Sebagai Muslim, mempelajari Hadits sangat penting, setelah Al Qur’an tentunya, namun sebagai orang awam karena kesibukan dan sebagainya, ilmu yang sangat penting ini kadang terlupakan. Sementara di sisi lain dengan era medsos sekarang ini, banyak golongan dengan mudah memakai hadits2 yang seringkali bertentangan dengan Al Qur’an dan kepakatan ulama, yang akhirnya berakibat perpecahan dalam tubuh Islam. Tentunya hal ini sangat tidak kita inginkan.
Berikut adalah tulisan saya tentang pengertian dasar dan sejarah singkat Hadits, yang saya rangkum dari buku terkait agar mudah dibaca, cepat difahami oleh kalangan awam seperti saya, untuk membentengi kita dari golongan2 tertentu yang menggunakan hadits2 palsu untuk kepentingan golongannya.
Semoga bermanfaat..
Hadits2 dari kalangan mazhab manapun yang kita ketahui saat ini umumnya di bukukan atau dikumpulkan dan ditulis kembali sekitar tahun 700-900-an Masehi, atau sekitar 200 tahun setelah wafatnya baginda Rasul saw pada tahun 632 M.
Penulisan hadits memang pernah ada pada zaman Rasul, sekitar 52 sahabat pilihan pernah diberi tugas oleh rasul mencatat dalam lembaran2 kertas dan kulit (shahifah) yang berisi tafsir Al Qur’an, seputar hukum pidana, zakat dan lainnya. Diantara 52 sahabat yang mempunyai shahifah ini adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Amr bin Ash, Jabir bin Abdullah, dsb.
Pada masa Khalafaur Rasyidin, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khatab (634 M-644 M), penulisan Hadits dilarang keras dikarenakan urusan politik dan dikhawatirkan tersebarnya hadits palsu. Pelarangan ini sangat keras hingga memenjarakan beberapa sahabat nabi yang aktif menyebarkan hadits, diantaranya Ibn Mas’ud al Anshori dan Abu Darda (Hayat as Shahabah dr kitab majma az Zawa’id jilid 1 hal. 149).
Namun pada masa Muawiyyah larangan khalifah Umar bin Khatab ini di hapus. pada masa kekuasaannya, dimulai sejak wafatnya Khalifah Usman bin Affan hingga masa kekuasaannya dan keturunannya, Muawiyyah banyak membuat ribuan hadits palsu untuk kepentingan politik dan mendukung kekuasaannya serta memberangus lawan2 politiknya (Ibnu Sirin).
Sebelum masuk pada bagian pemalsuan Hadits, berikut adalah ringkasan Pengertian dan sejarah Hadits menurut pandangan ulama, khususnya ulama mazhab Sunni Syafi’I yang menjadi mazhab mayoritas di Ind dan Asia Tenggara saat ini.
Pengertian Hadits ada 2 menurut ahli Hadits dan ahli fiqh
1. Hadits adalah segala ucapan, perbuatan, taqrir* dan sifat2 nabi saw, (taqrir = mendiamkan sebagai tanda peneguhan, membolehkan atau persetujan)
2. Hadits menurut para ulama fiqh adalah segala ucapan, perbuatan dan taqrir nabi yang terkait dengan hukum
Nama Lain Hadits, berdasarkan asal Hadits
1. Sunnah : arti harfiahnya adalah jalan, metode dan tradisi. Dalam ilmu hadits Sunnah adalah segala sesuatu yang pernah dilakukan Rasul saw sebagai contoh kepada sahabat.
2. Khabar : yaitu berita dari suatu peristiwa, baik yang sesuai fakta atau tidak.
3. Riwayat : atau riwayah adalah kata dasar dari rawa-yarwi yang artinya membawa atau yang berkaitan dengan membawa. Dalam ilmu hadits riwayat berarti khabar atau sunnah yang dibawakan dari orang yang satu ke lainnya
4. Atsar : tanda dan bekas yang tertinggal dari sesuatu, misal tempat tinggal Rasul saw dan keluarga.
Istilah umum dl Hadits : Matan, Rawi/Perawi, Sanad
Matan : teks atau perkataan yang disampaikan atau isi hadits
Rawi atau Perawi : orang yang menyampaikan/meriwayatkan hadits yg pernah diterimanya dari seseorang kedalam 1 kitab
Sanad : orang2 yg menjadi sandaran dalam meriwayatkan hadits, atau orang2 yg menjadi perantara dari nb Muhammad kepada para perawi
7 Tokoh Perawi dan Pengumpul Hadits
Tokoh perawi dan pengumpul Hadits yang kemudian disalin dalam kitab-kitab karya mereka jumlahnya sangat banyak, namun ada 7 Tokoh perawi dan pengumpul hadits yang kitab-kitabnya dijadikan rujukan oleh para ulama hingga saat ini, mereka adalah:
1. Imam Ja’far as Shadiq 702 M-765 M, namanya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali (Zainal Abidin) bin Husein as Syahid bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az Zahra binti Rasul saw. Pada masanya beliau dikenal sebagai maha guru, karena pengajar resmi di Universitas pertama yang dibangun pada masa dinasti Abbasiyyah. Muridnya adalah para ilmuwan dan ahli Hadits hampir dari seluruh dunia dari berbagai cabang keilmuan, Diantaranya adalah Abu Hanifah, Malik bin Annas. Beliau menulis banyak kitab dari berbagai cabang ilmu. Kitab2nya dijadikan rujukan para ahli Hadits terkenal yang mengumpulkan hadits2 terutama hadits2 yang diriwayatkan dari keluarga nabi saw.
2. Imam Bukhari 810 M-870 M, namanya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, lahir di Bukhara dari keluarga kaya dan terhormat. Beliau mengumpulkan hadits sejak usia belasan, dan menuliskannya kembali dalam satu kitab yg cukup terkenal; Kitab Shahih Bukhari
3. Imam Muslim 817 M – 875 M, namanya adalah Abdul Hussein bin Al Hajjaj bin Muslim, lahir di Naisabur dan telah mempelajari Hadits sejak usia belasan tahun. Hadits2 yang beliau kumpulkan dari berbagai sumber, ditulis kembali dalam kitab hadits yang cukup terkenal; Kitab Shahih Muslim
4. Imam Abu Daud 817 – 889 M, namanya adalah Sulaiman bin Al Asy’as bin Ishaq, lahir di perkampungan Sijistan dekat Bashrah, Iraq. Beliau melanglang buana, berguru ke berbagai ulama dari mulai Hijaz, Syam, Mesir dan Khurasan hingga akhirnya menetap di Bashrah sampai wafatnya. Seperti ilmuwan dan ahli hadits yang lain, beloau menulis banyak kitab, satu kitab haditsnya yang terkenal adalah kitab Sunan Abu Daud yang lebih fokus pada hadits sejarah dan hukum sosial.
5. Imam Tirmidzi 824 M – 892 M, namanya adalah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, beliau lahir di kota Tirmidz, Tadjikistan. Seperti para ahli hadits lainnya, beliau pun berkelana keliling dunia, berguru dari berabagai ulama. Kitab beliau yang terkenal adalah kitab Sunan Tirmidzi.
6. Imam Ibnu Majah, 824 – 887 M, namanya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar Rabi’I al Qazwini, berasal dari Qazwin, Persia (skrg Iran). Kitabnya yang terkenal adalah kitab Sunan Ibn Majah.
7. Imam an Nasa’I, 830-915 M, namanya adalah Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan, berasal dr kota Nasa’ (skrg Turkmenistan). Kitabnya yang terkenal adalah kitab Sunan an Nasa’i.
6 Kitab Hadits / Kutubus Sittah
Kitab2 Hadits sangat banyak jumlahnya, namun hanya 6 kitab hadits yang diberikan pengakuan luas di kalangan mazhab Ahlussunnah, yang di kenal dengan sebutan KUTUBUS SITTAH atau Enam Kitab Hadits. Walaupun pemalsuan hadits, penggunaan hadits dhaif dan lemah masih ada dalam kitab2 ini namun tiap2 Kitab juga berisi informasi hadits yang benar dan shahih yang temanya berbeda pada masing2 kitab.
Kitab2 yang disusun oleh tokoh2 Hadits tersebut antara lain :
1. Kitab Shahih Bukhari (al Jami’ As Shahih = Kumpulan Hadits2 Shahih), disusun oleh Imam Bukhari, berisi 7.275 hadits yg merupakan hasil seleksi dari 600rb hadits, kitab ini juga memuat fatwa sahabat dan tabi’in utk memperjelas hadits yg ada
2. Kitab Shahih Muslim, disusun oleh Imam Muslim, berisi sekitar 4000 seleksi hadits, kelebihan shahih muslim dibandingkan Bukhari susunannya lebih sistematis, lebih teliti, sebagian besar redaksinya disampaikan dengan lafal yg sama dengan nabi (bi al Lafaz)
3. Kitab Sunan Abu Dawud, disusun oleh Imam Abu Daud, berisi 4800 hadis hasil seleksi dari sekitar 500rb hadits yang di hafal Abu Daud. Dinamakan kitab Sunan karena menjelaskan ketidak shahihan hadits2, mendekati atau menyerupai hadits shahih. Ciri menonjol dr kitab ini kaya dengan hadits2 yg berkaitan dengan masalah hukum.
4. Kitab Sunan Tirmidzi kitab ini disebut kitab Sunan karena lebih menerangkan derajat hadits yang ada pada kitab sebelumnya
5. Kitab Sunan An Nasa’I, kitab ini disusun oleh Imam an Nasa’I, kitab ini berisi 5. 761 hadits seleksi dari kitab beliau seblmnya, karena tidak hy memuat hadits2 shahih dan hasan tp juga dhaif.
6. kitab Sunan Ibnu Majah, ciri hadits ini banyak memuat hadits2 yang tidak ada dalam kitab sebelmnya, namun dalam kitab Sunan Ibn Majah banyak terdapat hadits lemah dan dhaif berdasarkan kesepakatan ulama.
Macam2 Hadits
1. Dilihat dari sumbernya : Hadits Qudsi & Hadits Nabawi. Beda Hadits Qudsi dengan Al Qur’an:
a) Hadits Qudsi adalah firman Allah SWT yang disampaikan kepada nabi Muhammad kemudian rasul saw menerangkan firman tersebut dengan kata2 beliau saw sendiri, atau dengan kata lain hadits Qudsi adalah hadits yang maknanya berasal dari Allah SWT, lafalnya dari Rasul saw.
b) Hadits nabawi adalah hadits yang makna maupun lafalnya berasal dari Muhammad rasululullah saw
2. Dilihat dari jumlah perawi : Hadits Mutawatir, Hadits Ahad, Hadits Masyhur (ada yg menggolongkannya menjadi 2; Mutawatir & Ahad)
Hadits Mutawatir = hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang di setiap tingkat sanad, dan mustahil para perawi itu bersepakat berdusta, karenanya hadits Mutawatir di yakini kebenarannya. Hadits Mutawatir di bg 2; Mutawatir Lafzi dan Amali, Mutawatir Lafzi adalah semua perkataan nabi, Mutawatir Amali adalah semua perbuatan nabi saw.
Hadits Ahad = hadits yg tdk mencapai derajat Mutawatir
Hadits Masyhur = hadits yg diriwayatkan oleh 3 orang atau lebih
3. Dilihat dari sisi sanad : Shahih, Hasan dan Dhaif.
Hadits Shahih = hadits yg cukup sanadnya dr awal sampai akhir, dan semua tokoh sanadnya adalah orang2 yg sempurna hafalannya, hadits shahih ada 2: shahih li dzatihi (shahih dengan sendirinya tanpa di perkuat keterangan lain) & shahih li ghairihi (shahih diperkuat keterangan lain)
Hadits Hasan = Hadits yg sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang adil namun tidak sempurna hafalannya, Hadits hasan terbagi 2 Hasan li Dzatihi (shahih dengan sendirinya)dan Hasan li Ghairihi (hadits yg diperkuat dengan hadits lain)
Hadits Dhaif = Hadits Lemah = Hadits yg tidak memenuhi syarat Shahih dan Hasan.
Hadits Dhaif di bagi menjadi 5 ;
o Hadits Mursal Hadits yg diriwayatkan oleh Tabi’in (generasi setelah sahabat nabi yg tidak pernah bertemu nabi)
o Hadits Munqathi Hadits yg salah seorang perawinya gugur karena tidak di sebut namanya
o Hadits Mu’adhdhal hadits yg 2 perawi/lebih tidak di sebutkan namanya
o Hadits Mudallas Hadits yg rawinya meriwayatkan hadits dari orang yg hidup sezaman tp tdk lasg dr orangnya
o Hadits Muallal hadits yg kelihatannya benar, tp sesungguhnya py cacat tersembunyi pd sanad maupun matannya
Syarat Hadits Shahih
1. Bersambung sanadnya
2. Rawi bersifat adil, tidak berpihak ke satu gol. Tertentu
3. Rawi bersifat Dhobit, yaitu diketahui sebagai orang yg kuat hafalannya, tidak pelupa, tidak banyak ragu.
4. Tidak mengandung Syadz (kejanggalan)
5. Tidak mengandung maksud tersembunyi
Tingkatan Hadits Shahih
1. Hadits yg kriteria sanadnya dan syaratnya di sepakati oleh Bukhari, Muslim, dan para Ulama Masyhur pada zamannya
2. Hadits Shahih yg dikumpulkan ulama setelah periode Bukhari dan Muslim, serta tidak mengikuti syarat keduanya, namun diterima secara ilmu Hadits.
Hadits Maqbul, Mardud, Maudhu
Hadits2 yg di terima disebut maqbul, hadits yg ditolak disebut Mardud. Sebuah Hadits dikatakan Maqbul ketika telah memenuhi syarat2 diatas; sumber, perawi sanad-nya jelas dan telah di sepakati sebagian besar ulama. Sebaliknya Hadits dikatakan Mardud karena tidak lulus syarat-syarat diatas, misal tidak bersumber dari ucapan Nabi, perawinya tidak dikenal, hadits yang Mardud biasanya dikatakan sebagai Hadits Maudhu atau Hadits Palsu
Menurut Muhammad bin Sirin (33-110 H) tokoh Sunni, Awal mula pemalsuan hadits terjadi setelah terbunuhnya Khalifah Utsman Bin Affan, pada mulanya ketika umat muslim mendengar hadits Rasul, berdirilah bulu roma mereka, namun setelah terjadinya fitnah pembunuhan Utsman, setiap kali orang mendengar Hadits, mereka selalu bertanya, darimanakah hadits ini berasal? Karena banyak hadits yang dipalsukan untuk kepentingan politik.
Pemalsuan hadits mencapai puncaknya pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, para pendukung masing berusaha mencari pembenaran dengan memalsukan hadits.
Faktor Pemalsuan Hadits
1. Kepentingan Ekonomi, dengan diberi sedikit uang oleh penguasa, mereka mau memalsukan hadits. Seorang yg terkenal sebagai pemalsu Hadits diantaranya Abdul Karim bin Abi al Auja, yang mengaku telah membuat 4000 hadits palsu ‘titipan’ penguasa.
2. Kepentingan Politik
3. Kepentingan Ideologi, contohnya hadits palsu buatan kaum Orientalis (non muslim yang mempelajari Islam dan menjadi ahli agama Islam), dengan tujuan menghancurkan ajaran Islam dari dalam
Hadits Israiliyat
Israiliyat adalah bentuk jamak dari kata Israiliyyah yaitu cerita atau peristiwa yang diambil dr sumber Israily atau bani Israil. Hadits Israiliyyat adalah hadits2 palsu yang bersumber dari Cerita atau peristiwa di kalangan Bani Israil yang di sebarkan oleh rabi2 Yahudi Bani Israil dan para pendeta Nasrani yang sangat memusuhi Islam namun terpaksa masuk Islam karena negerinya dikuasai oleh pemerintah Muslim. Mereka terpaksa masuk Islam agar dapat menduduki jabatan2 tertentu yang menguntungkan mereka sekaligus menghancurkan Islam dari dalam. Hadits Hadits ini umumnya berisi kisah2 yang mengutamakan bani Israil dan nabi2 bani Israil diantara kaum dan nabi2 dari bangsa lain. Contoh Hadits Israiliyyat yang terkenal adalah peristiwa ketika nabi Isra’Mi’raj dan mendapat perintah sholat 50 kali sehari semalam, nabi taat namun kemudian di perjalanan menuju bumi bertemu dengan nabi Musa as yang menegur beliau bahwa umatnya nabi Musa saja, yaitu Bani Israil, yang terkenal sebagai ahli Ibadah tidak sanggup menjalankan ibadah apalagi umatnya Muhammad saw, nabi Muhammad kemudian minta kepada Allah SWT dikurangi, kemudian terjadilah ‘tawar menawar’ jumlah rakaat sholat hingga akhirnya disepakati 5 kali sholat sehari semalam.
Jelas sekali dalam hadits diatas nabi Musa as seolah-olah lebih mengetahui umat Muhammad daru pada Rasullullah saw, bahkan nabi Musa pun lebih mengenal umat Nb Muhammad saw ketimbang Allah SWT (a’dzubillahimindzalik).
Dengan bantuan penguasa dzalim, dan kebodohan masyarakat Arab, terutama dikalangan masyarakat Arab Badui, Hadits2 seperti ini cukup banyak tersebar, baik dikalangan Sunni maupun Syi’ah. Hingga saat ini sebagian Hadits2 ini dikatakan sebagai hadits shahih, salah satunya seperti kisah Isra’Mi’raj seperti diatas.
Bersikap kritis menghadapi hadits-hadits seperti ini sangat penting, terutama di era medsos sekarang ini. Banyak hadits2 lemah dan palsu yang telah ditinggalkan oleh ulama terdahulu disebarkan kembali, dengan tujuan membenarkan argumentasi segelintir golongan dalam Islam yang bertujuan memecah belah Islam.
Untuk memperkuat Iman dan Islam kita pengetahuan tentang dasar2 hadits sangat penting, agar tidak mudah terseret informasi yang menggunakan hadits2 palsu sebagai sumbernya. Dengan mempelajari dasar2 ilmu Hadits kita kaum muslim yang awam dapt membedakan, walau tidak dengan detail, mana ciri hadits palsu dan mana yang benar.
Al Qur’an Sebagai Pembeda Hadits Yang Haq & Bathil
Hadits adalah kumpulan ucapan dan perbuatan rasul yang menjàbarkan isi Al Qur’an, dan sebagai umat muslim kita meyakini bahwa Rasul saw tidak pernah berkata dan bertindak menrut hawa nafsunya, segala ucapan dan tindakan beliau adalah berdasarkan wahyu dari Allah SWT (Qs; an Najm 3-4).
Berdasarkan ayat tersebut di atas, seluruh ulama Mazhab, baik Sunni maupun Syi’ah sepakat bahwa kedudukan Al Qur’an al Karim diatas Hadits, karena teks Arab Al Qur’an terjaga dan tidak mungkin di palsukan. Adapun hadits seperti yg telah di bahas diatas rentan utk dipalsukan, karenanya berdasarkan kesepakatan ulama berbagai mazhab, matan (isi) hadits tidak boleh bertentangan dengan Al Qur’an. Bila Hadits bertentangan dengan Al Qur’an dapat di pastikan bahwa hadits tersebut yang salah atau dipalsukan walaupun telah memenuhi kriteria hadits shahih.
Berikut adalah ucapan tokoh ulama-ulama ternama yang juga menjadi tokoh Mazhab;
Imam Ja’far Shadiq (702 M-765 M) berkata pada murid2nya bahwa bila mereka mendengarkan hadits yang dikatakan berasal darinya namun bertentangan dengan Al Qur’an maka buanglah hadits tersebut, karena mustahil hadits tersebut berasal dariku.
Muhammad bin Idris as Syafi’I (767 M-820 M), para pengikutnya dikenal dengan mazhab Syafi’I, mazhab yang dianut oleh mayoritas pddk Indonesia dan Asia Tenggara; apapun yang diputuskan Rasul saw bersumber dari Al Qur’an. Kemudian Syafi’I mengucapkan hadits Rasul saw, yang mengatakan: “Aku tidak mengatakan apapun selain yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-NYA, dan tidak mengharamkan apapun selain yang di haramkan oleh Allah di dalam kitabnya.”
Pemahaman dasar tentang hadits wajib diketahui dan dipelajari oleh setiap muslim, dengan tujuan untuk membentengi diri kita dari informasi2 hadits yang dipalsukan baik hadits berupa tafsir Al Qur’an atau sunnah Rasul saw.
Selain mengetahui dasar2 hadits, mengkaji al Qur’an juga sangat diperlukan, bukan hanya mengaji dengan benar secara tajwidnya, namun juga setiap muslim harus mengetahui artinya, karena tidak semua arti al Quran harus di tafsirkan, dengan Al Qur’an yang disertai terjemah banyak hukum ibadah, hukum sosial, kisah sejarah yang dapat kita pelajari.
Makna Al Qur’an yang mudah difahami ini bisa menjadi pembanding, pembeda hadits yang benar dan yang salah, karena hadits yang benar tidak pernah bertentangan dengan Al Qur’an. Dan yang terpenting dari semuanya adalah meminta petunjuk, berdo’a pada Allah SWT, bertawassul kepada kekasih-NYA Muhammad saw dan keluarganya agar diberi kemudahan dan pemahaman dalam mempelajari Al Qur’an dan Hadits.
Sumber tulisan:
Al Qur’an Qs An Najm 2-3
Sejarah Hadits karya DR Majid Ma’arif
Serba-Serbi Al Hadits oleh Eka Wardhana
Tinggalkan komentar