Memahami Ajaran Manunggaling Kawula Gusti

​Makna Ajaran Manunggaling Kawula Gusti atau Konsep Wahdatul Wujud

Pada abad ke-15 dan 16, Syekh Siti Jenar atau yang bernama asli Syekh Hasan Ali, pernah mempopulerkan ajaran Manunggaling kawula Gusti kepada murid-muridnya. Manunggal ing Kawula Gusti memiliki arti yang sama dengan Wahdatul Wujud yang artinya penyatuan kepada Dzat yang Maha Kuasa. Syekh siti Jenar mengambil konsep ini berdasarkan ajaran Al Hallaj, seorang sufi asal Persia yang pertama kali mempopulerkan konsep ini. Al Hallaj bernama lengkap Hussein bin Mansyur al Hallaj atau yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Al Hallaj. Al Hallaj lahir di Baidhoh-Persia pada 858 M, W 26 Maret 922 M (24 DzulQaidah 309H).

Wahdatul wujud yang dalam bahasa jawanya disebut Manunggaling kawula Gusti memiliki arti bersatunya makhluk dengan Tuhannya. Wahda dari kata wahid yang artinya satu yang bermakna menyatukan dirinya hingga tidak ada yang tersisa dari dirinya kecuali sifat Allah SWT dan dirinya ada karena keberadaan Allah SWT. Penyatuan ini terjadi karena telah mengikuti perintah Allah SWT dengan ikhlas.

Konsep Wahdatul Wujud adalah sebuah konsep ajaran tauhid dalam Islam, dimana kedudukan makhluk tertinggi dilihat dari kedekatannya kepada Allah SWT. Kedekatan sang makhluq kepada Khaliq-nya inilah yang menyebabkan dalam berbagai keadaan ia selalu teringat akan sang Khaliq, hingga terbentuklah suatu ungkapan “AKU adalah KAU, KAU adalah AKU, maksudnya tanpa Allah SWT (KAU) aku tidak akan pernah ada.

Berdasarkan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasul saw dan ahlulbaitnya, setiap ibadah dalam Islam memiliki 2 sisi, yaitu sisi fisik dan non fisik. Ajaran Islam dari sisi fisik contohnya sholat, puasa, membaca Al Qur’an dan sebagainya, sementara dari sisi non fisik adalah makna dari semua amalan fisik yang kita kerjakan.

Manunggaling Kawula Gusti atau Wahdatul Wujud bagi mereka yang mempelajari Islam hanya sekedar simbol atau hanya dari penampakan luarnya saja, akan mengatakan bahwa ajaran ini sesat. Seperti yang terjadi pada kasus al Hallaj, yang di penjara kemudian di gantung pada masa pemerintahan sultan al Muqtadir dari Bani Abasiyah dengan tuduhan yang terkait politik dan fitnah ajaran sesat.

Inti ajaran Manunggaling Kawula Gusti bukan mengaku dirinya Tuhan, tapi suatu tahap dalam kehidupan seorang mukmin yang karena kedekatan kepada Tuhannya dalam segala tindak tanduknya, ia merasakan hadirnya Allah dalam dirinya, dalam nafasnya, dalam duduknya, tidurnya, setiap detik dan tarikan nafasnya yang ia rasakan hanyalah kehadiran Allah SWT. Konsep manunggaling kawula gusti menjadikan agama sebagai ruh kehidupan/landasan dalam melakukan segala kegiatan. Karena memang seharusnya segala kegiatan kita ditujukan untuk ibadah, dan selalu menyadari bahwa Allah SWT selalu bersama dan mengawasi kita selama 24 jam.

Konsep Manunggaling Kawula Gusti adalah pelaksanaan atau pengejawantahan dari Qs Al An am 162- 163: Inna shalati wa nusuki wa mah yaya wamamati lillahi rabbil alamin (sesungguhnya shalatku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam). Inilah konsep sejatinya Manunggaling Kawula Gusti.

Semua wali songo dari masa ke masa mengajarkan Islam dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti, hanya caranya saja yang berbeda – beda. Konsep ini jelas terlihat dalam segala sendi kehidupan masyarakat Nusantara kuno. Baik dalam bangunan tata kuno, masjid dan makam, seni pantun dan syair, dan lain sebagainya.

Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhanya) atau Wahdatul Wujud (penyatuan kepada yang Maha Kuasa) adalah tahapan tertinggi dalam keimanan seorang hamba. Allamah Bagir Shadr pernah berkata : Meleburlah diri kalian kedalam iman, seperti iman telah meleburkan dirinya pada kalian.

Melebur adalah proses menyatunya seorang hamba dengan Tuhannya. Proses ini hanya dapat terjadi bila:

1. Mendekatkan diri kepada sang Khaliq hingga semua yang dilakukan hamba semata-mata hanya karena Allah SWT, senang dan benci karena Allah SWT. Menerima apa saja yg telah Allah taqdirkan baginya dengan Ikhlas, tidak pernah merasa putus asa, spt dalam hadits qudsi:

“Janganlah engkau sekali-kali putus asa dari rahmat Allah, yaitu dengan mengira do’anya tidak terkabul.”

2. Bila seorang hamba telah dekat pada Allah SWT, dia akan meyakini apapun yang ada padanya adalah yg terbaik yang Allah berikan padanya, seperti yang di sebutkan dalam hadits Rasul saw dari Imam Ali as : “Dan apabila yang kau inginkan tidak terjadi, maka inginilah yang terjadi.. Dan siapa org yang ridho dengan qodhonya maka ia akan senang dengan hidupnya.”

Berikut ayat ayat Al Qur’an dan penjelasannya tentang penyatuan Allah dengan makhluk-NYA, yang disebabkan karena kedekatan sang hamba kepada pencipta NYA;

Qs Qaaf; 16

Dan sungguh kami telah ciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pd urat lehernya sendiri.

Qs al Baqarah: 186

Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepadamu (Muhammad) tentang AKU, maka sesungguhnya aku dekat.

Qs al Ahzab: 4

Sekali-kali Allah SWT tidak menjadikan 2 hati dalam 1 rongga, maksud dari ayat ini adalah kecintaan hanya pada Allah tidak ada kepada selainnya, mencintai yang dicintai Allah SWT dan mencintai karena Allah SWT.

Sedekat apa Allah dengan hambanya?

Kedekatan Allah SWT kepada hamba-NYA dapat dibaca dalam surat-surat berikut ini
Qs al Hadid : 4

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Qs al Mujadilah: 7

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu

Orang-orang yang meyakini ayat ini tentunya tidak akan berbuat kejahatan atau setidak akan merasa malu bila melakukan sesuatu yang dilarang Allah SWT

Yang dimaksud Kedekatan pada ayat di atas

Kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT, menjadikan Allah Swt dekat pada hambaNya bahkan lebih dekat dari pada urat nadinya Sendiri. Bila kedekatan seorang hamba telah mencapai puncaknya maka sesungguhnya dekatnya seorg hamba kepada sang Khaliq menyebabkan seorang hamba di berikan kekuasaan yang luas atas izin Allah SWT.

Kekuasaan tersebut sifatnya beragam, contoh; kekuasaan yang di berikan kepada nabi dan rasul bersifat mukjizat, seperti menghidupkan orang/hewan yang sudah meninggal, menyembuhkan orang buta, berbicara dengan hewan dan tumbuhan, dapat melihat masa depan dan masa lalu, dsb.

Demikian pula dengan karomah-karomah yang dimiliki para Wasi’ dan para Wali Allah SWT. Inilah maksud firman Allah SWT dalam hadits qudsi-NYA: Ya abdi, hai hambaku taatlah kepadaku sehingga bila aku mengatakan jadi maka jadilah demikian pula engkau (Kun fa ya kun). Maksudnya ketika seorang hamba mencapai puncak ketaatan pada Allah maka Allah SWT akan membuatnya mampu melakukan hal-hal mukjizati seperti yang disebutkan diatas.

Siapakah Manusia yang Paling dekat dengan Allah?

Agar dapat meyakini Allah SWT, tentunya seorang hamba harus memiliki contoh manusia sejati yang kedekatan dengan sang Khaliq sudah tidak diragukan lagi yaitu Rasulullah dan Ahlulbaitnya yang di sucikan Allah SWT sesuci-sucinya (33:33) Siapakah Ahlulbait Rasululah saw? Mereka adalah Sayidah Fatimah az Zahra, Imam Ali bin Abi Thalib as, Imam Hasan, Husein, Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ja’far as Shadiq, Imam Musa al Kadzim, Imam Ali ar Ridho, Imam Muhammad al Jawad, Imam Ali al Hadi, Imam Hasan al Askari, Imam Mahdi al Muntadzar (yang di nantikan).

Merekalah sejatinya HABLUM MINNANAS, manusia yang dijadikan sebagai penghubung dengan Sang Khaliq. Baik sebagai suri tauladan di dunia dan akhirat atau sebagai perantara (tawasul) kepada Sang Khaliq, ALLAH SWT. Inilah konsep sejatinya Hablum min nanas wa hablum minallah yaitu Tali (habl) yang menghubungkan antara Makhluq dan Khaliq. Dengan berpegang kepada Hablumminanas kita akan menjadi manusia yang dekat dengan Allah SWT untuk mencapai Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawula Gusti) seperti yang pernah diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.

Sedekat apa para Imam AhlulBait kepada Allah ta’ala?

Para Imam Ahlulbait adalah manusia-manusia terpilih dan manusia yang paling mencintai Allah SWT dan Rasul-NYA, sosok manusia yang akan menyerahkan segala apa yang dimilikinya bahkan nyawa sekalipun dengan rela mereka korbankan demi tegaknya Agama kakeknya, agama Islam. Sejarah telah menggambarkan kepada kita tentang sosok Imam Ali yang sangat taat kepada perintah Allah dan Rasul-NYA. Dengan kecintaan dan ketaatan yang begitu besar menjadikan Ahlulbait Rasulullah saw sebagai manusia yang paling dekat dengan Allah SWT.

Dekatnya seorang hamba kepada ALLAH SWT menyebabkan seorang hamba di berikan kekuasaan yang luas, kekuasaan ini seperti yang terdapat dalam Hadits Qudsi: Ya abdi, hai hambaku taatlah kepadaku sehingga bila aku mengatakan jadi maka jadilah demikian pula engkau (Kun fa ya kun). Contoh kekuasaan yang luas yang diberikan kepada Imam Ali pasca wafatnya Rasulullah saw adalah kepandaian Ilmu dan Hikmah yang bukan kepandaian manusiawi, tapi kepandaian yang hanya di anugerahkan kepada Nabi dan Rasul ALLAH SWT. Kepandaian ini kemudian di teruskan kepada para Imam pengganti beliau hingga Imam Mahdi as.

Contoh Ilmu dan Hikmah Imam Ali as:

Seorang Yahudi bertanya pada Imam Ali as: yaa amirul mukminin bisakah engkau melihat Tuhan yg engkau sembah? Imam menjawab: Celakalah engkau bagaimana mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak aku lihat? Allah SWT sangat dapat dilihat, namun dengan matahati seorang mukmin yang hatinya diisi dengan hakekat2 keimanan. IA tidak dapat di capai dengan penglihatan mata, namun IA dapat dilihat dengan hati yg sarat dengan keimanan

Pada kesempatan yang lain, ada seorang ada yg menghina imam Ali as, imam Ali mengatakan jadilah engkau seekor anjing, maka jadilah orang tersebut seekor anjing. Seorang sahabat bertanya bagaimana imam Ali bisa berbuat demikian?

Imam Ali menjawab: bagaimana mungkin engkau heran melihat aku berbuat demikian padahal engkau meyakini bahwa aku adalah wasi’-nya sayyidul anbiya wal mursalin, penghulunya para nabi dan rasul, lupakah engkau pada kisah wasi-nya nabi Sulaiman as yg dapat memindahkan istana ratu bilqis dalam sekejap mata?, itulah semua fadhilah karena kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya, Allah SWT.

Bagaimana caranya untuk mencapai kedekatan tersebut?

Untuk mencapai kedekatan tersebut jalannya adalah dengan Taat pada Allah dan rasul-Nya tanpa kecuali (tanpa syarat apapun) seperti yang dicontohkan ahlul bait dan sahabat yang mukhlisin.

Ketika Allah berkehendak, kehendak Allah SWT adalah WAJIB bagi kita manusia untuk mengikuti tanpa kecuali atau tanpa mencari pembenaran meskipun  ketetapan itu terasa berat bagi kita, karena Allah SWT berjanji bila kita mengikuti segala kehendak dan ketetapan-NYA dengan ikhtiar dan do’a maka Allah SWT akan memberi kita kemudahan dan kekuatan untuk menerima.  Seperti yang tercantum dalam Firman Allah SWT dalam Qs Al Anfal: 24 :

“wahai orang2 yg beriman! Penuhilah seruan Allah & Rasul, apabila dia menyuruhmu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-NYA-lah tempat kamu akan dikumpulkan”.

Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kedudukan dekat dengan Allah SWT ?

Pertama, mencontoh Rasul dan Ahlulbaitnya yang kemuliaan mereka telah jelas tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits-hadits yang masyhur.

Kedua, ikutilah para wali dan kaum ulama yang mengikuti petunjuk Rasul dan Ahlulbaitnya, yaitu ulama yang mengajarkan kebaikan, kedamaian dan ukhuwah sesama manusia, bukan ulama yang menyebarkan kebencian kepada sesama makhluk terutama kepada sesama kaum muslim.

Ketiga, jangan pernah merasa cukup dalam menggali ilmu, terutama ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Keempat, selalu bersyukur dan jangan pernah merasa ‘paling’, merasa paling pandai, mulia dsb. menjadikan Setan tergelincir dari surga. Merasa paling menderita menjadikan kita malas bersyukur.

Kelima, Tawaqal, berserah diri kepada Allah SWT atas apapun yang terjadi pada dirinya.

Seperti yang di katakan Imam Ali dari Rasul SAW:

Dan apabila yang kau inginkan tidak terjadi, maka inginilah yang terjadi, belum tentu yang diinginkan seorang hamba baik untuk hamba tersebut, karena Allah SWT lebih mengetahui yang terbaik bagi hamba-NYA.

Bila seorang hamba telah meyakini apapun yang ada padanya adalah yang terbaik yang Allah berikan padanya, maka ia termasuk orang yang Ridho dan siapa orang yang ridho dengan qodhonya maka ia akan senang (selalu bersyukur) dengan hidupnya, dan siapa yang selalu bersyukur dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Ditulis oleh: Sofia Abdullah

Sumber: Kajian Al Qur’an & Hadits

Majelis Habib Alwi Assegaf_Bandung

3 tanggapan

  1. Zefry Andalas Avatar
    Zefry Andalas

    Argumentasi irfannya kurang dapet kak. 😊🙏

    Suka

    1. sofiaabdullah Avatar

      @ZefryAndalas, Thanks kritikanny, cuma bisa diperjelas gak argumentasi irfanny kurang dapetnya di bagian mana? Jadi bisa sy tambah/kurangi..😊

      Suka

  2. Silsilah & Biografi Singkat Syekh Siti Jenar – Sofia Abdullah Avatar

    […] kami unggah sebelumnya yang berjudul : Memahami Ajaran Manunggaling Kawula Gusti; 5 Februari 2019; https://sofiaabdullah.wordpress.com/2019/02/05/memahami-ajaran-manunggaling-kawula-gusti/ Sumber:1. Sunyoto, Agus, Atlas Walisongo2. Ricklefs, M.C, Sejarah Indonesia Modern3. Pustaka […]

    Suka

Tinggalkan komentar