rasulullah saw, hingga puncak kesadisan yang tidak ada bandingnya dalam peradaban manusia, ketika cucu Rasullullah saw dan keluarga rasulullah yang lain dibantai dengan sadis.
Peristiwa Karbala adalah awal dari peristiwa-peristiwa pembantaian yang lain kepada pecinta keluarga rasul, dari masa ke masa pembantaian ini selalu ada dengan alasan pemberontakan kepada penguasa lalim pada masanya. Pembantaian ini menyebabkan terjadinya hijrah besar-besaran untuk menyelamatkan agama rasul dan keluarganya.
Nusantara adalah salah satu tempat hijrah mereka. Itulah sebabnya selama 600 tahun ajaran rasullullah berkembang pesat dinegara ini, sampai datangnya musuh-musuh Allah yang menghalalkan berbagai cara untuk berkuasa, dari mulai pembantaian umat hingga memunculkan ulama-ulama palsu untuk meluruskan tujuan mereka. Para penguasa lalim dan ulama palsu ini karena hasadnya, membumihanguskan ajaran rasul, yang diwariskan kepada ahlulbaitnya dan disampaikan oleh para ulama pecinta ahlul bait.
Ajaran rasul dan keluarganya yang suci yang diibaratkan bagai bulan dan bintang, pembantaian para ulama penerus ajaran rasul, penghilangan jejak ajaran mereka dengan berbagai cara, adalah pesan utama yang disampaikan pada 3 baris pertama tembang BubuyBulan.
Pada baris ke tiga lebih ditekankan pada sosok seorang ulama, dan para pengikutnya yang syahid dibantai, ulama ini mempunyai gelar Syamsuddin = mataharinya agama = yang merupakan simbol hidup panon poe = matahari pada masanya.
Penulis syair ini kemungkinan adalah salah seorang murid sang ulama yang dibunuh secara kejam oleh penguasa saat itu, sang murid selamat, karena mungkin tidak berada di lokasi pada saat peristiwa keji tersebut terjadi. Pada masa itu seorang ulama bagi muridnya memiliki kedudukan yang sama bahkan lebih tinggi dibanding orangtua mereka sendiri.
Peristiwa ini bagi sang penulis tentunya merupakan kesedihan yang luarbiasa dahsyat karena merupakan saksi hidup atas peristiwa tragis tersebut.
Kesedihan tersebut ia tuangkan dalam syair-syair berikut; Unggal bulan-unggal bulan, abdi teang = setiap bulan muncul (setiap malam) saya mencari, (pencarian terhadap para ulama dan pengikutnya di tempat-tempat yang biasa ia datangi), demikian pula pada pagi harinya ia terus mencari tapi sama saja, tidak menemukan jejak mereka (Unggal poek, unggal poek ogek hade)
Kegiatan mencari dan pencarian disini bermakna juga sebagai ikhtiar dan do’a melindungi sisa-sisa dari pembantaian dan usahanya mencari sosok ulama pengganti gurunya yang syahid tersebut. Ikhtiar dan do’a tersebut bagusnya dilakukan malam hari, kalimat ini bisa jadi suatu kegiatan rahasia yang dilakukan dengan berbagai cara agar ajaran tersebut tetap abadi dan dikenal oleh generasi berikutnya, generasi yang mau ikhtiar mencari ilmu dan melindungi ajaran dan para ulama terdahulu yang meneruskan ajaran Rasul dan ahlulbait nya.
Perlindungan rahasia ini termasuk melindungi anak keturunan atau keluarga dari ulama tersebut. Usaha melindungi ajaran ini dilakukan dengan berbagai cara, baik secara rahasia atau pemberontakan terhadap penguasa lalim. (Unggal poek oge hade)
Situ ciburuy, laukna hese’ dipancing = kalimat ini lebih kepada keterangan tempat yaitu suatu daerah yang bernama CIBURUY yang berlokasi di daerah Padalarang, JawaBarat. Wilayah ini dahulunya adalah sebuah wilayah yang subur karena berlokasi di pertemuan dua sungai. Pada tahun 1914 atas perintah Gubernur Jendral Belanda saat itu desa Ciburuy dijadikan danau buatan dari air yang diambil dari 2 sungai tersebut. Desa Ciburuy yang kemudian dijadikan danau buatan adalah bentuk hukuman dari pemerintah Belanda kepada penduduk Ciburuy yàng melakukan perlawanan karena tidak mau taat dengan aturan pemerintah Hindia Belanda.

Gambar: Situ Ciburuy pada era pemerintah kolonial, penduduk setempat berlomba mencari ikan, gambar diatas berlawanan dengan kalimat dalam syair bubuy bulan yang menyatakan danau ini ikannya sukar di pancing
Wilayah seluas 14 hektar itu hampir semua terendam air kecuali daerah tertinggi yang merupakan wilayah makam leluhur. Setelah peristiwa ini desa Ciburuy dikenal dengan nama SITU CIBURUY. Kemungkinan wilayah ini adalah salah satu lokasi yang melakukan perlawanan yang tidak pernah berhenti dari era Mataram Baru dan VOC hingga berakhir dengan wilayah tersebut dijadikan Danau (Situ) oleh pemerintah Belanda pada tahun1914. Perlawanan pada masa itu hingga pasca proklamasi Kemerdekaan RI umumnya dipimpin oleh para ulama, dan dipelopori oleh para santrinya yang membangkitkan semangat jihad kepada penduduk setempat untuk berjuang melawan pendudukan asing.
Pencarian sang penulis syair membawanya ke Wilayah Ciburuy, sebagai salah satu tempat berkumpulnya para ulama dan para santri. namun hatinya semakin sedih ketika mengetahui tempat tersebut pun telah dimusnahkan, penduduknya yang merupakan para santri dan pejuang pun sudah tidak ada jejaknya.
Kata penduduk disini diambil dari makna kata ‘lauk’ = ikan. Ikan adalah penghuni Situ = Danau, ‘situ Ciburuy laukna hese’ dipancing (‘ikan’ di Situ Ciburuy susah dipancing) Laukna situ Ciburuy = ikan (sebagai penghuni Situ Ciburuy) susah dipancing = ‘Penghuni Ciburuy susah ditangkap/tidak mau mengikuti aturan pemerintah Belanda = selalu melakukan perlawanan. penghuni = penduduk.
Penduduk Ciburuy susah ditangkap, karena terus melakukan perlawanan, namun sekeras apapun mereka melakukan perlawanan kepada penguasa lalim, akhirnya dengan cara yang licik para penduduk Ciburuy kalah juga, yang menyebabkan sang penyair merasa “Nyaredet hate” = sedih susah ngenes, pilu,sakit hati yang luar biasa tapi tidak dapat berbuat apapun kecuali menyampaikan pesan dengan berbagai cara generasi selanjutnya mengetahui sejarah Islam dan peristiwa yang dialami kaum muslim di Nusantara dari masa ke masa.
Kisah Situ Ciburuy adalah bukti terakhir yang disaksikan oleh sang penyair sebagai saksi kekejaman pemerintah yang dzalim kepada rakyatnya, dalam hal ini adalah pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah kolonial bersikap kejam terhadap para ulama dan santrinya karena menolak taat kepada peraturan pemerintah Belanda yang menjauhkan kaum muslim dari ajaran Islam sejati, dan merendahkan bangsa Indonesia pada posisi yang paling rendah.
Ningali ngeplak cai na = melihat air yang putih bersih/bercahaya yang membanjir atau meluap atau tumpah. Cai dalam b.sastra sunda bisa berarti darah, kalimat ini juga memiliki makna ‘DARAH SUCI’ atau air yang sangat jernih.
Kalimat ‘nyaredet hati ningali ngeplak caina’ bermakna sang penulis tembang merasa sakit hati, pilu, sedih melihat tanah airnya, tumpah darahnya dikuasai oleh pemimpin yang lalim yaitu pemerintah kolonial Belanda dan antek-anteknya yang telah membunuh para ulama dan murid-muridnya.
Namun sepahit apapun peristiwa yang terjadi karena belenggu penguasa lalim, sang penulis tembang tetap memberi harapan, melalui kata-kata “duh eta saha nu ngalangkung unggal enjing nyaredet hate ningali sorot socana….”(Duh, siapakah itu yang hadir setiap pagi..) kalimat ini bermakna bahwa selama dunia belum berakhir, walaupun berbagai cara dilakukan musuh Islam untuk memusnahlan ajaran Islam sejati, akan lahir tokoh-tokoh ulama sejati yang tegas dan berwibawa sebagai para ulama penerus ajaran rasul saw dan ahlulbaitnya, yang memberikan cahaya dan kedamaian bagi umat muslim, disegani dan ditakuti oleh musuh Islam.
Duh eta saha : duh, siapakah itu
nu ngalangkung unggal enjing : yang hadir/lewat setiap pagi
Nyaredet hate : mengiris hati (melihat yang hadir tiap pagi itu, mengingat kejadian diatas, peristiwa ketika gurunya syahid bergelimang darah)
Ningali sorot socana; melihat sorot matanya (yang tegas).
sorot matanya yang tegas itu lah yang mengingatkan si penembang syair ini akan gurunya yang ia cari selama ini. selalu berusaha mencari gantinya malam dan siang. sorot socana; pandangan mata yang tegas, lawannya cai socana; pandangan mata yang lembut.
*****
Sumber bubuy bulan
*Ulama sebagai motor perjuangan rakyat;
1. Gugun el Guyanie, Jihad paling Syar’i, penerbit: Yogyakarta, Pustaka Pesantren 2010
2. Ahmad Mansyur Surya Negara, Api Sejarah 2, penerbit: Salamandani 2010, Bandung
*peristiwa pergantian kekuasaan dan penyerangan daerah yg tidak mau menerima Mataram, peran Walisongo dlm pemerintahan seblm era Mataram, sumber:
1. Riclefs, M.C Sejarah Indonesia Modern
2. Al Habib Alwi bin Thahir al HadadMasuknya Islam ke Timur Jauh, (ttg peran ulama dan keturunan nabi di pemerintahan nusantara kuno) cet. 1, penerbit Lentera 2001,
3. Babad Tanah Jawi kitab 1-6
4. Naskah WangsaKerta
5. Dr. Muhammad Zafar Iqbal, Kafilah Budaya, penerbit Citra 2006
6. Prof. Dr H. M. Didi Turmudzi, M. Si, Bunga Rampai Sosial Budaya, Bandung, cet. 1 Prisma press Prodaktama, 2013
7. Sunyoto, Agus, Atlas Walisongo, Cetakan I, Pustaka IIMAN, Bandung,Juni 2012,
8. T.W Arnold M.A C.I.E, The Preaching Of Islam, New York Charles Scribner’s Sons 1913
9. Ja’farian Rasul, Sejarah Islam: Sejarah Wafat Nabi SAW hingga runtuhnya Dinasti Umayah (11-132 H), Penulis Rasul Ja’farian: Penerjemah,Ilyas Hasan, Cetakan 2, Jakarta; Lentera, 2009
10. Denise Spellberg.A, Kontroveri al Qur’an Thomas Jefferson, Penerjemah; Adi Toha, Cetakan.I, Jakarta, PT Pustaka Alvabet, April 2014(Tentang Tulip Era yaitu kerja sama Turki Usmani dengan Bangsa Eropa ditandai dengan pengiriman tulip ke Belanda)
Ditulis oleh : Sofia Abdullah
Tinggalkan komentar