Assalamualaikum..Mungkin diantara pembaca pernah dengar atau membaca broadcast yang mengatakan bahwa Raden Fattah dan Mayoritas Walisongo beretnis Tionghoa atau Cina, bc ini juga menyebutkan nama2 Tionghoa mereka, BENARKAH DEMIKIAN?? Tulisan saya berikut ini tentang klarifikasi BC tersebut. Klarifikasi ini saya lakukan karena tema Majapahit, Demak dan Walisongo merupakan tema utama penelitian kami sejak tahun 2009.
Sebelum saya mulai mengklarifikasi BC tersebut, bagi teman-teman yang belum sempat membaca BC tersebut, silahkan dibaca karena topik ini selalu disebarkan dari tahun ke tahun baik resmi atau tidak, dan bagi kami ini sangat mengganggu karena apa yang disebarkan ini tidak sesuai dengan fakta sejarah yang kami dapatkan di lapangan.
Berikut broadcast yang baru2 ini kembali menjadi trending di berbagai medsos:
“Kerajaan Islam pertama di jawa didirikan oleh seorang keturunan Tionghoa-Jawa, yaitu Raden Patah alias Jin Bun, Jin bun dalam bahasa Tionghoa artinya adalah orang kuat. Jin bun atau Raden Patah ini adalah anak dari Raja Majapahit Brawijaya dengan selir Tionghoa bernama Siu Ban Ci. Siu Ban Ci adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita, sehingga permaisuri Dwarawati sangat cemburu dgn selir ini. Karena Raja Brawijaya sangat sayang dengan permaisuri Dwarawati, akhirnya dengan terpaksa membuang selir Siu Ban Ci yg lagi hamil ke daerah Palembang.
Siu Ban ci di terima oleh Bupati Palembang Swan Liong atau Arya Damar yang juga anak dari Raja Brawijaya dgn selir Tionghoanya yang lain. Raja berpesan agar Siu Ban Ci tidak boleh disentuh sampai dia melahirkan anaknya. Setelah Siu Ban Ci melahirkan anaknya yaitu Jinbun yg kelak bernama Raden Patah, Selir Siu Ban Ci dinikahi oleh Swan Liong alias Arya Damar. Dari pernikahan ini lahir lagi seorang anak bernama Kimsan atau artinya Gunung Emas. Kimsan yang merupakan adik tiri Raden Patah ini, kelak bernama Raden Kusen.
Setelah Dewasa Raden Patah dan Raden Kusen dikirim berguru oleh Arya Damar kembali ke Jawa menemui Bong Swie Hoo atau Sunan Ngampel. Setelah mendalami ilmu agama juga ilmu bela diri, Bong Swi Hoo mengirim Raden Kusen untuk menjadi Prajurit mata-mata kerajaan Majapahit, sedangkan Raden Patah diberikan satu daerah di bintara untuk memimpin daerah tersebut.
Bong Swi Hoo alias Sunan Ngampel mempunyai hubungan yg sangat baik dengan Raja Majapahit, karena bibinya Dwarawati adalah permaisuri Raja. Sedangkan Raden Patah juga adalah anak dari Raja Majapahit dari selirnya yang bernama Siu Ban Ci. Sehingga ketika Sunan Ngampel meminta suatu daerah bernama Bintara untuk dikuasai oleh Jin Bun alias Raden Patah, Raja Majapahit menyetujuinya, padahal Raja Saat itu bukan beragama Islam.
Raden Patah atau Jin Bun pada usia 23 tahun sudah mempunyai ribuan pengikut, dia bercita-cita mendirikan Mesjid Demak yang megah dan mewah, pembangunan Mesjis Demak ini dibantu para Wali, serta dibantu juga oleh orang2 Tionghoa non Islam tukang ahli kayu yg yang dipimpin oleh ahli perkapalan Gan Si Cang, kelak Gan Si Cang juga masuk Islam dan berganti nama menjadi Raden Said atau Sunan Kalijaga.
Setelah kekuatan pengikut Raden Patah menjadi semakin besar karena banyaknya orang2 Jawa yg ikut berpindah ke agama Islam, Raden Patah menyerang daerah Majapahit secara tiba2, Majapahit pun jatuh tanpa perlawanan ke tangan Raden Patah, Raja Majapahit yang juga merupakan Ayah Jin Bun atau Raden Patah ditawan, namun diperlakukan dengan hormat.
Sejak itu timbullah kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak dengan Rajanya Raden Patah atau Jin Bun alias orang kuat. Bagi yang ingin bergabung dengan Persaudaraan Tionghoa Indonesia, Serikat Tolong Menolong Gotong Royong dapat menghubungi Bpk.Amin minhan WA.0878-7757-2025”
Benarkah Raden Fattah dan Walisongo Keturunan TiongHoa-Jawa? Seperti yang disebarkan dalam BC diatas?
Sebelumnya klarifikasi ini tidak bermaksud menyinggung atau meninggikan gol. tertentu, klarifikasi ini murni utk meluruskan sejarah masuknya Islam, BERDASARKAN SUMBER SEJARAH DAN TULISAN PARA PENELITI YANG TELAH KAMI CROSCHEK.
Penjelasannya akan kami rangkum seringkas mungkin agar mudah di fahami, sumber ringkasan ini diambil dari berbagai buku penelitian sejarah terkini dan naskah2 kuno yang kami miliki, karena sumber dari ringkasan ini sangat banyak jadi mohon maaf hanya sebagian kecil sumber yang bisa saya sebutkan dibagian akhir tulisan ini. Mudah2 an tulisan ini bermanfaat memberikan tambahan ilmu bagi para pembacanya..amin..
Penjelasannya begini:
1. Hingga ringkasan ini dibuat, yang merupakan hasil penelusuran kami dari berbagai sumber yang terkait tentang jati diri Raden Fatah dan keluarganya masih sama, beliau adalah seorang sayyid berdarah Champa (skrg Vietnam) dan Jawa, bukan Tionghoa. Sayyid utk laki-laki atau syarifah utk perempuan adalah gelar dari keturunan Imam Hasan dan Imam Husein putra dari Sayyidah Fatimah az Zahra putri Rasulullah saw. Karena tekanan penguasa, dan puncaknya setelah peristiwa pembantaian Imam Husein di Karbala, Iraq, oleh pasukan Yazid putra Muawiyyah, kaum Sayyid banyak ditekan dan di dzalimi oleh penguasa pada saat itu dengan berbagai tuduhan, karenanya kaum sayyid banyak yang kemudian berhijrah ke berbagai negeri, terutama wilayah Nusantara yg pada masa itu masih memiliki tanah yang sangat luas dan sangat sedikit jumlah penduduknya*1. Kaum sayyid ini kemudian menikah dengan pddk setempat dan berketurunan, melahirkan generasi-generasi muslim berikutnya di Nusantara.
2. Raden Fatah adalah putra dr Sayyid Abdullah atau Wan Abu Abdullah atau dlm bahasa Champa lebih dikenal dengan nama Wan Bo Tri Tri bin Ali nurul Alam bin Jamaluddin Hussein. Kakek buyut Raden Fatah, Jamaluddin Husein adalah pemimpin terakhir Nusantara yang pada masa pemerintahannya wilayah Nusantara sangat luas, kekuasaannya hampir meliputi seluruh wilayah Asia Tenggara, diantaranya adalah wilayah Champa yg sekarang jd wilayah Vietnam. Dalam naskah2 Sunda JAMALUDDIN HUSEIN AL AKBAR diberi GELAR PRABUSILIWANGI, gelar ini di berikan karena kekuasaannya yg luas dan pemimpin yang adil, serta masyarakatnya yang makmur. Jamaluddin Hussein memiliki 5 orang istri dan beberapa orang putra, diantaranya seorang putra yg bernama ALI NURULLAH/ALI NURUL ALAM, ALI NURULLAH berputra ABDULLAH, ABDULLAH berputra RADEN FATTAH.
3. Nasab/Silsilah Raden Fatah selengkapnya : raden Abdul Fatah bin sulthan Abu Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Hussein bin Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdullah Khan bin Amir Abdul Malik*2 bin Alawi bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Kholi Qasam bin Alawi Muhammad bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Muhajir bin Isa ar Rummi bin Muhammad an Naqib bin Ali Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Hussein as Syahid bin Imam Ali wa Fatimah az Zahra binti Rasulullah saw.
4. Tulisan diatas yang mengatakan bahwa Raden Fatah adalah putra dari Brawijaya V dengan Siu Ban Ci, dst ..bersumber dari buku babad Tanah Jawi. Tapi di Babad Tanah Jawi pun hanya sampai pernikahan Bhrawijaya V dengan putri Cina Siu Ban Ci dan berputra Raden Fatah, selebihnya tentang nama Cina Walisongo diambil dari KRONIK CINA dari KLENTENG SAM PO KONG, di Semarang yang telah berpuluh kali direnovasi, termasuk penambahan terbaru adalah relief kronik Cina yang terpahat di Gua Batu yang menjadi dinding makam Juru Mudi ChengHo yang wafat dan di makamkan di tempat ini yang kemudian di jadikan Klenteng Sam Po Kong di Semarang.
5. Berdasarkan penelitian terkini, dengan melihat bentuk asal bangunan, dan tokoh yang dimakamkan, yaitu Juru Mudi Cheng Ho yang Muslim dan didirikan oleh China Muslim yang ikut bersama kapal ChengHo, besar kemungkinan Klenteng Sam Po Kong awalnya adalah Bangunan Masjid bercorak China, seperti Masjid Xi an dan umumnya Masjid2 kuno di China. Bangunan ini kemudian terabaikan, dan di bangun lagi menjadi Klenteng pada awal abad ke-19 oleh para pekerja Tionghoa yang bekerja pada pemerintah kolonial Belanda. Relief yang dibuat adalah tambahan baru, yang besar kemungkinan nama2 yang di maksud dlm bc Raden Fatah keturunan Tionghoa diatas adalah kisah tokoh Juru Mudi yang dimakamkan di gedung Batu tersebut.
6. Babad Tanah Jawi yang menjadi rujukan ini pun BUKAN Babad Tanah Jawi yang asli, tapi merupakan naskah Tinulad/salinan yang ditulis kembali tahun 1890an dan telah mendapat penambahan, pengurangan dan perubahan alur Cerita dari naskah aslinya selain karena harus mengikuti aturan guru lagu (ritme dlm karya sastra) juga karena mengikuti pesanan penguasa kolonial pada saat itu. Adanya perubahan berupa pengurangan dan penambahan mengikuti gurulagu dapat dilihat dalam hal. Pembuka buku Babad Tanah Jawi, jadi bila mengambil sumber dari babad Tanah Jawi HARUS di crosschek ulang dengan sumber sejarah yang lain.
7. Raden Fatah MEMANG putra dari BHRAWIJAYA V atau Bhrawijaya terakhir, tapi Bhrawijaya yang dimaksud dalam naskah ini adalah GELAR, bukan nama, GELAR yang berasal dari kata BHRA &WIJAYA, arti Bhra=gelar bangsawan yang menjabat kedudukan di pemerintahan di wilayah Wijaya, WIJAYA adalah nama ibu kota Champa yang terakhir sebelum akhirnya Champa dikuasai oleh bangsa Khmer (lih.gbr peta Champa di bwh).
8. Untuk mengetahui siapa Bhrawijaya terakhir ini harus diselusuri melalui silsilah dari keturunan Raden Fatah, yang banyak tersebar di Jawa Tengah, beberapa diantara mereka, termasuk beberapa rekan kami masih ada yang menyimpan silsilah keluarga, dari silsilah keluarga inilah kami mengetahui nama dari Bhrawijaya V. Selain mengetahui silsilah harus juga menelusuri sejarah CHAMPA, dari mulai berdirinya, penduduknya, kepercayaannya hingga keruntuhannya, saat ini penelitian sejarawan dalam dan luar negeri tentang Champa sudah tidak sesulit masa lalu, informasi ttg Champa dapat diperoleh, baik melalui buku ataupun tesis2 penelitian yg dpt di download dr internet.
9. Sayyid Abdullah seblm menjd Sultan (pemimpin) Sriwijaya-Champa, menjabat sebagai Bupati di Palembang, ketika menjabat sebagai bupati, sayyid Abdullah dikenal juga dengan nama Arya Dillah atau Arya Damar, karena beliau tinggal di daerah pendamaran, Palembang (sunyoto, Agus, Atlas Walisongo)
10. Arya Damar/Arya Dillah alias Sayyid Abdullah menikah dengan Syarifah Champa putri Penguasa Wijaya pada saat itu yang bernama Ali Rahmatullah, yg nantinya setelah hijrah ke Jawa, dan berdomisili di Ampel-Surabaya lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Fatah.
11. Sayyid Abdullah dan kel. kemudian pindah ke Ibu kota Champa saat Itu, yaitu WIJAYA dan menduduki jabatan Pemimpin yang berkedudukan di WIJAYA, menggantikan BhraWijaya seblmnya yang juga mertuanya yaitu Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel.
12. Ketika Champa akhirnya kalah, para pembesar yg memang asalnya dr Jawa ini kembali ke Jawa, termasuk mertuanya sayyid Abdullah, Ali Rahmatullah, yg kemudian diberi wilayah di daerah Ampel Denta, dari sini kemudian Ali Rahmatullah lebih dikenal dengan gelarnya SUNAN AMPEL atau SUNAN NGAMPEL dlm logat Jawa.
13. Sayyid Abdullah dan kel.nya (termasuk istri2nya dan putra putrinya) setelah melapor ke Jawa, yg pada saat itu menjadi ibu kota pemerintahan, ditugaskan kembali ke Palembang, mangkanya sayyid abdullah disebut juga dengan PRABU MULIH alias Prabu yg kembali, kembali ke posisinya dulu seblm menjadi pemimpin Wijaya.
14. Sayyid Abdullah kembali ke palembang bukan hy dengan kel. Nya saja tp juga dengan ratusan pengungsi dr Champa, dipalembang ini kemudian mereka berketurunan dan menjadi penduduk asli Palembang yg tetap bertahan dengan tradisi leluhur mereka di Champa, mangkanya kalo liat tradisi Palembang dan Champa banyak banget persamaannya, dr mulai tradisi pernikahan, makanan, pemilihan warna pakaian tradisional dan warisan budaya yg lain.
15. O iya sedikit ringkasan ttg Champa: nama wilayah Champa diambil dari bunga CHAMPAKA, sama seperti negara tetangganya KAMBUJA, atau Kambujadesa, pada masa lalu pernah menjadi bagian dr wilayah Nusantara, namun kemudian satu persatu wilayah2 ini melepaskan diri terutama setelah era kolonial. Berdasarkan catatan China wilayah Champa telah dibuka sejak tahun 182 M, oleh seorang pangeran dari Jawa yg menikah dengan putri China.
16. Ciri2 pangeran Jawa pada saat itu yang dikatakan dalam cat. Cina adalah; berkulit putih, bermata lebar, rambut ikal, berhidung mancung, dari ciri ini kami menyimpulkan bahwa yg dikatakan sebagai pangeran Jawa yang kemungkinan mewakili ciri penduduk Jawa saat itu, thn 182 M, adalah dari keturunan Bani Ismail as atau Bani Isra’il. Isra’il adalah gelar untuk nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as.
17. Sama seperti Ind, Wilayah Champa dan sekitarnya telah mengenal Islam sejak zaman Rasul saw, utusan Rasul ke Champa adalah sahabat nabi dan juga mertua beliau yg bernama JAHSH IBN RIYAB, ayah dr Zainab bt Jahsy (preaching of Islam, TW. Arnold). Jahsh bin Riyab telah menjadi utusan Rasul untuk mengenalkan Islam sejak periode Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah. Jash bin Riyab ke Champa melalui jalur laut dari Abbysinia (Ethiopia).
18. Sisa Orang Champa yg ada sekarang membentuk kampung Cham, tersebar di wilayah Vietnam, Kamboja, Thailand, dan menamakan diri mereka “Urang Cham” dan hingga saat ini pun mereka masih mengetahui bahwa leluhur mereka adalah orang Jawa yang menikah dengan putri China. Jawa pada masa lalu adalah sebutan bagi seluruh wilayah Nusantara yang dikenal denga nama Hindia atau dalam bahasa Arabnya disebut al Hind.
19. Agama mayoritas bangsa Champa adalah Islam yg kental dengan tradisi ahlulbait, kalo menurut bapak Agus Sunyoto mayoritas mereka adalah muslim syiah.
20. selain Islam ada juga penganut agama leluhur yg disebut Brahmanik yg ritual ibadahnya persis dengan Hindu Bali, besar kemungkinan kalau dilihat dr tradisinya, ritual ibadahnya Hindu Bali atau Hindu yg ada di Ind, yang dikatakan sebagai Hindu Bali/Jawa sebenarnya agama brahmanik tadi. Karena Hindu di Indonesia, beda jauh dengan Hindu India, dilihat dr tradisi & ritual ibadah, kecuali agama Hindu yang memang dibawa oleh para pendatang yang beragama Hindu dari India.
21. Karena Bangsa Champa adalah campuran antara bani Israil, bani Ismail, dan China, bangsa Cham memiliki ciri perpaduan 3 bangsa ini; berhidung mancung, mata sipit atau sebaliknya, warna kulit umumnya putih atau kuning kecoklatan, postur tubuhnya rata2 tinggi besar atau tinggi, tp bukan berarti tidak ada yg pendek ya.. tp yg paling dominan ya kulit putih, mata sipit hidung mancung atau sebaliknya hidung gak mancung mata lebar, bulat, alis tebal..di Ind banyak banget ciri2 ini.. namun karena sejarah Champa dan penyebaran penduduknya belum banyak yang mengetahui, penduduk keturunan Champa berikut nama2 mereka seringkali di katakan sebagai keturunan Cina atau TiongHoa.
KESIMPULAN
Menyimpulkan asal usul seorang, apalagi sosok seorang tokoh yang di segani, gak bisa diklaim semudah itu, harus ada penelusuran yang panjang, RADEN FATAH dan tokoh WALISONGO adalah contoh dari perpaduan Ras, Suku, Bangsa dan Budaya yang sempurna gak bisa diklaim begitu saja seolah hanya milik ras atau suku tertentu hanya karena penyebutan nama, sejarah memang sering kali digunakan untuk pengesahan kekuasaan dan unsur2 lain yg bermuatan politis, itulah gunanya penelusuran sejarah, agar dapat meluruskan kembali sejarah yang telah dibelokkan demi kepentingan individu atau golongan tertentu, tentunya dengan pembuktian2 yg jelas.
Perjalanan penduduk Indonesia adalah perjalanan yang panjang, berbagai peristiwa sejarah yang melibatkan perjalanan berbagai macam RAS & KEBUDAYAAAN dari berbagai bangsa dan kalangan yang telah berasimilasi menjadikan bangsa Indonesia ya BANGSA INDONESIA yang UNIK dan Istimewa yang berasal dari multi-kultural dan multi-etnis.
Sifat rasis, sukuisme, merasa golongannya paling hebat atau paling benar adalah warisan kolonial yang sayangnya hingga kini masih banyak golongan yang mempertahankan warisan kolonial ini. Mudah2an kita semua terhindar dari sifat2 Warisan kolonial diatas, dan selalu diberi semangat untuk mempelajari sejarah supaya kita bisa mengerti betapa luar biasanya bangsa ini.
CAT. KAKI
*1. Berdasarkan sensus pddk 1800an yang dibuat pemerintah kolonial, pddk Jawa (seluruh p. Jawa) saat itu hanya berjumlah sekitar 5 jt jiwa, sebagian besar wilayah masih berupa hutan. Karena sedikitnya penduduk ini, pemerintah kolonial kemudian banyak membeli budak dari negara2 jajahan Eropa yang lain utk dipekerjakan sebagai buruh2 perkebunan. Di daerah daerah pesisir utara pekerja2 dan budak2 dari Tionghoa juga banyak didatangkan utk mengurus administrasi perdagangan Belanda bagi mereka yang berpendidikan dan sebagai buruh perkebunan dan perdagangan bagi yang tidak berpendidikan.
*2. Amir Abdul Malik karena perdagangan dan masalah politik, hijrah dari Hadramaut (Yaman) ke Gujarat-India, beliau di beri gelar al Muhajir ilallah (Yang berhijrah karena Allah SWT) seperti kakek beliau Ahmad bin Isa yang hijrah dari Iraq ke Yaman. Dari hasil penelusuran kami melalui silsilah yang ada, sebelum hijrah ke Gujarat-India, Abdul Malik menikah dengan syarifah dr kota Tarim keturunan Jawa, yang bernama Sarah bt Abdurahman bin sayyid Hasan. Sayyid Hasan adalah bupati Leran yang menikah dengan Fatimah bt Maimun (wafat 1082, makamnya di Leran, Jawa Timur).
SUMBER
1. T.W Arnold; The Preaching of Islam
2. Al Habib Alwi bin Thahir al Hadad; Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh
3. Prof. DR. H. Aboe Bakar Atjeh; Aliran Syi’ah di Nusantara
4. Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi Nusantara 2.4
5. Silsilah keturunan Raden Fatah
6. Silsilah keturunan kesultanan Malaysia dan Brunei
7. Babad Tanah Jawi
8. Prof.DR.DRS I Ketut Rana, S.U; NagaraKrtagama, transliterasi&terjemah
9. Undang-Undang Kedah, naskah kuno ttg hukum2 dipelabuhan Kedah yang dibuat oleh Sultan Ali yang menguasai Kedah dan berkedudukan di Aceh pada tahun 818 M.
10. Prof. Kong Yuanzhi; Cheng Ho
11. Idrus Alwi al Masyhur; Sejarah, Silsilah&Gelar Keturunan Nabi Muhammad saw di Indonesia, Singapura, Timur Tengah, India dan Afrika
12. H.M.H. Al Hamid Al Hussaini; Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad saw
13. Ja’far Subhani; Sejarah Rasulullah saw
14. Yasin T al Jibouri; Allah SWT, Konsep Tuhan Dalam Islam
15. Erlangga Ibrahim; Champa, Kerajaan Kuno di Vietnam
16. L.W.C Van den Berg; Orang Arab di Nusantara
17. Susan Blackburn; Jakarta Sejarah 400 tahun
18. Adolf Heuken; Historical Sites of Jakarta

Tinggalkan komentar