Nabi Adam: Bapak Manusia

Oleh: Sofia Abdullah

Allah SWT di dalam al-Qur’an pada surat Al Baqarah (2) ayat 30, berfirman kepada para malaikat bahwa Allah SWT hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah memiliki arti pengganti, pemimpin, penguasa yaitu makhluk yang akan menggantikan makhluk sebelumnya sebagai penguasa bumi yaitu dari golongan jin[1] yang telah melakukan perusakan di muka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“(Ingat) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku ingin menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana? Padahal, kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu.’ Dia berkata, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui,’” (Surat Al-Baqarah ayat 30).

Jelas dalam ayat di atas Allah SWT akan menciptakan khalifah di bumi yaitu Adam as. Adam as diciptakan Allah SWT dan bertempat tinggal di surganya Allah SWT yang ada di bumi.

Seperti yang dijelaskan dalam hadits mutawattir yang diriwayatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq dari ayahnya Imam Muhammad al-Baqir, dari ayahnya Imam Ali Zainal Abidin, dari ayahnya Imam Hussain as, dari Rasulullah saw bahwa Adam as diciptakan Allah SWT dan ditempatkan di surga-Nya Allah yang ada di bumi.

Bila surga Adam as adalah surga yang abadi atau surga khuld, niscaya Adam as tidak akan pernah turun ke bumi karena sifatnya yang kekal dan hanya diperuntukkan bagi makhluk Allah SWT setelah hari kebangkitan. Bumi tempat Nabi Adam as tinggal dikatakan surga karena keindahan alamnya dan segala kebutuhan yang dapat tercukupi di dalam surga-Nya yang ada di bumi tersebut.

Sekelompok ulama mengatakan surganya nabi Adam as ini sebagai “Kebun Surga” atau “al-Jannah” yang ada di bumi, karena ketika Adam as melanggar perintah Allah SWT dengan memakan buah khuldi, Allah SWT menggunakan kata “hubuth” yang berarti perpindahan dari suatu negeri ke negeri yang lain, seperti dalam firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 61: “Ihbithu mishran” (pergilah kamu ke suatu kota).[2]

Berdasarkan perhitungan waktu yang diambil dari periodisasi dan kronologi peristiwa kejadian manusia yang diambil dari kitab-kitab agama-agama di dunia, jarak penciptaan Adam as dengan masa kita sekarang kurang lebih 12.000 tahun[3]. Allah SWT kemudian menciptakan Siti Hawa dan menikahkan Nabi Adam as dengan Siti Hawa untuk memenuhi bumi dengan keturunan mereka. Sesuai dengan firman Allah SWT, yaitu tujuan penciptaan Adam di muka bumi sebagai khalifah di bumi –sebagai nenek moyang manusia.

Diusirnya Adam as & Siti Hawa dari surga

Selama di surganya Allah yang ada di bumi ini, Nabi Adam as bebas melakukan apapun dan menikmati apapun yang telah Allah sediakan –kecuali satu, yaitu dilarang memakan buah dari pohon khuldi (khuldi dari kata khulud, artinya keabadian). Karena bujukan Iblis[4], Nabi Adam as dan Siti Hawa pun melanggar larangan Allah.

Akibatnya Allah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, Adam dikeluarkan (terusir) dari surga dan dibuang ke suatu daerah di India yang sekarang bernama Srilangka[5], di daerah ini pulalah terdapat peninggalan beliau berupa jejak kaki yang terawetkan dalam bentuk fosil. Jejak kaki ini kini berada di pegunungan Sri Lanka yang diberi nama sesuai nama beliau as, Adam’s Peak.

Adam’s Peak, Sri Lanka. Jejak kaki ini terdapat di dalam kuil di atas punak gunung Sri Pada, Sri Lanka. Nama Sri Pada sendiri berarti Jejak Kaki Suci. Tempat ini dijadikan sebagai objek wisata religi bagi agama-agama besar di dunia, agama Islam, Kristen dan Yahudi meyakini bahwa jejak kaki raksasa ini adalah jejak kaki Adam as, sebagai tempat pertama ketika dikeluarkan dari Surga yang ada di bumi. Umat Budha meyakini bahwa jejak kaki tersebut adalah jejak kaki Budha, dan bagi umat Hindu jejak kaki ini diyakini sebagai jejak kaki Shiwa.

Hawa terusir dan dibuang ke suatu daerah yang kini bernama Jiddah, Arab Saudi. Jiddah dalam Bahasa Indonesia berarti nenek, kota ini dinamakan Jiddah karena terdapat makam beliau, nenek seluruh umat manusia. Sementara itu, Iblis dikeluarkan dan dibuang ke daerah Persia.

Allah SWT menerima tobat Nabi Adam as dan Siti Hawa. Mereka pun dipertemukan kembali di Jabbal Rahmah, yaitu bukit yang berlokasi di padang pasir perbatasan Jiddah dan Mekkah.

Nabi Adam as dan Siti Hawa dipertemukan kembali di Jabbal Rahmah, bukit yang berlokasi di padang pasir perbatasan Jiddah dan Mekkah. Mereka kemudian memiliki banyak anak.

Dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa Siti Hawa melahirkan sebanyak 70 anak kembar berpasangan. Empat di antaranya dijadikan perumpamaan dalam kehidupan dan pernikahan, yaitu Ataqah, Qobil, Habil, dan Nabi Sys as. Ataqah adalah wanita pertama yang ingkar kepada Allah, kemudian dia wafat karena kemungkarannya kepada Allah SWT.

Pernikahan Putra Putri Adam as

Mengenai pernikahan anak-anak Adam as kita banyak membaca atau mendengar tentang hadits-hadits Israiliyyat yang mengatakan bahwa terjadi pernikahan silang di antara putra-putri Adam as.

Hal ini jelas bertentangan dengan al-Qur’an yang melarang pernikahan dengan saudara kandung. Allah SWT Maha Kuasa menciptakan makhluk-Nya, jadi tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT untuk menciptakan makhluk yang lain atau memerintahkan makhluk yang lain untuk taat pada perintah-Nya.

Demikian pula terjadi pada kisah putra-putri Adam as. Ketika sudah waktunya bagi anak-anak Adam as. menikah, Allah SWT mengutus makhluk-Nya dari golongan jin dan bidadari untuk menikah dengan putra-putri Adam. Golongan jin dan bidadari ini diutus dalam wujud manusia untuk menikah dengan putra-putri Adam as untuk melanjutkan keturunan. Golongan jin berwujud manusia diutus Allah SWT bagi putra putri Adam as yang kurang baik sifatnya, seperti yang dicontohkan oleh putra Adam as yang bernama Qobil. Sementara Habil adalah contoh putra Adam as yang sholeh, untuk putra Adam dari golongan yang bersifat baik Allah SWT mengutus golongan bidadari berwujud manusia.

Qobil memiliki sifat pemalas, pemarah dan selalu iri hati pada adiknya Habil. Allah SWT kemudian mengutus wanita dari golongan jin yang berwujud manusia berwajah cantik, bernama Jehanna. Adam as kemudian menikahkan Qobil dengan Jehanna. Sedangkan Habil yang memiliki sifat sabar, rajin, dan taat pada orang tuanya dinikahkan dengan jelmaan bidadari bernama Nazlah.

Kedua jodoh Qobil dan Habil ini disesuaikan dengan karakter dan akhlak keduanya. Walaupun kakak beradik, keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda, Habil adalah pemuda yang sholeh, rajin, sabar, dan berbakti pada orang tuanya. Sementara Qobil bersifat pemalas dan pemarah. Qobil dan Habil merupakan dua contoh sifat anak Adam yang berlainan dan ditujukan sebagai pelajaran bagi umat manusia, yaitu bahwa perilaku seseorang tidak mengenal keturunan. Keturunan hanyalah sebagai penjaga, sementara menjadi baik atau jahat mutlak karena pilihan pribadi masing-masing.

Karena sifat Habil yang baik, tentu saja Adam as dan siti Hawa sangat menyayanginya. Qobil pun sangat iri pada adiknya. Rasa hasad (dengki) Qobil mencapai puncaknya ketika mengetahui hikmah kenabian ayahnya diturunkan kepada Habil.

Untuk meredakan rasa hasad dan iri pada diri Qobil, Adam as memerintahkan mereka berdua untuk melaksanakan kurban kepada Allah SWT. Qobil karena malas, tidak memilih qurban-nya, ia hanya mengorbankan hasil panen yang layu. Sementara Habil mengorbankan hewan ternak terbaiknya yang dipersembahkan kepada Allah SWT. Tentu kurban Habil-lah yang diterima.

Peristiwa ini bukannya meredakan hasad Qobil dan menjadikan ia sadar atas kesalahannya, justru menambah iri hatinya kepada adiknya. Ia bahkan membunuh saudaranya itu dan terjadilah peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi. Peristiwa ini diakui oleh semua agama samawi, dan semua agama samawi sepakat bahwa akar dari peristiwa ini adalah rasa hasad Qobil kepada Habil yang dibisikkan Iblis.

Setelah peristiwa ini, Qobil (Cain) beserta keluarganya lari dari Nabi Adam menuju Tanah Nod (land of Nod), mendirikan kota di tanah tersebut dan menamakan kota tersebut Henokh, yang merupakan nama anak laki-laki pertama Qobil dan Jehanna.

Selama 40 hari Nabi Adam as menangisi terbunuhnya Habil. Beliau sangat berduka atas wafatnya putranya yang sholeh Habil yang juga penerus misi kenabiannya. Kesedihan beliau juga disebabkan karena berpalingnya Qobil dari jalan Allah SWT.

Makam Habil di Damaskus, Suriah

Atas musibah besar ini, Allah SWT menghibur Adam as dengan memberinya seorang putra yang kemudian diberi nama Sys, satu-satunya putra Adam as yang lahir tanpa saudara kembar, pada saat Siti Hawa berusia 500 tahun.[6]

Nabi Sys as inilah yang kemudian menjadi penerus Nabi Adam as, sebagai nabi berikutnya. Dan dari beliau pula silsilah para nabi dan rasul berasal.

Ketika terjadi pembunuhan atas diri Habil oleh Qobil, Nazlah (istri Habil) sedang mengandung putra pertama mereka, yang kemudian diberi nama Habil II (dalam beberapa riwayat disebut pula Yafat). Hubungan kekeluargaan antara Nabi Sys as dan Yafat (Habil II) adalah paman-kemenakan, namun usia mereka tidak terpaut jauh. Keduanya adalah anak keturunan Nabi Adam as yang sholeh.

Setelah tiba masanya bagi Nabi Sys as dan Yafat untuk menikah. Allah SWT kemudian mengutus dua orang bidadari yang menjelma menjadi wujud manusia yang cantik. Mereka bernama Naimah yang menikah dengan Nabi Sys as, dan Nazlah al-Hawra yang menikah dengan Yafat.

Pernikahan Nabi Sys as dan Naimah melahirkan banyak anak. Salah seorang putra di antaranya, yang juga penerus kenabian ayahnya, adalah Syiban. Syiban menikah dengan Hurriyah putri Yafat dan Nazlah. Bila dibentuk dalam bagan silsilah akan terlihat seperti bagan di bawah ini:

Silsilah Keluarga Nabi Adam as

Keturunan Nabi Adam as bertambah banyak. Banyak di antara putra Nabi Adam as yang menginginkan posisi sebagai penerus kenabian. Mereka menunggu amanat kenabian ini disampaikan oleh ayahandanya, namun Allah-lah yang menetapkan urusan-Nya. Tidak semua putranya yang sholeh menjadi nabi, hanya Nabi Sys as lah yang terpilih menggantikan posisi ayahnya sebagai Nabi.

Nabi Adam as khawatir kasus yang dialami Habil terulang pada Nabi Sys as. Untuk mencegah rasa iri dan hasad timbul di benak putra-putra Adam, ia pun memerintahkan Nabi Sys as untuk menyembunyikan kenabiannya.

Namun karena hikmah kenabian tidak dapat disembunyikan, satu-satunya jalan bagi Nabi Sys as adalah berhijrah. Maka ia dan keluarganya berhijrah ke negeri yang berbeda. Di negeri itu mereka berketurunan. Kemudian keturunan-keturunan Nabi Sys as bertemu dengan saudara-saudara mereka yang lain melalui hubungan pernikahan dan perdagangan.

Keterangan dari jalur Ahlulbait mengenai Nabi Sys as yang kami dapatkan hanya sampai pada perintah Nabi Adam untuk menyembunyikan hikmah kenabian Nabi Sys as. Kami menarik kesimpulan bahwa Sys as melakukan hijrah atau berpindah ke tempat lain karena tidak mungkin seorang nabi, rasul, imam ataupun washi’ menyembunyikan hikmah (ilmu) kenabiannya karena tugas mereka yang sangat berat, yaitu menyampaikan risalah Islam –ajaran tauhid.

Kemanakah Hijrahnya Nabi Sys as?

Dalam naskah-naskah kuno yang kita miliki baik dalam bahasa Sunda maupun Jawa kuno seperti Babad Tanah Jawi, Manikmaya, dan lain sebagainya, sering kali ditemukan kisah tentang Nabi Sys as putra nabi Adam yang hidup di tanah Jawa dan berketurunan di Jawa. Jawa pada masa lalu adalah sebutan bagi seluruh kepulauan di Indonesia saat ini. Jawa sekitar 12.000 tahun yang lalu, memiliki struktur geologis yang tentunya berbeda dengan yang dimaksud Jawa saat ini.

Jawa berdasarkan Babad Tanah Jawi dan kisah yang diambil dari naskah-naskah kuno, bukanlah Jawa yang meliputi Jawa Tengah sekarang ini. Namun meliputi seluruh Nusantara, dari ujung Sabang sampai Merauke. Pembagian Jawa menjadi Jawa Barat, Tengah, dan Timur baru berlaku pada era kolonial untuk memudahkan sistem administrasi ekonomi dan politik.

Wayang Purwa dan Kaitannya dengan Nabi Adam as, Nabi Sys as, dan Leluhur Nusantara

Wayang adalah sarana bagi leluhur Nusantara untuk mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dengan sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Seni wayang yang tertua di Nusantara adalah Wayang Purwa. Wayang Purwa mengisahkan leluhur Nusantara sejak masa Nabi Adam as dan keturunannya yang para tokohnya dikisahkan secara detail. Karena leluhur Nusantara beragama tauhid, sosok Nabi Adam as telah dikenal masyarakat Nusantara jauh sebelum Rasulullah lahir dengan nama Sang Hyang Adhama.

Namun karena kisah ini dituturkan dari generasi ke generasi terdapat perbedaan-perbedaan prinsip antara kisah nabi Adam as versi Islam dengan Sang Hyang Adhama. Kisah Nabi Adam as juga dituturkan oleh leluhur Nusantara seperti yang terdapat pada salinan kitab Manikmaya, yang mengisahkan leluhur Nusantara sejak era Nabi Adam as hingga era Mataram Baru.

Di sinilah tugas para utusan Rasulullah saw dan para wali untuk meluruskan kembali kisah para nabi dan ajarannya yang hidup sebelum masa Rasulullah saw melalui media Wayang Purwa, babad, permainan anak dan seni budaya yang lain.

Selain melalui seni budaya, para utusan Rasulullah saw yang diutus ke Nusantara dan para wali juga mengajarkan ajaran Islam melalui jalur perdagangan, pemerintahan, dan pernikahan.

Salah satu kisah hikmah leluhur nusantara yang diwariskan para wali melalui seni budaya Wayang Purwa adalah Kisah Aki Tirem dan Dewi Sri. Aki Tirem atau Aki Tirem Luhur Mulya dan Dewi Sri adalah leluhur Nusantara yang hanya berjarak 10 generasi dari Nabi Adam as.

Berdasarkan perbandingan silsilah yang kami miliki, Aki Tirem dan Dewi Sri adalah tokoh yang hidup sekitar 10.000-8000 tahun yang lalu atau satu masa dengan Nabi Idris as dan termasuk di antara 80 orang nenek moyang manusia yang selamat pada peristiwa banjir Nabi Nuh as yang mendunia.

Aki Tirem memimpin satu negara atau wilayah yang melimpah ruah kekayaan alamnya, terutama emas dan perak. Karenanya, negeri ini bernama Salaka Nagara. Dalam buku Geographia karya Claudius Ptolomeus yang ditulis tahun 161 M, Salaka Negara yang berarti Kota Perak dikenal juga sebagai Agryppa yang memiliki arti sama yaitu Kota Perak.

Peradaban Salaka Nagara musnah pada peristiwa banjir besar Nuh as karena penduduknya yang menjadi sombong dan menyekutukan Allah SWT. Aki Tirem Luhur Mulya beserta keluarganya yang beriman selamat, dan membangun peradaban yang baru di Nusantara.

Aki Tirem memiliki cucu bernama Dewi Sri. Dewi Sri pada kisah legenda masyarakat Jawa dikenal sebagai Dewi Padi dan Dewi Kesuburan. Gelar ini dikenal masyarakat karena Dewi Sri sebagai nenek moyang Nusantara memiliki andil yang sangat besar dalam mengenalkan ilmu bercocok tanam padi di wilayah Jawa ribuan tahun yang lalu.

Dikisahkan bahwa ribuan tahun yang lalu, ketika wilayah Sunda purba atau disebut juga dengan Jawa purba mengalami bencana kekeringan, Dewi Sri dan kakaknya berguru dan mencari pertolongan ke wilayah lain. Pada masa inilah Dewi Sri mempelajari ilmu bertani yang kemudian beliau ajarkan pada penduduk nusantara kuno.

Dewi Sri adalah leluhur Nusantara pertama yang mengajarkan ilmu pertanian kepada masyarakat nusantara kuno yang pada saat itu baru mengenal mata pencaharian berburu dan meramu makanan. Karena jasanya inilah Dewi Sri lebih dikenal sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan.

Dewi Sri dan suaminya kemudian menggantikan kedudukan kakeknya Aki Tirem menjadi pemimpin dan sekaligus leluhur Nusantara. Kisah Aki Tirem, Dewi Sri, suaminya dan kakaknya yang bernama Sadhana tersebar luas diseluruh pelosok Nusantara dengan nama-nama yang berbeda namun memiliki kisah yang serupa. Kisah-kisah para leluhur Nusantara ini dapat tersebar luas dan dipahami berbagai golongan karena kesabaran dan kegigihan para Wali mengajarkan kebenaran melalui media Wayang Purwa.

Kesabaran dan kegigihan para utusan Rasulullah saw dan para wali dalam mengajarkan Islam dapat kita rasakan hingga kini, antara lain, Islam menjadi agama terbesar di Indonesia dan tradisi Islam telah menjadi darah daging bagi sebagian besar Muslim Nusantara. Fenomena ini terjadi karena para wali mengajarkan Islam melalui sisi terlembut manusia yaitu budaya. Budaya sendiri memiliki makna yang dalam, yaitu semua hasil asa dan karya manusia yang ditujukan bagi sang pencipta.

Oleh karena itu, generasi modern (masa kini) perlu melanjutkan metode ini. Pemahaman atas nilai-nilai Islam yang benar, yang diajarkan Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya serta para wali penerusnya, perlu dilanjurkan dengan memahami tradisi Nusantara asli yang kaya dengan nilai-nilai sejarah.

Memperkaya pengetahuan sejarah bangsa yang sarat dengan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan ajaran Rasul saw, keluarga, dan para sabahatnya yang mulia sangat diperlukan sebagai penangkal asupan luar yang akan melemahkan umat Islam Nusantara dari dalam dan dari luar.


Catatan: Tulisan ini pernah di muat dalam Liputan Islam, berjudul Jejak Nabi Adam di Nusantara dalam artikel bersambung 1-3 (tamat).

Catatan Kaki

[1] Lihat Catatan kaki Qs 2:30 Al Qur’an dan terjemahannya terbitan Al Mizan.

[2] Al Jaza’iri, Nikmatullah, Adam hingga Isa, hal 102, Penerbit Lentera, Jakarta, 2009

[3] Berdasarkan perhitungan Human Era, yang dilakukan oleh peneliti Italia bernama Cesare Emiliani pada tahun 1993 dengan melakukan penelitian kronologi peristiwa dari tokoh-tokoh yang terdapat pada kitab-kitab agama di dunia.

[4] Setan atau Syaithan adalah sifat buruk dari makhluk Allah SWT bisa dari golongan Jin atau Manusia yang selalu membisikkan manusia untuk melakukan perbuatan buruk, lihat QS An Nas: 4,5,6. Kata Setan dalam kalimat ini mengacu pada sifat makhluk Allah SWT dari satu makhluk dari golongan Jinn yang hasad kepada Adam as dan sangat mengiinginkan agar Adam as dan Siti Hawa melanggar perintah Allah SWT yang akhirnya menyebabkan ia menjadi makhluk yang terkutuk (Iblis).

[5] Al Jaza’iri, Nikmatullah, Adam hingga Isa, hal.82, Penerbit Lentera, Jakarta 2009

[6] Selain bertubuh sangat besar, pada masa nabi Adam as hingga Nabi Sulaiman as rata rata umur manusia 300-1.000 tahun.

Sumber

  • Jaza’iri, Sayid Nikmatulah. Adam Hingga Isa, hal 71-159
  • Bagir, Hakim M, Ulumul Qur’an hal. 703
  • Children’s Bibel, the all color, hal. 17
  • Park, Abraham, D. Min.,D.D, Silsilah Di Kitab Kejadian, hal. 68-71
  • Al Jibouri, Yasin, T, Konsep Tuhan, hal.315-320
  • Kermani, Abbas Rais, Kecuali Ali, hal. 37, Citra Publisher
  • Naskah-naskah Kuno salinan, antara lain; Manikmaya, Babad Demak Pesisiran, Silsilah leluhur Cirebon, naskah Wangsakerta, Purwaka Caruban Nagari

4 tanggapan

  1. sayyid Avatar
    sayyid

    Salaamun alaikum,
    Jika adam adalah lelaki maka terjadilah hubungan inses maka ini memang tidak boleh karena dapat mengakibatkan:
    maka akan terjadi Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa ‘sifat lemah’ dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

    jika adam adalah lelaki maka terputuslah sudah keturunan manusia maka untuk meneruskan keturunannya terjadilah banyak khayalan seperti yg di tuliskan diatas,bahwa anak2 nabi adam kawin ama jin lah,bidari lah dsb.ntah dari mana asalnya cerita ini semua.

    “Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dari ′diri yang satu′ (nafs wahidah), dan darinya Allah menciptakan pasangannya (zawjaha), dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan wanita banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa:1)

    Adam adalah sosok manusia yg tidak diketahui jenisnya lelaki/wanita.
    Berhubungan ayat di atas ada berkemungkinan ditafsirkan bahwa Adam memiliki isteri yg namanya hawa yg diciptakan dari dirinya,maka penafsiran ini sangat tidak tepat.
    padahal hawa itu mengartikan kehidupan (yg bernafas/bernyawa) bukan temen hidup tetapi menunjukkan diri adam sendiri yg hidup dan bernyawa bukan pasangannya.Adam dan hawa adalah satu entitas dan bukan 2 entitas sebagaimana ditafsirkan).

    Pengertian ayat 1 di atas surat an nisa adalah sebagai berikut: Bahwa dari anak -anak Adamlah dijadikan para lelaki dan para perempuan dan dari mereka ini penerusan keturunannya.
    Jadi adam(a) bukanlah sosok lelaki tetap sosok wanita.
    lihatlah maryam yg tidak bersuami tetapi memiliki anak( isa binti maryam).

    Ada ayat yg berbunyi:
    Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran : 59)

    kejadian ini terjadi 2 kali yaitu pada Adam(a) dan Maryam(a)
    kedua sosok ini adalah wanita!
    ini selalu dirahasiakan.

    Dr.ustadz sayyid habib yahya

    Suka

  2. Anisa Avatar
    Anisa

    Alhamdlh,masya alloh begitu banyk ilmu dan hikmah yg bs kt ambil dr kisah nabi adam dan siti hawa tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini agar kt sbg manusia bs mjadi lebih baik lg dan trs bljr ttg sejarah agar tdk tersesat smoga kt slalu istiqomah dlm berwilayah kpd alloh rasul dan abnya allohumma sholli alla muhammad wa alli muhammad

    Disukai oleh 1 orang

    1. sofiaabdullah Avatar

      Alhamdulillah..Allahumma shali ala Muhammad wa ali Muhammad 🙏

      Suka

Tinggalkan komentar