Kisah Nyai Dasima, Antara Fakta dan Fiksi (3)

Oleh: Sofia Abdullah

Dua tokoh “Nyai Dasima” Yang Membuat Heboh Benteng Batavia

Dua tokoh asli Nyai Dasima yang membuat geger Batavia dengan kisahnya masing-masing yang kemudian menjadi inspirasi novel “Tjerita Njai Dasima” karya G. Francis adalah Sarah Specx dan Cornelia van Nijenroode. Kedua wanita ini berasal dari Dashima, Nagasaki, Jepang, dan keduanya pernah tinggal di Batavia. Karena berasal dari Dashima, berdasarkan tradisi penyebutan saat itu oleh penduduk setempat dua wanita bangsawan campuran Belanda dan Jepang ini disebut ‘Nyai Dasima’.

Kisah Cornelia Van Nijenroode

Kisah Sarah Specx telah kami sebutkan sebelumnya, berikut kisah wanita bangsawan Belanda  kedua yang mendapat gelar “Nyai Dasima”. Wanita ini bernama Cornelia van Nijenroode (1629-1692) putri dari Cornelis Van Nijenroode, seorang pengusaha kaya raya dan juga anggota dewan kehormatan VOC. Sebagai anak satu-satunya, Cornelia mewarisi semua perusahaan dan harta ayahnya yg berlimpah. Seperti Sarah Specx, ibu Cornelia van Nijenroode adalah wanita dari Dashima.

Setelah diberlakukannya pembatasan penduduk Eropa ke Jepang pada periode Edo, oleh ayahnya, Cornelia kecil dan adiknya di bawa ke Batavia, memisahkan mereka dari ibunya agar dapat dididik sebagai wanita bangsawan Eropa yang beragama Kristen. Setelah dewasa, Cornelia menikah dengan pengusaha yang kaya raya bernama Pieter Cnoll (wafat 1672). Cornelia dan Pieter memiliki enam orang putri dan empat orang putra.

Lukisan Cornelia, Pieter Cnoll, dan dua orang puterinya, keluarga bangsawan Belanda yang cukup terkenal saat itu.

Tahun 1672, Pieter Cnoll, suami Cornelia meninggal, meninggalkan harta warisan yang sangat banyak. Cornelia kemudian menikah lagi dengan seorang notaris perusahaannya, bernama Joan Bitter (1638-1714). Sebagian besar perusahaan dan harta milik Cornelia dikelola oleh suami keduanya. Dalam waktu singkat, Cornelia mengetahui bahwa Joan Bitter menikahi Cornelia hanya karena kekayaannya saja.

Setelah mengetahui kelakuan suami keduanya, Cornelia menuntut cerai dari suaminya, bukan itu saja, Cornelia menuntut kembali sebagian perusahaan dan harta miliknya yang telah diserahkan pengurusannya pada suami barunya.

Perceraian dikalangan wanita bangsawan eropa pada awal abad ke-17, yang didominasi kekuasaan kaum pria, adalah satu hal yang sangat aib, apalagi menuntut harta dari suaminya sendiri. Karena peristiwa ini, Cornelia dan anak-anaknya diusir dari benteng Batavia, kembali ke Belanda, karena dianggap membawa aib bagi pemerintah kolonial.

Kisah Cornelia dan suami keduanya yang licik dan memanfaatkan harta istrinya hingga terusirnya keluarga Nijenroode dari benteng Batavia, menjadi berita yang menghebohkan berikutnya setelah kisah Sarah Specx yang belum lama terjadi. Kedua kisah ini melibatkan wanita campuran bangsawan Belanda dan Jepang yang tinggal di Benteng Batavia. Kisah Cornelia ini juga menjadi inspirasi sosok Nyai Dasima dalam novel versi G. Francis.

Karakter dua tokoh wanita bangsawan Belanda yang membuat heboh benteng batavia pada masanya ini terlihat jelas dalam karakter Nyai Dasima karya G. Francis. Kisah cinta Nyai Dasima yang berakhir tragis dengan terbunuhnya sosok Nyai Dasima terinspirasi oleh Kisah Sarah Specx. Sementara sosok Nyai Dasima sebagai seorang janda kaya, kemudian menikah lagi dengan suami yang hanya menginginkan hartanya terinspirasi oleh Kisah Cornelia van Nijenroode.

Nyai Dasima dan Era Pergundikan di Nusantara

Novel Nyai Dasima karya G. Francis ditulis pada tahun 1896. Pada masa ini, perbudakan dan perdagangan manusia masih dianggap wajar. Era pergundikan di Nusantara terjadi sebagai akibat dari perbudakan. Sebelum era kolonial, masyarakat Indonesia tidak mengenal perbudakan, yang ada adalah pemilik tanah dan pengelola tanah yang bertugas mengurus perkebunan dan peternakan milik tuan tanah. Tuan tanah akan memberikan imbalan berupa sandang, pangan, papan kepada para pekerjanya.

Pada era kolonial, bangsawan Eropa yang telah membeli atau menyewa tanah pada pemerintah kolonial membutuhkan banyak tenaga kerja untuk dipekerjakan pada perkebunan mereka. Pihak pemerintah kolonial juga membutuhkan banyak pekerja untuk membangun kota jajahan mereka yang baru, sementara penduduk tanah jajahan mereka pada saat itu jumlahnya sangat sedikit. Berdasarkan Sensus penduduk yang dilakukan akhir tahun 1700an, jumlah penduduk di pulau Jawa dan Madura saja hanya lima juta jiwa, dan Jawa adalah pulau yang terpadat saat itu, sementara lahan yang membutuhkan pekerja sangat luas. Dari sinilah mereka mendatangkan banyak budak ke Hindia (Indonesia). Para budak ini umumnya adalah tawanan perang yang berasal dari negeri-negeri di wilayah Asia dan Afrika yang sudah mereka jajah terutama dari wilayah-wilayah pedalaman.

Hingga akhir abad ke-19, perdagangan budak adalah salah satu perdagangan yang sangat marak dan paling menguntungkan di Batavia dan daerah sekitarnya di Indonesia. Pasar budak terbesar di Indonesia pada era kolonial berada di Batavia. Para tawanan yang diperbudak umumnya berasal dari pedalaman Philiphina, Tibet dan Srilangka. Para budak ini kemudian diperjual belikan di depan kantor Balai Kota, yang sekarang menjadi museum Sejarah Jakarta.

Para pembeli budak ini umumnya berasal dari bangsa Eropa dan bangsawan pribumi.

Pada era perbudakan inilah lahir era pergundikan karena banyak para budak wanita yang dijadikan simpanan atau pemuas seks oleh tuannya. Para budak yang dibeli oleh tuan tanah pribumi umumnya dibebaskan dan dijadikan pekerja perkebunan dan usaha-usaha lain milik tuan tanah. Karena tuan tanah pribumi umumnya beragama Islam, para budak ini umumnya masuk Islam dan banyak diantara mereka yang menikah dengan tuannya atau diantara sesama pekerja.

Berbeda lagi dengan nasib para budak yang dibeli oleh bangsa Eropa, hanya sedikit diantara mereka yang dinikah oleh tuannya. Gelar “Nyai” Hanya diperuntukkan bagi wanita dari kalangan budak yang dinikahi oleh tuannya. Sementara para budak wanita yang lain umumnya hanya menjadi simpanan tuan-tuan mereka. Para wanita inilah yang kemudian disebut dengan gundik atau selir. Anak-anak yang lahir dari era pergundikan ini sangat banyak, umumnya mereka beragama Kristen Protestan atau Katolik sesuai dengan agama ayah mereka. Merekalah yang kemudian disebut “Eurasian” atau generasi “Indo”. Dalam sejarahnya anak-anak Eurasian ini ada yang kembali ke negeri bapaknya di Eropa (terutama Belanda) ada yang tetap tinggal di Indonesia hingga wafatnya.

Foto generasi Eurasia, generasi berdarah campuran Eropa dan Asia yang jumlahnya sangat banyak, generasi ini lahir sejak era kolonial, menambah keragaman penduduk Indonesia. Foto ini diambil sekitar tahun 1920-an.

Arti Penting Penelusuran Fakta dan Fiksi Kisah Nyai Dasima

Kisah Nyai Dasima memang hanya sebuah novel berlatar belakang budaya Betawi. Namun penelusuran fakta dan fiksi dibalik penokohan novel Nyai Dasima memiliki arti penting dalam mengetahui sistem tatanan sosial penduduk Indonesia pada era kolonial, dari mulai masalah pencitraan pemerintah kolonial, perbudakan, pergundikan hingga lahirnya generasi Eurasia (generasi IndoEropa) yang menambah beraneka ragamnya penduduk Indonesia yang ada hingga saat ini.

Beragamnya asal penduduk Indonesia baik sebelum atau sesudah era kolonial seharusnya menggelitik rasa peduli bangsa ini untuk menelusuri sejarahnya sendiri bukan untuk saling berbangga-bangga dan merasa diri paling pribumi atau merasa dirinya sebagai pendatang atau keturunan asing. Pribumi dari hasil penelitian kami bukan dilihat secara fisik namun dari rasa kecintaan pada negeri ini dan seberapa besar keinginan kita untuk memajukan negeri ini bukan ikut serta golongan manapun dengan menggunakan dalih apapun yang ingin mengganti ideologi bangsa ini yang telah diperjuangkan sedemikian rupa oleh para leluhur kita.

(Selesai)


Kisah Nyai Dasima terkait dengan :

  1. Sejarah VOC, bisa dibaca tulisan kami sebelumnya tentang sejarah VOC : Hebatnya Indonesiaku.
  2. Sejarah Jakarta
  3. Perbudakan dan Dampak sosial yang diakibatkan dari Perbudakan
  4. Sejarah Tatanan Sosial pada Era Kolonial
  5. Sejarah Pergundikan dan Pelacuran di Nusantara

Sumber:

  1. Heuken, Adolf, Historical Sites of Jakarta, Cipta Loka Caraka, 2000 & 2007
  2. Balchin, Jon, Jelajahi Ujung Dunia, PT Elex Media Komputindo 2009
  3. MH. Zaenuddin, Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe, Cet.1, 2016, Change.
  4. Ruchiat. Rachmat, Asal-Usul Nama Tempat Di Jakarta, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
  5. Blackburn. Susan, Jakarta Sejarah 400 Tahun, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
  6. Kessel. Van. Ineke, Serdadu Afrika Di Hindia Belanda 1831-1945, Cet.1, 2011, Komunitas Bambu.
  7. Ricklefs.M.C, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Cet.1, 2005, Serambi Ilmu Semesta.
  8. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia
  9. https://wp.me/p7zEZc-40 (Abdullah, Sofia, Perubahan Geopolitik dan Sejarah nama India)
  10. http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Specx
  11. http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Nijenroode
  12. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dejima
  13. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Njai_Dasima_(film_1929)
  14. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vasco_da_Gama
  15. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cape_of_Good_Hope
  16. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Edo_period
  17. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nanban_trade
  18. Tsuchiya, Kenji, Popular Literature and Colonial Society in Late-Nineteenth-Century Java : Cerita Nyai Dasima, the Macabre Story of anEnglishman’s Concubine(Twenty-FifthAnniversary Issue)
  19. https://youtu.be/Q3CRwqdFywM (penulusuran Trans7 kisah nyai Dasima berdasarkan cerita rakyat dan lokasi yang disebutkan dalam novel G. Francis)
  20. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Indos_in_colonial_history

2 tanggapan

  1. dini Avatar

    pernah difilmkan juga ya sepertinya kisah ini

    Suka

    1. sofia Avatar

      Pernah, cuma versi novelnya

      Suka

Tinggalkan komentar