Arti & Makna Tembang Lir Ilir

Tembang ini adalah salah satu tembang berbahasa jawa yang sangat dikenal oleh masyarakat jawa dari masa ke masa. Tembang Karya Sunan Ampel ini diturunkan dari generasi ke generasi. Melalui tembang ini Sunan Ampel yang bernama Kanjeng Sunan Ali Rahmatullah, seolah bertutur memberikan nasehat dengan lembut yang disimbolkan dengan kata-kata yang sarat makna.

Berikut adalah lirik, arti dan makna yang kami coba gali dari berbagai sumber baik lisan, tradisi maupun tulisan yang kami sertakan dalam tulisan ini, semoga bermanfaat.

Lir Ilir, lir ilir, tandure wis sumilir
Tak Ijo royo-royo,
tak senggoh penganten anyar 2x

Cah Angon 2x Penekno Blimbing kuwi
Lunyu 2x penekno
Kanggo mbasuh dodo tiro…
Kanggo mbasuh dodo tiro…

Dodotiro..dodotiro
Kumitir bedha ing pinggir
Dondho mono, Jru motono
Kanggo sebho mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sunsurak o surak hiyoo

Arti Harfiah & Makna Tembang

Lir lilir, lir lilir,
Bangunlah, sudah saatnya tanaman di panen » Lir-lilir memiliki arti, ngelilir» yaitu bangun lah, sadarlah

tandure wis sumilir

berarti semilir angin/tiupan angin yang menandakan pergantian musim yaitu musim panen, dapat dilihat dari tandure (tanaman/panenan) yang sudah tinggi dan tertiup hembusan angin tadi,,

Tak Ijo royo-royo,
Hijaunya sangat indah
tak senggoh penganten anyar 2x »(senggo dr kata dasar anggo, diperhalus jadi senggo, artinya memakai)
untuk dipakai pengantin baru

Cah Angon 2x Penekno Blimbing kuwi » (cah: bocah = anak, angon=daya angon atau gembala »bocah angon: anak gembala)
Bocah gembala 2x panjatlah pohon blimbing itu

Lunyu 2x penekno
Walaupun licin, panjat terus

Kanggo mbasuh dodotiro*1,,
gunakanlah untuk mencuci pakaian

Dodotiro,,,dodotiro
Pakaianmu,,,Pakaianmu,,,

Kumitir bedha ing pinggir
Yang robeknya sudah tidak beraturan pada sisinya

Dondho mono, Jru metono
Perbaikilah! Rapikanlah! Jahitlah!

Kanggo sebho mengko sore
Agar dapat dipakai pada pertemuan sore nanti,

Mumpung padang rembulane
Mumpung masih terang bulannya

Mumpung jembar kalangane
Selagi masih luas jangkauannya (selagi masih sehat badannya)

Sun-surak-o-surak hiyoo
Ayo! Bersegeralah!

Arti & Keterangan Secara Harfiah

sumber: pj Zoetmoulder, kamus jawa kuno Indonesia
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

  • Kalimat ‘lir-lilir adalah bentuk pengulangan dari kata perintah ‘lilir’ atau ‘anglilir’ atau ngelilir dalam bahasa jawa saat ini yang artinya adalah ‘bangun, bangkit, sadar kembali (zoetmoulder,hal.597)
  • Ilir» mengalir, mengambang_hal. 381
  • milir» mengalir, mengapung/berlayar didepan angin_hal. 381
  • Tandure» tanaman_hal. 1201
  • Dodotiro dr kata Dodot+Ira, Dodot adalah kain panjang penutup badan bagian bawah (hal. 223). Ira/nira»bentuk memakai, Sira bila mengkualifikasi kata benda yang berarti -nya,-mu»sumber: hal. 394
  • Sebo dr kata Sabha artinya Pertemuan_hal.969, kata Sabha ini juga asal dari kata paseban (pa-sabha-an), yaitu tempat untuk pertemuan/rapat umum/tempat menghadap/tempat yang banyak dikunjungi.

Tembang ini mengandung 3 kata perintah, dan tujuan pada tiap perintah tersebut. perintah-perintah atau nasehat ini diakhiri dengan ‘tujuan’ akhir dari semua perintah yang disebutkan sebelumnya. Kata Perintah dalam tembang ini adalah:
1. Perintah untuk ngelilir/bangun/sadar agar dapat memanen tanaman yang akan digunakan untuk pengatin baru
2. Perintah untuk memanjat belimbing itu / penekno blimbing kuwi untuk membasuh pakaian. Membasuh pakaian dari hasil ‘memanjat’ pohon Blimbing tadi yang dilakukan dengan susah-payah.
3. Perintah untuk membenarkan/menjahit kembali Pakaian yang sudah robek (bedha) tiap sisi-nya.

Tujuan akhir dari perintah-perintah diatas adalah agar dapat dipakai pada (suatu) pertemuan ketika hari (telah) sore. Karenanya kerjakanlah selagi (mumpung) bulan masih terang, selagi masih luas jankauannya/masih bisa melakukan apapun, karena bila hari telah gelap akan sulit melakukan kegiatan apapun.

Dilihat dari arti tembang diatas, jelas bahwa lagu ini bukan lagu biasa, banyak nasehat yang diberikan dengan menggunakan simbol-simbol dan bahasa yang kaya makna, dan jelas tidak mungkin berarti harfiah, atau sesuai kalimat, karena tentunya akan terasa aneh.
1. Sesuai dengan arti bahasanya makna Lir lilir berasal dari kata ngelilir yang artinya bangunlah/bangkitlah. Tembang ini bertujuan membangunkan manusia terutama para generasi muda dari tidur panjang/angan-angan semu. Generasi muda diibaratkan bagai tanaman yang siap dipanen (tandure Wes sumilir), yang sudah saatnya sadar bahwa setiap manusia memiliki tugas yang harus dikerjakan; tugas sebagai hamba Allah dan tugas untuk menjadi manusia yang berguna bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga orang lain.

2. Kata ‘tak ijo royo-royo’ menggambarkan rahmat Allah SWT yang demikian besar namun alih-alih mensyukuri rahmat Allah SWT yang tak terhitung banyaknya, kita sebagai manusia sering kali justru melakukan kerusakan di bumi Allah SWT baik sengaja ataupun tidak, karenanya harus disadarkan untuk tidak membuat kerusakan atau berani melawan pembuat kerusakan, dengan berbagai cara karena mendiamkan pembuat kerusakan sama artinya dengan berbuat kerusakan itu sendiri.

3. Dengan kata-kata ‘tak senggoh penganten anyar’ ‘Kanjeng Sunan berusaha menyadarkan kaum muda dari mimpi & angan-angan panjang yang membuat kita terlena. Kehidupan dunia hakikatnya adalah seperti mimpi, yang dapat membuat kita terlupa dan melupakan tugas dan tujuan kita sebagai hamba Allah SWT. ‘Bangun dan sadarlah’ bahwa ada kehidupan lain yang menanti kita, kehidupan yang baru, kehidupan yang abadi setelah kehidupan di dunia. kehidupan yang baru inilah yang diibaratkan sebagai ‘penganten anyar‘.

3. Tujuan bangun/sadarnya (ngelilir) manusia dapat di capai jika manusia berjiwa “Bocah Angon”, yaitu manusia yang mampu memimpin dirinya menuju perbaikan, setelah itu memimpin bangsa dan negerinya, seperti gembala menggiring/mengangon ternaknya. Daya Angon adalah daya atau kesanggupan utk memimpin dirinya, bangsanya dan negaranya. Manusia yang mampu memimpin dirinya adalah mereka yg mampu mencegah dirinya mengikuti hawa nafsunya/keinginannya yang merugikan makhluk lain, nafsu seperti ini adalah sumber kejahatan. Ketika manusia BISA memimpin dirinya berarti IA MAMPU memimpin keluarga, masyarakat hingga negara.

4. Untuk menjadi ‘Bocah Angon’ tadi kanjeng sunan Ampel memerintahkan kita untuk ‘memanjat (Pohon) Belimbing itu’ (penekno blimbing kuwi)…

Pertanyaannya adalah kenapa Belimbing?? Kenapa dari sekian banyak buah kanjeng sunan Ampel memilih belimbing? Jawabannya ada pada bentuk buah tersebut yang memiliki 5 sisi atau bila kita belah belimbing memiliki 5 sisi seperti bintang, karenanya dalam bahasa Inggris buah belimbing ini disebut dengan “Star Fruit”.

belimbing
Star Fruit (Buah Belimbing), buah dengan 5 sisi

Angka 5 dalam akidah Islam memiliki banyak makna, kewajiban sebagai seorang muslim yang harus dilaksanakan dan di yakini, yaitu kewajiban sholat 5 kali dalam sehari dan rukun Islam yang terbagi atas 5 perkara yang menjadi pegangan setiap muslim. Namun sholat dan rukun Islam adalah perbuatan yang bila tidak memiliki ‘ruh’ ibadah tidak akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, dengan kata lain sholat dilakukan namun perbuatan yang merugikan orang lain dan merugikan diri sendiri tetap dilakukan juga.

Keberadaan Ruh ibadah tadi-lah yang mencegah ibadah kita dari perbuatan keji dan mungkar, ruh Ibadah di dapat dengan mencontoh peri kehidupan rasul dan manusia-manusia pilihan yang hidupnya hanya untuk ibadah, yaitu AhlulBait nabi yang termaktub dalam al Qur’an surat al Ahzab (33):33 dan tafsir tentang ahlulBait yang diriwayatkan as Suyuthi, yaitu 5 manusia suci dan disucikan oleh Allah SWT dari segala jenis kotoran dan dosa, yaitu mereka yang hidupnya untuk menjadi penuntun bagi umat manusia, mereka adalah: kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saww, siti Fathimah az Zahra as yang gelarnya adalah Sayyidan nisa’I’ll alamin (pemimpin wanita sepanjang zaman), Imam Ali as KarramallahuWajhah (Yang Allah rahmati wajahnya) dan kedua putra beliau al Hasan al Mujtaba as dan al Husein Sayyidusy Syuhada as.

Dari manusia-manusia pilihan inilah kita mempelajari Islam yang sejati, yang dengannya kita akan mampu memiliki daya angon (daya/kesanggupan untuk memimpin diri sendiri, bangsa dan negaranya), dengan daya Angon kita mampu menjadi ‘Bocah Angon’ yaitu manusia yang mampu memimpin dirinya sendiri, hingga ia mampu memimpin bangsa dan negaranya, seperti yang di gambarkan oleh kanjeng Sunan Ampel.

Tentu saja “Bocah Angon” ini tidak akan pernah menjadi bocah angon bila Allah SWT tidak memberikan contoh konkrit dalam kehidupan, dan contoh itu adalah Rasulullah dan AhlulBaitnya.

Rasulullah saw dan AhlulBait-nya adalah manusia-manusia pilihan yang harus di jadikan guru, diikuti, diteladani dan di jadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari, dari mereka-lah kita mempelajari ‘ruh ibadah’.

Menjadikan Rasulullah saw dan ahlul baitnya sebagai pegangan hidup memang tidak mudah, karena setan tidak akan rela melihat manusia menjadi benar, seperti sumpah setan dalam Al Qur’an yang tidak akan berhenti menggoda manusia hingga manusia berada bersamanya dalam neraka di hari kebangkitan kelak ( Qs 15:39,40).

Namun Allah SWT juga memberitahukan pada kita bahwa tipu daya setan sangat lemah, Iblis dan setan hanya sebatas membujuk pilihannya ada pada kita, jadi Semuanya tergantung kembali pada pilihan kita, bila kita tetap berpegang teguh pada kebenaran ahlul bait, kita akan terjaga dari godaan setan yang terkutuk, hal ini jelas karena dengan berpegang pada ahlulbait sama dengan kita berikhtiar mengikuti jalannya orang-orang yang lurus (shirothol mustaqim).

Dengan ikhtiar (usaha) ini kita akan di bantu oleh Allah SWT untuk menyelesaikan kesulitan dunia dengan berbagai cara-Nya hingga kesulitan apapun tidak lagi menjadi kesulitan. Inilah tahap dimana kita telah melewati masa-masa sulit dalam usaha ikhtiar mempelajari, mencari dan mengkaji kebenaran yang digambarkan dengan kata-kata ‘lunyu-lunyu penekno‘ dan mencapai tahap berikutnya yaitu ‘blimbing’ yang telah didapat setelah ikhtiar yang sulit tadi.

‘Blimbing’ yang telah didapat dengan ikhtiar yang sulit tadi digunakan utk mencuci ‘dodotiro’ yang berarti pakaianmu/kain panjangmu, dodot adalah kain panjang yg digunakan utk menutupi bagian bawah tubuh, bagian bawah tubuh bawah kita baik laki-laki atau wanita adalah AURAT atau HARGA DIRI kita sebagai manusia. Bila aurat dibiarkan terbuka tanpa penutup dan dipamerkan kepada setiap manusia tak ada lagi yang menjadi pembeda antara manusia dengan hewan.

Pakaian dalam arti harfiah adalah sesuatu yg kita gunakan selain untuk melindungi diri dari alam, pakaian juga berfungsi membedakan orang waras dengan orang gila, ketika orang tidak berpakaian dan berjalan ditengah oran ramai dengan mudah orang yang melihat akan mengatakan bahwa orang tersebut tidak memiliki hargadiri atau tidak tau malu atau orang gila, pakaian juga membedakan status dan kedudukan sosial pemakainya di kalangan masyarakat.

Singkatnya dengan pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pakaian disini bermakna ‘Harga diri’ dan Pakaianmu (dodotiro) adalah jati diri dan harga dirimu yang sesungguhnya yang bila rusak atau kotor harus dibersihkan dengan ikhtiar mencari kebenaran dengan berpegang teguh pada ahlulbait tadi, berpegang teguh pada ajaran Ahlul Bait memang tidak mudah, namun dengan usaha-usaha diatas akan menunjukkan ketinggian statusmu di sisi Allah SWT.

Ketinggian statusmu disisi Allah SWT, membuatmu menjadi orang yang berilmu tentunya akan dihargai dalam masyarakat, setelah kau menjadi manusia seperti ini maka kau akan menjadi manusia yang siap pada pertemuan dengan sang Pencipta kelak, ketika kematian datang menjemput.

Kata-kata: “kanggo sebho mengko sore”, menandakan berlalunya hari, berlalunya sang waktu, berganti hari yang lain. Hakikat kematian pada dasarnya adalah seperti pergantian waktu, pergantian alam, dengan kematian kita memasuki alam berikutnya dengan bekal yang kita usahakan selama kehidupan didunia yang digambarkan dengan waktu sebelum sore.

Pada bait berikutnya, kanjeng Sunan Ampel memberikan semangat kepada anak-anak dan para pemuda murid-murid sang Sunan untuk tidak menyia-nyiakan waktu, untuk segera bergegas, berikhtiar, belajar selagi masih muda (mumpung padang rembulane), selagi masih ada daya dan upaya untuk melakukan ikhtiar sebisa mungkin dengan mempelajari dan mencontoh para ahli ibadah, yaitu AhlulBait dan para ulama pecinta & pengikut mereka.

kesimpulan singkat dari makna tembang lir-lilir adalah nasehat sang sunan untuk mempelajari sebanyak mungkin ilmu dengan berbagai cabangnya seperti yang diperintahkan Allah dan Rasul-NYA. Pelajarilah Islam dengan berpegang dan mengikuti langkah yang diajarkan Ahlulbait. Belajarlah dan teladanilah para ahli ibadah karena mereka adalah orang-orang yang berilmu, dan sebaik-baiknya ahli ibadah adalah Rasul saw dan AhlulBaitnya.

Ilmu dari semua cabangnya digunakan untuk memperkuat iman dan keyakinan, karena hanya dengan meneladani perjuangan mereka dan ilmu yang kita pelajari yang akan menjadi benteng pertahanan dari setiap godaan setan dan pengikut-pengikutnya yang membujuk manusia untuk mengikuti nafsu duniawi.

Allahumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad

Ditulis oleh Sofia Abdullah

Sumber:

Habib Muhammad bin Salim bin Ahmad Assegaf (Abah Ayip)

Emha Ainun Najib (Cak Nun)

Arti+keterangan kata secara harfiah,
sumber: Pj Zoetmoulder, kamus jawa kuno Indonesia
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Tinggalkan komentar