Oleh: Sofia Abdullah
Kisah Sarah Specx, Sang Nyai Dasima
Siapakah Sarah Specx ?
Sarah Specx adalah Putri Gubernur jenderal VOC Belanda yaitu Jacques Specx dengan seorang wanita Jepang, tepatnya dari kota Dasima. Seperti ibunya, Sara Specx juga berasal dari Dasima yang kemudian pindah ke Batavia, sekitar tahun 1620an.

Sarah Specx inilah yang menjadi inspirasi utama kisah Nyai Dasima. Sarah Specx adalah wanita bangsawan Belanda pertama yang mendapat sebutan ‘Nyai’. Sebutan Nyai Dasima bagi Sarah Specx adalah sebutan penduduk setempat, karena peristiwa tragis yang menimpa dirinya dan kekasihnya, Pieter Cortenhoeff di Benteng Batavia yang melahirkan memori kolektif tentang seorang Nyai dari Dasima. Sebutan Nyai adalah sebutan umum wanita bangsawan pada masa itu, yang diikuti dengan daerah atau negeri asal sang Nyai.

Peristiwa tragis apakah yang terjadi dengan Sarah Specx hingga kisahnya memberikan kesan yang dalam bagi penduduk Batavia?
Sebelum kita sampai pada bagian tersebut saya akan coba menjelaskan sedikit situasi dan kondisi Batavia pada masa itu, sekitar tahun 1620an, dan bagaimana kisahnya seorang wanita campuran berdarah Belanda-Jepang bisa berada di Batavia dan mendapat sebutan Nyai Dasima.
Kisah Nyai Dasima baik kisah fakta ataupun fiksinya adalah efek jangka pendek dan panjang era kolonial bukan saja di Indonesia tapi mencakup Asia dan Afrika. Sejak dikuasainya Konstantinopel oleh Turki Utsmani tahun 1453, bangsa Eropa semakin terdesak untuk mencari dunia baru yang bernama India, yang selama ini hanya mereka ketahui lewat buku-buku tua hasil rampasan perang Salib. India yang diketahui bangsa Eropa saat itu adalah daratan yang luas dari anak benua India saat ini hingga ujung Papua.

Kebutuhan mencari dunia baru inilah yang menyebabkan bangsa Eropa, diawali Portugis dan Spanyol mulai mengutus utusan-utusan mereka mencari dunia baru hingga keliling dunia dengan tujuan utama mereka yang terkenal dengan sebutan 3G GOLD, GLORY, GOSPEL.

Pada awalnya, bangsa Eropa kesulitan menembus Hindia Timur melalui rute pelayaran menyebrangi samudera atlantik. Tahun 1488, jalur laut baru yang mengelilingi tanjung di Afrika Selatan dibuka oleh pelaut Portugis, Batholomew Diaz. Dahsyatnya badai di tanjung ini menyebabkan Diaz dan anak buahnya tidak meneruskan perjalanan, kembali ke Portugal dan memberi nama tanjung ini Cape of Storm.
Tahun 1498 pelaut Portugal Vasco da Gama melanjutkan kembali pelayaran Diaz, mencari India dengan rute yang sama melalui tanjung di Afrika Selatan. da Gama berhasil melewati tanjung ini dan berhasil sampai ke Calicut, India, yang menjadikan da Gama sebagai orang Eropa pertama yang sampai ke India, dunia baru yang selama berabad abad di cari oleh bangsa Eropa karena kekayaan alamnya yang melimpah. Tanjung ini oleh da Gama kemudian dinamakan Cape of Good Hope (Tanjung Harapan).


Dengan dibukanya jalur pelayaran melalui Tanjung Harapan (cape of good hope), mempermudah bangsa Eropa menemukan India. Diawali dengan Portugis dan Spanyol, sebagai negara Eropa termaju saat itu, kemudian disusul perusahaan-perusahaan dagang Eropa lainnya.

Rute ke India melalui Tanjung Harapan (cape of good hope)
Dengan dibukanya jalur laut melewati tanjung harapan, dimulailah era kolonial bangsa Eropa di Timur jauh. Dimulai dari Calcutta, Goa (India Barat) yang dikuasai tahun 1503, menyusul kemudian Malaka 1511, Maluku 1513, di Maluku Portugis mendapat perlawanan keras dari rakyat Maluku hingga hanya dapat menguasai pulau Hitu (Ambon Utara). Portugis tiba di kota pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1520, kemudian pada tahun 1521, Spanyol menduduki Philiphina, hingga ke Jepang pada tahun 1543 dan seterusnya.
Pada awalnya, monopoli perdagangan Eropa dikuasai oleh Portugis dan Spanyol, dua kerajaan Eropa terbesar di abad pertengahan ini mulai melemah setelah dibetuknya Perserikatan Dagang Hindia Timur tahun 1600. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, bahasa Belanda) atau EIC (East India Company dalam bahasa Inggris) merupakan gabungan perusahaan perusahaan Dagang Eropa untuk wilayah India Timur.
VOC beranggotakan gabungan perusahaan perusahaan dagang yang lebih kecil yang mewakili negara anggotanya, seperti VOC Belanda, VOC Swiss, EIC (Inggris) dan seterusnya. Semua anggota VOC ini berinduk pada VOC pusat yang pada awal terbentuknya berpusat di DenHaaq, Belanda. VOC pusat dengan perjanjian tertulis memberikan pinjaman segala fasilitas yang dibutuhkan untuk menaklukkan suatu wilayah, seperti senjata, prajurit yang dikumpulkan dari kalangan tawanan perang, narapidana dan budak.
Hanya dalam waktu singkat, berangsur VOC atau EIC mulai menggeser monopoli perdagangan Portugis dan Spanyol di Hindia Timur. Sebagian besar daerah-daerah yang dikuasai oleh Portugis dan Spanyol beralih dibawah kekuasaan VOC, termasuk diantaranya koloni Portugis di kota Sunda Kelapa, yang pada tahun 1520 telah lebih dulu melakukan kerjasama perdagangan dengan Banten dan menyewa wilayah koloni di kota pelabuhaan Sunda Kelapa. Wilayah koloni adalah sebutan bagi sebidang tanah yang disewa untuk perdagangan pada masa lalu.
Sekitar tahun 1526, Portugis mulai membuat ulah, membuat kerusuhan di pusat pusat perdagangan dan meneror penduduk kota pelabuhan. Pasukan gabungan Demak dan Cirebon membantu mengusir Portugis dari kota pelabuhan Sunda Kelapa. Sekitar tahun 1527, Portugis terusir dari kota Pelabuhan Sunda Kelapa, dan kembali ke markas portugis di pulau Hitu, kota kecil di Ambon Utara.

Tahun 1543 Portugis tiba di Hirado, Nagasaki, Jepang. Ketibaan Portugis di Hirado, Jepang ini merupakan awal pertama hubungan Jepang dengan Eropa, era ini disebut periode perdagangan Nanban, Nanban adalah sebutan orang jepang untuk bangsa Eropa.

Lukisan seniman yang menggambarkan periode Nanban. Pada Periode nanban (1543-1603), bangsa Eropa bebas melakukan transaksi perdagangan dibeberapa kota di Jepang. Pada periode ini banyak terjadi pernikahan bangsa Eropa dengan wanita-wanita Jepang. Pelacuran juga menjadi ‘barang perdagangan’ yang sangat ramai pada era ini. Hubungan bangsa eropa dengan wanita jepang ini melahirkan generasi campuran Eropa, Jepang, termasuk diantaranya Sarah Specx dan Cornelia van Nijenroode.
Tahun 1596, VOC Belanda tiba di Sunda kelapa. Dengan beberapa perjanjian, VOC Belanda akhirnya dapat menyewa wilayah koloni di kota pelabuhan Sunda Kelapa. Diantara perjanjian tersebut adalah membayar uang sewa yang sangat tinggi (1200 real/thn) dan pelarangan membangun kastil dari batu atau tembok. Wilayah yang disewa hanya boleh dibangun dengan balok kayu agar mudah dibongkar jika masa sewa telah selesai.
Kaitan VOC Belanda, Jepang, Batavia dan kisah Nyai Dasima
Kedatangan Portugis ke Jepang awalnya disambut baik oleh para tuan tanah saat itu, sama seperti di negara lain di sepanjang garis pantai Asia dan Afrika. Namun, berapa tahun kemudian, karakter asli bangsa Portugis yang kasar dan liar mulai terlihat. Dengan bantuan Belanda, pada tahun 1599, armada Portugis terusir dari Jepang. Mulai sejak saat itu VOC Belanda memonopoli perdagangan dengan Jepang, yang berpusat di kota Hirado dan Nagasaki.
Tahun 1603, masifnya penyebaran kristen di Jepang, banyaknya anak-anak jepang yang lahir dari percampuran jepang dan bangsa Eropa, yang kemudian banyak mengadopsi budaya Eropa, megkhawatirkan para tuan tanah Jepang, hingga pada masa kaisar Tokugawa/periode Edo dibuatlah aturan pembatasan bagi bangsa Eropa yang akan memasuki Jepang. Bangsa Eropa yang boleh memasuki wilayah Jepang hanya bangsa Belanda, dan itu pun hanya wilayah Desima, pulau kecil terpisah yang tersambung dengan kota Hirado melalui jembatan.
Periode Edo ini bertahan hingga tahun 1868. Peraturan yang berlaku pada era Edo ini memiliki dampak yang besar bagi wilayah koloni bangsa Eropa yang lain, diantaranya adalah Kota Pelabuhan Sunda Kelapa.
Dampak apa yang terjadi pada kota pelabuhan Sunda Kelapa akibat peraturan yang dibuat oleh kaisar Tokugawa ini?
Tahun 1610, karena hanya mendapatkan wilayah yang kecil di Deshima, Jepang, VOC Belanda membutuhkan wilayah lain yang lebih luas dan kokoh ditambah lagi dengan bertambah nya pegawai VOC dan keluarga mereka yang berdatangan dari Deshima, Jepang.
VOC Belanda mulai melanggar janji dengan membangun kastil dua lantai berbenteng batu yang kokoh yang seharusnya hanya boleh dibangun dengan balok kayu. Dari pelanggaran inilah mulai timbul peperangan antara VOC Belanda yang dibantu oleh VOC pusat dengan pasukan gabungan Banten, Cirebon, dan Demak.
Perlawanan untuk merebut kembali kota pelabuhan Sunda Kelapa terus berkecamuk. Prajurit bayaran tentara VOC yang semakin hari jumlahnya semakin banyak membuat pertahanan VOC di Batavia semakin kuat dan sukar di tembus, hingga akhirnya, kota pelabuhan yang dipertahankan sedemikian rupa jatuh pula ke tangan kompeni (perusahaan Dagang) VOC Belanda.
Sementara itu, situasi di dalam negeri terjadi pemberontakan yang ingin mengubah sistem pemerintahan lama yang didasari dewan wali dengan sistem pemerintahan baru didasari kerajaan Islam yang berafiliasi ke kerajaan Turki Utsmani. Pemberontakan ini, berdasarkan penelitian sejarawan Australia Ricklefs, dengan bukti yang cukup otentik, dipimpin langsung oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (nama aslinya adalah Rd mas Jatmika atau Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram).
Pemberontakan yang berlarut larut ini melemahkan pemerintah pusat yang sedang disibukkan oleh keberingasan bangsa Eropa yang sudah mulai menunjukkan tujuan asli kedatangan mereka ke Nusantara sebagai penjajah bukan untuk berdagang. Serangan dari 2 arah ini yang menyebabkan jatuhnya kota Pelabuhan Sunda Kelapa ke tangan VOC Belanda.
Tahun 1619 dan seterusnya, Armada VOC Belanda akhirnya meluluhlantakan kota pelabuhan Sunda Kelapa yang saat ini posisinya berada di Utara Jakarta. Sisa penduduk Sunda Kelapa yg selamat menyebar ke Banten, Karawang dan sebagian kecil membuat wilayah baru tidak terlalu jauh dari kota lama mereka yang kemudian di namakan Jatinegara yang masih ada hingga saat ini. Kota pelabuhan Sunda Kelapa kemudian berganti nama menjadi BATAVIA, yang diambil dari nama salah satu suku kuno di Belanda.
Penyerangan terakhir kota Sunda Kelapa ini di pimpin langsung oleh Jendral Jan Pieterzoen Coen, yang kemudian diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC Belanda.

Jan Pieterzoen Coen, dalam dunia wayang namanya dikenal dengan sebutan ‘murjangkung’
Sekarang kita kembali lagi kepada kisah Nyai Dasima, dan bagaimana kisahnya seorang wanita Belanda yang nama aslinya adalah Sarah Specx mendapat sebutan Nyai Dasima.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Sarah Specx adalah putri dari Jacques Specx dengan perempuan dari DASHIMA (sekarang kota Nagasaki, Jepang). Jacques Specx adalah Anggota Dewan Kehormatan VOC, sekaligus penasehat VOC. Setelah bertugas di Dashima, Nagasaki, Jepang, pada tahun 1629-1632 ia kemudian bertugas di Batavia, daerah koloni yang baru dikuasai VOC di Hindia, menggantikan Gubernur Jenderal sebelumnya Jan Pieterzoen Coen.
Sebelum menjabat sebagai Gubernur Jenderal, sekitar tahun 1626-1628, bersama putrinya Sarah yang ia bawa dari Dashima, Jacques Specx berkunjung ke Batavia. Putrinya yang beribukan wanita dari Dashima ini ia titipkan sementara untuk menetap di kediaman J.P Coen, yang masih menjabat sebagai Gubernur Jenderal saat itu agar mendapat pendidikan sebagai wanita Kristen dan putri bangsawan Eropa. Kediaman J.P Coen adalah bangunan yang saat ini kita kenal sebagai balai kota atau museum Sejarah Jakarta. Pada masa lalu, bangunan ini adalah rumah dinas Gubernur Jenderal VOC merangkap sebagai kantor pemerintahan.


Gambar 1&2 gedung kantor dan kediaman Gubernur Jendral VOC, dulu dan sekarang, tempat yang pernah menjadi kediaman Sarah Specx
Sarah yang pada saat itu masih berusia remaja, jatuh hati pada pieter Cortenhoeff, seorang prajurit rendahan, bawahan dari Coen. Suatu hari, kedua remaja yang sedang kasmaran ini tertangkap basah sedang berzina di kediaman Coen. Peristiwa ini sangat membuat malu J.P Coen dan dianggap aib yang sangat hina yang mengharuskan pelakunya dihukum mati, hukuman yang umum berlaku di Eropa pada abad pertengahan untuk kasus perzinahan.
Coen segera memerintahkan anak buahnya membuat panggung eksekusi mati di depan gerbang balai kota untuk mereka berdua. Atas bujukan ketua dewan pengadilan saat itu, Coen membatalkan hukuman mati untuk Sarah Specx, sebagai gantinya Sarah di cambuk setengah telanjang di pintu gerbang Balai kota Batavia, sementara kekasihnya Pieter Cortenhoeff dipenggal kepalanya di tempat yang sama.

Panggung hukuman yang umum digunakan pada dikalangan bangsa Eropa. Dipanggung inilah dengan disaksikan ratusan penduduk yang tinggal disekitar benteng Batavia, Sarah Specx dan kekasihnya Pieter Cortenhoeff mendapatkan hukuman atas perintah langsung dari J.P Coen.
Tahun 1629, tidak lama setelah peristiwa Sarah Specx dan Pieter, J.P Coen wafat dengan sebab yang hingga kini masih di pertanyakan. Dua hari setelah kematian Coen, ayah Sarah, Jacques Specx menggantikan posisi Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC di Hindia yang berpusat di Batavia. Jacques Specx membalas semua perlakuan para petinggi VOC dan dewan gereja yang telah terlibat mempermalukan putrinya di depan umum. Sarah kemudian menikah dengan pendeta protestan dari Jerman yang bertugas di kantor VOC di Maluku bernama Georg Candidus hingga wafatnya pada tahun 1635.
Kisah hukuman bagi Sarah Specx dan Pieter Cortenhoeff adalah peristiwa yang luar biasa bagi penduduk sekitar benteng Batavia saat itu, terutama bagi baik penduduk asli kota pelabuhan Sunda Kelapa yang mungkin baru pertama kali mereka melihat hal tersebut. Sejak peristiwa itu nama Sarah Specx lebih dikenal dengan sebutan Nyai Dasima, yang artinya Nyai (sebutan bagi wanita kaya, bangsawan) dari Dasima, sebutan yang umum digunakan di Indonesia pada masa itu, gelar + kota asal tokoh, seperti sebutan Ki Ageng Serang (Ki Ageng yang berasal dari Serang), Imam Bonjol (Imam/pemimpin yang berasal dari Bonjol, Sumut), dst.
Kisah ini kemudian dikisahkan turun temurun dari generasi ke generasi. Bahkan pada tahun 1926, sempat dibuat novelnya, namun novel Sarah Specx nampaknya tidak sepopuler Nyai Dasima, unsur politik kolonial memiliki peran besar dalam mempopulerkan kisah Nyai Dasima, terkait dengan pencitraan kolonial yang kami sebutkan pada bagian sebelumnya. tokoh novel sara Specx adalah bangsa Eropa sementara novel Nyai Dasima versi G. Francis semua tokoh antagonisnya adalah penduduk pribumi dan muslim, dan protagonisnya bangsa Eropa.

Selain aspek politik, pada masa dibuatnya novel Nyai Dasima, kurang lebih 200 tahun setelah peristiwa Sara Specx, kata Nyai telah mengalami penurunan makna yang drastis karena pengaruh bahasa Melayu-Belanda yang sedang populer saat itu. Kata Nyai yang awalnya adalah sebutan untuk wanita dari kalangan bangsawan menjadi lebih populer untuk sebutan wanita yang menjadi istri tidak sah atau selir tuan tanah Eropa.
Bagaimana dengan kisah Cornelia van Nijenroode? Apa yang menyebabkan wanita bangsawan belanda ini juga mendapat sebutan Nyai Dasima oleh penduduk setempat ?
(Bersambung ke Bagian 3)
Sumber :
1. Heuken, Adolf, Historical Sites of Jakarta, Cipta Loka Caraka, 2000 & 2007
2. Balchin, Jon, Jelajahi Ujung Dunia, PT Elex Media Komputindo 2009
3. MH. Zaenuddin, Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe, Cet.1, 2016, Change.
4. Ruchiat. Rachmat, Asal-Usul Nama Tempat Di Jakarta, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
5. Blackburn. Susan, Jakarta Sejarah 400 Tahun, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
6. Kessel. Van. Ineke, Serdadu Afrika Di Hindia Belanda 1831-1945, Cet.1, 2011, Komunitas Bambu.
7. Ricklefs.M.C, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Cet.1, 2005, Serambi Ilmu Semesta.
8. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia
9. https://wp.me/p7zEZc-40 (Abdullah, Sofia, Perubahan Geopolitik dan Sejarah nama India)
10. http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Specx
11.http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Nijenroode
12. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dejima
13. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Njai_Dasima_(film_1929)
14. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vasco_da_Gama
15. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cape_of_Good_Hope
16. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Edo_period
17. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nanban_trade
18. Tsuchiya, Kenji, Popular Literature and Colonial Society in Late-Nineteenth-Century Java : Cerita Nyai Dasima, the Macabre Story of anEnglishman’s Concubine(Twenty-FifthAnniversary Issue)
19. https://youtu.be/Q3CRwqdFywM (penulusuran Trans7 kisah nyai Dasima berdasarkan cerita rakyat dan lokasi yang disebutkan dalam novel G. Francis)
Tinggalkan komentar