Kisah Nyai Dasima, antara Fakta dan Fiksi (1)

Oleh: Sofia Abdullah

Bagi masyarakat betawi, kisah Nyai Dasima tentunya sudah tidak asing lagi. Kisah Nyai Dasima tidak kalah populer dengan kisah legendaris Si Pitung, bahkan ada sekelompok sejarawan yang mengatakan bahwa kisah Nyai Dasima adalah kisah nyata dan pernah terjadi di Batavia pada era kolonial, pada akhir abad 18.

Bangunan Balai Kota, dan sekitarnya, yang dipisahkan oleh kali ciliwung adalah lokasi utama kisah ini. Bangunan dan daerah sekitar kota tua ini menyimpan berjuta kisah yang bila kita buka satu persatu akan terbuka tabir sejarah Jakarta terutama penduduknya yang berasal dari berbagai ragam suku bangsa.

Salah satu kisah yang berlokasi di kota tua Jakarta ini adalah kisah cinta ‘Nyai Dasima’ yang berakhir tragis.

Kota tua Jakarta akhir tahun 1800an

Kisah Nyai Dasima adalah kisah seorang wanita cantik dari Kuripan, Bogor, bernama Dasima, yang terjadi sekitar tahun 1820an. Nyai Dasima adalah wanita yang menjadi gundik seorang pengusaha perkebunan dari Inggris bernama Edward William atau mr. W, yang bertempat tinggal di sekitar balai kota di tepi sungai Ciliwung. Bersama mr. W, Nyai Dasima telah mempunyai seorang anak bernama Nancy.

Nyai Dasima memiliki kusir langganan bernama Sami’un. Sami’un yang sedang terlilit hutang karena istrinya gemar main judi, mulai merayu sang nyai dengan segala cara karena tergoda dengan kecantikan sang Nyai, terlebih lagi harta sang Nyai dapat melunasi semua hutang-hutangnya. Nyai Dasima akhirnya tergoda bujukan Sami’un, meninggalkan Mr. W dan putrinya Nancy, untuk menikah dengan Sami’un dan menjadi istri keduanya. Hanya dalam waktu singkat, harta kekayaan yang ia peroleh dari Edward William habis dihamburkan di meja judi oleh Hayati, istri pertama Sami’un.

Singkat kisah Nyai Dasima sadar, bahwa Sami’un dan Hayati hanya memanfaatkan hartanya saja. Ia memutuskan untuk kembali kepada Edward William dan putrinya Nancy. Namun, rencananya ini diketahui oleh Sami’un dan Hayati. Meraka kemudian membayar seorang bandit bernama bang Puasa untuk menakuti dan merampok sang Nyai.

Tanpa diduga Nyai Dasima melawan yang akhirnya menyebabkan kematiannya. Jasad Nyai Dasima kemudian dibuang ke sungai Ciliwung. Beberapa hari kemudian, jasad nyai Dasima ditemukan terapung di belakang kediaman Edward William. Berdasarkan saksi yang melihat pembunuhan tersebut, Sami’un dan Puasa dihukum mati.

Benarkah kisah Nyai Dasima adalah kisah fakta yang kemudian ditulis dalam bentuk novel? Atau memang kisah ini hanyalah fiktif semata?

Berdasarkan penulusuran yang kami lakukan, kisah Nyai Dasima adalah kisah FIKTIF yang diangkat dari novel karya G. Francis (1870-1958), penulis asal Lebanon, Pennsylvania, Amerika. Novel ini dibuat pada tahun 1896, berlatar belakang tatanan sosial masyarakat Betawi pada era kolonial, pada saat maraknya pergundikan akibat dari sistem perbudakan yang berlaku saat itu. Kisah ini mengambil lokasi di sekitar balai kota, kampung di tepian sungai Ciliwung, Kota Tua, Jakarta Utara, dengan nama-nama lokasi yang memang ada saat itu bahkan hingga kini.

Perdagangan budak dari Afrika dan negara jajahan bangsa Eropa yang lain ke HindiaBelanda yang marak pada era kolonial yang kemudian melahirkan tradisi pergundikan dikalangan bangsa Eropa menjadi latar belakang novel Nyai Dasima karya G.Francis.
Era pergundikan di indonesia yang melahirkan generasi baru penduduk Indonesia; generasi Indo atau Eurasia

Kisah novel ini menjadi terkenal dan merakyat setelah dibuat drama teater dan filmnya berkali-kali. Film bisu pertama karya anak bangsa yang dibuat tahun 1929 juga diangkat dari novel Nyai Dasima karya G.Francis. Pada tahun-tahun berikutnya, film Nyai Dasima selalu menjadi film terlaris dari era kolonial hingga tahun 70an. Dari sinilah kisah Nyai Dasima begitu melekat di hati masyarakat Indonesia, khususnya bagi penduduk Jakarta.

Pada masa dibuatnya novel ini, tahun 1896, pamor kerajaan Belanda sedang jatuh karena perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang kejam terhadap negeri jajahannya, karena itu dilakukan berbagai cara untuk memperbaiki citra pemerintah kolonial baik di dalam Hindia-Belanda ataupun pencitraan terhadap negara-negara Eropa lain untuk melanggengkan kekuasaannya di Hindia.

Pencitraaan yang dilajukan pemerintah kolonial agar terlihat sebagai pemerintah kolonial yang baik terhadap negeri jajahannya diantaranya adalah memalsukan naskah kuno, terutama yang terkait dengan Islam, baik tokohnya, maupun ajarannya diberi kesan buruk dan liar. Tujuan politis memperburuk citra Islam adalah untuk meredam perlawanan kaum ulama dan santri yang selalu tampil terdepan melawan pemerintah kolonial Belanda, dan memberikan alasan Pemerintah Belanda “harus” bersikap kejam terhadap penduduk pribumi yang mayoritas muslim, baik dikalangan bangsa Eropa maupun dikalangan kaum muslim sendiri.

Selain memalsukan naskah kuno, pemerintah kolonial juga membuat novel-novel yang memperburuk citra Islam dan menjadikan pemerintah Kolonial dan tokoh-tokohnya sebagai pahlawan. Novel karya G. Francis ini adalah salah satunya.

Pencitraan pemerintah Hindia Belanda dalam novel ini sangat jelas terlihat. Tokoh-tokoh bangsa Eropa yang ada dalam kisah ini digambarkan sebagai sosok yang sangat baik, dan penyayang, sebaliknya tokoh-tokoh pribumi yang notabene seorang muslim digambarkan sebagai pemeras, penjudi, dan pembunuh. Pada tahun 1960an novel ini ditulis kembali oleh S.M Ardan dengan memberi sisi positif pada tokoh tokoh pribumi yang pada novel aslinya sama sekali tidak ada.

Walaupun kisah Nyai Dasima karya G. Francis adalah kisah fiktif, namun novel ini terinspirasi dari kisah fakta yang pernah terjadi di Batavia. Tapi berbanding terbalik dengan novelnya, kisah ini BUKAN mengisahkan tokoh pribumi, dalam kisah aslinya tidak ada satu pun tokoh pribumi yang terlibat kecuali hanya sebagai penonton.

Kisah Nyai Dasima terinspirasi dari kisah sua wanita bangsawan Belanda SARAH SPECX (1616-1636) dan CORNELIA van NIJENROODE (1629-1692), yang membuat kehebohan di dalam benteng Batavia tahun 1628 dan tahun 1680. Kedua wanita bangsawan Belanda ini oleh penduduk setempat lebih dikenal dengan sebutan NYAI DASIMA. Peristiwa yang melibatkan dua tokoh wanita bangsawan Belanda ini terjadi pada masa awal pemerintahan kolonial.

Berbeda dengan novelnya yang berlatar tahun 1813 hingga 1820, peristiwa tragis yang menimpa Sarah Specx dan Cornelia van Nijenroode terjadi sekitar 200 tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1620an dan 1680an. Peristiwa ini terjadi di kota Pelabuhan Sunda Kelapa yang baru beberapa tahun sebelumnya dikuasai oleh gabungan perusahaan Dagang Eropa (VOC) yang berkantor pusat di Belanda.

Siapakah Sarah Specx dan Cornelia van Nijenroode?? Apa yang menyebakan kedua wanita Belanda ini mendapat sebutan NYAI DASIMA??

(Bersambung Ke bag. 2)

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Sumber-sumber Kisah Nyai Dasima

1. Heuken, Adolf, Historical Sites of Jakarta, Cipta Loka Caraka, 2000 & 2007
2. Balchin, Jon, Jelajahi Ujung Dunia, PT Elex Media Komputindo 2009
3. MH. Zaenuddin, Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe, Cet.1, 2016, Change.
4. Ruchiat. Rachmat, Asal-Usul Nama Tempat Di Jakarta, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
5. Blackburn. Susan, Jakarta Sejarah 400 Tahun, Cet.1, 2011, Masup Jakarta.
6. Kessel. Van. Ineke, Serdadu Afrika Di Hindia Belanda 1831-1945, Cet.1, 2011, Komunitas Bambu.

7. Ricklefs.M.C, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Cet.1, 2005, Serambi Ilmu Semesta.

8.http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Specx

9.http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Nijenroode

10. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dejima
11.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Njai_Dasima_(film_1929)
12.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vasco_da_Gama
13.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cape_of_Good_Hope
14. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Edo_period
15.https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nanban_trade
16. Tsuchiya, Kenji, Popular Literature and Colonial Society in Late-Nineteenth-Century Java : Cerita Nyai Dasima, the Macabre Story of anEnglishman’s Concubine(Twenty-FifthAnniversary Issue)
17. https://youtu.be/Q3CRwqdFywM (penulusuran Trans7 kisah nyai Dasima berdasarkan cerita rakyat dan lokasi yang disebutkan dalam novel G. Francis)

Tinggalkan komentar